Tahapan Mengimplementasikan Budaya Perusahaan

Penerapan atas budaya perusahaan terkadang tidak berjalan dengan efektif. Meksipun budaya dan nilai-nilai yang dikembangkan sangat bagus dan terkadang sempurna, namun tidak sedikit perusahaan menghadapi tantangan dalam menjalankan proses implementasinya. Proses pengaplikasian budaya dapat dijalankan dengan tahapan yang dapat dijelaskan dalam ilustrasi berikut.

Untuk dapat mengembangkan proses implementasi atas budaya, lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan pelaksanaan budaya perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Tahapan Pengembangan Internal Audit SOP

Standard Operating Procedure (SOP) dalam perusahaan dalam periode tertentu perlu untuk dilakukan evaluasi. Evaluasi yang dijalankan untuk melihat apakah sistem yang ada masih relevan dengan proses yang dijalankan oleh perusahaan, sistem tersebut masih efektif dalam mengendalikan proses, atau adanya perubahan dinamika organisasi yang membutuhkan pengembangan SOP.

Internal audit yang ditujukan untuk pengembangan SOP perlu untuk direncanakan dengan cermat, bagaimana proses tersebut dilakukan, berikut adalah ilustrasi tahapan yang dapat dilakukan oleh perusahaan.

Penggunaan referensi eksternal yang tepat, akan sangat membantu perusahaan dalam mengembangkan Standard Operating Procedure yang dimiliki. Termasuk di dalamnya untuk kepentingkan pertumbuhan perusahaan itu sendiri. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Tahapan Penetapan Sistem Remunerasi pada Sektor Jasa

Organisasi yang bergerak di bidang jasa harus sangat memperhatikan sistem remunerasi yang tepat, hal ini mempertimbangkan bahwa sektor ini sangat tergantung kepada peranan Sumber Daya Manusia, baik itu yang terkait dengan produktifitas maupun kualitas. Pertimbangan ini yang menjadi bagian yang penting ketika melakukan proses pendesainan sistem remunerasi, termasuk di dalamnya adalah pemisahan untuk jabatan struktural dan fungsional dalam organisasi.

Berikut ini adalah tahapan yang terkait dengan penetapan sistem remunerasi pada sektor jasa.

Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan sistem remunerasi agar tidak terjadi demotivasi dan permasalahan produktifitas dalam organisasi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Perlukan Perusahaan Menjalankan Audit Supplier?

Bagaimana perusahaan melakukan proses pengendalian atas pemasoknya. Salah satu langkah yang seringkali perusahaan jalankan adalah dengan menjalankan audit supplier. Audit supplier ini dipergunakan sebagai bentuk proses seleksi awal untuk melakukan proses penetapan supplier yang akan melakukan pasokan barang dan jasa. Namun, kegiatan audit supplier ini sendiri pun tidak mudah untuk dilakukan, dimana dalam beberapa hal kegiatan ini juga membutuhkan waktu baik dari sisi perusahaan maupun pemasok.

Apakah perlu perusahaan menjalankan kegiatan audit supplier? Berikut ini terdapat hal penting yang dapat menjadi pertimbangan perusahaan dalam menjalankan kegiatan audit supplier.

(1) Kejelasan Rantai Pasokan

Pemasok yang merupakan pengolah pertama atau produksi pertama dari suatu material/ bahan baku adalah lebih baik dibandingkan dengan tangan rantai pasokan berikutnya. Dimana proses pengadaan pasokan tersebut dilakukan evaluasi berdasarkan pada pasokan dari supplier. Apabila kondisi dari pemasok tersebut telah terdeteksi dan teridentifikasi sesuai dengan rantai pasokannya, audit pemasok bisa dijadikan alternatif tanpa menjadi keharusan untuk dijalankan. Berbeda apabila supplier tidak masuk ke dalam rantai pasokan yang jelas, bisa melalui agen/ distributor. Proses audit supplier menjadi hal kritikal untuk dilakukan pada agen/distributor untuk memastikan bahwa supply chain management berjalan dengan efektif.

