Mengimplementasikan Budaya Anti Korupsi dan Fraud di dalam Perusahaan

Konsep dalam pengembangan ISO 37001: 2025 yang terbaru banyak terkait dengan bagaimana pengembangan budaya anti korupsi dijalankan dalam perusahaan. Konsep yang terkait dengan pelaksanaan yang terkait dengan budaya anti korupsi dan fraud tidak mudah untuk diimplementasikan di dalam perusahaan. Lalu bagaimana proses implementasi terkait dengan budaya anti korupsi dan fraud yang dijalankan di dalam perusahaan?

(1) Penjabaran Nilai-Nilai Budaya Anti Korupsi

Perusahaan harus melakukan penetapan atas nilai-nilai yang terkait dengan budaya anti korupsi. Nilai-nilai ini kemudian dijabatkan ke dalam definisi prilaku yang terkait dengan bagaimana prilaku anti korupsi berjalan di dalam organisasi. Penjabaran definisi ini kemudian dikembangkan menjadi kompetensi yang menjadi persyaratan bagaimana suatu konsep anti korupsi dijalankan dalam organisasi.

(2) Penyusunan Program Implementasi

Mengembangkan program dari level pengenalan sampai kepada pengikatan (engagement) antara karyawan dan nilai-nilai yang akan diimplementasikan. Program ini juga mencakup kegiatan pemantauan dan evaluasi terkait dengan bagaimana proses implementasi akan dijalankan. Pemberian contoh dalam berprilaku dapat dikembangka melalui peranan implementasi.

(3) Pembentukan change of management

Bagaimana change of management berjalan di dalam organisasi. Proses sistematik dan terstruktur harus dilakukan. Dimana perubahan harus dilakukan baik dalam bentuk sistem, prilaku, pembinaan bahkan aturan yang ada dalam organisasi. Lakukan proses kajian atas sistem yang saat ini berjalan untuk melihat apakah perubahan dapat dijalankan dengan maksimal dalam organisasi.

Bagaimana suatu perusahaan mengembangkan budaya anti korupsi yang tepat dalam organisasi? Identifikasi serta pengembangan terkait dengan nilai-nilai yang dijalankan dalam perusahaan harus selalu dipastikan berjalan dengan tepat dalam organisasi. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan pengembangan program implementasi budaya anti korupsi dalam organisasi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Perubahan BRCGS Packaging Versi 7

Penerapan BRCGS kemasan mengalami proses peningkatan versi dari yang sebelumnya adalah versi 6 dan saat ini penerapan terkait dengan versi 7. Proses perubahan ini mengacu kepada standar yang telah diterbitkan terkait dengan proses revisi yang telah diterbitkan. Berikut ini terdapat beberapa hal yang perlu dicermati terkait dengan status perubahan yang dimaksud.

(1) Pengelolaan Budaya Mutu dan Keamanan Pangan

Budaya mutu dan keamanan pangan dikelola untuk pengembangan secara terus-menerus. Proses pengembangan secara terus-menerus dijalankan dengan melakukan proses evaluasi pelaksanaan paling tidak satu tahun sekali terkait dengan memastikan bahwa budaya mutu dan keamanan pangan dapat terimplementasi dengan tepat dan efektif.

(2) Pengelolaan Resiko Bahaya Keamanan pangan

Proses penetapan dan identifikasi yang terkait dengan bahay, selain mempertimbangkan resiko biologi, kimia dan fisik juga mempertimbangkan beberapa faktor lainnya, seperti allergen, fraud, bahaya yang berdampak kepada aspek fungsional dan integritas atas produk, serta parameter terkait lainnya.

(3) Pengendalian Peralatan

Proses penetapan atas validasi dari peralatan proses yang dipergunakan, termasuk di dalamnya adalah memastikan bahwa proses pengaturan dari peralatan tersebut dapat menghasilkan kualitas output produk yang sesuai.

(4) Pelaksanaan Internal Audit

Kegiatan internal audit yang dijalankan harus mempertimbangkan aspek resiko yang teridentifikasi pada kegiatan audit sebelumnya sebagai penentu dari frekuensi internal audit yang akan dijalankan di tahun berikutnya. Proses penetapan atas resiko ini mempertimbangan ruang lingkup serta klausul yang ditetapkan terkait dengan kegiatan internal audit.

