Sejak 1 Mei 2026, terdapat informasi yang berhubungan dengan up grade standar dari FSSC Versi 6 menjadi FSS Veri 7. Proses ini sudah mulai efektif dijalankan, baik untuk perusahaan yang telah memiliki sertifikat FSSC Versi 6 ataupun perusahaan yang belum memiliki sertifikat FSSC. Adapun untuk perusahaan yang telah memiliki sertifikat FSSC versi 6, perubahan ini dijalankan dengan melakukan proses up grade pada sistem yang ada. Proses up grade ini dapat dijalankan sengan skema proses sebagai berikut.
Untuk dapat melakukan proses up grade atas sertifikasi ini, perusahaan dapat mempergunakan konsultan yang berpengalaman dalam sistem dengan pendekatan interpersonal yang kuat. Hal ini bertujuan untuk dapat memastikan bahwa proses implementasi yang dijalankan dalam sistem bisa berjalan dengan efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, implementasi terkait dengan pest control menjadi salah satu dasar dari penerapan keamanan pangan. Pengelolaan atas pest control ini sendiri menjadi salah satu hal penting yang dapat dijalankan untuk memastikan produk pangan aman. Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat diakukan untuk melakukan pengeloaan pest control tersebut.
Penerapan yang terkait dengan pest control tersebut, bukan menjadi tanggung jawab dari vendor semata namun juga menjadi tanggung jawab dari perusahaan untuk dapat menjalankan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk menjalankan pengendalian dan penanganan pest control di dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, metode inspesi diperlukan untuk memastikan bahwa Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang dijalankan di dalam perusahaan. Pendekatan atas pengujian itu sendiri itu dijalankan dalam beberbapa inspeksi.
Gambaran atas inspeksi yang dimaksud adalah sebagai berikut:
(1) Proses Pengujian Mikrobiologi
Proses pengujian yang dijalankan untuk memastikan bahwa produk baik itu bahan baku sampai dengan produk jadi dinyatakan aman dari kandungan mikrobioogi. Pengujian ini dijalankan tidak hanya untuk melakukan pengujian produk, namun juga dapat dilakukan untuk pengujian dan verifikasi lingkungan seperti sanitasi dan kebersihan dari peralatan, personel hygiene ataupun parameter lingkungan lainnya.
Pengujian mikrobiologi dilakukan dengan laboratorium yang didesain khusus dimana terhindar dari protensi kontaminasi lingkungan sekitar sehingga pengujian yang terkait dengan persyaratan mikrobiologi adalah sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan. Proses pengujian mikrobiologi itu sendiri dapat dijalankan dengan metode konvensional dan metode rapid disesuaikan dengan kapasitas dan kebutuhan. Penggunaan referensi sangat penting untuk menjadi panduan dalam melakukan proses pengujian mikrobiologi yang ada. Pengelolaan atas laboratorium dipastikan mempergunakan metode pengujian yang tepat dan mempergunakan personel dengan kompetensi yang sesuai.
(2) Proses Pengujian Kmia
Proses pemeriksaan dijalankan untuk melakukan pengujian yang terkait dengan kandungan kimia yang beresiko terhadap keamanan pangan, baik yang muncul secara natural (alami) ataupun dengan kontaminasi kimia yang muncul secara eksternal. Proses pengujian atas parameter kimia dapat dilakukan dengan pengujian dengan metode instan ataupun dengan metode konvensional. Penggunaan peralatan khusus yang bersifat analitik dibutuhkan dalam proses pengujian kimia. Evaluasi dan uji perbandingan perlu dilakukan apabila penggunaan metode inspeksi yang dilakukan tidak sesuai dengan metode pengembangan yang ada. Pelatihan diperlukan khususnya terkait dengan pengoperasian peralatan yang dipergunakan.
(3) Proses Pemeriksaan Organoleptik
Melakukan pengujian organoleptik yang terkait dengan seluruh persyaratan yang berhubungan dengan parameter pemeriksaan sensori. Proses uji coba sensori ini membutuhkan adanya pelatihan kepada personel yang menjalankan kegiatan inspeksi agar mampu untuk mendeteksi dengan tepat parameter sensori yang akan dilakukan proses evaluasi. Pastikan proses kalibrasi personel dijalankan dengan tepat agar pengujian organoleptik tersebut dapat dijalankan dengan baik dan akurat.
(4) Proses Pemeriksaan Fisik
Pengujian pada parameter fisik dijalankan dengan mempergunakan peralatan yang memang didesain untuk melakukan proses pengujian yang dimaksud. Kegiatan atas pemeriksaan fisik ini dilakukan dengan mengandalkan pada peralatan yang terkalibrasi dan akurat. Personel dilatih untuk dapat membaca hasil inspeksi yang termuat di peralatan yang dimaksud.
(5) Proses Pengujian Laboratorium Eksternal
Proses pengujian dengan mempergunakan laboratorium eksternal dilaksanakan untuk pengujian yang bersifat kompleks, penggunaan peralatan yang spesifik serta adanya kebutuhan personel yang sangat kompeten. Proses pelaksanaan atas pengujian tersebut dilakukan salah satunya adalah dengan melakukan proses uji banding. Pelaksanaan pengujian dijalankan dengan mempergunakan laboratorium yang telah memiliki akreditasi pada parameter tersebut. Hal ini dilakukan untuk memastika keakuratan dari pengujian yang dilakukan.
