Memahami Perubahan BRCGS Packaging Versi 7

Penerapan BRCGS kemasan mengalami proses peningkatan versi dari yang sebelumnya adalah versi 6 dan saat ini penerapan terkait dengan versi 7. Proses perubahan ini mengacu kepada standar yang telah diterbitkan terkait dengan proses revisi yang telah diterbitkan. Berikut ini terdapat beberapa hal yang perlu dicermati terkait dengan status perubahan yang dimaksud.

(1) Pengelolaan Budaya Mutu dan Keamanan Pangan

Budaya mutu dan keamanan pangan dikelola untuk pengembangan secara terus-menerus. Proses pengembangan secara terus-menerus dijalankan dengan melakukan proses evaluasi pelaksanaan paling tidak satu tahun sekali terkait dengan memastikan bahwa budaya mutu dan keamanan pangan dapat terimplementasi dengan tepat dan efektif.

(2) Pengelolaan Resiko Bahaya Keamanan pangan

Proses penetapan dan identifikasi yang terkait dengan bahay, selain mempertimbangkan resiko biologi, kimia dan fisik juga mempertimbangkan beberapa faktor lainnya, seperti allergen, fraud, bahaya yang berdampak kepada aspek fungsional dan integritas atas produk, serta parameter terkait lainnya.

(3) Pengendalian Peralatan

Proses penetapan atas validasi dari peralatan proses yang dipergunakan, termasuk di dalamnya adalah memastikan bahwa proses pengaturan dari peralatan tersebut dapat menghasilkan kualitas output produk yang sesuai.

(4) Pelaksanaan Internal Audit

Kegiatan internal audit yang dijalankan harus mempertimbangkan aspek resiko yang teridentifikasi pada kegiatan audit sebelumnya sebagai penentu dari frekuensi internal audit yang akan dijalankan di tahun berikutnya. Proses penetapan atas resiko ini mempertimbangan ruang lingkup serta klausul yang ditetapkan terkait dengan kegiatan internal audit.

(5) Pengendalian pemasok

Proses penetapan atas analisis resiko pemasok wajib dijalankan dengan mempertimbangkan aspek kualitas, keamanan pangan, threat dan vulnerability dari bahan baku dan produk pemasok. Proses evaluasi ini juga mempertimbangkan apakah pemasok memiliki sertifikat GFSI (Global Food Safety Initiative) atau tidak. Proses pengendalian resiko melihat pada faktor dan aspek klaim atas produk yang akan dijalankan perusahaan, memastikan bahwa proses pengendalian dan pengelolaan dijalankan dengan tepat dan efektif. Kegiatan audit pemasok dilakukan untuk produk dengan tingkat resiko yang tinggi dilakukan dengan menjalankan audit pemasok oleh personel yang kompeten.

(6) Pest Control

Proses pengendalian atas hama serta pemantauan atas pengendaliannya dapat dilakukan melalui proses analisis resiko yang terkait dengan hama yang muncul. Dimana status pengendaliannya dijalankan untuk memastikan bahwa proses pengendalian resiko djalankan oleh vendor pest control untuk menjadi dasar terkait dengan frekuensi pemantauan yang akan dijalankan.

(7) Pelatihan dan Pengembangan SDM

Memastikan bahwa pelatihan dijalankan untuk personel dan proses administrasi terkait dengan pengembangan dan pelatihan dijalankan dengan tepat. Proses pengembangan selain dengan menjalankan pelatihan, bisa dijalankan dengan coaching ataupun on the job training. Evaluasi atas kompetensi dipastikan berjalan setiap tahunnya di dalam organisasi.

Bagaimana perusahaa menjalankan proses pengelolaan Sistem Keamanan Pangan yang tepat? Lakukan proses evaluasi pelaksanaan yang dijalankan saat ini, apabila memang dibutuhkan sertifikasi dapat mempertimbangkan sistem yang paling dibutuhkan oleh buyer atau negara tujuan penjualan produk. Untuk dapat meningkatkan kualitas sistem, tidak ada salahnya perusahaan melakukan evaluasi referensi eksternal yang terkait dengan pelaksanaan sistem keamanan pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penerapan Strategic Food Safety Management System yang Efektif

Penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan bukan saja menjadi cara perusahaan untuk mendapatkan sertifikasi, namun di balik itu adalah salah satu strategi perusahaan untuk dapat menjaga kesinambungan dari bisnis.

