Tahapan Menyusun Product Safety Plan untuk Produk Consumer Good dan Personal Care

Dalam penerapan keamanan atas produk consumer good dan personal care, perusahaan dapat mengadopsi standar BSI PAS 420 untuk menyusun rencana keamanan produk (Product Safety Plan) untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan aman dan tidak berbahaya dalam penggunaannya. Untuk memastikan proses perencanaan dijalankan dengan tepat, berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjalankan penyusunan rencana keamanan produk.

Untuk memastikan penyusunan rencana atas produk aman ini berjalan dengan tepat, lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat membantu penyusunannya. Penyusunan yang baik dapat memberikan jaminan keamanan produk kepada pelanggan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Manfaat Refreshment Training

Pastikan perusahaan melakukan pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan pelatihan dalam organisasi (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mendesain Training HACCP untuk Bidang Perikanan

Penerapan atas bidang perikanan sebenarnya tidak berbeda dengan penerapan keamanan pangan pada industri pangan lainnya. Dimana pelatihan harus dijalankan untuk dapat menjamin bahwa implementasi terkait dengan sistem HACCP atau keamanan pangan dalam dijalankan dengan tepat. Lalu bagaimana mendesain training HACCP untuk bidang perikanan.

(1) Memahami Dasar dari Penerapan HACCP

HACCP apabila kita melihat dari diagram yang terbentuk dimana dasar yang menjadi aspek fundamental dari HACCP adalah SSOP (Sanitation Standard Operating Procedure) serta GMP (Good Manufacturing Practice). Di sini peserta pelatihan akan memahami apa saja yang mendasari SSOP dan GMP berdasarkan pada standar ISO TS 220002-1, persyaratan yang ditetapkan oleh standar pemerintah Indonesia serta standar yang terkait dengan negara tujuan ekspor. Sedangkan GMP dijelaskan sesuai dengan praktek industri perikanan yang terkait dengan setiap tahapan proses yang dimiliki oleh industri perikanan tersebut.

(2) Menjalankan Penyusunan HACCP PLan

Dalam training HACCP, diharapkan personel yang mengikuti kegiatan pelatihan memahami 12 langkah penyusunan HACCP Plan serta 7 prinsip HACCP. Hal ini menjadi target penting bagi organisasi agar penyusunan dijalankan sesuai dengan tahapan yang dimaksud. Dalam proses penyusunan seperti analisis bahaya atas setiap tahapan, penggunaan referensi seperti FDA Fish & Fishery Product and Hazard Control Guidance, 4th edition, SNI ataupun referensi terkait lainnya. Penetapan atas tingkat bahaya serta pengendalian dapat dilihat pada rumusan referensi yang dimaksud.

(3) Melakukan penyusunan dokumen dan catatan pemantauan serta pengendalian

Penyediaan dokumen dan catatan yang dipergunakan untuk melakukan proses pengendalian bahaya serta pemantauan atas proses pengendalian bahaya yang dimaksud. Dokumen dan catatan juga mencakup dokumen yang terkait dengan persyaratan PRP (Pre Requisite Program). Untuk setiap dokumen dan catatan yang terkait dengan pengendalian serta pemantauan harus dipastikan diperiksa dan diverifikasi oleh dua pejabat yang berbeda.

(4) Proses implementasi HACCP

Penerapan atas HACCP disampaikan dengan pelatihan untuk memastikan bahwa personel memiliki pengetahuan bagaimana mengimplementasikan HACCP dalam pekerjaan yang dijalankan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pelaksanaan dapat berjalan dengan tepat sesuai dengan fungsi dari organisasi itu sendiri.