(2) Tingkat Resiko Pemasok

Perusahaan dapat menetapkan kriteria terkait dengan resiko pemasok. Pemasok dengan kondisi pasokan yang berdampak langsung kepada produk. Apabila tidak memiliki dampak langsung ke produk jadi maka resiko atas pemasok akan menurun. Sedangkan apabila berdampak langsung kepada produk akan memberikan dampak tinggi atas produk, maka resiko pemasok akan semakin meningkat. Tingginya resiko ini perlu diantisipasi dengan berbagai cara, seperti penetapan terkait dengan pengelolaan atas resiko, seperti penetapan klasifikasi jaminan untuk mencegah pemasok yang tidak sesuai, penanganan terkait dengan seleksi yang cukup ketat seperti dengan melakukan audit, serta pengembangan sistem dan mekanisme pemeriksaan atas kedatangan material/barang.

(3) Pengendalian Resiko

Beberapa perusahaan untuk mendapatkan jaminan yang terkait dengan penanganan serta pengendalian resiko dilakukan dengan program pembinaan. Kegiatan atas intervensi perusahaan kepada pemasok harus dijalankan dengan kehati-hatian mengingat pemasok dan perusahaan memiliki fokus bisnis yang berbeda. Pengendalian resiko ini juga harus dipantau secara rutin, periode pemantauan tergantung kepada aspek resiko yang dihitung dalam hubungan antara pemasok dan perusahaan yang dimaksud.

Mempertimbangkan dari kondisi ini, ada baiknya perusahaan mengelola kinerja pemasok dengan tepat. Selain untuk kepentingan perusahaan juga untuk menjaga keberlangsungan usaha dari pemasoknya itu sendiri. Penetapan serta pengelolaan yang optimal ini tidak hanya dijalankan melalui proses singkat namun bersifat terus-menerus dan ditopang dengan sistem yang baik. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Bagaimana Menjalankan Internal Audit yang Efektif

Pada setiap perusahaan, kebutuhan untuk menjalankan internal audit menjadi suatu kebutuhan penting dalam perusahaan untuk memastikan bahwa sistem yang dijalankan dalam perusahaan sudah berjalan sesuai dengan standar persyaratan yang ada. Yang dimaksud dengan standar sistem persyaratan, adalah seperti PSAK, Sistem Manajemen ISO atapun persyaratan lainnya. Kegiatan internal audit sendiri dapat dilakukan sesuai dengan perencanaan yang terjadwal maupun yang tidak terjadwal.

Lalu bagaimana menjalankan kegiatan internal audit yang efektif dapat dilakukan dalam perusahaan?

(1) Mempersiapkan Tim Internal Audit yang Kompeten

Di beberapa organisasi, fungsi internal audit dipersiapkan secara khusus bahkan disediakan posisinya di dalam struktur organisasi. Namun ada beberapa perusahaan/ organisasi yang menunjuk tim fungsional untuk melakukan kegiatan audit. Terdapat hal yang positif dan negatif terkait dengan pembentukan tim internal audit yang bersifat fungsional maupun struktural. Pembentukan secara fungsional ini dapat mengembangkan kompetensi dalam organisasi untuk pelaksanaan internal audit. Mempertimbangkan bahwa tidak ada salahnya bahwa semua karyawan dapat menjalankan fungsi internal audit, dimana akan membangun kesadaran internal dalam organisasi. Namun ada sisi lemah dalam proses pengembangan fungsional ini, kelemahannya adalah fokus dari pelaksanaan internal audit akan menjadi tidak maksimal di dalam organisasi.

(2) Persiapan Kegiatan Internal Audit

Kegiatan internal audit yang efektif kontribusi terbesarnya terbentuk pada perencanaan yang tepat. Dimana perencanaan tersebut dijalankan dari menyusun checklist internal audit, pembekalan auditor serta penetapan atas metode kegiatan internal audit itu sendiri. Proses penetapan atas metode sangat terkait dengan berapa jumlah sampling yang akan diambil untuk dilakukan proses verifikasi. Semakin kritis dari area tersebut, maka semakin banyak jumlah sampel yang akan diambil. Namun tetap harus dipastikan keakuratan dan ketelitian dari kegiatan internal audit tersebut.