Bagaimana proses penerapan dari strategic food safety management system?

(1) Pengembangan Budaya

Nilai atas budaya menjadi dasar penting dalam implementasi keamanan pangan. aspek etis dan tata kelola harus mengacu kepada nilai budaya tersebut. Pengaturan atas prilaku organisasi didesain berdasarkan pada nilai yang dimaksud.

(2) Pengembangan Komitmen

Konsistensi atas organisasi harus dapat dipastikan berjalan untuk memastikan bahwa sistem membentuk kesadaran terkait dengan keamanan pangan. Konsep top to bottom menjadi bagian yang wajib dipastikan selalu konsisten. Pengambilan komitmen harus menunjang penerapan ini dan selalu menindak atas penyimpangan yang muncul.

(3) Leadership

Pemastian atas penerapan dapat dilakukan dengan mensyaratkan bahwa konsep kepatuhan dijalankan bukan dengan keterpaksaan. Alih-alih dengan pemaksaan, konsep leadership yang baik justruk memupuk kepatuhan berdasarkan pada kesadaran.

Berikut adalah tiga prinsip penting yang perusahaan dapat lakukan untuk menerapkan aspek strategis dari keamanan pangan. Pastikan sistem keamanan pangan perusahaan dapat melindungi organisasi dan menjamin keberlanjutan nya. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Perlukan Perusahaan Menjalankan Audit Supplier?

Bagaimana perusahaan melakukan proses pengendalian atas pemasoknya. Salah satu langkah yang seringkali perusahaan jalankan adalah dengan menjalankan audit supplier. Audit supplier ini dipergunakan sebagai bentuk proses seleksi awal untuk melakukan proses penetapan supplier yang akan melakukan pasokan barang dan jasa. Namun, kegiatan audit supplier ini sendiri pun tidak mudah untuk dilakukan, dimana dalam beberapa hal kegiatan ini juga membutuhkan waktu baik dari sisi perusahaan maupun pemasok.

Apakah perlu perusahaan menjalankan kegiatan audit supplier? Berikut ini terdapat hal penting yang dapat menjadi pertimbangan perusahaan dalam menjalankan kegiatan audit supplier.

(1) Kejelasan Rantai Pasokan

Pemasok yang merupakan pengolah pertama atau produksi pertama dari suatu material/ bahan baku adalah lebih baik dibandingkan dengan tangan rantai pasokan berikutnya. Dimana proses pengadaan pasokan tersebut dilakukan evaluasi berdasarkan pada pasokan dari supplier. Apabila kondisi dari pemasok tersebut telah terdeteksi dan teridentifikasi sesuai dengan rantai pasokannya, audit pemasok bisa dijadikan alternatif tanpa menjadi keharusan untuk dijalankan. Berbeda apabila supplier tidak masuk ke dalam rantai pasokan yang jelas, bisa melalui agen/ distributor. Proses audit supplier menjadi hal kritikal untuk dilakukan pada agen/distributor untuk memastikan bahwa supply chain management berjalan dengan efektif.

(2) Tingkat Resiko Pemasok

Perusahaan dapat menetapkan kriteria terkait dengan resiko pemasok. Pemasok dengan kondisi pasokan yang berdampak langsung kepada produk. Apabila tidak memiliki dampak langsung ke produk jadi maka resiko atas pemasok akan menurun. Sedangkan apabila berdampak langsung kepada produk akan memberikan dampak tinggi atas produk, maka resiko pemasok akan semakin meningkat. Tingginya resiko ini perlu diantisipasi dengan berbagai cara, seperti penetapan terkait dengan pengelolaan atas resiko, seperti penetapan klasifikasi jaminan untuk mencegah pemasok yang tidak sesuai, penanganan terkait dengan seleksi yang cukup ketat seperti dengan melakukan audit, serta pengembangan sistem dan mekanisme pemeriksaan atas kedatangan material/barang.