Pelatihan HACCP Perikanan menjadi suatu dasar bagi industri perikanan agar dapat menjalankan serta mengimplementasikan standar keamanan pangan. Lakukan perbaikan atas pengembangan implementasi keamanan pangan dengan maksimal untuk mencegah kemunculan resiko yang signifikan bagi organisasi. Lakukan proses penggunaan referensi eksternal yang tepat untuk dapat mengembangkan program impelmentasi keamanan pangan dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Bagaimana Melakukan Proses Adopsi ISO 17025 pada Laboratorium Penguji Internal

Setiap perusahaan yang memiliki laboratorium penguji internal memiliki suatu tantangan bagaimana memastikan bahwa hasil uji yang dihasilkan adalah akurat. Proses mendesain laboratorium penguji internal dapat dijalankan oleh perusahaan dengan mengadopsi prinsip yang ada pada ISO 17025 (Sistem Manajemen Pengelolaan Laboratorium dan Pengujian). Lalu bagaimana proses pelaksanaan terkait dengan pengembangan laboratorium Pengujia Internal dengan melakukan adopsi ISO 17025?

(1) Menetapkan Organisasi Laboratorium

Di sini perusahaan harus menetapkan struktur organisasi yang ditetapkan untuk melakukan proses pengelolaan laboratorium. Struktur organisasi harus memasukkan penetapan yang terkait dengan fungsi layanan teknis dan layanan pendukung yang terkait dengan kegiatan pengujian. Setelah menetapkan struktur organisasi dilakukan proses penetapan uraian jabatan yang mendukung struktur organisasi.

(2) Melakukan Proses Penanganan dan Pengendalian Peralatan Pengujian

Memastikan bahwa proses pengujian dilakukan dengan mempergunakan peralatan yang sesuai dengan referensi pengujian. Perusahaan menetapkan jenis-jenis peralatan yang dipergunakan untuk proses pengujian. Melakukan pemastian bahwa kalibrasi dijalankan untuk setiap peralatan pengujian yang dijalankan.

(3) Menetapkan Ruang Lingkup Pengujian

Memastikan bahwa ruang lingkup pengujian ditetapkan sesuai dengan persyaratan pengujian yang ditetapkan dalam organisasi. Perusahaan harus memastikan bahwa proses pengujian yang dijalankan sesuai dengan ruang lingkup yang telah ditetapkan. Bagaimana perusahaan memastikan bahwa kegiatan pengujian ini akurat? Salah satunya bisa dilakukan dengan menjalankan proses uji banding atas pengujian yang dimaksud. Uji banding tersebut kemudian dilakukan untuk melakukan evaluasi penelusuran atas kesesuaian metode maupun kegiatan yang dijalankan.

(4) Lay Out Laboratorium

Perusahaan menetapkan bahwa akses untuk masuk ke laboratorium dijaga dan tidak diakses oleh orang yang tidak berkepentingan. Memastikan bahwa data dan informasi atas laporan pengujian dijaga kerahasiannya. Ditempatkan di tempat yang aman dan tidak mudah dimasuki oleh pihak yang tidak berkepentingan. Selain itu, lay out juga ditetapkan untuk mencegah adanya potensi penyimpangan atau kontaminasi atas hasil produk.

(5) Pencatatan dan Dokumentasi

Mempersiapkan jenis-jenis form dan laporan yang ditetapkan utuk melakukan proses pencatatan dan pelaporan yang berhubungan dengan hasil uji. Proses verifikasi dilakukan untuk memastikan bahwa hasil dari pengujian tersebut adalah akurat dan tidak terdapat penyimpangan.

Bagaimana perusahaan melakukan proses penetapan sistem laboratorium untuk internal pengujian yang tepat? Melakukan adopsi dengan menyesuaikan prinsip yang termuat dalam ISO 17025 dapat membantu perusahaan untuk mendapatkan hasil uji yang valid dan tepat. Lakukan proses pencarian referensi eksternal untuk mengembangkan proses pengujian internal di dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Perubahan BRCGS Packaging Versi 7

Penerapan BRCGS kemasan mengalami proses peningkatan versi dari yang sebelumnya adalah versi 6 dan saat ini penerapan terkait dengan versi 7. Proses perubahan ini mengacu kepada standar yang telah diterbitkan terkait dengan proses revisi yang telah diterbitkan. Berikut ini terdapat beberapa hal yang perlu dicermati terkait dengan status perubahan yang dimaksud.

