5 Kesalahan Dalam Mengelola Bisnis Kuliner

Saat ini, banyak perusahaan bergerak di bidang kuliner. Namun, tidak sedikit perusahaan tersebut mengalami kegagalan dalam mengelola bisnisnya. Untuk dapat lebih mengoptimalkan bisnis kuliner, adalah penting bagi perusahaan untuk dapat mempelajari kesalahan-kesalahan yang muncul dalam bisnis kuliner. Berikut ini adalah 5 (lima) kesalahan yang seringkali muncul dalam bisnis kuliner tersebut.

(1) Sistem Budgeting yang Tidak Efektif

Bisnis kuliner, membutuhkan perhitungan budget yang akurat. Pengelolaan cash flow harus didukung dengan pemantauan terhadap budget. Strategi dan penanganan secara cepat terhadap setiap kondisi perubahan cash flow menjadi hal yang sangat penting untuk dipastikan terkelola dalam organisasi. Pengendalian dilakukan per hari untuk memastikan bahwa sistem budget dapat dijalankan dengan tepat.

(2) Tidak Terdapat Mekanisme Inovasi

Bisnis kuliner adalah bisnis yang secara produk sangat mudah untuk dilakukan peniruan. Dalam beberapa kondisi inovasi dijalankan untuk lebih meningkatkan nilai kompetisi dan mengurangi resiko bisnis atas kehilangan pelanggan dan biaya. Inovasi dapat membangun ketertarikan dan mejadi media promosi dalam meningkatkan kinerja bisnis dalam organisasi.

(3) Tidak Berfokus Kepada Pelanggan

Dalam pengelolaan bisnis, orientasi atas kebutuhan pelanggan harus teridentifikasi dengan tepat. Bagaimana pelanggan terkenali dan melihat ekspektasi ke depan dari pelanggan. Beberapa kasus menunjukkan, bahwa kemampuan untuk memahami pelanggan menjadi bagian penting dalam bisnis kuliner untuk memenangkan kompetisi. Bagaimana pun juga, pelangganlah penentu utama bisnis kuliner.

(4) Salah Dalam Berpromosi

Tidak selalu promosi diidentikan dengan harga dan menu saja. Promosi yang tepat mampu untuk memberikan gambaran bahwa bisnis kulier yang dimiliki memiliki keterikatan emosional dengan pelanggan. Tidak seluruh pelanggan mendatangi outlet karena harga. Experiencing dan keterikatan atas outlet Anda kepada pelanggan menjadi kunci utama.

(5) Tidak Memperhatikan Kebersihan

Kebersihan adalah salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen. Kebersihan sendiri mampu melindungi bisnis kuliner dari resiko faktor keamanan pangan yang dapat merugikan bisnis sendiri. Kebersihan memberikan kenyaman dan cara pandang yang positif dari pelanggan terhadap suatu bisnis kuliner.

Bagaimana dengan pengelolaan bisnis kuliner Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat mengembangkan bisnis kuliner yang Anda miliki. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mendesain CTPAT System Dalam Organisasi

CTPAT (Customs Trade Against Terorism) adalah salah satu persyaratan yang ditetapkan oleh Pemerintah Amerika Serikat sebagai bentuk perlindungan dari potensi ancaman yang muncul terkait dengan perdagangan antar negara yang dijalankan oleh Negara tersebut. Dalam konteks negara Indonesia, perusahaan yang dikategorikan dengan resiko produk dan bisnis yang tinggi berkewajiban untuk mengikuti persyaratan atas sistem CTPAT tersebut.

Terdapat beberapa tahapan yang dapat perusahaan jalankan untuk memenuhi persyaratan atas penyusunan dan desain dari CTPAT tersebut.