(3) Pengendalian Resiko

Beberapa perusahaan untuk mendapatkan jaminan yang terkait dengan penanganan serta pengendalian resiko dilakukan dengan program pembinaan. Kegiatan atas intervensi perusahaan kepada pemasok harus dijalankan dengan kehati-hatian mengingat pemasok dan perusahaan memiliki fokus bisnis yang berbeda. Pengendalian resiko ini juga harus dipantau secara rutin, periode pemantauan tergantung kepada aspek resiko yang dihitung dalam hubungan antara pemasok dan perusahaan yang dimaksud.

Mempertimbangkan dari kondisi ini, ada baiknya perusahaan mengelola kinerja pemasok dengan tepat. Selain untuk kepentingan perusahaan juga untuk menjaga keberlangsungan usaha dari pemasoknya itu sendiri. Penetapan serta pengelolaan yang optimal ini tidak hanya dijalankan melalui proses singkat namun bersifat terus-menerus dan ditopang dengan sistem yang baik. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Aplikasi FSSC Versi 6 pada Industri Kemasan Pangan

Penerapan Sistem FSSC Versi 6 efektif berjalan sejak April 2024. Proses penerapan FSSC pada industri kemasan dijalankan sebagai salah satu bentuk komitmen dari industri kemasan tersebut dalam menjalankan sistem keamanan pangan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa konsumen dapat terlindungi dari semua resiko yang dapat dimunculkan pada kemasan. Pelanggan perusahaan dapat merupakan industri pangan ataupun konsutmen langsung.

Lalu apa saja sistem yang perlu dipersiapkan oleh industri kemasan untuk menjalankan FSSC Versi 6.

(1) Menjalankan ISO 22000

FSSC mempergunakan prinsip ISO 22000 dalam proses penyusunan sistemnya. Dasar dari pelaksanaan yang dijalankan adalah konsep keamanan pangan berbasiskan resiko dan perbaikan yang berkesinambungan. Seluruh klausul yang ada dalam ISO 22000 wajib dipelajari dan diimplementasikan dalam organisasi. Termasuk di dalamnya adalah pelaksanaan dari sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).

(2) Menerapkan Prinsip PRP ISO TS 22002-4: 2013

Penetapan atas PRP seperti kesesuaian fisik bangunan, lay out ataupun penerapan dasar-dasar keamanan pangan harus sesuai dengan klausul yang termuat dalam standar ISO TS 22002-4:2013. Selain itu ada baiknya perusahaan mempertimbangkan persyaratan yang termuat dalam regulasi yang ditetapkan terkait dengan negara dimana perusahaan tersebut berjalan ataupun persyaratan negara tujuan.

(3) Menjalankan persyaratan tambahan yang terkait dengan FSSC

Penetapan atas persyaratan tambahan yang terkait dengan FSSC dipastikan juga dijalankan oleh industri kemasan tersebut. Beberapa persyaratan yang dimaksud terkait dengan beberapa hal sebagai berikut:

(a) Penetapan Lembaga Penguji Produk/ Standar Pengujian Produk

Perusahaan menjalankan proses pengujian produk dengan mempergunakan standar referensi yang terkait dengan pengujian produk untuk memastikan kepatuhan yang terkait dengan penerapan ISO 17025. Laboratorium penguji internal dalam organisasi harus dipastikan memenuhi standar persyaratan profisiensi yang terkait dengan penetapan yang terkait dengan pengujian produk pada laboratorium referensi yang telah tersertifikasi ISO 17025 atau memiliki akreditasi Nasional.

(b) Pelaksanaan TACCP/VACCP

Menjalankan proses pelaksanaan terkait dengan TACCP/VACCP sebagai bentuk pengendalian atas resiko bahaya yang secara sengaja dijalankan dalam organisasi atau rantai supply chain. Memastikan bahwa penetapan atas penilaian resiko yang terkait dengan TACCP/VACCP untuk kemudian menetapkan prioritas yang terkait dengan pengendalian resiko. Pengendalian resiko ini dijalankan untuk meminimalkan kemunculan resiko. Proses penilaian dan pengendalian harus dilakukan setiap tahun untuk memastikan kesesuaiannya.