(1) Pengelolaan Budaya Mutu dan Keamanan Pangan

Budaya mutu dan keamanan pangan dikelola untuk pengembangan secara terus-menerus. Proses pengembangan secara terus-menerus dijalankan dengan melakukan proses evaluasi pelaksanaan paling tidak satu tahun sekali terkait dengan memastikan bahwa budaya mutu dan keamanan pangan dapat terimplementasi dengan tepat dan efektif.

(2) Pengelolaan Resiko Bahaya Keamanan pangan

Proses penetapan dan identifikasi yang terkait dengan bahay, selain mempertimbangkan resiko biologi, kimia dan fisik juga mempertimbangkan beberapa faktor lainnya, seperti allergen, fraud, bahaya yang berdampak kepada aspek fungsional dan integritas atas produk, serta parameter terkait lainnya.

(3) Pengendalian Peralatan

Proses penetapan atas validasi dari peralatan proses yang dipergunakan, termasuk di dalamnya adalah memastikan bahwa proses pengaturan dari peralatan tersebut dapat menghasilkan kualitas output produk yang sesuai.

(4) Pelaksanaan Internal Audit

Kegiatan internal audit yang dijalankan harus mempertimbangkan aspek resiko yang teridentifikasi pada kegiatan audit sebelumnya sebagai penentu dari frekuensi internal audit yang akan dijalankan di tahun berikutnya. Proses penetapan atas resiko ini mempertimbangan ruang lingkup serta klausul yang ditetapkan terkait dengan kegiatan internal audit.

(5) Pengendalian pemasok

Proses penetapan atas analisis resiko pemasok wajib dijalankan dengan mempertimbangkan aspek kualitas, keamanan pangan, threat dan vulnerability dari bahan baku dan produk pemasok. Proses evaluasi ini juga mempertimbangkan apakah pemasok memiliki sertifikat GFSI (Global Food Safety Initiative) atau tidak. Proses pengendalian resiko melihat pada faktor dan aspek klaim atas produk yang akan dijalankan perusahaan, memastikan bahwa proses pengendalian dan pengelolaan dijalankan dengan tepat dan efektif. Kegiatan audit pemasok dilakukan untuk produk dengan tingkat resiko yang tinggi dilakukan dengan menjalankan audit pemasok oleh personel yang kompeten.

(6) Pest Control

Proses pengendalian atas hama serta pemantauan atas pengendaliannya dapat dilakukan melalui proses analisis resiko yang terkait dengan hama yang muncul. Dimana status pengendaliannya dijalankan untuk memastikan bahwa proses pengendalian resiko djalankan oleh vendor pest control untuk menjadi dasar terkait dengan frekuensi pemantauan yang akan dijalankan.

(7) Pelatihan dan Pengembangan SDM

Memastikan bahwa pelatihan dijalankan untuk personel dan proses administrasi terkait dengan pengembangan dan pelatihan dijalankan dengan tepat. Proses pengembangan selain dengan menjalankan pelatihan, bisa dijalankan dengan coaching ataupun on the job training. Evaluasi atas kompetensi dipastikan berjalan setiap tahunnya di dalam organisasi.

Bagaimana perusahaa menjalankan proses pengelolaan Sistem Keamanan Pangan yang tepat? Lakukan proses evaluasi pelaksanaan yang dijalankan saat ini, apabila memang dibutuhkan sertifikasi dapat mempertimbangkan sistem yang paling dibutuhkan oleh buyer atau negara tujuan penjualan produk. Untuk dapat meningkatkan kualitas sistem, tidak ada salahnya perusahaan melakukan evaluasi referensi eksternal yang terkait dengan pelaksanaan sistem keamanan pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Perubahan Persyaratan Keamanan Pangan dalam Codex Versi 2022

Persyaratan keamanan pangan HACCP termuat di dalam persyaratatan keamanan pangan, yaitu persyaratan Codex Alimentarius. Saat ini persyaratan atas Codex Versi 2022 telah mengalami proses beberapa kali revisi, revisi di tahun 2022 adalah revisi terakhir yang terbaru saat ini. Lalu apa saja perubahan yang muncul.