(1) Mengidentifikasi Karaktristik Bisnis Perusahaan

Dalam menyusun desain CTPAT, perusahaan sebaiknya melakukan proses penetapan atas status klasifikasi perusahaan. Terdapat 12 (dua belas) kriteria yang ditetapkan atas bisnis/ jenis perusahaan, dimana perusahaan diminta untuk mengidentifikasi kelompok kategori perusahaan dalam kategori CTPAT tersebut. Setelah teridentifikasi, maka dilakukan proses analisis kebutuhan sistem yang ada dalam perusahaan disesuaikan dengan Sistem CTPAT yang dijalankan tersebut.

(2) Menyusunan Sistem

Konsep dari sistem keamanan yang ditetapkan meliputi sistem keamanan yang memadukan antara sistem internal perusahaan dan eksternal perusahaan. Dalam CTPAT, terdapat beberapa persyaratan kepatuhan yang tidak hanya wajib untuk dijalankan oleh pihak internal dan eksternal perusahaan. Dimana vendor juga turut berpartisipasi di dalam memastikan sistem keamanan dijalankan dengan tepat dan efektif.

(3) Ketersediaan Infrastruktur

Kesesuaian infrastruktur dalam perusahaan menjadi salah satu bagian penting yang dipergunakan perusahaan untuk memastikan bahwa sistem keamanan terjaga dan terkelola secara efektif. Dalam CTPAT, terdapat beberapa klasifikasi dari pengelolaan infrastruktur yang menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan dalam perusahaan.

Bagaimana perusahaan Anda memastikan sistem keamanan dapat terkelola dengan tepat? Lakukan proses pencarian referensi eksternal untuk dapat memastikan sistem manajemen keamanan di dalam perusahaan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam CTPAT. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mendesain Fraud Prevention Management Dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan berbasis GFSI (Global Food Safety Initiative),  penerapan Sistem Food Security adalah mandatory dalam perusahaan. Dalam konsep Food Security Program,  pengendalian atas threat dan vulnerability dakam pengendalian sistem Food Security.  Fraud adalah kemunculan terjait dengan aspek vulnerability  yang bersumber dari anca.Poppi

Lalu bagaimana perusahaan menjalankan sistem Food Security Management Program sebagai bagian dari Sistem Food Security Program?

(1) Menjalankan Risk Assessment Pemasok

Proses identifikasi atas risk assessment terkait dengan sistem pencegahan anti fraud pada setiap setiap supplier. Memastikan bahwa setiap pemasok teridentifikasi status terkait dengan resiko anti fraud. Identifikasi atas potensi dan tingkat resiko terkait dengan kemunculan resiko-resiko tinggi yang terkait dengan resiko pada produk. Melakukan proses analisis berdasarkan pada referensi, issue, ataupun informasi terkait lainnya dalam mengidentifikasi resiko.

(2) Mengembangkan Budaya Anti Fraud Dalam Perusahaan

Self awareness menjadi kunci yang tepat dalam melakukan proses pencegahan atas fraud yang timbul. Membangun komunikasi yang transparan dalam manajemen serta memastikan bahwa setiap proses yang dilakukan seperti pemilihan pemasok dilakukan berdasarkan pada persyaratan objective yang muncul dalam perusahaan. Pelatihan serta proses rekruitmen juga dipastikan mengedepankan konsep atas budaya anti fraud.

(3) Menjalankan Audit

Proses audit, baik internal dan eksternal, terbukti dapat meminimalkan kemunculan fraud dalam perusahaan. Pemastian bahwa sistem baik desain sistem maupun implementasinya berjalan dengan tepat dan efektif menjadi bagian penting dalam proses pencegahan yang diharapkan. Selain memastikan pencegahan, audit juga dapat dilakukan apabila terdapat kemunculan permasalahan fraud yang beresiko dalam perusahaan.

