Mempersiapkan Pengurusan SNI untuk Produk Pangan

Persyaratan SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk produk pangan ditetapkan menjadi suatu kewajiban terkait dengan produk pangan. Untuk dapat memiliki SNI, industri penghasil produk pangan tersebut dipastikan untuk melakukan proses persiapan terkait dengan proses audit SNI.

Lalu bagaimana proses pengurusan SNI dapat dijalankan? Berikut ini adalah tahapan-tahapan yang dapat dilakukan oleh pengurusan untuk melakukan pengurusan SNI.

Proses persiapan terkait dengan audit SNI didahului untuk melakukan proses sertifikasi ISO 9001 terlebih dahulu. Ada baiknya pembuatan sistem ISO 9001 yang dijalankan oleh perusahaan dengan mempergunakan referensi eksternal yang tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Tahapan Penyusunan FSSC Versi 7 pada Industri Pakan Ternak/ Produk Pangan Untuk Hewan

Daam menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, FSSC Versi 7, persyaratan yang terkait dengan standar terbaru tidak hanya berlaku pada industri pangan, namun juga pada industri pakan ternak/produk pangan untuk hewan. Penerapan yang terkait dengan standar ini, dilakukan analisis sesuai dengan kategori produk, yaitu kategori produk D. Untuk dapat melakukan proses sertifikasi terkait dengan FSSC Versi 7, berikut ini adalah tahapan yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk dapat dijalankan.

Dalam penerapan aplikasi FSSC Versi 7, berikut adalah beberapa persyaratan yang harus dipastikan masuk ke dalam sistem standar yang dimaksud.

(1) ISO 22000:2018

Perusahaan melakukan proses kajian atas Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang dipersyaratan dalam ISO 22000:2018. Standar ini menjadi bagian penting yang mendasari pelaksanaan dari program FSSC Versi 7. Struktur dokumen serta persyaratan dipelajari untuk kemudian disusun dan diimplementasikan daam perusahaan.

(2) Codex Alimentarius CXC I-1969 versi 2022

Standar persyaratan terkait dengan Codex adalah proses mengadopsi yang berhubungan dengan HACCP di dalam industri pakan. Terdapat informasi yang terkait dengan pembahasan yang berhubungan dengan PRP serta atribut persyaratan lainnya yang terkait dengan penerapan HACCP.

(3) Persyaratan ISO 22002-100:2025 dan ISO 22002-6:2025

Standar persyaratan yang terkait dengan PRP (Pre Requsisite Program/ Program Persyaratan Dasar) yang terkait dengan standar teknis untuk produk pakan ternak/ produk pangan untuk hewan. Persyaratan ini secara detail menjelaskan seluruh standar persyaratan yang berhubungan dengan PRP.

(4) Persyaratan Tambahan FSSC

Di dalamnya terdapat informasi yang menjadi parameter tambahan yang diperlukan terkait dengan persyaratan industri pakan, termasuk di dalamnya adalah standar yang terkait dengan implementasi Sistem Manajemen Mutu,Budaya Mutu dan Keamanan Pangan, serta persyaratan lainnya.

Menjalankan proses penyusunan FSSC Versi 7 dapat memberikan manfaat positif bagi industri pakan/ pangan untuk hewan dimana standar persyaratan ini dapat mendukung jaminan kualitas dan keamanan pangan kepada pelanggan, dapat menjadi pertimbangan untuk dapat memaksimalkan pengembangan bisnis dalam perusahaan. Penyusunan sistem dapat dijalankan oleh referensi eksternal yang tepat dan berpengalaman dalam penerapan yang terkait dengan FSSC Versi 7. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mempersiapkan Audit HACCP untuk Sektor Katering

Penyedia jasa katering (food service) saat ini memiliki tantangan untuk dapat memenuhi standar keamanan pangan yang terkait dengan sektor katering. Untuk dapat memenuhi persyaratan terkait dengan keamanan pangan, salah satu hal yang dapat dijalankan adalah dengan menjalankan sertifikasi HACCP. Untuk dapat menjalankan proses sertifikasi HACCP, ada baiknya jasa katering yang dimaksud dapat menjalankan tahapan yang terkait dengan audit HACCP yang dimaksud.

Berkut ini adalah tahapan yang terkait dengan proses sertifikasi HACCP yang dapat dijalanka oleh pelaku dari sektor katering.