(c) Pelaksanaan Pengendalian Pemasok

Pemastian adanya penilaian resiko atas pemasok baik pemasok jasa maupun produk. Hal ini kemudian diperlukan untuk memastikan bahwa penilaian resiko dijlankan berdasarkan pada resiko yang ada. Penetapan terkait dengan status resiko ini dipastikan untuk menjamin bahwa produk/jasa yang disuply sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Proses pengendalian ini dipastikan untuk menjamin kesesuaian tersebut. Penetapan alternatif pemasok dilakukan untuk pasokan bahan baku yang dinilai signifikan terhadap produk.

(d) Pengendalian Lingkungan

Pengendalian atas lingkungan dijalankan untuk memastikan bahwa lingkungan sekitar dan peralatan tidak menimbulkan kontaminasi kepada produk. Perusahaan menetapan penilaian atas lingkungan dan peralatan terkait dengan resiko yang muncul. Output dari proses pengendalian ini adalah kemunculan zonasi dari resiko. Pengendalian lingkungan perlu dilakukan pemantauan untuk melihat status pengendalian yang dimaksud. Pengendalian ini dijalankan untuk memastikan bahwa proses sanitasi dan kebersihan sudah memadai untuk menjaga lingkungan dan peralatan dari resiko keamanan pangan atas produk.

(e) Pengendalian Peralatan

Peralatan yang dipergunakan oleh perusahaan harus dipastikan tidak menimbulkan resiko kontaminasi ke produk. Memastikan spesifikasi dari peralatan adalah sesuai dan memiliki kategori yang sesuai dengan spesifikasi pangan. Penggunaan terkait dengan spesifikasi peralatan harus selalu dipastikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sehingga pada saat proses pembelian dipastikan untuk melakukan pengkajian yang terkait dengan spesifikasi yang dimaksud.

Penerapan terkait dengan Sistem Keamanan Kemasan Pangan melalui sistem FSSC termasuk penerapan yang sangat bermanfaat bagi organisasi. Peningkatan atas kepercayaan pelanggan dapat menimbulkan peningkatan kepercayaan diri konsumen. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Jenis-Jenis Pelatihan yang Diwajibkan pada Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Pelaksanaan terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, menunjukkan bahwa perusahaan memiliki komitmen untuk menjalankan sistem dan melanjutkan sampai dengan proses sertifikasi dapat dimiliki oleh perusahaan. Untuk mendapatkan sistem yang terimplementasi dengan baik, perusahaan diharapkan menjalankan pelatihan-pelatihan yang menjadi persyaratan wajib dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

Berikut ini adalah beberapa jenis pelatihan yang menjadi pelatihan wajib yang dijalankan dalam pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

(1) Pelatihan PRP (Pre Requisite Program)

Jenis pelatihan ini adalah pelatihan yang menjadi dasar dari pelaksanaan yang terkait dengan persyaratan keamanan pangan. Adapun pelatihanPRP yang dijalankan dalam perusahaan adalah pelatihan yang terkait dengan kegiatan kebersihan dan sanitasi (cleaning & santizing), pengendalian hama (pest control), pengendalian atas penanganan bahan kimia, serta proses pengendalian yang terkait dengan kebersihan personal (personal hygiene) serta proses penanganan dan pengendalian yang terkait degan penanganan kontaminasi pada produk, termasuk di dalamnya adalah pengendalian atas benda asing serta pengelolaan allergen.

(2) Pelatihan HACCP

Pelatihan yang terkait dengan sistem persyaratan kemanan pangan, termasuk di dalamnya adalah proses pengendalian terkait dengan keamanan pangan pada alir proses yang dijalankan dalam melakukan penanganan atas produk. Pengendalian atas setiap potensi bahaya yang terdapat setiap tahapan proses. Dimana tahapan proses ini secara detail dianalisis untuk kemudian dievaluasi terkait dengan setiap potensi bahaya yang muncul. Penetapan pengendalian kemudian ditetapkan dalam setiap tahapan yang dimaksud. Pelatihan ini dijalankan sesuai dengan persyaratan Codex, yang terbaru adalah revisi CXC 1969- revisi 2022.

(3) Pelatihan Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Pelatihan yang dijalankan oleh perusahaan yang akan menjalankan proses sertifikasi keamanan pangan. Adapun jenis pelatihan yang dijalankan adalah pelatihan ISO 22000, BRCGS, IFS ataupun FSSC. Pemilihan terhadap jenis pelatihan ditetapkan sesuai dengan jenis sertifikasi yang dipilih oleh perusahaan.

