Menggabungkan Implementasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan dan SNI

Saat ini banyak produk pangan yang memiliki kewajiban untuk melakukan pendaftaran sebagai produk SNI. Hal ini menjadi kewajiban yang tidak dapat ditawar terkait dengan proteksi kualitas yang ada pada produk tersebut. Namun selain kewajiban untuk melakukan proses sertifikasi SNI, ada baiknya perusahaan juga memahami bahwa proses implementasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan dapat digabungkan ke dalam standar SNI. Faktor utamanya adalah beberapa kategori produk pangan mempersyaratkan adanya proses sertifikasi yang terkait dengan persyaratan keamanan pangan dan SNI.

Untuk perusahaan yang memiliki persyaratan keduanya, berikut ini dalah beberapa tahapan yang dapat dilakukan untuk mengkombinasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan dan SNI.

(1) Menggabungkan HACCP dan SNI

Penerapan atas SNI berbasiskan pada Sistem ISO 9001 atau Sistem Manajemen Mutu. Penerapan atas HACCP dapat dijalankan terkait dengan klausul yang termuat dalam persyaratan yang terkait dengan klausul 8 yaitu pengendalian operasional. Penerapan atas HACCP yang digabungkan dengan penerapan yang terkait dengan realisasi produk dijalankan dengan mewujudkan realisasi produk sesuai dengan persyaratan kualitas dan persyaratan keamanan pangan.

(2) Menggabungkan ISO 22000 /FSSC dan SNI

Secara proses penggabungan ini sangat efisien apabila dijalankan bersama-sama. Dimana keduanya adalah sistem yang berbasiskan pada struktur persyaratan ISO. Namun SNI lebih terfokus dengan Sistem Manajemen Mutu dan ISO 22000 kepada Keamanan Pangan. Dengan menggabungkan kedua sistem ini maka proses penerapan dapat dilakukan dengan menggabungkan kedua sistem dalam struktur sistem yang sama. Untuk perusahaan yang menerapkan FSSC, pada persyaratan FSSC versi 6, penerapan atas keamanan pangan dan mutu telah digabungkan ke dalam sistem ini sehingga dengan menerapkan FSSC versi 6 berarti perusahaan telah siap untuk menjalankan proses sertifikasi SNI.

(3) Menggabungan dengan BRCGS dan SNI

BRCGS adalah sistem yang terfokus kepada keamanan pangan, kualitas dan authentifikasi. Sehingga secara otomatis, proses ini dapat memastikan bagaimana produk juga dapat memenuhi standar kualitas. Namun mempertimbangkan format sistem yang sedikit berbeda dengan Sistem ISO maka proses penyusunan dokumen harus dilengkapi dengan struktur format dokumen ISO.

Mempertimbangkan hal tersebut, sepertinya perusahaan dapat memberanikan diri untuk memperbaiki dan mengembangkan sistem yang lebih tepat agar dapat mencapai tujuan pemenuhan persyaratan dan perbaikan internal. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat mengkombinasikan sistem yang ada pada perusahaan, persyaratan dari pemerintah ataupun persyaratan dari pelanggan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Jenis Sertifikasi untuk Industri Kosmetik dan Personal Care

Untuk meningkatkan kepercayaan konsumen kepada produk, khususnya produk kosmetik dan personal care, sangat penting bagi untuk dapat memastikan bahwa pelanggan aman mempergunakan produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Ada baiknya perusahaan memahami jenis sertifikasi apa saja yang dapat dijalankan oleh perusahaan. Berikut ini adalah beberapa jenis sertifikasi yang dapat dikembangkan oleh perusahaan.

(1) ISO 9001

Sistem sertifikasi ini adalah jenis sertifikasi Sistem Manajemen Mutu. Sistem ini sangat berorientasi kepada pengelolaan kualitas output perusahaan (baik jasa maupun produk) serta penanganan yang terkait pelanggan. Target adalah meningkatkan bisnis dengan menjamin kepercayaan pelanggan atas kualitas pelanggan. Sertifikasi ini sangat membantu perusahaan dan tidak sulit untuk diimplementasikan. Proses penyusunan dokumen akan sangat disesuaikan dengan persyaratan dan kebutuhan perusahaan. Sistem ini juga mengharapkan perusahaan memiliki kepatuhan atas regulasi dan peraturan yang ada.

