Manfaat Pra Audit BRCGS Versi 7 pada Industri Kemasan

Penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan BRCGS Versi 7 untuk industri kemasan, adalah salah jenis sertifikasi yang berbasiskan GFSI (Global Food Safety Initiative). Proses sertifikasi ini sedikit berbeda dengan skema sertifikasi FSSC ataupun ISO 22000, yang dimana terdapat dua tahapan kegiatan audit, yaitu initial audit dan final audit untuk mendapatkan sertifikat. Pada skema BRCGS, proses audit dijalankan dalam kegiatan satu tahapan audit saja sehingga perusahaan diminta untuk mempersiapkan sertifikasi BRCGS,

Untuk melakukan pemeriksaan terkait dengan kesiapan yang dimaksud, perusahaan dapat menjalankan kegiatan pra audit sebagai bentuk proses evaluasi yang dapat dilakukan.

Hasil dari kegiatan pra audit kemudian diperiksa untuk melihat bahwa setiap temuan harus ditindaklanjuti sebagai upaya terkait dengan pemenuhan persyaratan yang ada. Untuk dapat memenuhi persyaratan yang dimaksud, perusahaan dapat melakukan proses lanjutan untuk melakukan proses sertifikasi BRCGS pada sektor industri kemasan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

4 Kesulitan dalam Mengimplementasikan Sistem Manajemen Kinerja

Dalam upaya untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis perusahaan, penerapan Sistem Manajemen Kinerja sangat perlu untuk diimplementasikan. Namun, tidak sedikit permasalah yang muncul sehingga penerapan yang terkait dengan Sistem Manajemen Kinerja tidak berjalan dengan efektif.

Berikut ini adaah ringkasan kesulitan-kesulitan terkait dengan proses implementasi Sistem Manajemen Kinerja.

Permasalah ini diuraikan sebagai berikut:

(1) Sistem Kerja yang Tidak Terstruktur

Sistem kerja yang ditetapkan di dalam perusahaan berlangsung random dan spontan ataupun pemberian fungsi yang bersifat multitask. Penetapan fungsi yang multitask sebenarnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak tumpang tindih atas setiap jabatan/pekerjaan yang dijalankan dalam perusahaan. Hal ini bisa menyebabkan adanya target yang tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab personel secara tertulis, dan tidak mampu membedakan mana pekerjaan utama dan pekerjaan pendukung.

(2) Tidak adanya Pengendalian dan Pengawasan

Target kerja yang ditetapkan harus dipastikan adanya evaluasi. Evaluasi ini harus bersifat obyektif dan dihindarkan dari potensi self report, dimana pelaporan dilakukan berdasarkan pada laporan karyawan yang bersangkutan tanpa adanya pemeriksaan yang bersifat obyektif. Hal ini bisa menyebabkan perusahaan gagal dalam membedakan klasifikasi atas pencapaian target.

(3) Tidak Terdapat Dukungan Manajemen

Dalam upaya mencapai target, sangat diperlukan adanya program kerja. Pemilihan program kerja ini didasarkan pada evaluasi dan analisis data terkait dengan kebutuhan dan persyaratan yang terkait dengan pencapaian target kerja yang ditetapkan. Penetapan program ini membutuhkan dukungan manajemen terkait dengan keperluan yang berkaitan dengan sumber daya serta persyaratan lain yang diperlukan dalam upaya pencapaian target.

(4) Tidak Terdapat Rewad & Punishment

Dalam pencapaian atas target yang ditetapkan, rekoginisi atas pencapaian menjadi nilai penting bagi karyawan. Hal ini dapat membantu perusahaan untuk memberikan batasan informasi yang jelas antara target yang tercapai maupun yang tidak tercapai. Tidak adanya reward & punsihment akan menghilangkan motivasi karyawan dalam mencapai target yang diharapkan.

Dari pemasalahan yang dimaksud, perusahaan sebaiknya memiliki antisipasi dalam menanganai hambatan terkait dengan pencapaian Sistem Manajemen Kerja. Lakukan proses pencarian referensi eksternal untuk dapat memastikan bahwa penerapan Sistem Manajemen Kerja yang tepat dan efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Merancang Desain Cleaning & Sanitasi Pada Jasa Katering

Pengelolaan usaha jasa katering harus mempertimbangkan pemenuhan yang berhubungan dengan cleaning dan sanitasi sesuai dengan persyaratan atas PRP (baik yang dipersyaratkan pada penetapan HACCP 1-1969 revisi 2022, ISO 22002:100:2025, serta persyaratan tambahan yang terkait dengan persyaratan ISO 22002-2:2025). Penetapan atas desain yang terkait dengan cleaning dan sanitasi yang terkait pada jasa katering.