(4) Pengendalian CCP dan OPRP

Jenis pelatihan teknis pada personel yang bertanggung jawab terhadap tahapan proses yang dimana terdapat titik CCP atau OPRP. Pelatihan ini bersifat teknis operasional yang dimana dijalankan di lapangan. Personel yang mendapatkan pelatihan ini bertanggung jawab secara langsung dalam pengelolaan CCP/OPRP di lapangan.

(5) Pemahaman Spesifikasi

Persyaratan spesifikasi selain terkait dengan kualitas juga sangat terkait dengan keamanan pangan. Keamanan pangan menjadi salah satu parameter spesifikasi yang harus termuat selain kualitas. Informasi sebagai kandungan mikrobiologi, kandungan logam berat, allergen serta aspek kontaminasi lainnya. Setiap personel yang melakukan penanganan produk serta proses dipastikan harus memahami spesifikasi yang ditetapkan oleh perusahaan. Pelatihan atas spesifikasi ini sangat penting untuk menjaga konsistensi yang terkait dengan deskripsi dari spesifikasi yang dimaksud.

Demikian pelatihan-pelatihan yang sangat diperlukan oleh perusahan untuk memastikan bahwa persyaratan keamanan pangan dijalankan dengan tepat dalam organisasi. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat meningkatkan tahapan implementasi keamanan pangan dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Peranan Konsultan dalam Pengembangan Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dalam proses penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, baik itu pada industri makanan, pakan ataupun industri kemasan, terkadang perusahaan mempergunakan jasa konsultan untuk proses pengembangan dan bahkan sertifikasinya. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa perusahaan menjalankan proses pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, namun penggunaan terkait dengan proses sertifikasi dan pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

Lalu bagaimana peranan konsultan bisa menjalankan proses pengembangan Sistem Manajemen Keamanan pangan?

(1) Pemberian Pelatihan

Konsultan diharapkan dapat memberikan wawasan dan bantuan pembelajaran perusahaan dalam menerapkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Sebenarnya diperbolehkan perusahaan untuk menjalankan proses pembelajaran secara mandiri (self learning), namun dapat juga dijalankan dengan melakukan program pelatihan. Konsultan sebagai narasumber dari pelatihan dapat membantu untuk proses pemastian atas referensi ilmiah serta wawasan yang terkait dengan informasi yang disampaikan, seperti bagaimana melakukan implementasi yang tepat terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

(2) Proses Validasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dengan latar belakang pengetahuan yang dimiliki oleh konsultan, konsultan dapat membantu perusahaan dengan memberikan informasi/ saran/ referensi terkait dengan penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Rekomendasi dari konsultan yang bersumber dari pengetahuan dan pengalaman bekerja dapat memberikan masukan atas Sistem Manajemen Keamanan Pangan, seperti validasi atas PRP, HACCP Plan serta proses implementasi.

(3) Mendampingi Proses Implementasi

Konsultan dapat membantu perusahaan dalam memonitor bagaimana implementasi atas Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Dengan bantuan konsultan, proses implementasi dapat dijalankan dengan tepat dan efektif. Hal yang terpenting terkait dengan proses implementasi adalah sosialisasi dan pemantauan yang berhubungan dengan awareness yang terkait dengan pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

Bagaimana perusahaan pangan/pakan/kemasan menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan? Hal ini menjadi bagian penting bagi perusahaan agar mendapatkan manfaat yang terbaik dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, ada baiknya perusahaan dapat mempertimbangkan pada saat proses pelaksanaan yang terkait dengan Sistem FSSC, HACCP, ISO 22000, BRCGS maupun sistem yang lain. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penerapan HACCP yang Efektif Pada Industri Sarang Burung Walet

Industri pengolahan sarang burung walet adalah industri yang saat ini adalah salah satu usaha strategis yang berpotensi memberikan devisa untuk negara. Fokus pengolahan sarang burung walet tidak hanya pada kualitas saja namun juga meliputi keamanan pangan. Keamanan pangan yang terimplementasi dalam bentuk HACCP, lalu bagaimana proses penerapan HACCP tersebut dijalankan dalam Industri Sarang Burung Walet. Berikut ini adalah bentuk penerapan yang dapat dijalankan oleh industri pengolahan sarang burung walet.