(5) Pengendalian pemasok

Proses penetapan atas analisis resiko pemasok wajib dijalankan dengan mempertimbangkan aspek kualitas, keamanan pangan, threat dan vulnerability dari bahan baku dan produk pemasok. Proses evaluasi ini juga mempertimbangkan apakah pemasok memiliki sertifikat GFSI (Global Food Safety Initiative) atau tidak. Proses pengendalian resiko melihat pada faktor dan aspek klaim atas produk yang akan dijalankan perusahaan, memastikan bahwa proses pengendalian dan pengelolaan dijalankan dengan tepat dan efektif. Kegiatan audit pemasok dilakukan untuk produk dengan tingkat resiko yang tinggi dilakukan dengan menjalankan audit pemasok oleh personel yang kompeten.

(6) Pest Control

Proses pengendalian atas hama serta pemantauan atas pengendaliannya dapat dilakukan melalui proses analisis resiko yang terkait dengan hama yang muncul. Dimana status pengendaliannya dijalankan untuk memastikan bahwa proses pengendalian resiko djalankan oleh vendor pest control untuk menjadi dasar terkait dengan frekuensi pemantauan yang akan dijalankan.

(7) Pelatihan dan Pengembangan SDM

Memastikan bahwa pelatihan dijalankan untuk personel dan proses administrasi terkait dengan pengembangan dan pelatihan dijalankan dengan tepat. Proses pengembangan selain dengan menjalankan pelatihan, bisa dijalankan dengan coaching ataupun on the job training. Evaluasi atas kompetensi dipastikan berjalan setiap tahunnya di dalam organisasi.

Bagaimana perusahaa menjalankan proses pengelolaan Sistem Keamanan Pangan yang tepat? Lakukan proses evaluasi pelaksanaan yang dijalankan saat ini, apabila memang dibutuhkan sertifikasi dapat mempertimbangkan sistem yang paling dibutuhkan oleh buyer atau negara tujuan penjualan produk. Untuk dapat meningkatkan kualitas sistem, tidak ada salahnya perusahaan melakukan evaluasi referensi eksternal yang terkait dengan pelaksanaan sistem keamanan pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Menjalankan Proses Due Diligence Anti Fraud pada Pemasok Perusahaan

Dalam suatu pelaksanaan sistem manajemen anti korupsi dan anti fraud, perananan pengendalian atas pemasok dijalankan untuk memastikan bahwa pemasok memiliki komitmen dan sistem yang memadai untuk mencegag adanya fraud. Proses analisis yang terkait dengan pemeriksaan ini dijalankan dengan melakukan proses due dilligence yang tepat pada pemasok Anda.

(1) Mempelajari Produk dan Potensi Resiko Fraud atas produk yang dimaksud

Ada pentingnya bagi perusahaan untuk melakukan pemeriksaan terkait dengan produk yang dihasilkan. Semakin panjang rantai pasokan yang ada maka semakin tinggi resiko atas fraudnya. Hal ini mempertimbangkan pemasok tersebut memiliki kemungkinan besar tidak menjalankan kegiatan produksi atas produknya sendiri. Dengan panjangnya rantai dari pasokan yang dimaksud maka proses penanganan atas produk tersebut tidak dapat dikendalikan dengan baik.

(2) Melakukan Analisis dari Latar Belakang Pemasok

Memastikan bahwa pemasok yang melakukan proses pasokan tersebut memiliki latar belakang bisnis yang beretika baik serta tidak memiliki status yang terkait dengan proses pencucian uang atau penggelapan yang berhubungan dengan bisnis yang terkait dengan tindakan pelanggaran hukum. Pastikan perusahaan selalu menjalin kerjasama dengan pemasok yang terbebas dari proses pencucian uang.

(3) Melakukan Evaluasi Program Anti Penyuapan pada pemasok

Perusahaan melakukan proses evaluasi yang terkait dengan persyaratan atas program yang terkait dengan status anti penyuapan. Tentu saja apabila perusahaan tersebut telah memastikan bahwa program anti penyuapan itu seperti dalam bentuk penerapan ISO 37001 ataupun proses pengendalian internal yang terkait dengan program anti penyuapan itu sendiri. Sehingga memastikan bahwa proses penanganan terkait dengan bagaimana proses pencegahan terkait dengan penanganan penyuapan yang dijalankan pada pemasok.

