Perlukan Perusahaan Menjalankan Audit Supplier?

Bagaimana perusahaan melakukan proses pengendalian atas pemasoknya. Salah satu langkah yang seringkali perusahaan jalankan adalah dengan menjalankan audit supplier. Audit supplier ini dipergunakan sebagai bentuk proses seleksi awal untuk melakukan proses penetapan supplier yang akan melakukan pasokan barang dan jasa. Namun, kegiatan audit supplier ini sendiri pun tidak mudah untuk dilakukan, dimana dalam beberapa hal kegiatan ini juga membutuhkan waktu baik dari sisi perusahaan maupun pemasok.

Apakah perlu perusahaan menjalankan kegiatan audit supplier? Berikut ini terdapat hal penting yang dapat menjadi pertimbangan perusahaan dalam menjalankan kegiatan audit supplier.

(1) Kejelasan Rantai Pasokan

Pemasok yang merupakan pengolah pertama atau produksi pertama dari suatu material/ bahan baku adalah lebih baik dibandingkan dengan tangan rantai pasokan berikutnya. Dimana proses pengadaan pasokan tersebut dilakukan evaluasi berdasarkan pada pasokan dari supplier. Apabila kondisi dari pemasok tersebut telah terdeteksi dan teridentifikasi sesuai dengan rantai pasokannya, audit pemasok bisa dijadikan alternatif tanpa menjadi keharusan untuk dijalankan. Berbeda apabila supplier tidak masuk ke dalam rantai pasokan yang jelas, bisa melalui agen/ distributor. Proses audit supplier menjadi hal kritikal untuk dilakukan pada agen/distributor untuk memastikan bahwa supply chain management berjalan dengan efektif.

(2) Tingkat Resiko Pemasok

Perusahaan dapat menetapkan kriteria terkait dengan resiko pemasok. Pemasok dengan kondisi pasokan yang berdampak langsung kepada produk. Apabila tidak memiliki dampak langsung ke produk jadi maka resiko atas pemasok akan menurun. Sedangkan apabila berdampak langsung kepada produk akan memberikan dampak tinggi atas produk, maka resiko pemasok akan semakin meningkat. Tingginya resiko ini perlu diantisipasi dengan berbagai cara, seperti penetapan terkait dengan pengelolaan atas resiko, seperti penetapan klasifikasi jaminan untuk mencegah pemasok yang tidak sesuai, penanganan terkait dengan seleksi yang cukup ketat seperti dengan melakukan audit, serta pengembangan sistem dan mekanisme pemeriksaan atas kedatangan material/barang.

(3) Pengendalian Resiko

Beberapa perusahaan untuk mendapatkan jaminan yang terkait dengan penanganan serta pengendalian resiko dilakukan dengan program pembinaan. Kegiatan atas intervensi perusahaan kepada pemasok harus dijalankan dengan kehati-hatian mengingat pemasok dan perusahaan memiliki fokus bisnis yang berbeda. Pengendalian resiko ini juga harus dipantau secara rutin, periode pemantauan tergantung kepada aspek resiko yang dihitung dalam hubungan antara pemasok dan perusahaan yang dimaksud.

Mempertimbangkan dari kondisi ini, ada baiknya perusahaan mengelola kinerja pemasok dengan tepat. Selain untuk kepentingan perusahaan juga untuk menjaga keberlangsungan usaha dari pemasoknya itu sendiri. Penetapan serta pengelolaan yang optimal ini tidak hanya dijalankan melalui proses singkat namun bersifat terus-menerus dan ditopang dengan sistem yang baik. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Aplikasi FSSC Versi 6 pada Industri Kemasan Pangan

Penerapan Sistem FSSC Versi 6 efektif berjalan sejak April 2024. Proses penerapan FSSC pada industri kemasan dijalankan sebagai salah satu bentuk komitmen dari industri kemasan tersebut dalam menjalankan sistem keamanan pangan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa konsumen dapat terlindungi dari semua resiko yang dapat dimunculkan pada kemasan. Pelanggan perusahaan dapat merupakan industri pangan ataupun konsutmen langsung.

Lalu apa saja sistem yang perlu dipersiapkan oleh industri kemasan untuk menjalankan FSSC Versi 6.

(1) Menjalankan ISO 22000

FSSC mempergunakan prinsip ISO 22000 dalam proses penyusunan sistemnya. Dasar dari pelaksanaan yang dijalankan adalah konsep keamanan pangan berbasiskan resiko dan perbaikan yang berkesinambungan. Seluruh klausul yang ada dalam ISO 22000 wajib dipelajari dan diimplementasikan dalam organisasi. Termasuk di dalamnya adalah pelaksanaan dari sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).