(1) Adanya pemisahan antara Good Hygiene Practice dan HACCP

Di dalam persyaratan keamanan pangan yang termuat dalam Codex Versi 2022 terdapat pemisahan yang berkaitan dengan Good Hygiene Practice dan HACCP. Di dalam Good Hygiene Practice, tersedia beberapa persyaratan yang terkait dengan komitmen manajemen serta persyaratan sistem yang dimana mendekati prinsip ISO 22000.

(2) Pengendalian Lingkungan dan Infrastruktur

Penjelasan dan kewajiban yang terkait dengan persyaratan hygiene practice juga ditetapkan dalam bentuk penanganan Environmental Monitoring Program, pengendalian pencahayaan serta sanitasi dan higienitas.

(3) HACCP

Pendekatan bahaya yang dijalankan saat ini tidak hanya bahaya kimia, fisik dan biologi saja. Namun juga bahaya yang terkait dengan radiasi dan allergen.

(4) Pelatihan

Adanya fokus untuk menjalankan proses penyegaran yang terkait dengan pelatihan. Penyegaran ini wajib dijalankan dalam periode 1 (satu) tahun dan wajib untuk dipastikan setiap pelatihan yang dijalankan dilengkapi dengan evaluasi pelatihan.

Bagaimana pelaksanaan program keamanan pangan dijalankan di perusahaan Anda? Lakukan proses peningkatan sistem dengan mempergunakan HACCP versi 2022. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Aplikasi FSSC Versi 6 pada Industri Kemasan Pangan

Penerapan Sistem FSSC Versi 6 efektif berjalan sejak April 2024. Proses penerapan FSSC pada industri kemasan dijalankan sebagai salah satu bentuk komitmen dari industri kemasan tersebut dalam menjalankan sistem keamanan pangan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa konsumen dapat terlindungi dari semua resiko yang dapat dimunculkan pada kemasan. Pelanggan perusahaan dapat merupakan industri pangan ataupun konsutmen langsung.

Lalu apa saja sistem yang perlu dipersiapkan oleh industri kemasan untuk menjalankan FSSC Versi 6.

(1) Menjalankan ISO 22000

FSSC mempergunakan prinsip ISO 22000 dalam proses penyusunan sistemnya. Dasar dari pelaksanaan yang dijalankan adalah konsep keamanan pangan berbasiskan resiko dan perbaikan yang berkesinambungan. Seluruh klausul yang ada dalam ISO 22000 wajib dipelajari dan diimplementasikan dalam organisasi. Termasuk di dalamnya adalah pelaksanaan dari sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).

(2) Menerapkan Prinsip PRP ISO TS 22002-4: 2013

Penetapan atas PRP seperti kesesuaian fisik bangunan, lay out ataupun penerapan dasar-dasar keamanan pangan harus sesuai dengan klausul yang termuat dalam standar ISO TS 22002-4:2013. Selain itu ada baiknya perusahaan mempertimbangkan persyaratan yang termuat dalam regulasi yang ditetapkan terkait dengan negara dimana perusahaan tersebut berjalan ataupun persyaratan negara tujuan.

(3) Menjalankan persyaratan tambahan yang terkait dengan FSSC

Penetapan atas persyaratan tambahan yang terkait dengan FSSC dipastikan juga dijalankan oleh industri kemasan tersebut. Beberapa persyaratan yang dimaksud terkait dengan beberapa hal sebagai berikut:

(a) Penetapan Lembaga Penguji Produk/ Standar Pengujian Produk

Perusahaan menjalankan proses pengujian produk dengan mempergunakan standar referensi yang terkait dengan pengujian produk untuk memastikan kepatuhan yang terkait dengan penerapan ISO 17025. Laboratorium penguji internal dalam organisasi harus dipastikan memenuhi standar persyaratan profisiensi yang terkait dengan penetapan yang terkait dengan pengujian produk pada laboratorium referensi yang telah tersertifikasi ISO 17025 atau memiliki akreditasi Nasional.