(3) Pelaksanaan Kegiatan Audit

Pelaksanaan dari kegiatan audit harus dijalankan secara detail dan menyeluruh, menyesuaikan dengan checklist audit yang telah dipersiapkan. Dari kegiatan audit tersebut, lakukan evaluasi dan investigasi atas penyimpangan yang muncul. Salah satu fungsi dari kegiatan audit adalah untuk melihat kekurangan dari sistem dan pelaksanaan operasional yang dijalankan dalam perusahaan.

(4) Evaluasi Kegiatan Audit

Melakukan evaluasi atas kegiatan audit, dimana kegiatan ini bertujuan untuk melihat efektifitas dari proses audit yang dijalankan. Apakah audit yang dimaksud memang secara obyektif berjalan, dimana proses evaluasi dijalankan untuk memastikan bahwa proses audit memang telah ditetapkan dengan memastikan bahwa kegiatan audit dijalankan dengan tepat oleh tim auditor. Proses bisa dilakukan dengan survey atau kuesioner untuk melihat bahwa audit bisa berjalan dengan tepat.

(5) Melakukan proses tindak lanjut atas hasil kegiatan audit internal

Melakukan proses pencatatan atas hasil kegiatan audit internal yang ada dalam perusahaan, untuk memastikan bahwa proses audit internal memberikan dampak positif dalam perusahaan. Penetapan atas pelaksanaan dari tindak lanjut harus diverifikasi untuk memastikan tindakan perbaikan dan koreksi atas setiap ketidaksesuaian yang ada.

Komitmen yang dibutuhkan oleh organisasi adalah penting untuk memastikan bahwa kegiatan internal audit dapat berjalan dengan tepat. Ada baiknya perusahaan berbenah diri agar dapat menjalankan kegiatan internal audit dengan tepat dan efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Desain Organisasi yang Efektif Dalam Perusahaan Keluarga

Penetapan atas desain organisasi yang berhubungan dengan perusahaan keluarga sebenarnya tidak berbeda dengan perusahaan lainnya. Namun hal yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana menegosiasikan posisi yang tepat dalam perusahaan agara pengelolaan tetap menjadi profesional. Lalu bagaimana mendesain organisasi yang tepat pada perusahaan keluarga?

(1) Menjabarkan Fungsi Dalam Organisasi

Idealnya seluruh fungsi yang ada di dalam organisasi diberikan kepada personel yang kompeten, namun dalam perusahaan keluarga berbeda. Terdapat aspek kepercayaan dan loyalitas yang menjadi pertimbangan dalam posisi tertentu. Mempertimbangkan bagaimana fungsi dalam organisasi dapat menjadi profesional dan tidak menjadi sia-sia karena berada dalam perusahaan keluarga. Hal ini untuk melihat bagaimana organisasi dapat menjadi profesional meskipun di dalam perusahaan masih bersifat keluarga. Pengembangan authorisasi juga menjadi bagian yang juga penting untuk ditekankan dan dijalankan dengan konsisten.

(2) Menetapkan Service Level Agreement

Setiap fungsi yang ada mendapatkan target yang ditetapkan untuk memastikan bahwa tujuan dari fungsi berjalan dengan tepat. Penetapan atas target tersebut menjadi bagian penting untuk dipastikan dijalankan dalam pelaksanaan pekerjaan dari setiap fungsi. Penilaian dilakukan untuk mengukur prestasi dari setiap fungsi yang dimaksud. Sehingga unsur kedekatan menjadi lebih minimal dan lebih mengutaman kepada profesionalisma

(3) Fokus kepada Proses

Pendekatan proses dalam penyelesaian adalah lebih penting dibandingkan dengan pendekatan target. Setiap fungsi dan penanggung jawab menjalankan proses yang termuat secara sistematis di dalam SOP (Standard Operating Procedure) untuk kemudian dilakukan proses pemastian bahwa proses dijalankan. Hal ini juga termasuk dengan proses penyelesaian masalah yang dijalankan di dalam perusahaan. Setiap permasalahan harus dilakukan berdasarkan pada penyebab terkait dengan ketidaksesuaian dalam organisasi.