Pengendalian terkait dengan pengelolaan untuk pencegahan anti korupsi dapat dilakukan oleh perusahaan kepada pemasok. Dimana proses pengendalian dapat dilakukan dengan tepat maka perusahaan dapat memnjalankan program anti penyuapan yang dijalankan dalam organisasi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Meningkatkan Produktivitas SDM dalam Perusahaan

Efisiensi bagi perusahaan bukan hanya terkait dengan menghemat saja, namun juga berhubungan dengan proses peningkatan produktifitas. Produktifitas wajib dipertimbangkan sebagai bentuk keberhasilan dari efisiensi. Salah satu faktor produktifitas yang perlu dipertimbangkan adalah produktifitas yang terkait dengan sumber daya manusia.

Lalu bagaimana proses peningkatan produktifitas SDM ini bisa dikelola dengan tepat dalam perusahaan? Berikut ini adalah langkah- langkah yang perlu untuk dilakukan oleh perusahaan.

(1) Menyusun Target Perusahaan

Menetapkan target perusahaan yang kemudian dijabarkan dalam unit kerja divisi dan personel. Perlu untuk memastikan bahwa target yang ditetapkan tersebut adalah target yang terukur. Status target pada departemen kemudian dipastikan dijabarkan secara personel. Harus terdapat ikatan yang kuat antara target personel ke target departemen dan perusahaan. Sehingga ketercapaian target dapat bersifat sinergis.

(2) Meningkatkan nilai SDM

Melakukan proses penetapan atas nilai personel. Dimana antara alokasi beban biaya dari suatu personel harus dipastikan sesuai dengan nilai kontribusi perusahaan ke dalam perusahaan. Nilai ini dapat terukur kepada hasil output, pengelolaan resiko atau pertumbuhan organisasi. Desain struktur organisasi dan penetapan atas nilai indikator yang ditetapkan sebagaimana nilai dalam perusahaan.

(3) Perhitungan Investasi Perusahaan pada SDM

Penerapan atas investasi SDM dijalankan dalam bentuk pelatihan serta pembinaan. Bagaimana suatu organisasi menginvestasikan SDM dapat dijalankan dengan melakukan perhitungan asset dari kualitas SDM. Dimana perhitungan atas investasi ini harus diseimbangkan dengan rencana perusahaan. Sehingga pengembangan atas perusahaan memberikan nilai penting bagi perhitungan kekayaan dalam perusahaan.

Bagaimana perusahaan menjalankan proses pengembangan sistem efisiensi? Pastikan bahwa hal ini tidak hanya menghemat namun juga peningkatan produktifitas. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Perubahan Persyaratan Keamanan Pangan dalam Codex Versi 2022

Persyaratan keamanan pangan HACCP termuat di dalam persyaratatan keamanan pangan, yaitu persyaratan Codex Alimentarius. Saat ini persyaratan atas Codex Versi 2022 telah mengalami proses beberapa kali revisi, revisi di tahun 2022 adalah revisi terakhir yang terbaru saat ini. Lalu apa saja perubahan yang muncul.

(1) Adanya pemisahan antara Good Hygiene Practice dan HACCP

Di dalam persyaratan keamanan pangan yang termuat dalam Codex Versi 2022 terdapat pemisahan yang berkaitan dengan Good Hygiene Practice dan HACCP. Di dalam Good Hygiene Practice, tersedia beberapa persyaratan yang terkait dengan komitmen manajemen serta persyaratan sistem yang dimana mendekati prinsip ISO 22000.

(2) Pengendalian Lingkungan dan Infrastruktur

Penjelasan dan kewajiban yang terkait dengan persyaratan hygiene practice juga ditetapkan dalam bentuk penanganan Environmental Monitoring Program, pengendalian pencahayaan serta sanitasi dan higienitas.

(3) HACCP

Pendekatan bahaya yang dijalankan saat ini tidak hanya bahaya kimia, fisik dan biologi saja. Namun juga bahaya yang terkait dengan radiasi dan allergen.