Pelaku usaha jasa katering dalam pelaksanaannya, memastikan bahwa persyaratan yang terkait dengan cleaning & sanitasi tersebut berjalan dengan tepat. Berikut ini adalah tahapan yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk dapat merancang desain cleaning & sanitasi pada jasa katering.

(1) Resiko

Desain cleaning dan sanitasi ditetapkan berbasiskan pada pendekatan resiko. Salah satu resiko yang menjadi perhatian utama adalah resiko terkait dengan bakteri baik yang pathogen maupun non pathogen. Mempertimbangkan pada faktor resiko ini, desain dan perencanaan cleaning dan sanitasi ditetapkan. Hal ini mempertimbangkan terkait dengan variabel biaya yang terkait dengan resiko yang ada.

(2) Rencana

Menyusun perencanaan dalam bentuk program cleaning dan sanitasi. Perencanaan ini terkait dengan dengan jumlah frekuensi dari proses cleaning dan sanitasi akan dilakukan. Penetapan atas rencana ini disesuaikan dengan resiko yang teranalisis. Dalam menyusun rencana dilakukan proses validasi yang berkaitan dengan referensi terkait dengan penanganan atas resiko yang dimaksud.

(3) Metode

Menetapkan jenis metode yang akan dijalankan untuk memastikan bahwa penetapan atas proses pembersihan dan sanitasi dijalankan sesuai dengan metode yang telah ditetapkan. Penggunaan metode dengan penggunaan bahan kimia dapat dipertimbangkan untuk menghilangkan potensi bakteri pathogen. Termasuk penggunaan terkait dengan pendekatan cleaning & sanitasi yang mempergunakan steaming.

(4) Pelatihan

Personel yang bertanggung jawab dalam menjalankan kegiatan cleaning & sanitasi dipastikan mendapatkan pelatihan yang tepat. Pelatihan ini bertujuan untuk memastikan bahwa personel terkait memiliki pemahaman atas cleaning dan sanitasi yang dimaksud. Pendekatan dijalankan secara teoritis dan praktek atas pelatihan yang dimaksud.

(5) Verifikasi

Melakukan pemeriksaan terkait dengan cleaning & sanitasi adalah untuk memastikan bahwa program kebersihan yang dilakukan adalah efektif. Menjalankan kegiatan verifikasi yang tepat dapat dilakukan dengan mempergunakan uji swab test yang bertujuan untuk mengidentifikasi potensi keberadaan dari bakteri pathogen. Verifikasi ini dapat dilakukan setahun sekali sebagai bentuk pemeriksaan, sedangkan pemeriksaan rutin dapat dilakukan dengan mempergunakan pemeriksaan visual.

(6) Limbah

Dalam pengolahan dan proses produksi produk katering, terdapat limbah yang harus dipastikan untuk dikelola dengan tepat untuk mencegah adanya potensi pencemaran. Pelaku jasa harus mempergunakan teknik pengolahan yang tepat sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan.

Mendesain cleaning dan sanitasi yang tepat dapat membantu pemastian jaminan keamanan pangan dijalankan dengan tepat. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Tantangan Menjalankan Efisiensi

Saat ini, efisiensi adalah salah satu strategi bisnis yang dapat dijalankan oleh pelaku usaha untuk dapat menjalankan perusahaan secara berkesinambungan. Efisiensi sendiri adalah strategi yang dapat pelaksanaannya memiliki banyak tantangan. Tantangan yang seringkali muncul tersebut harus dapat diantisipasi terkait dengan program efisiensi yang dimaksud.

Tantangan yang dimaksud adalah menjadi bagian penting untuk dikendalikan agar target efisiensi yang dimaksud. Untuk dapat memastikan program efisiensi yang dimaksud,

(1) Produktifitas

Pengelolaan produktifitas tidak dapat dijadikan menjadi masalah ketika menjalankan efisiensi. Perusahaan harus memastikan bahwa pengurangan nilai biaya tidak mempengaruhi variabel yang berpengaruh terhadap produktifitas. Dimana produktifitas tersebut harus dijaga dan dipastikan tidak menjadi “korban” dari efisiensi.

(2) Menghilangkan Biaya Resiko

Biaya atas setiap resiko yang dapat muncul dalam perusahaan harus tetap dianggarkan meskipun tidak dipergunakan. Pengalihan atas resiko ini dapat berimplikasi terhadap perusahaan apabila terdapat suatu permasalahan. Pengurangan yang terkait dengan biaya resiko dapat dijalankan apabila perusahaan mampu untuk mengendalikan setiap tahapan proses yang ada.

(3) Kapasitas Sumber Daya

Perusahaan harus memperhitungkan berapa nilai dasar dari kapasitas sumber daya untuk menghasilkan output paling minimal untuk mensejajarkan kondisi dari output proses perusahaan. Harus dapat dipastikan nilai yang muncul ini tidak mengakibatkan kapasitas menjadi tidak dapat mengejar nilai minimal yang dimaksud ataupun nilai yang menimbulkan pemborisa terkait dengan kapasitas sumber daya yag dimaksud.