(2) ISO 22716

Mempertimbangkan bahwa ISO ini adalah persyaratan, perusahaan secara prinsip tidak bisa melakukan proses sertifikasi tunggal atas ISO 22716. Proses sertifikasi yang dijalankan adalah dengan cara melakukan implementasi ISO 9001 yang dilengkapi dengan ISO 22716. Proses audit dijalankan berbarengan dan terdapat penjelasan atas penambahan persyaratn ini di dalam penerapan ISO 9001. Persyaratan atas ISO 22716 lebih ke arah penerapan dari persyaratn PRP (Pre Requisite Program) untuk menghasilkan produk yang terbebas dari kontaminasi. Baik itu kontaminasi fisik, biologi, dan kimia.

(3) HPC 420

Ini adalah sertifikasi paling spesifik yang terkait dengan industri kosmetik dan personal care. Penerapan dilakukan dengan mempergunakan referensi persyaratn PAS 420 yang merupakan standar yang khusus untuk industri kosmetik dan personal care. Penerapannya terkait dengan kualitas, product safety, serta terkait dengan perlindungan produk atas bahaya yang beresiko seperti sabotase, terorisme dan penipuan. Sertifikasi ini dapat memberikan jaminan kepada pelanggan atas keamanan produk dan dapat menghilangkan issue-issue bahwa produk yang dihasilkan oleh industri adalah tidak aman.

Bagaimana perlindungan konsumen saat ini menjadi penting bagi perusahaan, penerapan sertifikasi yang tepat akan sangat membantu perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen. Perlindungan ini juga harus dipastikan terjamin secara internasional. Penerapan standar dan sertifikasi internasional merupakan opsi penting sebagai strategi bisnis perusahaan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat bagi perusahaan untuk memastikan keamanan produk bagi pelanggan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Menyusun Product Safety Plan pada Industri Kosmetik dan Personal Care

Pengelolaan atas produk aman pada industri kosmetik dan personal care dikembangkan dengan mengadopsi Sistem BSI 420. Perencanaan ini ditetapkan untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan adalah aman. Lalu hal apa saja yang perlu diperhatikan terkait dengan penyusunan yang terkait dengan Product Safety Plan?

(a) Melakukan analisis atas karakteristik produk

Penetapan atas deskripsi produk, termasuk di dalamnya adalah komposisi dari produk serta penetapan atas batas masa usia simpan serta rekomendasi penggunaannya. Deskripsikan proses produk secara ringkas. Setelah itu menyusun alir proses yang terkait dengan produk yang dimaksud.

(b) Melakukan Identifikasi Resiko

Menjalankan proses penilaian resiko dari produk. Setelah menjalankan kegiatan penilaian resiko, maka lakukan proses analisis terkait dengan tingkat frekuensi serta dampaknya. Berdasarkan pada aspek penilaian resiko yang dimaksud yang kemudian melihat kepada signfikansi yang terkait dengan resiko tersebut.

(c) Menetapkan control measure

Menetapkan tindakan untuk mengendalikan resiko yang ditemukan. Proses penetapan yang terkait dengan control measure. Proses pengendalian yang dijalankan tersebut diseleksi dengan mempertimbangkan fungsi pengendalian bahaya yang paling efektif dapat dijalankan.

(d) Menetapkan Risk Management System

Penetapan atas manajemen resiko dilakukan untuk mengidentifikasi apakah resiko terkait dengan manajemen resiko bisa dijalankan secara optimal. Pengendalian dilakukan dengan melakukan analisis proses dan bahaya ke dalam pohon pengambilan keputusan. Proses pengendalian resiko tersebut dapat dilakukan dengan menetapkan status dengan CCP (Critical Control Point) atau CP (Control Point).

(e) Pengendalian Batas Kritis

Apabila tahapan tersebut masuk ke dalam kategori CCP dilakukan penanganan yang terkait dengan pemantauan atas batas kritis yang ditetapkan. Proses penetapan atas batas kritis tersebut dijalankan dengan memastikan bahwa proses pengukuran yang dijalankan adalah obyektif dan dapat memenuhi standar persyaratan yang telah ditetapkan. Apabila terdapat penyimpangan atas batas kritis maka dilakukan proses tindak lanjut yang terkait dengan batas kritis tersebut.