Bagaimana perusahaan Anda menjalankan sistem anti fraud terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan? Pastikan bahwa konsep anti fraud dapat berjalan secara efektif tidak hanya dalam implementasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan saja, namun juga terkait dengan pelaksanaan Sistem Operasional perusahaan lainnya. Untuk dapat mengembangkan sistem anti fraud yang efektif, pastikan perusahaan mempergunakan referensi eksternal yang tepat dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mendesain Kompetensi yang Tepat dalam Organisasi

Pengelolaan manajemen SDM (Sumber Daya Manusia) dalam organisasi harus dipastikan sejalan dengan visi dan misi yang telah disusun oleh perusahaan. Banyak perusahaan yang gagal dalam mendesain kompetensi. Hal ini bisa disebabkan oleh banyaknya perusahaan yang menyalin kompetensi saja dari perusahaan lain. Sehingga kompetensi yang muncul dalam persahaan menjadi tidak tepat untuk dipergunakan. Mempertimbangkan permasalahan tersebut, perusahaan sebaiknya menjalankan tahapan-tahapan untuk mendesain kompetensi yang tepat dalam perusahaan.

(1) Melakukan Identifikasi Atas Nilai-nilai Perusahaan

Melakukan analisis atas visi dan misi perusahaan yang tertuang dalam nilai-nilai perusahaan. Proses identifikasi ini sangat bermanfaat dalam mendesain kompetensi non teknis.

(2) Melakukan Evaluasi Persyaratan Teknis

Mengidentifikasi persyaratan – persyaratan teknis yang ditetapkan dalam jabatan yang dimaksud serta bagaimana persyaratan teknis tersebut dipastikanbteralokasi dalam bentuk dimensi opererasional teknis kompetensi. Penetapan atas kriteria dari kompetensi teknis adalah sangat kritikal dan membutuhkan valudasi yang tepat.

(3) Menetapkan Kriteria Teknis Struktural

Bagaimana status atas kriteria strukural ditetapkan dalam penetapan kamus kompetensi. Tersedia banyak kriteria yang ditetapkan pada setiap level jabatan sesuai dengan standar persyaratan yang ada.

Bagaimana perusahaan Anda menyusun persyaratan kompetensi saat ini? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat mengembangkan Sistem Manajemen SDM dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mendesain Fraud Prevention Management Dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan berbasis GFSI (Global Food Safety Initiative),  penerapan Sistem Food Security adalah mandatory dalam perusahaan. Dalam konsep Food Security Program,  pengendalian atas threat dan vulnerability dakam pengendalian sistem Food Security.  Fraud adalah kemunculan terkait dengan resiko vulnerability yang lebih terfokus pada motif ekonomi.

Keberadaan Fraud dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan memiliki resiko yang sangat tinggi. Ada peluang kelolosan inspeksi yang disebabkan adanya kolusi dalam perusahaan yang dapat menyebabkan adanya potensi penyimpangan baik secara kualitas maupun keamanan pangan.

Lalu bagaimana perusahaan dalam mendesain Food Prevention System dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

(1) Menjalankan Risk Assessment

Melakukan proses penilaian resiko atas potensi vulnerability yang mungkin muncul pada setiap tahapan proses yang muncul dalam perusahaan. Vulnerability tidak hanya dijalankan pada setiap tahapan proses, termasuk pada pemasok yang dipergunakan oleh perusahaan. Beberapa situasi menunjukkan bahwa kolusi bisa dimunculkan dari pemasok.

(2) Memperhitungan Dampak dan Tingkat Signifikasi dari Resiko yang ada

Melakukan analisis terkait dengan signifikasi dan dampak dari resiko yang terkait dengan aspek vulnerability tersebut. Melakukan proses perhitungan atas kemunculan serta dampak dari resiko tersebut. Semakin tinggi resiko dan kekerapan dari kemunculan resiko tersebut akan semakin meningkatkan nilai signifikansi dari resiko yang muncul.

(3) Menetapkan Tindakan Mitigasi Atas Resiko

Penetapan mitigasi dapat dijalankan dalam bentuk verifikasi, proses mutasi personel, pelatihan ataupuan proses pelaksanaan fraud information. Mitigasi paling minim yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk kesadaran dan dalam tarap yang lebih tinggi adalah dalam periode tertentuk melakukan proses fraud analysis dari setiap SOP yang ditetapkan dalam perusahaan.