Pengelolaan organisasi yang terkait dengan pelaksanaan sistem dalam perusahaan keluarga adalah penting untuk menjadi pertimbangan utama dalam organisasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa perusahaan menuju ke arah yang lebih profesional. Apabila perusahaan memerlukan konsultan untuk perbaikan manajemen, lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dan pengalaman. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mendesain Ulang Struktur Organisasi Perusahaan

Apa perlunya perusahaan menjalankan proses desain ulang struktur organisasinya? Beberapa perusahaan berpendapat bahwa struktur organisasi dipertahankan mengingat bahwa kondisi yang dimaksud sudah berjalan bertahun-tahun. Namun, tidak sedikit juga yang berpendapat berbeda. Berbagai macam alasan menjadi penyebab adanya perubahan atas struktur organisasi dalam perusahaan. Seperti pertumbuhan bisnis, efisiensi proses dan bahkan dikarenkan adanya kondisi eksternal.

Apabila perusahaan ingin melakukan proses pendesainan ulang atas struktur organisasi, berikut beberapa tahapan yang dapat dicermati atas perubahan yang dimaksud.

(1) Fokus dari Perusahaan

Struktur organisasi secara prinsip menggambarkan fokus dari perusahaan. Dimana area dengan tingkat fokus yang lebih tinggi akan dipastikan terlengkapi dengan jabatan dan fungsi khusus yang dimana spesialisasi terbentuk dan sistem pengawasan bertingkat dioptimalkan. Bisanya area ini disebut dengan core process (proses utama). Secara prinsip, area ini tidak berarti harus memiliki jumlah karyawan berjumlah banyak, namun mempertimbangkan bahwa area ini adalah strategis sebagai penggerak bisnis maka dipastikan bahwa fungsi ini ditempati oleh personel yang kompeten.

(2) Kemampuan Operasional Perusahaan

Identifikasi atas operasional perusahaan dianalisis tidak hanya pada kondisi saat ini namun juga melihat pada periode ke depannya. Kemampuan operasional diukur berdasarkan pada target produksi ataupun pelayanan yang dilakukan oleh perusahaan kepada pelanggan. Analisis ini menentukan bagaimana struktur akan dikembangkan. Pada usaha dimana satuan atas fungsi berperan langsung kepada output, maka perhitungan atas jumlah output dan personel harus dijabarkan dengan perhitungan yang pasti. Kesulitan akan muncul ketika perusahaan menemukan adanya potensi kontinyuitas yang terbatas untuk dikelola oleh perusahaan, ada baiknya pengembangan dilakukan dengan fungsi organsasi terpisah yang secara khusus untuk terfokus di bidang yang dimaksud.

(3) Menghindari Fungsi dan Jabatan dengan Peran Terbatas

Organisasi melihat bahwa setiap fungsi dan jabatan dalam organisasi dapat berkembang seluasnya dan diberikan porsi yang tidak terbatas. Ketika ditemukan adanya peran yang terbatas dalam fungsi dan jabatan tersebut, sehingga sangat penting dalam perencanaan struktur organisasi untuk dapat memikirkan cara yang tepat dalam memaksimalkan fungsi dan jabatan yang dimaksud. Fungsi dan peranan sederhana dapat dikembangkan menjadi peran dengan fungsi yang lebih kompleks dan nilai output yang maksimal.

Pendesainan ulang struktur organisasi harus mempertimbangkan bagaimana perusahaan berjalan dan dapat mengantisipasi bisnis yang dijalankan. Ada baiknya penetapan ulang struktur organisasi disertai dengan rencana dan program jangka panjang yang tepat untuk mengembangkan struktur yang dimaksud. Penggunaan referensi eksternal yang tepat dapat membantu perusahaan dalam proses desain ulang struktur organisasi dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

5 Langkah Dalam Mengembangkan Continual Improvement di Dalam Perusahaan

Kunci kekuatan pada perusahaan untuk mencapai sustainability adalah kemampuan perusahaan untuk dapat menangkap seluruh perubah dan melakukan proses transformasi untuk dapat meningkatkan nilai dan kemampuan perusahaan untuk dapat bertahan terhadap faktor eksternal dan internal perusahaan. Saat ini, perubahan terasa sangat cepat, sehingga mau tidak mau perusahaan harus dapat menjaga sustainability dan perubahan untuk menjadi peningkatan yang signifikan dalam kinerjanya.