Untuk dapat memastikan bahwa persiapan telah sesuai dan memenuhi kesiapan dari pelaku katering dapat memnjalankan setiap tahapan yang disebutkan dalam diagram. Agar dapat memastikan bahwa seluruh persyaratan tersebut terpenuhi, lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan proses audit dan sertifikasi HACCP yang dimaksud. Penggunaan konsultan yang berpengalaman dalam memastikan bahwa standar persyaratan yang dimaksud terpenuhi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Membentuk Tim Keamanan Pangan yang Efektif

Dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, membentuk tim keamanan pangan adalah salah satu persyaratan yang harus dimiliki dalam penerapan sistem. Untuk memastikan bahwa tim keamanan pangan tersebut memiliki fungsi yang efektif dalam melakukan proses pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Hal ini menjadi penting, mempertimbangkan bahwa implementasi dapat berjalan dengan tepat apabila tim keamanan pangan bekerja secara maksimal.

Untuk dapat membentuk tim keamanan pangan yang efektif, berikut ini adalah tahapan-tahapan yang dapat dijalankan oleh perusahaan.

Dengan melakukan tahapan yang dimaksud, perusahaan dapat memastikan bahwa kinerja atas keamanan pangan adalah kinerja tim dan bukan kinerja individu. Tim keamanan pangan adalah agen penggerak untuk dapat memastikan bahwa organisasi yang dimaksud mampu menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Tahapan Menjalankan Sertifikasi Non GMO di Industri Pangan

Pemberian label Non GMO (Genetic Modified Organism) pada produk pangan menjadi suatu nilai tambah pada produk khususnya apabila akan dilakukan penjualan pada area Internasional dan pelanggan yang memiliki kepedulian atas produk Non GMO. Dalam memastikan bahwa produk yang dimaksud adalah Non GMO, perusahaan dapat melakukan verifikasi eksternal untuk kemudian mendapatkan label yang terkait dengan produk Non GMO.

Untuk dapat menjalankan tahapan yang terkait dengan sertifikasi Non GMO, berikut ini adalah tahapan yang dapat dijalankan untuk menjalankan proses sertifikasi Non GMO.

Untuk dapat melakukan proses persiapan verifikasi ini, perusahaan dapat mempergunakan referensi eksternal yang tepat untuk dapat memenuhi standar persyaratan yang terkait dengan Non GMO. Dengan melakukan sertifikasi verifikasi Non GMO, produk dapat lebih memiliki tingkatan kepercayaan oleh pelanggan yang tinggi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Peranan Konsultan dalam Proses Up Grade FSSC Versi 7

Sejak 1 Mei 2026, terdapat informasi yang berhubungan dengan up grade standar dari FSSC Versi 6 menjadi FSS Veri 7. Proses ini sudah mulai efektif dijalankan, baik untuk perusahaan yang telah memiliki sertifikat FSSC Versi 6 ataupun perusahaan yang belum memiliki sertifikat FSSC. Adapun untuk perusahaan yang telah memiliki sertifikat FSSC versi 6, perubahan ini dijalankan dengan melakukan proses up grade pada sistem yang ada. Proses up grade ini dapat dijalankan sengan skema proses sebagai berikut.

Untuk dapat melakukan proses up grade atas sertifikasi ini, perusahaan dapat mempergunakan konsultan yang berpengalaman dalam sistem dengan pendekatan interpersonal yang kuat. Hal ini bertujuan untuk dapat memastikan bahwa proses implementasi yang dijalankan dalam sistem bisa berjalan dengan efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Fungsi dan Peran Pengendali Dokumen dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Seperti Sistem Manajemen lainnya, Sistem Manajer Keamanan Pangan juga membutuhkan adanya pengendali dokumen.  Pengendali dokumen ini bisa masuk ke dalam struktur organisasi secara khususnya namun juga tidak sedikit yang menjalankan secara rangkap jabatan.

Lalu apa saja sebenarnya fungsi dari pengendali dokumen dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Berikut adalah fungsi yang dimaksud.

(1) Mengidentifikasi Kelengkapan Dokumen Organisasi

Pengendali dokumen harus memiliki kemampuan untuk memahami persyaratan atas pembuatan dan keberadaan dokumen mulai dari level 1 sampai dengan level 3. Dengan harapan, adanya kemampuan ini mampu untuk membuat personal lebih memahami kebutuhan dari penyusunan dokumen yang ada di organisasi.

(2) Melakukan Fungsi Kepatuhan Sistem

Melakukan pemeriksaan secara berkala atas pengkinian dari sistem yang ada serta mengidentifikasi kebutuhan yang terkait dengan dokumen itu sendiri. Memastikan bahwa seluruh persyaratan regulasi yang terkait dengan dokumen terpenuhi.

