Langkah Efisiensi Sektor Manufacturing

Saat ini, sektor manufacturing dihadapkan banyak tantangan yang menuntut adanya strategi untuk memastikan bahwa perusahaan masih dapat berjalan dengan tepat. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah strategi efisiensi. Penerapan atas langkah strategi efisiensi dijalankan secara terstruktur dan tepat agar pengembangan efisiensi dapat dijalankan.

Untuk dapat menjalankan efisiensi yang tepat, berikut ini adalah beberapa langkah efisiensi yang dapat dilakukan oleh perusahaan.

Tahapan efisiensi ini sebaiknya mulai dijalankan tidak hanya dengan pertimbangkan kondisi eksternal, namun juga menjadi suatu inovasi bagi perusahaan terkait dengan optimalisasi proses dan sumber daya. Pergunakan kondisi yang ada saat ini sebagai tantangan untuk lebih meningkatkan nilai produktifitas dan pengembangan bisnis perusahaan. Lakukan penggunaan konsultan yang tepat untuk dapat mengembangkan program-program inovasi yang dijalankan dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Tahapan Menyusun Sistem Remunerasi Manufacturing yang Efektif

Proses pengelolaan remunerasi pada bidang manufacturing membutuhkan prinsip kehati-hatian serta kecermatan. Sistem remunerasi yang tepat akan membantu peningkatan produktifitas dalam perusahaan. Namun, apabila penyusunan yang dilakukan tersebut tidak dijalankan dengan efektif, maka produktifitas dapat menurun, memunculkan konflik bahkan kemunculan kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja yang kompeten.

Untuk dapat menghasilkan sistem remunerasi yang tepat, berikut ini adalah tahapan yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk dapat menghasilkan Sistem Remunerasi yang efektif.

(1) Penyusunan Skala Upah

Menyusun skala pengupahan dilakukan berdasarkan pada kaidah grade jabatan, dimana penetapan atas tabulasi skala pengupahan ini dipetakan berdasarkan pada kondisi idel level jabatan. Untuk menyusun skala pengupahan yang tepat, perusahaan harus terlebih dahulu melakukan proses analisis jabatan pada setiap jabatan yang ada dalam organisasi, pemetaan atas referensi pengupahan, serta penyesuaian dengan kondisi yang ditetapkan oleh perusahaan.

(2) Gaji Pokok

Gaji pokok ini ditetapkan berdasarkan pada hasil pemetaan yang ditetapkan sesuai dengan skala pengupahan. Gaji pokok ini secara periodik harus dievaluasi sesuai dengan inflasi yang muncul untuk kemudian dilakukan proses penyesuaian atas gaji pokok yang telah ditetapkan. Termasuk di dalamnya adalah penyesuaian atas tabulasi skala upah yang ditetapkan.

(3) Tunjangan

Penetapan tunjangan ini ditetapkan sesuai dengan kebijakan internal perusahaan. Pertimbangan atas tunjangan ini adalah dengan melihat kondisi beban kerja, tanggung jawab ataupun signifikansi pekerja tersebut terkait dengan resiko tertentu. Pemberian tunjangan ditetapkan dan dipastikan tertulis. Sistem ini harus konsisten berjalan apabila seluruh persyaratan dalam pemenuhan tunjangan tersebut terpenuhi.

(4) Benefit

Pemberian manfaat diberikan secara khusus pada beberapa karyawan dijalankan sesuai dengan kebijakan perusahaan. Berbeda dibandingkan dengan tunjangan, benefit ini dapat diberikan dalam bentuk kompensasi yang tidak diuangkan. Pemberikan kendaraan perusahaan, asuransi kesehatan tambahan, rumah dinas maupun bentuk fasilitas lainnya. Hal yang perlu diperhatikan bahwa benefit ini tidak dapat diganti dengan uang.

(5) Bonus/Insentif

Insentif adalah bentuk penghargaan perusahaan yang diberikan kepada karyawan terkait dengan pencapaian kinerja. Fungsi dari bonus/insentif adalah pertimbangan nilai kesulitasn pencapaian yang dimaksud, keuntungan perusahaan serta kontribusi yang signifikan ke perusahaan.

Perusahaan harus dapat memastikan bahwa Sistem Remunerasi yang dimiliki adalah efektif dan sesuai dengan regulasi. Untuk dapat melakukan hal tersebut, perusahaan dapat mempergunakan konsultan/referensi eksternal untuk melakukan kajian yang terkait dengan aspek remunerasi yang dimaksud. Penggunaan konsultan yang berpengalaman dapat mempergunakan sistem remunerasi dijalankan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengembangkan SOP ke dalam Strategi Efisiensi

Banyak perusahaan telah memiliki SOP (Standard Operating Procedure), namun tidak sedikit perusahaan tidak mempergunakan SOP untuk menjalankan strategi efisiensi. Hal ini cukup disayangkan, mempertimbangkan bahwa SOP itu sendiri dapat memiliki manfaat yang luas di dalam perusahaan selain untuk menjadi panduan tata kelola perusahaan.