(b) Pelaksanaan TACCP/VACCP

Menjalankan proses pelaksanaan terkait dengan TACCP/VACCP sebagai bentuk pengendalian atas resiko bahaya yang secara sengaja dijalankan dalam organisasi atau rantai supply chain. Memastikan bahwa penetapan atas penilaian resiko yang terkait dengan TACCP/VACCP untuk kemudian menetapkan prioritas yang terkait dengan pengendalian resiko. Pengendalian resiko ini dijalankan untuk meminimalkan kemunculan resiko. Proses penilaian dan pengendalian harus dilakukan setiap tahun untuk memastikan kesesuaiannya.

(c) Pelaksanaan Pengendalian Pemasok

Pemastian adanya penilaian resiko atas pemasok baik pemasok jasa maupun produk. Hal ini kemudian diperlukan untuk memastikan bahwa penilaian resiko dijlankan berdasarkan pada resiko yang ada. Penetapan terkait dengan status resiko ini dipastikan untuk menjamin bahwa produk/jasa yang disuply sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Proses pengendalian ini dipastikan untuk menjamin kesesuaian tersebut. Penetapan alternatif pemasok dilakukan untuk pasokan bahan baku yang dinilai signifikan terhadap produk.

(d) Pengendalian Lingkungan

Pengendalian atas lingkungan dijalankan untuk memastikan bahwa lingkungan sekitar dan peralatan tidak menimbulkan kontaminasi kepada produk. Perusahaan menetapan penilaian atas lingkungan dan peralatan terkait dengan resiko yang muncul. Output dari proses pengendalian ini adalah kemunculan zonasi dari resiko. Pengendalian lingkungan perlu dilakukan pemantauan untuk melihat status pengendalian yang dimaksud. Pengendalian ini dijalankan untuk memastikan bahwa proses sanitasi dan kebersihan sudah memadai untuk menjaga lingkungan dan peralatan dari resiko keamanan pangan atas produk.

(e) Pengendalian Peralatan

Peralatan yang dipergunakan oleh perusahaan harus dipastikan tidak menimbulkan resiko kontaminasi ke produk. Memastikan spesifikasi dari peralatan adalah sesuai dan memiliki kategori yang sesuai dengan spesifikasi pangan. Penggunaan terkait dengan spesifikasi peralatan harus selalu dipastikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sehingga pada saat proses pembelian dipastikan untuk melakukan pengkajian yang terkait dengan spesifikasi yang dimaksud.

Penerapan terkait dengan Sistem Keamanan Kemasan Pangan melalui sistem FSSC termasuk penerapan yang sangat bermanfaat bagi organisasi. Peningkatan atas kepercayaan pelanggan dapat menimbulkan peningkatan kepercayaan diri konsumen. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penerapan BRCGS pada Sektor Broker dan Agen

Sertifikasi BRCGS (British Retail Consortium Global Standard) tidak hanya berjalan untuk sektor manufacturing saja, untuk jasa penjualan yang berfungsi sebagai agen atau cabang penjualan. Apabila perusahaan Anda adalah perusahaan yang memiliki ruang lingkup sebagai importir, cabang penjualan ataupun sebagai distributor, dapat melakukan proses sertifikasi BRCGS.

Lalu bagaimana proses persiapan untuk persiapan BRCGS dijalankan dalam perusahaan? Berikut ini adalah bagaimana perusahaan dapat menjalankan proses sertifikasi yang dimaksud.

(1) Menetapkan Tim dalam Perusahan

Pelaksanaan sistem harus dipastikan berjalan dengan tepat dan efektif. Tim ini merupakan perwakilan dari beberapa departemen yang ada dalam organisasi. Tim ini terkait dengan berbagai fungsi penerapan yang ada dalam organisasi, seperti proses koordinasi pelaksanaan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), VACCP (Vulnerability Analysis Critical Control Point), TACCP (Threat Analysis Critical Control Point), tim internal audit serta tim yang terkait dengan tanggap darurat.