(4) Pelatihan

Adanya fokus untuk menjalankan proses penyegaran yang terkait dengan pelatihan. Penyegaran ini wajib dijalankan dalam periode 1 (satu) tahun dan wajib untuk dipastikan setiap pelatihan yang dijalankan dilengkapi dengan evaluasi pelatihan.

Bagaimana pelaksanaan program keamanan pangan dijalankan di perusahaan Anda? Lakukan proses peningkatan sistem dengan mempergunakan HACCP versi 2022. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pengelolaan Merk dalam Bisnis Waralaba

Dalam bisnis waralaba, penggunaan merk adalah salah satu kunci penting dalam memastikan sistem waralaba dijalankan. Namun tidak sedikit perusahaan yang bergerak di bidang waralaba abai dalam melakukan proses pengelolaan merk dengan baik. Merk adalah hal penting yang menjadi penjaga bisnis waralaba. Lalu bagaimana proses pengelolaan merk tersebut dijalankan dalam perusahaan waralaba.

(a) Menetapkan definisi lengkap yang terkait dengan merk perusahaan

Merk bukan hanya menjadi identitas antara perusahaan dengan pelanggan, namun juga menjadi identitas pada perusahaan. Definisikan merk secara internal dengan nilai-nilai yang dapat diimplementasikan dalam organisasi. Penetapan atas nilai-nilai ini kemudian dijabarkan menjadi suatu nilai yang terkait dengan prilaku serta kompetensi yang ditetapkan di dalam organisasi.

(b) Mengembangkan Prinsip atas Merk kepada Pelanggan

Proses ini dilakukan untuk memastikan bahwa pelanggan melihat perusahaan sebagai hal penting dan mengikat kepada emosional pelanggan. Khususnya apabila merk yang dikembangkan tersebut terkait langsung dengan hubungan dengan perusahaan dan individu pelanggan. Sehingga kedekatan antara merk perusahaan dan pelanggan dapat terbentuk.

(c) Melakukan program pembinaan dan pelatihan kepada seluruh elemen organisasi

Merk tidak hanya logo yang tersemat dalam seragam ataupun dokumen perusahaan namun juga identitas yang berisi nilai dan budaya perusahaan untuk proses implementasi. Bagaimana proses implementasi itu sendiri dilakukan pada organisasi? Proses implementasi itu dijalankan melalui kegiatan sosialisasi yang terkait dengan nilai-nilai yang ada pada merk tersebut. Selain pelatihan, program pendekatan yang terkait dengan keterikatan atas merk dijalankan di dalam perusahaan. Penjelasan atas batasan prilaku dan pola komunikasi menjadi bagian penting dalam proses peningkatan di organisasi. Hal ini juga termasuk kepada mitra yang turut menjalankan bisnis waralaba.

(d) Menjaga merk dari penyalahgunaan

Merk dari perusahaan harus selalu dilindungi. Diberikan proteksi secara hukum untuk memastikan bahwa merk menjadi properti dari perusahaan. Perlindungan hukum ini dilakukan untuk mencegah merk tersebut digunakan oleh pihak lain. Perusahaan memastikan perlindungan ini dilakukan sesuai dengan prosedur legalitas yang berlaku.

Merk menjadi bagian penting dan nilai jual pada pengelolaan bisnis perusahaan, khususnya pada bisnis waralaba. Perusahaan harus memastikan bagaimana merk terpelihara dengan baik sehingga memberikan nilai jual yang optimal bagi perusahaan dan mitra waralaba. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk menjalankan proses pengelolaan merk perusahaan yang tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penerapan Strategic Food Safety Management System yang Efektif

Penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan bukan saja menjadi cara perusahaan untuk mendapatkan sertifikasi, namun di balik itu adalah salah satu strategi perusahaan untuk dapat menjaga kesinambungan dari bisnis.

Bagaimana proses penerapan dari strategic food safety management system?

(1) Pengembangan Budaya

Nilai atas budaya menjadi dasar penting dalam implementasi keamanan pangan. aspek etis dan tata kelola harus mengacu kepada nilai budaya tersebut. Pengaturan atas prilaku organisasi didesain berdasarkan pada nilai yang dimaksud.