Penyusunan product safety plan dilakukan untuk memastikan bahwa produk aman untuk konsumen. Melakukan penyusunan dan sertifikasi jaminan mutu dapat meningkatkan jaminan atas produk kepada pelanggan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan penanganan atas keamanan produk. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengimplementasikan Budaya Anti Korupsi dan Fraud di dalam Perusahaan

Konsep dalam pengembangan ISO 37001: 2025 yang terbaru banyak terkait dengan bagaimana pengembangan budaya anti korupsi dijalankan dalam perusahaan. Konsep yang terkait dengan pelaksanaan yang terkait dengan budaya anti korupsi dan fraud tidak mudah untuk diimplementasikan di dalam perusahaan. Lalu bagaimana proses implementasi terkait dengan budaya anti korupsi dan fraud yang dijalankan di dalam perusahaan?

(1) Penjabaran Nilai-Nilai Budaya Anti Korupsi

Perusahaan harus melakukan penetapan atas nilai-nilai yang terkait dengan budaya anti korupsi. Nilai-nilai ini kemudian dijabatkan ke dalam definisi prilaku yang terkait dengan bagaimana prilaku anti korupsi berjalan di dalam organisasi. Penjabaran definisi ini kemudian dikembangkan menjadi kompetensi yang menjadi persyaratan bagaimana suatu konsep anti korupsi dijalankan dalam organisasi.

(2) Penyusunan Program Implementasi

Mengembangkan program dari level pengenalan sampai kepada pengikatan (engagement) antara karyawan dan nilai-nilai yang akan diimplementasikan. Program ini juga mencakup kegiatan pemantauan dan evaluasi terkait dengan bagaimana proses implementasi akan dijalankan. Pemberian contoh dalam berprilaku dapat dikembangka melalui peranan implementasi.

(3) Pembentukan change of management

Bagaimana change of management berjalan di dalam organisasi. Proses sistematik dan terstruktur harus dilakukan. Dimana perubahan harus dilakukan baik dalam bentuk sistem, prilaku, pembinaan bahkan aturan yang ada dalam organisasi. Lakukan proses kajian atas sistem yang saat ini berjalan untuk melihat apakah perubahan dapat dijalankan dengan maksimal dalam organisasi.

Bagaimana suatu perusahaan mengembangkan budaya anti korupsi yang tepat dalam organisasi? Identifikasi serta pengembangan terkait dengan nilai-nilai yang dijalankan dalam perusahaan harus selalu dipastikan berjalan dengan tepat dalam organisasi. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan pengembangan program implementasi budaya anti korupsi dalam organisasi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Perubahan BRCGS Packaging Versi 7

Penerapan BRCGS kemasan mengalami proses peningkatan versi dari yang sebelumnya adalah versi 6 dan saat ini penerapan terkait dengan versi 7. Proses perubahan ini mengacu kepada standar yang telah diterbitkan terkait dengan proses revisi yang telah diterbitkan. Berikut ini terdapat beberapa hal yang perlu dicermati terkait dengan status perubahan yang dimaksud.

(1) Pengelolaan Budaya Mutu dan Keamanan Pangan

Budaya mutu dan keamanan pangan dikelola untuk pengembangan secara terus-menerus. Proses pengembangan secara terus-menerus dijalankan dengan melakukan proses evaluasi pelaksanaan paling tidak satu tahun sekali terkait dengan memastikan bahwa budaya mutu dan keamanan pangan dapat terimplementasi dengan tepat dan efektif.

(2) Pengelolaan Resiko Bahaya Keamanan pangan

Proses penetapan dan identifikasi yang terkait dengan bahay, selain mempertimbangkan resiko biologi, kimia dan fisik juga mempertimbangkan beberapa faktor lainnya, seperti allergen, fraud, bahaya yang berdampak kepada aspek fungsional dan integritas atas produk, serta parameter terkait lainnya.

(3) Pengendalian Peralatan

Proses penetapan atas validasi dari peralatan proses yang dipergunakan, termasuk di dalamnya adalah memastikan bahwa proses pengaturan dari peralatan tersebut dapat menghasilkan kualitas output produk yang sesuai.

(4) Pelaksanaan Internal Audit

Kegiatan internal audit yang dijalankan harus mempertimbangkan aspek resiko yang teridentifikasi pada kegiatan audit sebelumnya sebagai penentu dari frekuensi internal audit yang akan dijalankan di tahun berikutnya. Proses penetapan atas resiko ini mempertimbangan ruang lingkup serta klausul yang ditetapkan terkait dengan kegiatan internal audit.