(2) Menerapkan Prinsip PRP ISO TS 22002-4: 2013

Penetapan atas PRP seperti kesesuaian fisik bangunan, lay out ataupun penerapan dasar-dasar keamanan pangan harus sesuai dengan klausul yang termuat dalam standar ISO TS 22002-4:2013. Selain itu ada baiknya perusahaan mempertimbangkan persyaratan yang termuat dalam regulasi yang ditetapkan terkait dengan negara dimana perusahaan tersebut berjalan ataupun persyaratan negara tujuan.

(3) Menjalankan persyaratan tambahan yang terkait dengan FSSC

Penetapan atas persyaratan tambahan yang terkait dengan FSSC dipastikan juga dijalankan oleh industri kemasan tersebut. Beberapa persyaratan yang dimaksud terkait dengan beberapa hal sebagai berikut:

(a) Penetapan Lembaga Penguji Produk/ Standar Pengujian Produk

Perusahaan menjalankan proses pengujian produk dengan mempergunakan standar referensi yang terkait dengan pengujian produk untuk memastikan kepatuhan yang terkait dengan penerapan ISO 17025. Laboratorium penguji internal dalam organisasi harus dipastikan memenuhi standar persyaratan profisiensi yang terkait dengan penetapan yang terkait dengan pengujian produk pada laboratorium referensi yang telah tersertifikasi ISO 17025 atau memiliki akreditasi Nasional.

(b) Pelaksanaan TACCP/VACCP

Menjalankan proses pelaksanaan terkait dengan TACCP/VACCP sebagai bentuk pengendalian atas resiko bahaya yang secara sengaja dijalankan dalam organisasi atau rantai supply chain. Memastikan bahwa penetapan atas penilaian resiko yang terkait dengan TACCP/VACCP untuk kemudian menetapkan prioritas yang terkait dengan pengendalian resiko. Pengendalian resiko ini dijalankan untuk meminimalkan kemunculan resiko. Proses penilaian dan pengendalian harus dilakukan setiap tahun untuk memastikan kesesuaiannya.

(c) Pelaksanaan Pengendalian Pemasok

Pemastian adanya penilaian resiko atas pemasok baik pemasok jasa maupun produk. Hal ini kemudian diperlukan untuk memastikan bahwa penilaian resiko dijlankan berdasarkan pada resiko yang ada. Penetapan terkait dengan status resiko ini dipastikan untuk menjamin bahwa produk/jasa yang disuply sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Proses pengendalian ini dipastikan untuk menjamin kesesuaian tersebut. Penetapan alternatif pemasok dilakukan untuk pasokan bahan baku yang dinilai signifikan terhadap produk.

(d) Pengendalian Lingkungan

Pengendalian atas lingkungan dijalankan untuk memastikan bahwa lingkungan sekitar dan peralatan tidak menimbulkan kontaminasi kepada produk. Perusahaan menetapan penilaian atas lingkungan dan peralatan terkait dengan resiko yang muncul. Output dari proses pengendalian ini adalah kemunculan zonasi dari resiko. Pengendalian lingkungan perlu dilakukan pemantauan untuk melihat status pengendalian yang dimaksud. Pengendalian ini dijalankan untuk memastikan bahwa proses sanitasi dan kebersihan sudah memadai untuk menjaga lingkungan dan peralatan dari resiko keamanan pangan atas produk.

(e) Pengendalian Peralatan

Peralatan yang dipergunakan oleh perusahaan harus dipastikan tidak menimbulkan resiko kontaminasi ke produk. Memastikan spesifikasi dari peralatan adalah sesuai dan memiliki kategori yang sesuai dengan spesifikasi pangan. Penggunaan terkait dengan spesifikasi peralatan harus selalu dipastikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sehingga pada saat proses pembelian dipastikan untuk melakukan pengkajian yang terkait dengan spesifikasi yang dimaksud.

Penerapan terkait dengan Sistem Keamanan Kemasan Pangan melalui sistem FSSC termasuk penerapan yang sangat bermanfaat bagi organisasi. Peningkatan atas kepercayaan pelanggan dapat menimbulkan peningkatan kepercayaan diri konsumen. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penerapan BRCGS pada Sektor Broker dan Agen

Sertifikasi BRCGS (British Retail Consortium Global Standard) tidak hanya berjalan untuk sektor manufacturing saja, untuk jasa penjualan yang berfungsi sebagai agen atau cabang penjualan. Apabila perusahaan Anda adalah perusahaan yang memiliki ruang lingkup sebagai importir, cabang penjualan ataupun sebagai distributor, dapat melakukan proses sertifikasi BRCGS.