Bagaimana gambaran perusahaan dalam menjalankan SOP (Standard Operating Procedure) yang dijalankan dalam pengelolaan yang berhubungan dengan strategi efisiensi? Berikut ini adalah gambaran yang dimaksudkan untuk mempergunakan SOP untuk menjalankan strategi efisiensi yang dimaksud.

Tidak efisiennya perusahaan adalah resiko yang dapat didetailkan pada setiap tahapan proses ataupun unit kerja. Pengendalian resiko dilakukan pada masing-masing unit kerja dalam bentuk penetapan sistem yang dapat diwujudkan dalam bentuk SOP (Standard Operating Procedure). Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk mendesain SOP yang tepat termasuk di dalamnya adalah penetapan atas strategi efisiensi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Peranan QC/QA dalam Strategi Efisiensi

Pada bisnis manufacturing, terdapat fungsi/departemen Quality Control (QC)/ Quality Assurance (QA) . Unit kerja QC yang berperan dalam pemeriksaan dan pengawasan atas kualitas. Sedangkan pada unit kerja QA (Quality Assurance) memiliki peranan dalam mendesain serta mengembangkan sistem penjaminan kualitas.

Dalam program efisiensi, peranan QC/QA menjadi bagian penting dimana dapat sangat membantu perusahaan terkait dengan penyeimbangan yang berkaitan dengan kualitas dan bisnis. Berikut ini adalah diagram yang menjelaskan bagaimana QA/QC dapat berperan dalam kegiatan pengembangan strategi bisnis.

Penetapan atas program efisiensi di manufacturing secara aktual membutuhkan peranan dari seluruh departemen tidak hanya dari QA/QC saja. Untuk dpat mengelola strategi efisiensi perusahaan, pastikan bahwa program yang dikembangkan adalah terstruktur. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat mengelola strategi efisiensi daam perusahaan. Penggunaan konsultan yang berpengalaman dapat membantu proses pengembangan strategi yang dimaksud. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Manfaat Pra Audit BRCGS Versi 7 pada Industri Kemasan

Penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan BRCGS Versi 7 untuk industri kemasan, adalah salah jenis sertifikasi yang berbasiskan GFSI (Global Food Safety Initiative). Proses sertifikasi ini sedikit berbeda dengan skema sertifikasi FSSC ataupun ISO 22000, yang dimana terdapat dua tahapan kegiatan audit, yaitu initial audit dan final audit untuk mendapatkan sertifikat. Pada skema BRCGS, proses audit dijalankan dalam kegiatan satu tahapan audit saja sehingga perusahaan diminta untuk mempersiapkan sertifikasi BRCGS,

Untuk melakukan pemeriksaan terkait dengan kesiapan yang dimaksud, perusahaan dapat menjalankan kegiatan pra audit sebagai bentuk proses evaluasi yang dapat dilakukan.

Hasil dari kegiatan pra audit kemudian diperiksa untuk melihat bahwa setiap temuan harus ditindaklanjuti sebagai upaya terkait dengan pemenuhan persyaratan yang ada. Untuk dapat memenuhi persyaratan yang dimaksud, perusahaan dapat melakukan proses lanjutan untuk melakukan proses sertifikasi BRCGS pada sektor industri kemasan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mempersiapkan Pengurusan SNI untuk Produk Pangan

Persyaratan SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk produk pangan ditetapkan menjadi suatu kewajiban terkait dengan produk pangan. Untuk dapat memiliki SNI, industri penghasil produk pangan tersebut dipastikan untuk melakukan proses persiapan terkait dengan proses audit SNI.

Lalu bagaimana proses pengurusan SNI dapat dijalankan? Berikut ini adalah tahapan-tahapan yang dapat dilakukan oleh pengurusan untuk melakukan pengurusan SNI.

Proses persiapan terkait dengan audit SNI didahului untuk melakukan proses sertifikasi ISO 9001 terlebih dahulu. Ada baiknya pembuatan sistem ISO 9001 yang dijalankan oleh perusahaan dengan mempergunakan referensi eksternal yang tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pemahaman Biaya Kualitas dan Pengendaliannya Pada Sektor Manufacturing

Dalam penerapan kualitas pada sektor manufacturing, perusahaan dihadapkan pada biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk menjaga produk berkualitas dan mampu untuk memenuhi kepuasan pelanggan. Adapun kategori yang ditetapkan terkait dengan biaya kualitas adalah penjelasan sebagai berikut.

Adapun proses pengendalian yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

(1) Prevention Cost

Biaya ini dikeluarkan terkait dengan investasi sistem yang dibuat oleh perusahaan, baik itu dalam bentuk ketersediaan Sistem Manajemen Mutu, Internal Audit, serta proses sertifkasi. Biaya ini tidaklah murah, sehingga amat penting bagi perusahaan untuk secara konsisten menjalankan sistem manajemen yang tepat agar mendapatkan hasil maksimal dari sistem yang dimaksud.