(5) Pengendalian pemasok

Proses penetapan atas analisis resiko pemasok wajib dijalankan dengan mempertimbangkan aspek kualitas, keamanan pangan, threat dan vulnerability dari bahan baku dan produk pemasok. Proses evaluasi ini juga mempertimbangkan apakah pemasok memiliki sertifikat GFSI (Global Food Safety Initiative) atau tidak. Proses pengendalian resiko melihat pada faktor dan aspek klaim atas produk yang akan dijalankan perusahaan, memastikan bahwa proses pengendalian dan pengelolaan dijalankan dengan tepat dan efektif. Kegiatan audit pemasok dilakukan untuk produk dengan tingkat resiko yang tinggi dilakukan dengan menjalankan audit pemasok oleh personel yang kompeten.

(6) Pest Control

Proses pengendalian atas hama serta pemantauan atas pengendaliannya dapat dilakukan melalui proses analisis resiko yang terkait dengan hama yang muncul. Dimana status pengendaliannya dijalankan untuk memastikan bahwa proses pengendalian resiko djalankan oleh vendor pest control untuk menjadi dasar terkait dengan frekuensi pemantauan yang akan dijalankan.

(7) Pelatihan dan Pengembangan SDM

Memastikan bahwa pelatihan dijalankan untuk personel dan proses administrasi terkait dengan pengembangan dan pelatihan dijalankan dengan tepat. Proses pengembangan selain dengan menjalankan pelatihan, bisa dijalankan dengan coaching ataupun on the job training. Evaluasi atas kompetensi dipastikan berjalan setiap tahunnya di dalam organisasi.

Bagaimana perusahaa menjalankan proses pengelolaan Sistem Keamanan Pangan yang tepat? Lakukan proses evaluasi pelaksanaan yang dijalankan saat ini, apabila memang dibutuhkan sertifikasi dapat mempertimbangkan sistem yang paling dibutuhkan oleh buyer atau negara tujuan penjualan produk. Untuk dapat meningkatkan kualitas sistem, tidak ada salahnya perusahaan melakukan evaluasi referensi eksternal yang terkait dengan pelaksanaan sistem keamanan pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Menjalankan Proses Due Diligence Anti Fraud pada Pemasok Perusahaan

Dalam suatu pelaksanaan sistem manajemen anti korupsi dan anti fraud, perananan pengendalian atas pemasok dijalankan untuk memastikan bahwa pemasok memiliki komitmen dan sistem yang memadai untuk mencegag adanya fraud. Proses analisis yang terkait dengan pemeriksaan ini dijalankan dengan melakukan proses due dilligence yang tepat pada pemasok Anda.

(1) Mempelajari Produk dan Potensi Resiko Fraud atas produk yang dimaksud

Ada pentingnya bagi perusahaan untuk melakukan pemeriksaan terkait dengan produk yang dihasilkan. Semakin panjang rantai pasokan yang ada maka semakin tinggi resiko atas fraudnya. Hal ini mempertimbangkan pemasok tersebut memiliki kemungkinan besar tidak menjalankan kegiatan produksi atas produknya sendiri. Dengan panjangnya rantai dari pasokan yang dimaksud maka proses penanganan atas produk tersebut tidak dapat dikendalikan dengan baik.

(2) Melakukan Analisis dari Latar Belakang Pemasok

Memastikan bahwa pemasok yang melakukan proses pasokan tersebut memiliki latar belakang bisnis yang beretika baik serta tidak memiliki status yang terkait dengan proses pencucian uang atau penggelapan yang berhubungan dengan bisnis yang terkait dengan tindakan pelanggaran hukum. Pastikan perusahaan selalu menjalin kerjasama dengan pemasok yang terbebas dari proses pencucian uang.

(3) Melakukan Evaluasi Program Anti Penyuapan pada pemasok

Perusahaan melakukan proses evaluasi yang terkait dengan persyaratan atas program yang terkait dengan status anti penyuapan. Tentu saja apabila perusahaan tersebut telah memastikan bahwa program anti penyuapan itu seperti dalam bentuk penerapan ISO 37001 ataupun proses pengendalian internal yang terkait dengan program anti penyuapan itu sendiri. Sehingga memastikan bahwa proses penanganan terkait dengan bagaimana proses pencegahan terkait dengan penanganan penyuapan yang dijalankan pada pemasok.