(2) Melakukan proses penyusunan dokumen

Dalam proses ini, perusahaan harus memastikan mempergunakan referensi yang tepat. Salah satu referensi yang bisa dipergunakan adalah referensi yang terkait dengan standar itu sendiri. Untuk penerapan BRCGS pada broker dan agent bisa mempergunakan standar BRCGS Issue 3 Global Standard for Agent & Brokers. Melalui standar ini, organisasi dapat mempelajari kebutuhan-kebutuhan atas prosedur yang diperlukan. Namun ada hal teknis yang peru untuk dipelajari khususnya terkait dengan penerapan HACCP, VACCP, serta TACCP. Organisasi diminta untuk melakukan kajian terkait dengan referensi.

(3) Proses implementasi sistem

Di sini organisasi harus menjalankan terhadap sistem yang sudah terbentuk. Bagaimana proses pelaksanaan atas sistem dijalankan dengan tepat dalam organisasi? Pelatihan dapat dilakukan dengan mempergunakan vendor yang tepat terkait dengan pelaksanaan yang dimaksud. Kegiatan implementasi dijalankan dengan mempertimbangkan aspek leadership yang ada dalam organisasi. Penerapan yang tepat dapat membantu organisasi terkait dengan pelaksanaan sistem yang dimaksud.

Penerapan sistem sendiri tidak hanya berjalan untuk internal organisasi, namun juga melibatkan pihak eksternal organisasi. Perusahaan harus melakukan proses penilaian resiko atas pemasok untuk kemudian menetapkan proses pengendalian atas resiko tersebut.

Lakukan proses pengelolaan atas organisasi Anda apabila akan menjalankan proses seritifkasi BRCGS untuk Broker dan Agen. Pencarian referensi yang tepat akan sangat membantu organisasi dalam mengembangkan sistem yang ada. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Jenis-Jenis Pelatihan yang Diwajibkan pada Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Pelaksanaan terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, menunjukkan bahwa perusahaan memiliki komitmen untuk menjalankan sistem dan melanjutkan sampai dengan proses sertifikasi dapat dimiliki oleh perusahaan. Untuk mendapatkan sistem yang terimplementasi dengan baik, perusahaan diharapkan menjalankan pelatihan-pelatihan yang menjadi persyaratan wajib dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

Berikut ini adalah beberapa jenis pelatihan yang menjadi pelatihan wajib yang dijalankan dalam pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

(1) Pelatihan PRP (Pre Requisite Program)

Jenis pelatihan ini adalah pelatihan yang menjadi dasar dari pelaksanaan yang terkait dengan persyaratan keamanan pangan. Adapun pelatihanPRP yang dijalankan dalam perusahaan adalah pelatihan yang terkait dengan kegiatan kebersihan dan sanitasi (cleaning & santizing), pengendalian hama (pest control), pengendalian atas penanganan bahan kimia, serta proses pengendalian yang terkait dengan kebersihan personal (personal hygiene) serta proses penanganan dan pengendalian yang terkait degan penanganan kontaminasi pada produk, termasuk di dalamnya adalah pengendalian atas benda asing serta pengelolaan allergen.

(2) Pelatihan HACCP

Pelatihan yang terkait dengan sistem persyaratan kemanan pangan, termasuk di dalamnya adalah proses pengendalian terkait dengan keamanan pangan pada alir proses yang dijalankan dalam melakukan penanganan atas produk. Pengendalian atas setiap potensi bahaya yang terdapat setiap tahapan proses. Dimana tahapan proses ini secara detail dianalisis untuk kemudian dievaluasi terkait dengan setiap potensi bahaya yang muncul. Penetapan pengendalian kemudian ditetapkan dalam setiap tahapan yang dimaksud. Pelatihan ini dijalankan sesuai dengan persyaratan Codex, yang terbaru adalah revisi CXC 1969- revisi 2022.