(2) Pengembangan Komitmen

Konsistensi atas organisasi harus dapat dipastikan berjalan untuk memastikan bahwa sistem membentuk kesadaran terkait dengan keamanan pangan. Konsep top to bottom menjadi bagian yang wajib dipastikan selalu konsisten. Pengambilan komitmen harus menunjang penerapan ini dan selalu menindak atas penyimpangan yang muncul.

(3) Leadership

Pemastian atas penerapan dapat dilakukan dengan mensyaratkan bahwa konsep kepatuhan dijalankan bukan dengan keterpaksaan. Alih-alih dengan pemaksaan, konsep leadership yang baik justruk memupuk kepatuhan berdasarkan pada kesadaran.

Berikut adalah tiga prinsip penting yang perusahaan dapat lakukan untuk menerapkan aspek strategis dari keamanan pangan. Pastikan sistem keamanan pangan perusahaan dapat melindungi organisasi dan menjamin keberlanjutan nya. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penerapan ISO 37001 yang Efektif dalam Pengelolaan Vendor

Pada proses pengelolaan vendor, pengendalian anti siap adalah bagian tersulit untuk diterapkan. Pada beberapa perusahaan, hal ini termasuk tantangan yang perlu dijalankan dengan komitmen, sistem serta kesadaran sumber daya manusia. Lalu bagaimana proses penerapan ISO 37001 dapat dijalankan dalam perusahaan terkait dengan pengelolaan vendor?

(1) Komitmen

Vendor, baik merupakan vendor pribadi maupun vendor perusahaan, harus dipastikan memiliki komitmen tertulis yang menjelaskan bahwa sebagai pemasok vendor yang dimaksud tidak menerima suap, praktek gratifikasi ataupun praktek dari korupsi baik yang menguntungkan pemasok maupun menguntungkan oknum yang ada dalam perusahaan.

(2) Proses Seleksi

Proses seleksi di dalam ISO 37001 juga harus melibatkan proses due dilligence, yaitu melihat pada kelayakan pemasok dalam hal integritas anti korupsi dalam proses operasional perusahaannya. Due dilligence ini dijalankan untuk dapat melihat sampai sejauh mana secara internal dan eksternal pemasok dapat mengendalikan bisnisnya dari potensi korupsi, gratifikasi dan pencucian uang. Proses pelaksanaan atas ini tentu menjadi bagian penting yang kemudian dipertimbangkan menjadi resiko dari pemasok. Apabila pemasok tersebut memiliki resiko yang tinggi, maka sebaiknya tidak dipilih menjadi pemasok di dalam perusahaan.

(3) Kesadaran Sumber Daya Manusia

Secara internal perusahaan sendiri harus dipastikan aspek sumber daya manusia dapat terpenuhi dengan baik. Dimana dari sisi kesadaran sangat diperlukan untuk memiliki integritas yang tinggi agar terhindar dari praktek korupsi dan segala bentuk praktek yang beresiko terhadap penyuapan. Pembinaan serta audit yang intensif dapat memberikan fokus kepada personal agar memiliki kemampuan yang baik terkait dengan kesadarannya terhadap prakek anti korupsi, gratifikasi, serta pencucian uang. Proses review kinerja terkait dengan anti penyuapan serta audit perlu untuk dipastikan agar personel yang ditempatkan benar-benar menjalankan prinsip persyaratan anti penyuapan dengan tepat.

Bagaimana perusahaan memastikan pelaksanaan dari ISO 37001 berjalan dengan tepat dan efektif? Perusahaan ada baiknya memulai proses penyusunan sistem ISO 37001 serta memastikan bahwa pelaksanaan sistem yang terkait dengan ISO 37001 berjalan dengan tepat dan efektif. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk memastikan bahwa pelaksanaan Sistem ISO 37001 dapat berjalan dengan tepat dan efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926).

Perlukan Perusahaan Menjalankan Audit Supplier?

Bagaimana perusahaan melakukan proses pengendalian atas pemasoknya. Salah satu langkah yang seringkali perusahaan jalankan adalah dengan menjalankan audit supplier. Audit supplier ini dipergunakan sebagai bentuk proses seleksi awal untuk melakukan proses penetapan supplier yang akan melakukan pasokan barang dan jasa. Namun, kegiatan audit supplier ini sendiri pun tidak mudah untuk dilakukan, dimana dalam beberapa hal kegiatan ini juga membutuhkan waktu baik dari sisi perusahaan maupun pemasok.