Pengendalian terkait dengan pengelolaan untuk pencegahan anti korupsi dapat dilakukan oleh perusahaan kepada pemasok. Dimana proses pengendalian dapat dilakukan dengan tepat maka perusahaan dapat memnjalankan program anti penyuapan yang dijalankan dalam organisasi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Meningkatkan Produktivitas SDM dalam Perusahaan

Efisiensi bagi perusahaan bukan hanya terkait dengan menghemat saja, namun juga berhubungan dengan proses peningkatan produktifitas. Produktifitas wajib dipertimbangkan sebagai bentuk keberhasilan dari efisiensi. Salah satu faktor produktifitas yang perlu dipertimbangkan adalah produktifitas yang terkait dengan sumber daya manusia.

Lalu bagaimana proses peningkatan produktifitas SDM ini bisa dikelola dengan tepat dalam perusahaan? Berikut ini adalah langkah- langkah yang perlu untuk dilakukan oleh perusahaan.

(1) Menyusun Target Perusahaan

Menetapkan target perusahaan yang kemudian dijabarkan dalam unit kerja divisi dan personel. Perlu untuk memastikan bahwa target yang ditetapkan tersebut adalah target yang terukur. Status target pada departemen kemudian dipastikan dijabarkan secara personel. Harus terdapat ikatan yang kuat antara target personel ke target departemen dan perusahaan. Sehingga ketercapaian target dapat bersifat sinergis.

(2) Meningkatkan nilai SDM

Melakukan proses penetapan atas nilai personel. Dimana antara alokasi beban biaya dari suatu personel harus dipastikan sesuai dengan nilai kontribusi perusahaan ke dalam perusahaan. Nilai ini dapat terukur kepada hasil output, pengelolaan resiko atau pertumbuhan organisasi. Desain struktur organisasi dan penetapan atas nilai indikator yang ditetapkan sebagaimana nilai dalam perusahaan.

(3) Perhitungan Investasi Perusahaan pada SDM

Penerapan atas investasi SDM dijalankan dalam bentuk pelatihan serta pembinaan. Bagaimana suatu organisasi menginvestasikan SDM dapat dijalankan dengan melakukan perhitungan asset dari kualitas SDM. Dimana perhitungan atas investasi ini harus diseimbangkan dengan rencana perusahaan. Sehingga pengembangan atas perusahaan memberikan nilai penting bagi perhitungan kekayaan dalam perusahaan.

Bagaimana perusahaan menjalankan proses pengembangan sistem efisiensi? Pastikan bahwa hal ini tidak hanya menghemat namun juga peningkatan produktifitas. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Perubahan Persyaratan Keamanan Pangan dalam Codex Versi 2022

Persyaratan keamanan pangan HACCP termuat di dalam persyaratatan keamanan pangan, yaitu persyaratan Codex Alimentarius. Saat ini persyaratan atas Codex Versi 2022 telah mengalami proses beberapa kali revisi, revisi di tahun 2022 adalah revisi terakhir yang terbaru saat ini. Lalu apa saja perubahan yang muncul.

(1) Adanya pemisahan antara Good Hygiene Practice dan HACCP

Di dalam persyaratan keamanan pangan yang termuat dalam Codex Versi 2022 terdapat pemisahan yang berkaitan dengan Good Hygiene Practice dan HACCP. Di dalam Good Hygiene Practice, tersedia beberapa persyaratan yang terkait dengan komitmen manajemen serta persyaratan sistem yang dimana mendekati prinsip ISO 22000.

(2) Pengendalian Lingkungan dan Infrastruktur

Penjelasan dan kewajiban yang terkait dengan persyaratan hygiene practice juga ditetapkan dalam bentuk penanganan Environmental Monitoring Program, pengendalian pencahayaan serta sanitasi dan higienitas.

(3) HACCP

Pendekatan bahaya yang dijalankan saat ini tidak hanya bahaya kimia, fisik dan biologi saja. Namun juga bahaya yang terkait dengan radiasi dan allergen.

(4) Pelatihan

Adanya fokus untuk menjalankan proses penyegaran yang terkait dengan pelatihan. Penyegaran ini wajib dijalankan dalam periode 1 (satu) tahun dan wajib untuk dipastikan setiap pelatihan yang dijalankan dilengkapi dengan evaluasi pelatihan.

Bagaimana pelaksanaan program keamanan pangan dijalankan di perusahaan Anda? Lakukan proses peningkatan sistem dengan mempergunakan HACCP versi 2022. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pengelolaan Merk dalam Bisnis Waralaba

Dalam bisnis waralaba, penggunaan merk adalah salah satu kunci penting dalam memastikan sistem waralaba dijalankan. Namun tidak sedikit perusahaan yang bergerak di bidang waralaba abai dalam melakukan proses pengelolaan merk dengan baik. Merk adalah hal penting yang menjadi penjaga bisnis waralaba. Lalu bagaimana proses pengelolaan merk tersebut dijalankan dalam perusahaan waralaba.