Lalu bagaimana proses persiapan untuk persiapan BRCGS dijalankan dalam perusahaan? Berikut ini adalah bagaimana perusahaan dapat menjalankan proses sertifikasi yang dimaksud.

(1) Menetapkan Tim dalam Perusahan

Pelaksanaan sistem harus dipastikan berjalan dengan tepat dan efektif. Tim ini merupakan perwakilan dari beberapa departemen yang ada dalam organisasi. Tim ini terkait dengan berbagai fungsi penerapan yang ada dalam organisasi, seperti proses koordinasi pelaksanaan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), VACCP (Vulnerability Analysis Critical Control Point), TACCP (Threat Analysis Critical Control Point), tim internal audit serta tim yang terkait dengan tanggap darurat.

(2) Melakukan proses penyusunan dokumen

Dalam proses ini, perusahaan harus memastikan mempergunakan referensi yang tepat. Salah satu referensi yang bisa dipergunakan adalah referensi yang terkait dengan standar itu sendiri. Untuk penerapan BRCGS pada broker dan agent bisa mempergunakan standar BRCGS Issue 3 Global Standard for Agent & Brokers. Melalui standar ini, organisasi dapat mempelajari kebutuhan-kebutuhan atas prosedur yang diperlukan. Namun ada hal teknis yang peru untuk dipelajari khususnya terkait dengan penerapan HACCP, VACCP, serta TACCP. Organisasi diminta untuk melakukan kajian terkait dengan referensi.

(3) Proses implementasi sistem

Di sini organisasi harus menjalankan terhadap sistem yang sudah terbentuk. Bagaimana proses pelaksanaan atas sistem dijalankan dengan tepat dalam organisasi? Pelatihan dapat dilakukan dengan mempergunakan vendor yang tepat terkait dengan pelaksanaan yang dimaksud. Kegiatan implementasi dijalankan dengan mempertimbangkan aspek leadership yang ada dalam organisasi. Penerapan yang tepat dapat membantu organisasi terkait dengan pelaksanaan sistem yang dimaksud.

Penerapan sistem sendiri tidak hanya berjalan untuk internal organisasi, namun juga melibatkan pihak eksternal organisasi. Perusahaan harus melakukan proses penilaian resiko atas pemasok untuk kemudian menetapkan proses pengendalian atas resiko tersebut.

Lakukan proses pengelolaan atas organisasi Anda apabila akan menjalankan proses seritifkasi BRCGS untuk Broker dan Agen. Pencarian referensi yang tepat akan sangat membantu organisasi dalam mengembangkan sistem yang ada. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Peranan Konsultan dalam Pengembangan Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dalam proses penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, baik itu pada industri makanan, pakan ataupun industri kemasan, terkadang perusahaan mempergunakan jasa konsultan untuk proses pengembangan dan bahkan sertifikasinya. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa perusahaan menjalankan proses pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, namun penggunaan terkait dengan proses sertifikasi dan pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

Lalu bagaimana peranan konsultan bisa menjalankan proses pengembangan Sistem Manajemen Keamanan pangan?

(1) Pemberian Pelatihan

Konsultan diharapkan dapat memberikan wawasan dan bantuan pembelajaran perusahaan dalam menerapkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Sebenarnya diperbolehkan perusahaan untuk menjalankan proses pembelajaran secara mandiri (self learning), namun dapat juga dijalankan dengan melakukan program pelatihan. Konsultan sebagai narasumber dari pelatihan dapat membantu untuk proses pemastian atas referensi ilmiah serta wawasan yang terkait dengan informasi yang disampaikan, seperti bagaimana melakukan implementasi yang tepat terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

(2) Proses Validasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dengan latar belakang pengetahuan yang dimiliki oleh konsultan, konsultan dapat membantu perusahaan dengan memberikan informasi/ saran/ referensi terkait dengan penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Rekomendasi dari konsultan yang bersumber dari pengetahuan dan pengalaman bekerja dapat memberikan masukan atas Sistem Manajemen Keamanan Pangan, seperti validasi atas PRP, HACCP Plan serta proses implementasi.