Langkah-langkah ini dapat dijalankan oleh perusahaan untuk memastikan bahwa Food Fraud Prevention System dijalankan dengan tepat dalam perusahaan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk mengelola sistem dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08192369926)

Mendesain Sistem Pengupahan Dalam Manufacturing

Konsep mendesain sistem pengupahan dalam industri manufacturing tergolong memiliki tantangan tersendiri. Dibandingkan dengan sektor lainnya, penetapan atas desain sistem pengupahan dalam manufacturing memiliki “ikatan”atas produktifitas dan desain pengupahan yang berkaitan dengan aspek preventif dalam business process. Beberapa ruang lingkup area yang ada dalam perusahan, merupakan ruang lingkup yang sangat langsung terkait dengan hasil secara kuantitas dan beberapa aspek berhubungan dengan hasil secara kualitas.

Sehingga ada baiknya penetapan terkait dengan sistem pengupahan dalam manufacturing dilakukan melalui proses penetapan tahapan yang tepat. Berikut ini adalah beberapa langkah yang harus ditetapkan oleh perusahaan untuk menetapkan desain sistem remunerasi yang tepat dan efektif dalam perusahaan.

(1) Menetapkan Job Grade

Dalam proses penetapan remunerasi, perusahaan harus dipastikan mendesain job grade dengan tepat. Menetapkan proses analisis untuk memastikan bagaimana konsep atas pembobotan pekerjaan dievaluasi. Terdapat beberapa jabatan / ruang lingkup pekerjaan yang sangat terkait erat dengan penetapan output dari manufacturing dan terdapat beberapa jabatan/ ruang lingkup pekerjaan yang terkait dengan sistem penyangga (supporting unit) dalam perusahaan. Diamana proses pembobotan yang dijalankan adalah berbeda antara satu dengan lainnya.

(2) Mengidentifikasi Kompetensi

Alih-alih melakukan evaluasi atas lamanya kerja sebagai salah satu variabel perhitungan, penetapan kompetensi sebagai bagian dari penetapan sistem remunerasi adalah sangat tepat. Bukan menyingkirkan loyalitas. Dimana dalam manufacturing, penetapan loyalitas juga memiliki porsi penting dalam proses perhitungan remunerasi, namun aspek kompetensi juga menjadi parameter utama. Perusahaan harus dapat menyeimbangkan dan menggiring SDM (Sumber Daya Manusia) untuk secara linier memiliki tingkat loyalitas dan kompetensi yang berimbang.

(3) Meningkatkan Nilai Output Dari Kinerja Jabatan

Penetapan sistem remunerasi yang didesain bukan hanya bersifat sebagai pemenuhan kewajiban perusahaan kepada karyawan. Perusahaan harus memastikan bahwa remunerasi bisa menjadi bagian dari proses motivasi dari karyawan. Bagaimana pemilik jabatan secara simultan memiliki nilai motivasi yang kuat melalui penetapan kompensasi yang tepat dalam perusahaan. Pola peningkatan nilai pendapatan karyawan sebaiknya tidak dinilai hanya dari masa lama bekerja, namun juga pencapaian atas hasil/ output produktifitas.

Bagaimana proses desain sistem remunerasi dalam perusahaan Anda? Ada baiknya desain dari sistem remunerasi dilakukan secara tepat dan optimal untuk dapat meningkatkan produkfitas perusahaan dan motivasi karyawan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam mendesain sistem remunerasi dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Menjalankan Remote Audit Untuk Food Safety Management System

Apakah saat ini perusahaan Anda memiliki sertifikasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan? Untuk menjalankan program sertifikasi dalam kondisi new normal ini telah menjadi tantangan tersendiri. Salah satu tantangan terbesar adalah program audit yang dijalankan dalam perusahaan yang menyebabkan tatap muka sehingga tidak menjadi mudah.

Lalu bagaimana solusinya? Saat ini, banyak kegiatan audit keamanan pangan yang bisa dijalankan secara remote. Untuk mekanisme audit, berikut ini adalah beberapa hal yang perlu untuk disiapkan.