Untuk lebih dapat memaksimalkan proses pengujian, proses evaluasi referensi harus dipastikan dilakukan sesuai dengan panduan resmi atas pengujian produk. Memilih peralatan yang sesuai denan panduan yang dimaksud. Memastikan personel yang melakukan kegiatan pengujian juga telah memenuhi standar persyaratan yang dimaksud. Untuk dapat lebih memaksimalkan sistem pengujian di dalam penerapan keamanan pangan, lakukan penggunaan referensi eksternal yang tepat (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Seperti Sistem Manajemen lainnya, Sistem Manajer Keamanan Pangan juga membutuhkan adanya pengendali dokumen. Pengendali dokumen ini bisa masuk ke dalam struktur organisasi secara khususnya namun juga tidak sedikit yang menjalankan secara rangkap jabatan.
Lalu apa saja sebenarnya fungsi dari pengendali dokumen dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Berikut adalah fungsi yang dimaksud.
(1) Mengidentifikasi Kelengkapan Dokumen Organisasi
Pengendali dokumen harus memiliki kemampuan untuk memahami persyaratan atas pembuatan dan keberadaan dokumen mulai dari level 1 sampai dengan level 3. Dengan harapan, adanya kemampuan ini mampu untuk membuat personal lebih memahami kebutuhan dari penyusunan dokumen yang ada di organisasi.
(2) Melakukan Fungsi Kepatuhan Sistem
Melakukan pemeriksaan secara berkala atas pengkinian dari sistem yang ada serta mengidentifikasi kebutuhan yang terkait dengan dokumen itu sendiri. Memastikan bahwa seluruh persyaratan regulasi yang terkait dengan dokumen terpenuhi.
(3) Melakukan verifikasi record
Melakukan pengecekan untuk mengetahui apakah catatan berjalan dan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Proses ini bertujuan untuk melihat konsistensi kelengkapan data yang dipersyaratkan.
(4) Menjalankan administrasi pengendalian dokumen dan catatan
Proses registrasi serta pendistribusian, termasuk melakukan penarikan atas dokumen dan catatan yang sudah tidak dipergunakan. Proses ini juga untuk melakukan verifikasi untuk mencegah adanya sistem dokumentasi yang berulang.
(5) Mendukung kegiatan audit
Memastikan bahwa proses persiapan dan pelaksanaan audit berjalan dengan baik. Melakukan proses penyediaan kebutuhan atas dokumen dan catatan yang diperlukan. Terima menjadi anggota tim traceability.
Menjadi pengendali dokumen secara fungsi berperan penting dan tidak hanya sebatas juru ketik saja. Kembangkan peranan ini dengan tepat di dalam perusahaan agar sistem berjalan dengan efektif. Lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat untuk meningkatkan peranan sistem manajemen keamanan pangan di perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08229369936)
Standar yang terkait dengan standar yang berhubungan dengan persyaratan PRP (Pre Requisite Program) telah mengalami proses pembaharuan pada periode tahun 2025, seiringan dengan kemunculan dari ISO 22002:100 maka penetapan atas PRP pada sektor logistik dan transportasi tersebut mengalami pengkinian sesuai dengan pembaharuan yang dimaksud.
Terkait dengan penetapan atas PRP pada sektor logistik dan transportasi pada periode 2025, berikut ini adalah gambaran yang dapat dikaji oleh pelaksana dari pelaku sektor logistik dan transportasi.
Lakukan proses pembelajaran atas standar yang tepat untuk kemudian dilakukan kajian yang berhubungan dengan kebutuhan untuk pengembangan sistem yang dimaksud. Perusahaan dapat memasikan penggunaan referensi eksternal yang tepat untuk dapat melakukan proses pembaharuan atas PRP sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, proses pelatihan menjadi bagian penting untuk dapat memastikan bahwa proses implementasi yang terkait dengan sistem dapat dijalankan dengan maksimal. Namun, tidak sedikit perusahaan mengalami kesulitan dalam kegiatan implmentasi, yang salah satu penyebabnya adalah adanya karena pelatihan yang berjalan tidak tepat dan tidak efektif.
Pelatihan keamanan pangan itu sendiri dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Pelatihan internal memiliki nilai kekuatan karena materi yang dikembangkan lebih sesuai dengan kondisi yang ada di perusahaan. Trainer pun memahami konteks organisasi dengan tepat. Namun pelatihan internal apabila dikembangkan dengan program yang terstruktur dapat membantu perusahaan untuk memaksimalkan pelatihan itu sendiri untuk dapat meningkatkan implementasi sistem. Walaupun demikian, pelatihan eksternal sebagai bentuk pengembangan validasi dapat dijalankan untuk melakukan proses penetapan pelatihan yang tepat agar informasi pelatihan yang didapatkan dari pihak eksternal dapat diserap dan diimplementasikan ke seluruh organisasi dengan tepat.
Berikut ini adalah tahapan pengembangan pelatihan keamanan pangan yang dapat dijalankan untuk dapat meningkatkan proses implementasi.
Pengembangan pelatihan keamanan pangan dapat dijalankan dengan mempergunakan referensi eksternal yang tepat, dimana proses pengembangan dari program pelatihan itu dijalankan dengan mempergunakan tahapan yang dimaksud di atas. Implementasi sangat membutuhkan adanya pendekatan pelatihan dan sosialisasi yang tepat agar sistem dapat berkembang menjadi budaya yang dijalankan oleh seluruh pihak. Lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat agar Sistem Manajemen Keamanan Pangan dapat berjalan secara optimal. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)