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk dapat menjalankan proses continual improvement dimana dalam kegiatan perbaikan berkesinambungan di dalam perusahaan harus memberikan solusi dalam pengelolaan perusahaan secara tepat. Untuk dapat meningkatkan nilai efektifitas dari proses perbaikan yang berkesinambungan tersebut, berikut ini terdapat beberapa langkah atas continual improvement yang dapat dilakukan.

(1) Membentuk Tim Dalam Organisasi

Mendesain tim dalam organisasi adalah faktor penting dalam penerapan continual improvement. Banyak perusahaan yang tidak melibatkan tim internal yang kuat dalam proses perbaikan berkesinambungan. Hal ini dapat menyebabkan proses continual improvement tidak berjalan dengan maksimal. Unsur partisipasi menjadi bagian yang penting dalam organisasi untuk dapat menjalankan seluruh tahapan yang diperlukan dalam continual improvement. Memilih personel yang menjadi tim dalam continual improvement harus memperhatikan aspek komptensi, baik itu soft skill maupun kompetensi teknis. Karena bagaimana pun juga, proses dari continual improvement harus berjalan dan diarahkan oleh tim yang didukung oleh personel kompeten.

(2) Mendesain Tools Dalam Sistem

Banyak perusahaan yang melupakan mekanisme pembentukan tools dalam sistem adalah langkah penting dalam proses continual improvement. Tools sendiri adalah suatu bentuk metode yang dilakukan untuk menjalankan pengukuran atas proses yang dijalankan dalam perusahaan. Alat ukur yang didesain harus dapat mengukur output setiap tahapan proses secara kuantitatif. Tools bukanlah target, tapi metode/mekanisme yang dilakukan untuk melakukan proses pengukuran tersebut.

(3) Melakukan Proses Pemantauan Atas Output Proses

Setelah mendesain tools sesuai dengan output yang ditargetkan. Maka tim harus melakukan pemantauan atas kinerja output terukur tersebut. Apabila dalam output tersebut diidentifikasi ketidaktercapaian/ketidaksesuaian terkait dengan hasil yang diharapkan, maka dilakukan proses analisis terkait dengan ketidaksesuaian yang dimaksud. Analisis kemudian dilakukan untuk menetapkan akar permasalahan dari penyimpangan yang dimaksud.

(4) Menetapkan Inovasi Perbaikan

Menjalankan mekanisme inovasi perbaikan yang tepat dalam proses tersebut, dimana inovasi ini kemudian ditetapkan dalam bentuk improvement dalam proses. Dalam melakukan seleksi atas inovasi, perusahaan sebaiknya memiliki kehati-hatian dan secara tepat melakukan proses benchmark terhadap benchmark dari penetapan strategi tersebut.

(5) Mengukur Tingkat Keberhasilan dari Improvement

Setelah suatu strategi dibentuk dan dijalankan sebagai proses improvement, maka dilakukan proses evaluasi terkait dengan efektifitas dari improvement yang dimaksud. Mengidentifikasi seluruh kriteria inovasi dengan tepat dan maksimal untuk memastikan bahwa suatu tingkat improvement tersebut dapat dijalankan secara efektif.

Melihat kondisi bisnis saat ini, penerapan continual improvement menjadi salah satu siklus penting yang harus dijalankan oleh perusahaan. Bagaimana perusahaan menerapkan aplikasinya dalam continual improvement, perusahaan dapat mempergunakan tools dan sistem yang tepat melalui referensi eksternal dalam menjalankannya. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mendesain Sistem Pengupahan Dalam Manufacturing

Konsep mendesain sistem pengupahan dalam industri manufacturing tergolong memiliki tantangan tersendiri. Dibandingkan dengan sektor lainnya, penetapan atas desain sistem pengupahan dalam manufacturing memiliki “ikatan”atas produktifitas dan desain pengupahan yang berkaitan dengan aspek preventif dalam business process. Beberapa ruang lingkup area yang ada dalam perusahan, merupakan ruang lingkup yang sangat langsung terkait dengan hasil secara kuantitas dan beberapa aspek berhubungan dengan hasil secara kualitas.

Sehingga ada baiknya penetapan terkait dengan sistem pengupahan dalam manufacturing dilakukan melalui proses penetapan tahapan yang tepat. Berikut ini adalah beberapa langkah yang harus ditetapkan oleh perusahaan untuk menetapkan desain sistem remunerasi yang tepat dan efektif dalam perusahaan.