(4) Inovasi

Perusahaan sebaiknya tidak pernah berpikir untuk menjalankan proses yang sama dengan tahapan proses sebelumnya. Hal ini mempertimbangkan bahwa penetapan yang terkait proses yang ada harus dianalisis ulang dan dijalankan perubahan. Inovasi yang diharapkan ini dijalankan melalui perencanaan yang sistematis termasuk analisis atas potensi resiko yang dapat muncul.

(5) Struktur Proses

Tahapan proses harus dipastikan sudah diformalkan dan organisasi jelas sebelum kegiatan efisiensi dilakukan. Tahapan yang terstruktur dapat membantu pemetaan terhadap kebutuhan efisiensi dari proses yang ada. Ada baiknya perusahaan melakukan proses perbaikan atas struktur proses sebelum dijalankan kegiatan efisiensi.

Lakukan proses pengelolaan efisiensi yang tepat di dalam perusahaan. Pastikan proses ini dijalankan dengan kehati-hatian agar tetap memberikan dampak positif dan produktifitas yang optimal. Perusahaan dapat mempergunakan referensi dan konsultan yang tepat dan berpengalaman dalam mengembangkan program efisiensi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mempersiapkan Pengurusan SNI untuk Produk Pangan

Persyaratan SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk produk pangan ditetapkan menjadi suatu kewajiban terkait dengan produk pangan. Untuk dapat memiliki SNI, industri penghasil produk pangan tersebut dipastikan untuk melakukan proses persiapan terkait dengan proses audit SNI.

Lalu bagaimana proses pengurusan SNI dapat dijalankan? Berikut ini adalah tahapan-tahapan yang dapat dilakukan oleh pengurusan untuk melakukan pengurusan SNI.

Proses persiapan terkait dengan audit SNI didahului untuk melakukan proses sertifikasi ISO 9001 terlebih dahulu. Ada baiknya pembuatan sistem ISO 9001 yang dijalankan oleh perusahaan dengan mempergunakan referensi eksternal yang tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Menjalankan Proses Kalibrasi Internal Auditor ISO

Saat ini telah terbit standar yang menjadi panduan dari kegiatan audit Sistem Manajemen baik itu yang berbasiskan ISO 19011:2026, dimana salah satu perubahan tersebut adalah terkait dengan penetapan kompetensi dari personel yang menjalankan kegiatan internal audit. Proses implementasi yang dijalankan salah satunya adalah melakukan evaluasi kompetensi termasuk di dalamnya adalah menjalankan proses kalibrasi dari auditor.

Proses kalibrasi internal auditor sendiri memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, salah satunya adalah memberikan kualitas internal audit yang tepat dan fokus sesuai dengan kebutuhan persyaratan sistem. Hal ini tentu menjadi bagian penting dalam menjalankan proses perbaikan berkesinambungan dalam Sistem Manajemen ISO. Berikut ini adalah proses kalibrasi internal audit yang dapat dilakukan.

Proses kalibrasi ini sebaiknya didesain dengan tepat dengan menjalanka validasi dengan referensi yang telah berpengalaman. Dengan kalibrasi, diharapkan kegiatan internal audit dapat memberikan kontribusi yang positif dalam sistem manajemen yang dijalankan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Tahapan Penyusunan FSSC Versi 7 pada Industri Pakan Ternak/ Produk Pangan Untuk Hewan

Daam menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, FSSC Versi 7, persyaratan yang terkait dengan standar terbaru tidak hanya berlaku pada industri pangan, namun juga pada industri pakan ternak/produk pangan untuk hewan. Penerapan yang terkait dengan standar ini, dilakukan analisis sesuai dengan kategori produk, yaitu kategori produk D. Untuk dapat melakukan proses sertifikasi terkait dengan FSSC Versi 7, berikut ini adalah tahapan yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk dapat dijalankan.

Dalam penerapan aplikasi FSSC Versi 7, berikut adalah beberapa persyaratan yang harus dipastikan masuk ke dalam sistem standar yang dimaksud.

(1) ISO 22000:2018

Perusahaan melakukan proses kajian atas Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang dipersyaratan dalam ISO 22000:2018. Standar ini menjadi bagian penting yang mendasari pelaksanaan dari program FSSC Versi 7. Struktur dokumen serta persyaratan dipelajari untuk kemudian disusun dan diimplementasikan daam perusahaan.

(2) Codex Alimentarius CXC I-1969 versi 2022

Standar persyaratan terkait dengan Codex adalah proses mengadopsi yang berhubungan dengan HACCP di dalam industri pakan. Terdapat informasi yang terkait dengan pembahasan yang berhubungan dengan PRP serta atribut persyaratan lainnya yang terkait dengan penerapan HACCP.