(1)Infrastruktur Teknologi Informasi

Memastikan bahwa ketersediaan infrastruktur teknologi informasi efektif untuk dapat menjalankan remote audit. Ada baiknya sebelum menjalankan audit, perusahaan memastikan bahwa infrastruktur tersebut tekah lengkap dan berfungsi dengan baik.

(2)Mempersiapkan Dokumen dan Catatan

Adanya keterbatasan kondisi dari kegiatan ini, justru menuntut kelengkapan dokumen. Beberapa auditor menginformasikan jenis dokumen yang dibutuhkan, alangkah baiknya apabila dokumen tersebut disediakan jauh-jauh hari sebelumnya.

(3) Mempersiapkan Kondisi Lapangan

Memastikan bagaimana kondisi lapangan dalam keadaan bersih serta tersanitasi dengan baik. Secara cermat memastikan bahwa zoning area terkendali dari resiko kontaminasi silang.

Mempersiapkan pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan di dalam perusahaan harus dilakukan secara maksimal dan tepat. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat mengimplementasikan Sistem Manajemen Keamanan Pangan dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Strategi Efisiensi yang Tepat Dalam Perusahaan

Dalam kondisi dimana perusahaan mengalami banyak tantangan secara bisnis, salah satu konsep bertahan yang paling efektif adalah menjalankan efisiensi. Namun tidak sedikit perusahaan mengalami permasalahan dari pelaksanaan strategi efisiensi yang tidak tepat. Untuk dapat memnimalkan dampak negatif dari efisiensi, berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh perusahaan.

(1) Memilah Budget Biaya dengan Tepat

Biaya yang harus benar-benar diminimalkan adalah biaya yang tidak bersifat produktif. Namun bukan berarti menghilangkan biaya pengendalian perusahaan. Pengalihan dalam bentuk teknologi mungkin terlihat memberikan investasi tinggi, namun apabila dapat meningkatkan produktifitas dan meminimalkan resiko bisnis mungkin menjadi tepat untuk dapat dipertimbangkan.

(2) Mengembangkan Program Peningkatan Produktifitas

Memastikan bahwa program peningkatan atas produktifitas pada setiap lini operasional dijalankan. Dalam bidang manufacturing, adalah tidak bijaksana melakukan efisiensi atas budget maintenance ataupun pengembangan SDM yang terkait dengan peningkatan produktifitas.

(3) Melakukan Efisiensi Perusahaan Secara Total

Apabila perusahaan terpaksa menutup operasionalnya dan tidak terdapat alternatif dalam pengembangan usaha lainnya. Maka langkah efisiensi perusahaan secara total dapat dilakukan. Namun ada baiknya sebelumnya menjalankan hal tersebut, perusahaan membangun Business Continuity Plan untuk mempertimbangkan recovery business setelah efisiensi total dijalankan.

Bagaimana perusahaan Anda melakukan proses penyusunan program efisiensi? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat meningkatkan efisiensi perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Implementasi ISO 22000  Dalam Sektor Logistik

Rantai pangan yang berhubungan dengan keamanan pangan tidak hanya terfokus dalam industri pengolahan saja.  Sektor logistik juga menjadi bagian yang penting dalam rantai pangan dan pengelolaannya juga terkait dengan penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Lalu bagaimana penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan ISO 22000  pada sektor logistik?  Berikut ini adalah 5 (lima)  tahapan yang penting dalam proses penerapan ISO 22000  dalam sektor logistik.

(1) Penyusunan Sistem GMP dan SSOP

Mendesain GMP dan SSOP sedikit berbeda dengan penerapan GMP dan SSOP yang berhubungan dengan penerapan pada industri pangan.  Identifikasi sarana dan prasarana disesuaikan dengan penggunaan fasilitas logistik.

