Pelatihan Keamanan Pangan pada Industri Perikanan

Proses pengolahan perikanan, seperti umumnya pada industri makanan lainnya membutuhkan adanya Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan terdiri atas beberapa tahapan penyusunan sistem:

(1) GMP (Good Manufacturing Practice)

Sistem awal Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang mengatur kebutuhan mendasar sebagai persyaratan utama dijalankannya Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Adapun pengaturan yang ditetapkan adalah sistem (a) Bangunan dan lay out pabrik, penyediaan bangunan yang ditetapan sesuai dengan standar persyaratan yang ditetapkan dan lay out juga harus memperhatikan alir proses, alir masuk dan keluarnya personel maupun proses alir masuknya limbah dan material (b) Peralatan kerja, peralatan kerja yang digunakan dalam industri pangan tidak diperbolehkan mengandung bahan kimia dan material yang tidak dapat memberikan pengaruh kontaminasi silang kepada bahan makanan dan juga dapat menjadi infestasi dari serangga atau mikroba, sehingga desain dari peralatan harus dipastikan mudah untuk dibersihkan (c) Personnel hgygiene dimana menjelaskan proses sanitasi terhadap personel/ karyawan yang bekerja di dalam perusahaan, memastikan bagaimana melakukan pengendalian dan tata cara pencucian tangan yang dalam proses operasional, proses penanganan dan pengendalian seragam yang digunakan untuk bekerja, tata cara dan pengendalian status sakitnya karyawan dalam bekerja secara operasional di lapangan (d) Proses penanganan limbah, akan menjadi bagian yang sangat penting terhadap industri perikanan mengenai status penanganan limbah yang dihasilkan, hal ini menjadi penting karena adanya keterkaitan dengan regulasi termasuk di dalamnya adalah penanganan terhadap cara pemusnahan limbah yang dimaksud (e) Pest Control, dalam seluruh industri makanan, pest (serangga, tikus, maupun hewan pengganggu lainnya) dapat menjadi kontaminasi silang kepada produk makanan. Khususnya industri perkanan, resiko terhadap serangga dan efek kontaminasi silang akan sangat tinggi, mengingat jenis produk ini memiliki nilai protein yang tinggi dan mudah mengundang serangga dari aspek bau dari industi makanan itu sendiri. Good Manufacturing Practice yang ditetapkan dalam perindustrian

(2) SSOP (Standard Sanitation Operational Procedure)

Sistem terhadap sanitasi yang dijalankan di dalam proses operasional, adapun konsep dari proses pemastian tata cara pembersihan dan sanitasi terhadap peralatan kerja yang digunakan. Termasuk di dalamnya adalah tata cara untuk melakukan program kebersihan, cara dan metode pembersihan serta verifikasi dari proses kebersihan dan sanitasi dijalankan. Suatu proses sanitasi yang tepat dijalankan adalah jenis proses sanitasi yang memperhatikan kandungan kimia dari bahan pembersih yang digunakan termasuk di dalamnya adalah memperhatikan kandungan kimia yang ada di dalamnya yang kemudian disesuaikn dengan jenis material dan komposisi dari kandungan material yang ada di dalam dari bahan pangan yang dimaksud.

(3) HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point)

HACCP adalah metode yang awal yang dikembangkan untuk kebutuhan aspek jaminan keamanan pangan bagi astronot yang akan pergi ke luar angkasa. Bukankah akan sangat merepotkan apabila pada saat berada di luar angkasa, astronot tersebut mengalami sakit perut atau keracunan makanan? Prinsip terpenting dalam program HACCP adalah meminimalkan resiko yang muncul dan menghilangkan resiko keamanan yang muncul dalam proses operasional yang terkait dengan kontaminasi fisik, kimia dan biologi. Dalam system HACCP, terdapat delapan langkah yang terkait dengan proses penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Dalam system keamanan pangan hal yang sangat perlu diperhatikan adalah melakukan proses pengendalian terhadap batas kritis yang ada dalam standar pengendalian operasional pada setiap tahapan yang ada pada alir proses. Pelatihan terhadap Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang tepat adalah memastikan tersedianya Manual HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) yang mana dijadikan panduan dalam melakukan proses pengendalian terhadap titik kritis pada tahapan alir proses yang teridentifikasi.

(4) Manual Manajemen Mutu

Proses penyusunan terhadap dokumen manual dilakukan dengan mengadaptasi Sistem Manajemen ISO 22000:2005. Dimana di dalam proses penyusunannya, dilakukan penetapan dan penjelasan terhadap klausul-klausul yang ada dalam Standar ISO 22000:2005.

(5) Penyusunan SOP (standard Operating Procedure)

Pengembangan terhadap dokumentasi SOP dijalankan sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan untuk penetapan standar kualitas produk yang telah ditetapkan. SOP yang dibuat harus dipastikan jelas dan terstruktur sehingga informasi yang terkait dengan uraian pekerjaan yang dijalankan di lapangan untuk memastikan bahwa personel yang ada dapat memahami detail-detail dari tahapan proses sehingga batasan kualitas yang dihasilkan sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan.

MENGAPA PELATIHAN DIBUTUHKAN?

Satu hal yang pasti, penerapan dari industri perikanan membutuhkan komitmen dan konsistensi yang secara pasti dijalankan tanpa adanya pengecualian. Di mana dalam proses pelatihan hal yang menjadi tujuan adalah (1) menghasilkan individu karyawan yang terlatih dan kompeten dalam menjalankan sistem manajemen keamanan pangan (2) Mengubah budaya perusahaan untuk memastikan bahwa penetapan sistem terimplementasi bukanlah suatu keterpaksaan pada individu dalam perusahaan (3) meningkatkan kompetensi dari manajemen organisasi untuk dapat meningkatkan kompetisi dalam bisnis.

CARA DAN STRATEGI TERKAIT DENGAN PEMILIHAN PROVIDER PELATIHAN

Perusahaan harus memperhatikan prinsip dan strategi yang harus diperhatikan untuk menggunakan jasa pelatihan eksternal di bidang keamanan pangan: (1) Kompetensi dari provider Kompetensi dari tenaga pelatih yang akan memberikan arahan selama pelatihan menjadi suatu bentuk kompetensi unggulan. Sebaiknya perusahaan mencari provider yang memiliki instruktur yang memiliki latar belakang akademis dan pengalaman kerja yang memadai. Selain dari latar belakang tersebut, kompetensi interpersonal juga dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dengan peserta pelatihan. (2) Silabus dan kurikulum pelatihan Perhatikan poin-poin yang akan dimasukkan agenda dari kurikulum dan program pelatihan. Pelatihan yang baik akan dibentuk dalam format pelatihan terstruktur agar selama kurun waktu pelatihan dipastikan bahwa program pelatihan tersampaikan sesuai dengan harapan dari perusahaan itu sendiri. (3) Evaluasi efektifitas pelatihan Tidak ada salahnya apabila perusahaan menanyakan kepada provider pelatihan untuk memastikan apakah tersedia teknik dan metode untuk melakukan evaluasi terhadap efektifitas pelatihan.

Untuk lebih jauh dalam memahami program pelatihan terhadap keamanan pangan di bidang industri perikanan maupun industri perikanan, konsultan kami akan membantu perusahaan Anda dalam melakukan pengembangan program tersebut. Amaryllia Puspasari (amarylliap@yahoo.com),HP:08129369926

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s