(3) Persyaratan ISO 22002-100:2025 dan ISO 22002-6:2025

Standar persyaratan yang terkait dengan PRP (Pre Requsisite Program/ Program Persyaratan Dasar) yang terkait dengan standar teknis untuk produk pakan ternak/ produk pangan untuk hewan. Persyaratan ini secara detail menjelaskan seluruh standar persyaratan yang berhubungan dengan PRP.

(4) Persyaratan Tambahan FSSC

Di dalamnya terdapat informasi yang menjadi parameter tambahan yang diperlukan terkait dengan persyaratan industri pakan, termasuk di dalamnya adalah standar yang terkait dengan implementasi Sistem Manajemen Mutu,Budaya Mutu dan Keamanan Pangan, serta persyaratan lainnya.

Menjalankan proses penyusunan FSSC Versi 7 dapat memberikan manfaat positif bagi industri pakan/ pangan untuk hewan dimana standar persyaratan ini dapat mendukung jaminan kualitas dan keamanan pangan kepada pelanggan, dapat menjadi pertimbangan untuk dapat memaksimalkan pengembangan bisnis dalam perusahaan. Penyusunan sistem dapat dijalankan oleh referensi eksternal yang tepat dan berpengalaman dalam penerapan yang terkait dengan FSSC Versi 7. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Berapa Biaya yang Diperlukan Untuk Menjalankan Sertifikasi Sistem Manajemen Integrasi

Untuk dapat memperkuat komitmen perusahaan terhadap Sistem Manajemen Mutu, Sistem Manajemen Lingkungan serta Manajemen K-3, perusahaan dapat melakukan proses sertifikasi yang terkait dengan Sistem Manajemen Integrasi (ISO 9001, ISO 14001, ISO 45001). Perusahaan sendiri dapat memiliki manfaat dari proses sertifikasi yang terkait dengan Sistem Manajemen Integrasi namun tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Berikut ini adalah variabel biaya yang harus dikeluarkan.

Walaupun terlihat variabel biaya yang muncul adalah tinggi, namun perusahaan dapat memiliki manfaat yang terkait dengan kegiatan sertifikasi itu sendiri. Salah satunya adalah meningkatkan komitmen yang berhubungan dengan Sistem Manajemen Integrasi, yang kompleks. Lakukan proses pencarian referensi eksternal untuk memastikan bahwa Sistem Manajemen Integrasi di perusahaan berjalan dengan tepat dan sesuai dengan standar persyaratan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mempersiapkan Audit HACCP untuk Sektor Katering

Penyedia jasa katering (food service) saat ini memiliki tantangan untuk dapat memenuhi standar keamanan pangan yang terkait dengan sektor katering. Untuk dapat memenuhi persyaratan terkait dengan keamanan pangan, salah satu hal yang dapat dijalankan adalah dengan menjalankan sertifikasi HACCP. Untuk dapat menjalankan proses sertifikasi HACCP, ada baiknya jasa katering yang dimaksud dapat menjalankan tahapan yang terkait dengan audit HACCP yang dimaksud.

Berkut ini adalah tahapan yang terkait dengan proses sertifikasi HACCP yang dapat dijalanka oleh pelaku dari sektor katering.

Untuk dapat memastikan bahwa persiapan telah sesuai dan memenuhi kesiapan dari pelaku katering dapat memnjalankan setiap tahapan yang disebutkan dalam diagram. Agar dapat memastikan bahwa seluruh persyaratan tersebut terpenuhi, lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan proses audit dan sertifikasi HACCP yang dimaksud. Penggunaan konsultan yang berpengalaman dalam memastikan bahwa standar persyaratan yang dimaksud terpenuhi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Temuan yang Seringkali Muncul pada Eksternal Audit ISO 45001

Pada proses sertifikasi ISO 45001, perusahaan meelakukan kegiatan persiapan dan pelaksanaan eksternal audit yang berhubungan dengan ISO 45001. Dalam kegiatan eksternal audit, perusahaan seringkali mendapatkan temuan, yang dimana temuan ini harus segera ditindaklanjuti dengan tindakan koreksi dan perbaikan agar tidak muncul kembali.

Berikut ini adalah gambaran temuan yang seringkali muncul pada audit eksternal ISO 45001.

Untuk dapat lulus dan mendapatkan sertifikasi ISO 45001, perusahaan harus memastikan bahwa kegiatan perencanaan dan implementasi yang terkait dengan Sistem ISO 45001. Lakukan proses penggunaan konsultan yang tepat agar perusahaan dapat menjalankan serta memastikan bahwa implementasi atas ISO 45001 berjalan dengan tepat dan efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)