(2) Aplikasi HACCP Pada Sektor Logistik

Mendesain HACCP dalam tahap penanganan logistik,  termasuk penyimpanan dan transportasi.  Melakukan identifikasi atas aspek-aspek bahaya yang muncul dalam tahapan yang dimaksud.  Bahaya yang terdampak pada limgkungan harus dapat dipastikan terkendali untuk meminimalkan bahaya.

(3) Penetapan Control Measure

Setiap bahaya yang muncul dipastikan adanya pengendalian untuk menghilangkan ataupun mengurangi dengan control measures.  Penetapan Control Measure itu dapat meliputi PRP, Control Process dan Critical Control Process. Control Measure dipastikan untuk meminimalkan bahaya yang berdampak kepada produk.

(4) Melakukan Proses Verifikasi dan Validasi

Perusahaan menjalankan referensi yang tepat terkait dengan pengendalian bahaya dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan di bidang logistik. Penetapan verifikasi disusun berdasarkan pada pedoman yang sesuai dengan keamanan pangan.

(5) Menjalankan Proses Penilaian Kinerja Keamanan Pangan

Penetapan sasaran termasuk di dalamnya aspek kinerja penanganan resiko yang ada. Serta bagaimana evaluasi dijalankan dalam perusahaan.

Bagaimana perusahaan Anda menjalankan dan mengimplementasikan ISO 22000? Lakukan pencarian referensi eksternal untuk dapat mengimplementasikan Sistem ISO 22000. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Meningkatkan Motivasi Karyawan Selama Bekerja Work From Home (WFH)

Bekerja dengan mekanisme Work From Home sangat sulit untuk dikondisikan sama antara bekerja di kantor. Namun apa pun kondisinya, saat ini, setiap perusahaan harus melakukan proses perubahan terkait dengan pola kerja Work From Home.

Salah satu hal penting yang seringkali didengarkan dari tim yang bekerja dalam kegiatan Work From Home adalah sulitnya untuk menyamakan irama kerja dalam tim. Menjadi hal yang penting bagi tim untuk dapat mempertahankan motivasi kerja yang tepat agar target perusahaan dapat tercapai. Lalu bagaimana perusahaan dapat meningkatkan motivasi karyawan dalam program WFH, berikut ini adalah beberapa pendekatan yang dapat dilakukan perusahaan.

(1) Menjalankan Sistem Komunikasi On Line yang Tepat

Secara lingkungan, adanya pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan memiliki tingkat koneksi yang rendah apabila dilakukan di dalam persahaan. Pola komunikasi ini harus dapat dipastikan berjalan dengan tepat dan efektif.  Setiap pesan dan instruksi harus dipastikan jelas  dan terukur target output yang dihasilkan.  Keunikan komunikasi on line adalah lebih menekankan kepada tanggung jawab individu sebagai karyawan dalam perusahaan.

(2) Mengembangkan Sistem Administrasi SDM Secara On Line

Memastikan fungsi dan tanggung jawab dijalankan secara on line bukanlah perkara mudah. Begitu juga dalam penyusunan sistem administrasi SDM (Sumber Daya Manusia),khususnya yang terkait dengan kepersonaliaan.  Administrasi secara on line ini harus dapat dipastikan diimplementasikan dan dilakukan proses tindak lanjut yang tepat. Sehingga setiap orang bisa menjalankan secara maksimal.

(3) Melakukan Proses Pengembangan Kompetensi Secara Kontinyu

Jangan menjadikan alasan WFH sebagai hambatan dalam proses pengembangan kompetensi karyawan. Melakukan proses evaluasi untuk kemudian menjalankan program pengembangan terkait dengan kompetensi yang dimiliki oleh individu karyawan.  Proses pengembangan dalam bentuk pelatihan dan konseling dapat dilakukan secara terus-menerus tanpa hambatan WFH.

Kondisi WFH jangan menjadi masalah dalam proses pengembangan dan implementasi Sistem Manajemen SDM dalam perusahaan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang positif untuk dapat meningkatkan nilai kompetensi SDM dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 0812936926)