Apakah perlu perusahaan menjalankan kegiatan audit supplier? Berikut ini terdapat hal penting yang dapat menjadi pertimbangan perusahaan dalam menjalankan kegiatan audit supplier.

(1) Kejelasan Rantai Pasokan

Pemasok yang merupakan pengolah pertama atau produksi pertama dari suatu material/ bahan baku adalah lebih baik dibandingkan dengan tangan rantai pasokan berikutnya. Dimana proses pengadaan pasokan tersebut dilakukan evaluasi berdasarkan pada pasokan dari supplier. Apabila kondisi dari pemasok tersebut telah terdeteksi dan teridentifikasi sesuai dengan rantai pasokannya, audit pemasok bisa dijadikan alternatif tanpa menjadi keharusan untuk dijalankan. Berbeda apabila supplier tidak masuk ke dalam rantai pasokan yang jelas, bisa melalui agen/ distributor. Proses audit supplier menjadi hal kritikal untuk dilakukan pada agen/distributor untuk memastikan bahwa supply chain management berjalan dengan efektif.

(2) Tingkat Resiko Pemasok

Perusahaan dapat menetapkan kriteria terkait dengan resiko pemasok. Pemasok dengan kondisi pasokan yang berdampak langsung kepada produk. Apabila tidak memiliki dampak langsung ke produk jadi maka resiko atas pemasok akan menurun. Sedangkan apabila berdampak langsung kepada produk akan memberikan dampak tinggi atas produk, maka resiko pemasok akan semakin meningkat. Tingginya resiko ini perlu diantisipasi dengan berbagai cara, seperti penetapan terkait dengan pengelolaan atas resiko, seperti penetapan klasifikasi jaminan untuk mencegah pemasok yang tidak sesuai, penanganan terkait dengan seleksi yang cukup ketat seperti dengan melakukan audit, serta pengembangan sistem dan mekanisme pemeriksaan atas kedatangan material/barang.

(3) Pengendalian Resiko

Beberapa perusahaan untuk mendapatkan jaminan yang terkait dengan penanganan serta pengendalian resiko dilakukan dengan program pembinaan. Kegiatan atas intervensi perusahaan kepada pemasok harus dijalankan dengan kehati-hatian mengingat pemasok dan perusahaan memiliki fokus bisnis yang berbeda. Pengendalian resiko ini juga harus dipantau secara rutin, periode pemantauan tergantung kepada aspek resiko yang dihitung dalam hubungan antara pemasok dan perusahaan yang dimaksud.

Mempertimbangkan dari kondisi ini, ada baiknya perusahaan mengelola kinerja pemasok dengan tepat. Selain untuk kepentingan perusahaan juga untuk menjaga keberlangsungan usaha dari pemasoknya itu sendiri. Penetapan serta pengelolaan yang optimal ini tidak hanya dijalankan melalui proses singkat namun bersifat terus-menerus dan ditopang dengan sistem yang baik. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Aplikasi FSSC Versi 6 pada Industri Kemasan Pangan

Penerapan Sistem FSSC Versi 6 efektif berjalan sejak April 2024. Proses penerapan FSSC pada industri kemasan dijalankan sebagai salah satu bentuk komitmen dari industri kemasan tersebut dalam menjalankan sistem keamanan pangan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa konsumen dapat terlindungi dari semua resiko yang dapat dimunculkan pada kemasan. Pelanggan perusahaan dapat merupakan industri pangan ataupun konsutmen langsung.

Lalu apa saja sistem yang perlu dipersiapkan oleh industri kemasan untuk menjalankan FSSC Versi 6.

(1) Menjalankan ISO 22000

FSSC mempergunakan prinsip ISO 22000 dalam proses penyusunan sistemnya. Dasar dari pelaksanaan yang dijalankan adalah konsep keamanan pangan berbasiskan resiko dan perbaikan yang berkesinambungan. Seluruh klausul yang ada dalam ISO 22000 wajib dipelajari dan diimplementasikan dalam organisasi. Termasuk di dalamnya adalah pelaksanaan dari sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).