(a) Menetapkan definisi lengkap yang terkait dengan merk perusahaan

Merk bukan hanya menjadi identitas antara perusahaan dengan pelanggan, namun juga menjadi identitas pada perusahaan. Definisikan merk secara internal dengan nilai-nilai yang dapat diimplementasikan dalam organisasi. Penetapan atas nilai-nilai ini kemudian dijabarkan menjadi suatu nilai yang terkait dengan prilaku serta kompetensi yang ditetapkan di dalam organisasi.

(b) Mengembangkan Prinsip atas Merk kepada Pelanggan

Proses ini dilakukan untuk memastikan bahwa pelanggan melihat perusahaan sebagai hal penting dan mengikat kepada emosional pelanggan. Khususnya apabila merk yang dikembangkan tersebut terkait langsung dengan hubungan dengan perusahaan dan individu pelanggan. Sehingga kedekatan antara merk perusahaan dan pelanggan dapat terbentuk.

(c) Melakukan program pembinaan dan pelatihan kepada seluruh elemen organisasi

Merk tidak hanya logo yang tersemat dalam seragam ataupun dokumen perusahaan namun juga identitas yang berisi nilai dan budaya perusahaan untuk proses implementasi. Bagaimana proses implementasi itu sendiri dilakukan pada organisasi? Proses implementasi itu dijalankan melalui kegiatan sosialisasi yang terkait dengan nilai-nilai yang ada pada merk tersebut. Selain pelatihan, program pendekatan yang terkait dengan keterikatan atas merk dijalankan di dalam perusahaan. Penjelasan atas batasan prilaku dan pola komunikasi menjadi bagian penting dalam proses peningkatan di organisasi. Hal ini juga termasuk kepada mitra yang turut menjalankan bisnis waralaba.

(d) Menjaga merk dari penyalahgunaan

Merk dari perusahaan harus selalu dilindungi. Diberikan proteksi secara hukum untuk memastikan bahwa merk menjadi properti dari perusahaan. Perlindungan hukum ini dilakukan untuk mencegah merk tersebut digunakan oleh pihak lain. Perusahaan memastikan perlindungan ini dilakukan sesuai dengan prosedur legalitas yang berlaku.

Merk menjadi bagian penting dan nilai jual pada pengelolaan bisnis perusahaan, khususnya pada bisnis waralaba. Perusahaan harus memastikan bagaimana merk terpelihara dengan baik sehingga memberikan nilai jual yang optimal bagi perusahaan dan mitra waralaba. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk menjalankan proses pengelolaan merk perusahaan yang tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penerapan Strategic Food Safety Management System yang Efektif

Penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan bukan saja menjadi cara perusahaan untuk mendapatkan sertifikasi, namun di balik itu adalah salah satu strategi perusahaan untuk dapat menjaga kesinambungan dari bisnis.

Bagaimana proses penerapan dari strategic food safety management system?

(1) Pengembangan Budaya

Nilai atas budaya menjadi dasar penting dalam implementasi keamanan pangan. aspek etis dan tata kelola harus mengacu kepada nilai budaya tersebut. Pengaturan atas prilaku organisasi didesain berdasarkan pada nilai yang dimaksud.

(2) Pengembangan Komitmen

Konsistensi atas organisasi harus dapat dipastikan berjalan untuk memastikan bahwa sistem membentuk kesadaran terkait dengan keamanan pangan. Konsep top to bottom menjadi bagian yang wajib dipastikan selalu konsisten. Pengambilan komitmen harus menunjang penerapan ini dan selalu menindak atas penyimpangan yang muncul.

(3) Leadership

Pemastian atas penerapan dapat dilakukan dengan mensyaratkan bahwa konsep kepatuhan dijalankan bukan dengan keterpaksaan. Alih-alih dengan pemaksaan, konsep leadership yang baik justruk memupuk kepatuhan berdasarkan pada kesadaran.

Berikut adalah tiga prinsip penting yang perusahaan dapat lakukan untuk menerapkan aspek strategis dari keamanan pangan. Pastikan sistem keamanan pangan perusahaan dapat melindungi organisasi dan menjamin keberlanjutan nya. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)