(1) Desain Pabrik

Mendesain pabrik pengolahan sarang burung walet harus dilakukan dengan mempertimbangkan alir proses, kesesuaian atas resiko kontaminasi serta persyaratan keamanan pangan. Penetapan sekat proses harus mempertimbangkan pada aspek potensi resiko terhadap produk. Penetapan atas material dari bangunan serta kondisi ruangan juga menjadi pertimbangan penting.

(2) Utilitas dan Peralatan

Penetapan atas utilitas seperti perlengkapan air minum sebagai standar air yang dipergunakan dalam proses, sirkulasi udara serta penanganan limbah harus secara hati-hati ditetapkan. Peralatan yang dipergunakan adalah peralatan yang terbuat dari material yang tidak menimbulkan kontaminasi. Ada baiknya meminimalkan penggunaan perlengkapan yang terbuat dari kayu atau logam dengan kualitas non stainless.

(3) Sanitasi dan Kebersihan

Poin kebersihan menjadi hal penting untuk dikelola dalam proses. Kebersihan dan sanitasi disusun berdasarkan pada resiko yang dapat muncul di area kerja, peralatan, personel maupun pada kondisi dimana peralatan dan perlengkapan dari proses harus dipastikan tersanitasi dengan efektif. Dimana seluruh potensi mikrobiologi yang beresiko memberikan kontaminasi kepada produk. Pengelolaan sanitasi selain juga dapat dipergunakan untuk menghilangkan potensi pathogen juga dapat menghilangkan potensi allergen.

(4) Pembentukan Tim HACCP

Hal yang perlu menjadi perhatian pada organisasi, bahwa penerapan yang terkait dengan sistem keamanan pangan, bahwa pelaksanaan atas persyaratan keamanan pangan bukan hanya dijalankan oleh satu orang namun digerakan oleh seluruh karyawan. Tim HACCP itu sendiri memiliki tanggung jawab yang penuh dalam proses penyusunan atas perencanaan dari HACCP termasuk di dalamnya implementasi. Tim HACCP harus dapat memastikan bahwa pelaksanaan atas keamanan pangan berjalan dengan tepat dan konsisten.

(5) Pelaksanaan Sistem Keamanan Pangan

HACCP sebagai persyaratan yang terkait dengan sistem manajemen keamanan pangan memiliki pendekatan validasi dan verifikasi yang tepat dan efektif. Bagaimana persyaratan terkait dengan status keamanan pangan berjalan dengan tepat? Proses validasi adalah hal penting yang harus dijalankan sebelum melakukan proses penyusunan rencana HACCP. Validasi mencakup pada proses kajian atas seluruh dasar/latar belakang ilmuah untuk melihat bagaimana sistem yang dimaksud dijalankan. Proses verifikasi adalah proses pemeriksaan untuk memastikan bahwa batasan yang menjadi persyaratan keamanan pangan. Proses verifikasi meliputi proses pemantauan serta proses pemeriksaan atas efektifitas implementasi sistem, termasuk di dalamnya adalah kegiatan audit internal, pengujian produk, kajian atas status evaluasi dari pemenuhan persyaratan keamanan pangan.

Penerapan HAACP pada industri pengolahan sarang burung walet sebenarnya tidak berbeda dengan industri pangan lainnya. Namun ada spesifikasi yang khusus terkait dengan pengolahan sarang burung walet, khususnya terkait dengan tahapan proses dan karakterisasasi pada produk itu sendiri. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Menjalankan Proses Penerapan FSSC Pakan

Pengelolaan atas keamanan produk, tidak hanya dijalankan dengan menjalankan proses yang aman juga namun juga melihat faktor pendukung yang penting lainnya, seperti Pre Requisite Program, serta penetapan atas siklus improvement (perbaikan dalam organisasi). Untuk dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan, ada baiknya perusahaan melakukan proses sertifikasi FSSC Pakan.