(1) Menetapkan Job Grade

Dalam proses penetapan remunerasi, perusahaan harus dipastikan mendesain job grade dengan tepat. Menetapkan proses analisis untuk memastikan bagaimana konsep atas pembobotan pekerjaan dievaluasi. Terdapat beberapa jabatan / ruang lingkup pekerjaan yang sangat terkait erat dengan penetapan output dari manufacturing dan terdapat beberapa jabatan/ ruang lingkup pekerjaan yang terkait dengan sistem penyangga (supporting unit) dalam perusahaan. Diamana proses pembobotan yang dijalankan adalah berbeda antara satu dengan lainnya.

(2) Mengidentifikasi Kompetensi

Alih-alih melakukan evaluasi atas lamanya kerja sebagai salah satu variabel perhitungan, penetapan kompetensi sebagai bagian dari penetapan sistem remunerasi adalah sangat tepat. Bukan menyingkirkan loyalitas. Dimana dalam manufacturing, penetapan loyalitas juga memiliki porsi penting dalam proses perhitungan remunerasi, namun aspek kompetensi juga menjadi parameter utama. Perusahaan harus dapat menyeimbangkan dan menggiring SDM (Sumber Daya Manusia) untuk secara linier memiliki tingkat loyalitas dan kompetensi yang berimbang.

(3) Meningkatkan Nilai Output Dari Kinerja Jabatan

Penetapan sistem remunerasi yang didesain bukan hanya bersifat sebagai pemenuhan kewajiban perusahaan kepada karyawan. Perusahaan harus memastikan bahwa remunerasi bisa menjadi bagian dari proses motivasi dari karyawan. Bagaimana pemilik jabatan secara simultan memiliki nilai motivasi yang kuat melalui penetapan kompensasi yang tepat dalam perusahaan. Pola peningkatan nilai pendapatan karyawan sebaiknya tidak dinilai hanya dari masa lama bekerja, namun juga pencapaian atas hasil/ output produktifitas.

Bagaimana proses desain sistem remunerasi dalam perusahaan Anda? Ada baiknya desain dari sistem remunerasi dilakukan secara tepat dan optimal untuk dapat meningkatkan produkfitas perusahaan dan motivasi karyawan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam mendesain sistem remunerasi dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Strategi Efisiensi yang Tepat Dalam Perusahaan

Dalam kondisi dimana perusahaan mengalami banyak tantangan secara bisnis, salah satu konsep bertahan yang paling efektif adalah menjalankan efisiensi. Namun tidak sedikit perusahaan mengalami permasalahan dari pelaksanaan strategi efisiensi yang tidak tepat. Untuk dapat memnimalkan dampak negatif dari efisiensi, berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh perusahaan.

(1) Memilah Budget Biaya dengan Tepat

Biaya yang harus benar-benar diminimalkan adalah biaya yang tidak bersifat produktif. Namun bukan berarti menghilangkan biaya pengendalian perusahaan. Pengalihan dalam bentuk teknologi mungkin terlihat memberikan investasi tinggi, namun apabila dapat meningkatkan produktifitas dan meminimalkan resiko bisnis mungkin menjadi tepat untuk dapat dipertimbangkan.

(2) Mengembangkan Program Peningkatan Produktifitas

Memastikan bahwa program peningkatan atas produktifitas pada setiap lini operasional dijalankan. Dalam bidang manufacturing, adalah tidak bijaksana melakukan efisiensi atas budget maintenance ataupun pengembangan SDM yang terkait dengan peningkatan produktifitas.

(3) Melakukan Efisiensi Perusahaan Secara Total

Apabila perusahaan terpaksa menutup operasionalnya dan tidak terdapat alternatif dalam pengembangan usaha lainnya. Maka langkah efisiensi perusahaan secara total dapat dilakukan. Namun ada baiknya sebelumnya menjalankan hal tersebut, perusahaan membangun Business Continuity Plan untuk mempertimbangkan recovery business setelah efisiensi total dijalankan.

Bagaimana perusahaan Anda melakukan proses penyusunan program efisiensi? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat meningkatkan efisiensi perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)