(2) Appraisal Cost

Variabel biaya yang terkait dengan appraisal cost adalah biaya pengujian baik itu pemeriksaan laboratorium serta pengujian produk lainnya. Biaya ini terkait dengan biaya dari pengujian yang dilakukan baik secara internal maupun eksternal. Dimana biaya itu juga meliputi biaya penyediaan dan pemeliharaan peralatan, biaya personel yang melakukan pengujian serta biaya operasional pengujian itu sendiri. Penetapan atas metode pengujian menjadi penentu dari nilai biaya pengujian. Diharapkan nilai pengujian yang dijalankan adalah akurat dan sesuai dengan metode yang telah menjadi acuan.

(3) Cost of Internal Failure

Variabel biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penanganan apabila ditemukan adanya produk/ barang yang selama proses produksi. Penanganan ini dapat diminimalkan apabila penanganan proses produksi dapat dikendalikan dengan tepat sehingga tidak memunculkan adanya biaya tambahan yang terkait dengan penyimpangan produk. Biaya ini juga mencakup pada kehilangan atas material dan produk yang tidak terealisasi menjadi produk jadi.

(4) Cost of External Failure

Variabel biaya yang dikeluarkan untuk penanganan apabila ditemukan adanya penyimpangan produk jadi yang telah sampai kepada pelanggan. Biaya ini muncul terkait dengan keluhan pelanggan atas produk, termasuk pergantian, penarikan produk, biaya investigasi, proses penanganan dan antisipasi atas klaim legal ataupun tuntutan lainnya dari pelanggan.

(5) Cost of Supplier Selection

Biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk melakukan pencarian pemasok, pembinaan serta penanganan sebelum memilih pemasok tersebut. Biaya ini dikeluarkan untuk mencegah adanya barang yang tidak sesuai dipasok ke dalam proses yang dapat menyebabkan permasalahan.

Perusahaan mempergunakan quality cost sebagai bentuk indikator kuantitatif terhadap penjaminan mutu atas produk. Biaya ini diperhitungkan sebagai bangian dari penanganan atas produk dan sistem agar memastikan pengelolaan pengembangan terkait dengan kualitas atas produk dari manufacturing. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan proses pengendalian atas quality cost. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Perubahan Persyaratan ISO 14001:2026

Setelah dilakukan penerbitan ISO 14001:2026, perusahaan yang akan melakukan proses sertifikasi ataupun yang telah memiliki sertifikasi ISO 14001 sudah dapat memulai untuk melakukan penyesuaian dengan persyaratan terkait dengan ISO 14001:2026. Dimana perubahan ini sudah mulai harus disesuaikan dengan aplikasi yang dijalankan.

Lalu perubahan apa saja yang muncul dalam persyaratan ISO 14001 yang terbaru tersebut, berikut ini adaah beberapa informasi yang terkait dengan perubahan persyaratan yang dimaksud.

Perusahaan sudah dapat menjalankan tahapan untuk dapat mengadopsi perubahan yang muncul tersebut. Untuk dapat mengembangkan implementasi yang tepat, perusahaan dapat mempergunakan referensi eksternal yang berpengalaman dalam pengeloaan sistem perusahaan dan penerapan budaya yang efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Tahapan Menjalankan Sertifikasi Non GMO di Industri Pangan

Pemberian label Non GMO (Genetic Modified Organism) pada produk pangan menjadi suatu nilai tambah pada produk khususnya apabila akan dilakukan penjualan pada area Internasional dan pelanggan yang memiliki kepedulian atas produk Non GMO. Dalam memastikan bahwa produk yang dimaksud adalah Non GMO, perusahaan dapat melakukan verifikasi eksternal untuk kemudian mendapatkan label yang terkait dengan produk Non GMO.

Untuk dapat menjalankan tahapan yang terkait dengan sertifikasi Non GMO, berikut ini adalah tahapan yang dapat dijalankan untuk menjalankan proses sertifikasi Non GMO.

Untuk dapat melakukan proses persiapan verifikasi ini, perusahaan dapat mempergunakan referensi eksternal yang tepat untuk dapat memenuhi standar persyaratan yang terkait dengan Non GMO. Dengan melakukan sertifikasi verifikasi Non GMO, produk dapat lebih memiliki tingkatan kepercayaan oleh pelanggan yang tinggi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Peranan Konsultan dalam Proses Up Grade FSSC Versi 7

Sejak 1 Mei 2026, terdapat informasi yang berhubungan dengan up grade standar dari FSSC Versi 6 menjadi FSS Veri 7. Proses ini sudah mulai efektif dijalankan, baik untuk perusahaan yang telah memiliki sertifikat FSSC Versi 6 ataupun perusahaan yang belum memiliki sertifikat FSSC. Adapun untuk perusahaan yang telah memiliki sertifikat FSSC versi 6, perubahan ini dijalankan dengan melakukan proses up grade pada sistem yang ada. Proses up grade ini dapat dijalankan sengan skema proses sebagai berikut.

Untuk dapat melakukan proses up grade atas sertifikasi ini, perusahaan dapat mempergunakan konsultan yang berpengalaman dalam sistem dengan pendekatan interpersonal yang kuat. Hal ini bertujuan untuk dapat memastikan bahwa proses implementasi yang dijalankan dalam sistem bisa berjalan dengan efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)