Lalu apa manfaat dari penerapan yang terkait dengan sertifikasi FSSC Pakan? Berikut ini adalah beberapa manfaat yang dapat dipertimbangkan oleh perusahaan untuk menjalankan proses sertifikasi.

(1) Fungsi Internal

Penerapan FSSC dapat sangat membatu pabrik pakan dalam memastikan produk aman dan kualitas terjaga. Sistem penerapan ISO 22000 sebagai salah satu bagian dari persyaratan FSSC, membantu perusahaan untuk menjalankan prinsip keamanan pakan yang dijalankan dengan siklus kontinyuitas. Memastikan bahwa fungsi internal dalam perusahaan berjalan sesuai dengan prinsip PDCA yang tepat. Sehingga pencapaian atas perbaikan dan target dapat dijalankan dengan optimal secara berkesinambungan sehingga ada keinginan perusahaan untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Fungsi lain yang dapat perusahaan jalankan adalah pengembangan sumber daya manusia yang terkait dengan kualitas dan keamanan pakan. Selain itu secara internal perusahaan dapat memastikan bahwa proses pengelolaan yang terkait dengan perusahaan dijalankan oleh personel SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkompetensi baik. Dengan adanya kompetensi yang baik secara pengelolaan perusahaan akan menjadi lebih baik dan menguntungkan.

Penetapan atas pengelolaan yang terkait dengan PRP (Pre Requisite Program) dijalankan untuk memastikan bahwa produk dikelola dalam kondisi yang tercegah dari kontaminasi, baik itu kontaminasi biologi, fisik, kimia, radiasi serta allergen. Pengelolaan ini harus dipastikan sesuai dengan ISO TS 220002:6: 2016.

(2) Fungsi Eksternal

Dengan memiliki sertifikasi FSSC, perusahaan memiliki peluang yang besar untuk dapat masuk ke jaringan pemasok pada banyak perusahaan. FSSC dapat membantu perusahaan untuk mendapatkan persetujuan dengan jalur cepat sebagai pemasok yang disetujui.

Selain itu, dengan memastikan adanya sertifikasi maka perusahaan juga memiliki akses untuk dimasukan ke dalam portal FSSC sebagai perusahaan yang telah tersertifikasi. Hal ini memberikan keuntungan perusahaan agar dapat dilihat oleh pembeli maupun calon pembeli.

Kepercayaan pembeli juga semakin meningkat kepada perusahaan, karena perusahaan memiliki komitmen untuk menjaga kuaitas dan keamanan pangan dari produk yang dimaksud.

Tidak ada salahnya bagi perusahaan untuk memahami ataupun menjalankan program sertifikasi FSSC. Khususnya untuk produsen pakan, hal ini akan sangat memberikan nilai tambah pada bisnis Anda. Percayakan proses penyusunan dan penerapan dengan bantuan referensi eksternal yang tepat, sehingga perusahaan Anda dapat menjalankan sistem secara maksimal. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengembangkan Desain Pabrik Pangan yang Tepat

Proses pengelolaan produk pangan dipastikan harus dapat dijalankan dengan kondisi yang higienis dan aman untuk produk. Lalu bagaimana penetapan atas persyaratan desain pabrik pangan yang tepat? Berikut adalah beberapa hal yang sangat perlu dipertimbangkan terkait dengan penetapan atas desain pabrik yang dimaksud.

(a) Lingkungan Eksternal

Penempatan atas lokasi pabrik menjadi salah satu langkah utama sebelum mendirikan bangunan pabrik pangan dimana lokasi sebaiknya tidak mendekati area yang dapat memberikan resiko tinggi kepada pengelolaan pabrik, seperti penimbunan limbah, sawah ataupun area dimana telah terkontaminasi polusi. Lingkungan eksternal yang salah akan memberikan usaha yang cukup keras bagi perusahaan dalam menjalankan pengendalian keamanan pangan. Ada baiknya perusahaan sebelum mendirikan pabrik melakukan

(b) Alir Proses

Pertimbangan alir proses menjadi salah satu faktor utama dalam menetapkan lay out. Selain dengan tujuan efisiensi, alir proses sebaiknya mempertimbangkan pencegahan atas resiko kontaminasi terhadap produk. Kontaminasi yang perlu dipertimbangkan adalah adanya potensi dari limbah, personel maupun dari peralatan yang dipergunakan. Memperhatikan area bersih dan area kotor menjadi bagian penting dalam penetapan lay out. Area bersih adalah area dimana produk telah dilakukan proses dari potensi kontaminasi dari proses sebelumnya, biasanya area ini adalah area pengemasan akhir atau area setelah proses yang melalui heat treatment.