(3) Melakukan verifikasi record

Melakukan pengecekan untuk mengetahui apakah catatan berjalan dan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Proses ini bertujuan untuk melihat konsistensi kelengkapan data yang dipersyaratkan.

(4) Menjalankan administrasi pengendalian dokumen dan catatan

Proses registrasi serta pendistribusian, termasuk melakukan penarikan atas dokumen dan catatan yang sudah tidak dipergunakan. Proses ini juga untuk melakukan verifikasi untuk mencegah adanya sistem dokumentasi yang berulang.

(5) Mendukung kegiatan audit

Memastikan bahwa proses persiapan dan pelaksanaan audit berjalan dengan baik. Melakukan proses penyediaan kebutuhan atas dokumen dan catatan yang diperlukan. Terima menjadi anggota tim traceability.

Menjadi pengendali dokumen secara fungsi berperan penting dan tidak hanya sebatas juru ketik saja. Kembangkan peranan ini dengan tepat di dalam perusahaan agar sistem berjalan dengan efektif. Lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat untuk meningkatkan peranan sistem manajemen keamanan pangan di perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08229369936)

Bagaimana Mengendalikan CCP yang Tepat

Dalam implementasi HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), penetapan CCP dilakukan untuk mengendalikan proses dengan tingkat bahaya yang signifikan. Melihat pentingnya CCP tersebut, maka proses pengendalian harus dijalankan dengan tepat. Berikut ini adalah gambaran yang terkait dengan proses pengendalian CCP.

Pengendalian ini harus dijalankan secara sistematis dan terstruktur, dimana proses operasional dilakukan untuk memastikan bahwa batas kritis dijalankan sesuai dengan standar persyaratan keamanan pangan yang ada. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk melakukan pengendalian keamanan pangan agar produk yang dihasilkan adalah aman. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penerapan PRP Pada Sektor Logistik & Transportasi

Standar yang terkait dengan standar yang berhubungan dengan persyaratan PRP (Pre Requisite Program) telah mengalami proses pembaharuan pada periode tahun 2025, seiringan dengan kemunculan dari ISO 22002:100 maka penetapan atas PRP pada sektor logistik dan transportasi tersebut mengalami pengkinian sesuai dengan pembaharuan yang dimaksud.

Terkait dengan penetapan atas PRP pada sektor logistik dan transportasi pada periode 2025, berikut ini adalah gambaran yang dapat dikaji oleh pelaksana dari pelaku sektor logistik dan transportasi.

Lakukan proses pembelajaran atas standar yang tepat untuk kemudian dilakukan kajian yang berhubungan dengan kebutuhan untuk pengembangan sistem yang dimaksud. Perusahaan dapat memasikan penggunaan referensi eksternal yang tepat untuk dapat melakukan proses pembaharuan atas PRP sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pengembangan Pelatihan Keamanan Pangan yang Tepat

Dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, proses pelatihan menjadi bagian penting untuk dapat memastikan bahwa proses implementasi yang terkait dengan sistem dapat dijalankan dengan maksimal. Namun, tidak sedikit perusahaan mengalami kesulitan dalam kegiatan implmentasi, yang salah satu penyebabnya adalah adanya karena pelatihan yang berjalan tidak tepat dan tidak efektif.

Pelatihan keamanan pangan itu sendiri dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Pelatihan internal memiliki nilai kekuatan karena materi yang dikembangkan lebih sesuai dengan kondisi yang ada di perusahaan. Trainer pun memahami konteks organisasi dengan tepat. Namun pelatihan internal apabila dikembangkan dengan program yang terstruktur dapat membantu perusahaan untuk memaksimalkan pelatihan itu sendiri untuk dapat meningkatkan implementasi sistem. Walaupun demikian, pelatihan eksternal sebagai bentuk pengembangan validasi dapat dijalankan untuk melakukan proses penetapan pelatihan yang tepat agar informasi pelatihan yang didapatkan dari pihak eksternal dapat diserap dan diimplementasikan ke seluruh organisasi dengan tepat.

Berikut ini adalah tahapan pengembangan pelatihan keamanan pangan yang dapat dijalankan untuk dapat meningkatkan proses implementasi.

Pengembangan pelatihan keamanan pangan dapat dijalankan dengan mempergunakan referensi eksternal yang tepat, dimana proses pengembangan dari program pelatihan itu dijalankan dengan mempergunakan tahapan yang dimaksud di atas. Implementasi sangat membutuhkan adanya pendekatan pelatihan dan sosialisasi yang tepat agar sistem dapat berkembang menjadi budaya yang dijalankan oleh seluruh pihak. Lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat agar Sistem Manajemen Keamanan Pangan dapat berjalan secara optimal. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)