(3) Pelatihan Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Pelatihan yang dijalankan oleh perusahaan yang akan menjalankan proses sertifikasi keamanan pangan. Adapun jenis pelatihan yang dijalankan adalah pelatihan ISO 22000, BRCGS, IFS ataupun FSSC. Pemilihan terhadap jenis pelatihan ditetapkan sesuai dengan jenis sertifikasi yang dipilih oleh perusahaan.

(4) Pengendalian CCP dan OPRP

Jenis pelatihan teknis pada personel yang bertanggung jawab terhadap tahapan proses yang dimana terdapat titik CCP atau OPRP. Pelatihan ini bersifat teknis operasional yang dimana dijalankan di lapangan. Personel yang mendapatkan pelatihan ini bertanggung jawab secara langsung dalam pengelolaan CCP/OPRP di lapangan.

(5) Pemahaman Spesifikasi

Persyaratan spesifikasi selain terkait dengan kualitas juga sangat terkait dengan keamanan pangan. Keamanan pangan menjadi salah satu parameter spesifikasi yang harus termuat selain kualitas. Informasi sebagai kandungan mikrobiologi, kandungan logam berat, allergen serta aspek kontaminasi lainnya. Setiap personel yang melakukan penanganan produk serta proses dipastikan harus memahami spesifikasi yang ditetapkan oleh perusahaan. Pelatihan atas spesifikasi ini sangat penting untuk menjaga konsistensi yang terkait dengan deskripsi dari spesifikasi yang dimaksud.

Demikian pelatihan-pelatihan yang sangat diperlukan oleh perusahan untuk memastikan bahwa persyaratan keamanan pangan dijalankan dengan tepat dalam organisasi. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat meningkatkan tahapan implementasi keamanan pangan dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Peranan Konsultan dalam Pengembangan Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dalam proses penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, baik itu pada industri makanan, pakan ataupun industri kemasan, terkadang perusahaan mempergunakan jasa konsultan untuk proses pengembangan dan bahkan sertifikasinya. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa perusahaan menjalankan proses pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, namun penggunaan terkait dengan proses sertifikasi dan pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

Lalu bagaimana peranan konsultan bisa menjalankan proses pengembangan Sistem Manajemen Keamanan pangan?

(1) Pemberian Pelatihan

Konsultan diharapkan dapat memberikan wawasan dan bantuan pembelajaran perusahaan dalam menerapkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Sebenarnya diperbolehkan perusahaan untuk menjalankan proses pembelajaran secara mandiri (self learning), namun dapat juga dijalankan dengan melakukan program pelatihan. Konsultan sebagai narasumber dari pelatihan dapat membantu untuk proses pemastian atas referensi ilmiah serta wawasan yang terkait dengan informasi yang disampaikan, seperti bagaimana melakukan implementasi yang tepat terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

(2) Proses Validasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dengan latar belakang pengetahuan yang dimiliki oleh konsultan, konsultan dapat membantu perusahaan dengan memberikan informasi/ saran/ referensi terkait dengan penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Rekomendasi dari konsultan yang bersumber dari pengetahuan dan pengalaman bekerja dapat memberikan masukan atas Sistem Manajemen Keamanan Pangan, seperti validasi atas PRP, HACCP Plan serta proses implementasi.

(3) Mendampingi Proses Implementasi

Konsultan dapat membantu perusahaan dalam memonitor bagaimana implementasi atas Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Dengan bantuan konsultan, proses implementasi dapat dijalankan dengan tepat dan efektif. Hal yang terpenting terkait dengan proses implementasi adalah sosialisasi dan pemantauan yang berhubungan dengan awareness yang terkait dengan pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

Bagaimana perusahaan pangan/pakan/kemasan menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan? Hal ini menjadi bagian penting bagi perusahaan agar mendapatkan manfaat yang terbaik dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, ada baiknya perusahaan dapat mempertimbangkan pada saat proses pelaksanaan yang terkait dengan Sistem FSSC, HACCP, ISO 22000, BRCGS maupun sistem yang lain. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)