(c) Material atas Bangunan

Memastikan bahwa bangunan berasal dari material yang aman dan tidak memberikan resiko kontaminasi. Kemudahan untuk proses pembersihan juga menjadi pertimbangan dalam menentukan material yang akan digunakan. Pemilihan atas material juga harus mempertimbangkan type dan karakter produk, sehingga tidak bisa disamakan ketika menyusun daftar material bangunan yang dipergunakan dalam membangun.

(d) Sarana dan Prasarana Pendukung

Desain dari pabrik pengolahan pangan tidak hanya terkait dengan proses produksi saja. Namun juga mendesain instalasi pengolahan limbah, penyediaan sarana untuk karyawan, serta penyediaan sarana supporting process seperti kegiatan workshop dan stock atas material.

Ada baiknya apabila ingin membangun pabrik pengolahan pangan atau kemasan, perusahaan melakukan pencarian referensi eksternal yang tepat dan sesuai dengan persyaratan teknis yang dipersyaratkan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk memastikan desain pabrik pangan Anda telah sesuai dengan standar persyaratan yang ditetapkan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penerapan Issue Perubahan Iklim dalam Penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Perubahan iklim menjadi salah satu issu penting yang menjadi perhatian banyak pihak. Pelaku industri pangan, sebagai salah satu dari industri yang mengalami dampak dari perubahan iklim memastikan bahwa issue atas perubahan iklim terhadap bisnis industri pangan.

(1) Identifikasi Issue Internal

Budaya atas pengelolaan proses dipastikan memperhatikan issue-issue lingkungan yang terjadi secara internal di dalam perusahaan yang berdampak pada lingkungan. Seperti pengelolaan atas limbah penggunaan energi serta pengendalian efisiensi perusahaan. Penanganan atas energi yang tepat menjadi bagian penanganan dan pengendalian atas perlindungan lingkungan. Pengelolaan efisiensi juga dapat memastikan bagaimana proses dijalankan dengan tepat, seperti penggunaan by process yang tepat, meminimalkan limbah serta bagaimana reproses dijalankan dengan tepat sehingga meminimakan efisiensi yang dijalankan dalam proses pengolahan.

(2) Identifikasi Issue Eksternal

Issue eksternal yang muncul terkait dengan perubahan iklim dimana terdapat pengaruh yang berhubungan dengan supply chain management. Dimana rantai pasokan seringkali terganggu dengan adanya perubahan iklim. Industri pangan yang berhubungan dengan pertanian, peternakan maupun perikanan akan sangat berdampak langsung terhadap perubahan lingkungan. Pengelolaan atas issue eksternal dijalankan untuk memastikan bahwa aspek perubahan lingkungan dapat diantisipasi oleh perusahaan. Begitu juga terkait dengan peraturan dan perundangan yang berhubungan dengan status issue eksternal termasuk untuk memastikan bahwa seluruh persyaratan peraturan dan perundangan atas lingkungan.

(3) Penetapan Strategi

Industri pangan menetapkan strategi yang terkait dengan penanganan atas lingkungan yang berhubungan dengan pemenuhan atas peraturan dan perundangan. Serta pengendalian atas operasional dipastikan untuk memastikan atas pemenuhan persyaratan lingkungan. Selain itu kebijakan untuk pencarian pemasok yang ramah lingkungan juga menjadi bagian tepat untuk penetapan strategi berhubungan dengan pengendalian lingkungan.

Bagaimana perusahaan menjalankan perusahaan/industri pangan menjalankan proses pengendalian issue internal dan eksternal yang berkaitan dengan perubahan iklim? Lakukan proses identifikasi issue internal dan eksternal yang tepat sebagai bentuk konteks organisasi. Mempertimbangkan persyaratan yang diwajibkan dalam amandemen persyaratan ISO 22000:2018. (Amarylliap@gmail.com, 08129369926)