(2) Menerapkan Prinsip PRP ISO TS 22002-4: 2013

Penetapan atas PRP seperti kesesuaian fisik bangunan, lay out ataupun penerapan dasar-dasar keamanan pangan harus sesuai dengan klausul yang termuat dalam standar ISO TS 22002-4:2013. Selain itu ada baiknya perusahaan mempertimbangkan persyaratan yang termuat dalam regulasi yang ditetapkan terkait dengan negara dimana perusahaan tersebut berjalan ataupun persyaratan negara tujuan.

(3) Menjalankan persyaratan tambahan yang terkait dengan FSSC

Penetapan atas persyaratan tambahan yang terkait dengan FSSC dipastikan juga dijalankan oleh industri kemasan tersebut. Beberapa persyaratan yang dimaksud terkait dengan beberapa hal sebagai berikut:

(a) Penetapan Lembaga Penguji Produk/ Standar Pengujian Produk

Perusahaan menjalankan proses pengujian produk dengan mempergunakan standar referensi yang terkait dengan pengujian produk untuk memastikan kepatuhan yang terkait dengan penerapan ISO 17025. Laboratorium penguji internal dalam organisasi harus dipastikan memenuhi standar persyaratan profisiensi yang terkait dengan penetapan yang terkait dengan pengujian produk pada laboratorium referensi yang telah tersertifikasi ISO 17025 atau memiliki akreditasi Nasional.

(b) Pelaksanaan TACCP/VACCP

Menjalankan proses pelaksanaan terkait dengan TACCP/VACCP sebagai bentuk pengendalian atas resiko bahaya yang secara sengaja dijalankan dalam organisasi atau rantai supply chain. Memastikan bahwa penetapan atas penilaian resiko yang terkait dengan TACCP/VACCP untuk kemudian menetapkan prioritas yang terkait dengan pengendalian resiko. Pengendalian resiko ini dijalankan untuk meminimalkan kemunculan resiko. Proses penilaian dan pengendalian harus dilakukan setiap tahun untuk memastikan kesesuaiannya.

(c) Pelaksanaan Pengendalian Pemasok

Pemastian adanya penilaian resiko atas pemasok baik pemasok jasa maupun produk. Hal ini kemudian diperlukan untuk memastikan bahwa penilaian resiko dijlankan berdasarkan pada resiko yang ada. Penetapan terkait dengan status resiko ini dipastikan untuk menjamin bahwa produk/jasa yang disuply sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Proses pengendalian ini dipastikan untuk menjamin kesesuaian tersebut. Penetapan alternatif pemasok dilakukan untuk pasokan bahan baku yang dinilai signifikan terhadap produk.

(d) Pengendalian Lingkungan

Pengendalian atas lingkungan dijalankan untuk memastikan bahwa lingkungan sekitar dan peralatan tidak menimbulkan kontaminasi kepada produk. Perusahaan menetapan penilaian atas lingkungan dan peralatan terkait dengan resiko yang muncul. Output dari proses pengendalian ini adalah kemunculan zonasi dari resiko. Pengendalian lingkungan perlu dilakukan pemantauan untuk melihat status pengendalian yang dimaksud. Pengendalian ini dijalankan untuk memastikan bahwa proses sanitasi dan kebersihan sudah memadai untuk menjaga lingkungan dan peralatan dari resiko keamanan pangan atas produk.

(e) Pengendalian Peralatan

Peralatan yang dipergunakan oleh perusahaan harus dipastikan tidak menimbulkan resiko kontaminasi ke produk. Memastikan spesifikasi dari peralatan adalah sesuai dan memiliki kategori yang sesuai dengan spesifikasi pangan. Penggunaan terkait dengan spesifikasi peralatan harus selalu dipastikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sehingga pada saat proses pembelian dipastikan untuk melakukan pengkajian yang terkait dengan spesifikasi yang dimaksud.

Penerapan terkait dengan Sistem Keamanan Kemasan Pangan melalui sistem FSSC termasuk penerapan yang sangat bermanfaat bagi organisasi. Peningkatan atas kepercayaan pelanggan dapat menimbulkan peningkatan kepercayaan diri konsumen. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)