(3) Mendampingi Proses Implementasi

Konsultan dapat membantu perusahaan dalam memonitor bagaimana implementasi atas Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Dengan bantuan konsultan, proses implementasi dapat dijalankan dengan tepat dan efektif. Hal yang terpenting terkait dengan proses implementasi adalah sosialisasi dan pemantauan yang berhubungan dengan awareness yang terkait dengan pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

Bagaimana perusahaan pangan/pakan/kemasan menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan? Hal ini menjadi bagian penting bagi perusahaan agar mendapatkan manfaat yang terbaik dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, ada baiknya perusahaan dapat mempertimbangkan pada saat proses pelaksanaan yang terkait dengan Sistem FSSC, HACCP, ISO 22000, BRCGS maupun sistem yang lain. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penerapan HACCP yang Efektif Pada Industri Sarang Burung Walet

Industri pengolahan sarang burung walet adalah industri yang saat ini adalah salah satu usaha strategis yang berpotensi memberikan devisa untuk negara. Fokus pengolahan sarang burung walet tidak hanya pada kualitas saja namun juga meliputi keamanan pangan. Keamanan pangan yang terimplementasi dalam bentuk HACCP, lalu bagaimana proses penerapan HACCP tersebut dijalankan dalam Industri Sarang Burung Walet. Berikut ini adalah bentuk penerapan yang dapat dijalankan oleh industri pengolahan sarang burung walet.

(1) Desain Pabrik

Mendesain pabrik pengolahan sarang burung walet harus dilakukan dengan mempertimbangkan alir proses, kesesuaian atas resiko kontaminasi serta persyaratan keamanan pangan. Penetapan sekat proses harus mempertimbangkan pada aspek potensi resiko terhadap produk. Penetapan atas material dari bangunan serta kondisi ruangan juga menjadi pertimbangan penting.

(2) Utilitas dan Peralatan

Penetapan atas utilitas seperti perlengkapan air minum sebagai standar air yang dipergunakan dalam proses, sirkulasi udara serta penanganan limbah harus secara hati-hati ditetapkan. Peralatan yang dipergunakan adalah peralatan yang terbuat dari material yang tidak menimbulkan kontaminasi. Ada baiknya meminimalkan penggunaan perlengkapan yang terbuat dari kayu atau logam dengan kualitas non stainless.

(3) Sanitasi dan Kebersihan

Poin kebersihan menjadi hal penting untuk dikelola dalam proses. Kebersihan dan sanitasi disusun berdasarkan pada resiko yang dapat muncul di area kerja, peralatan, personel maupun pada kondisi dimana peralatan dan perlengkapan dari proses harus dipastikan tersanitasi dengan efektif. Dimana seluruh potensi mikrobiologi yang beresiko memberikan kontaminasi kepada produk. Pengelolaan sanitasi selain juga dapat dipergunakan untuk menghilangkan potensi pathogen juga dapat menghilangkan potensi allergen.

(4) Pembentukan Tim HACCP

Hal yang perlu menjadi perhatian pada organisasi, bahwa penerapan yang terkait dengan sistem keamanan pangan, bahwa pelaksanaan atas persyaratan keamanan pangan bukan hanya dijalankan oleh satu orang namun digerakan oleh seluruh karyawan. Tim HACCP itu sendiri memiliki tanggung jawab yang penuh dalam proses penyusunan atas perencanaan dari HACCP termasuk di dalamnya implementasi. Tim HACCP harus dapat memastikan bahwa pelaksanaan atas keamanan pangan berjalan dengan tepat dan konsisten.

(5) Pelaksanaan Sistem Keamanan Pangan

HACCP sebagai persyaratan yang terkait dengan sistem manajemen keamanan pangan memiliki pendekatan validasi dan verifikasi yang tepat dan efektif. Bagaimana persyaratan terkait dengan status keamanan pangan berjalan dengan tepat? Proses validasi adalah hal penting yang harus dijalankan sebelum melakukan proses penyusunan rencana HACCP. Validasi mencakup pada proses kajian atas seluruh dasar/latar belakang ilmuah untuk melihat bagaimana sistem yang dimaksud dijalankan. Proses verifikasi adalah proses pemeriksaan untuk memastikan bahwa batasan yang menjadi persyaratan keamanan pangan. Proses verifikasi meliputi proses pemantauan serta proses pemeriksaan atas efektifitas implementasi sistem, termasuk di dalamnya adalah kegiatan audit internal, pengujian produk, kajian atas status evaluasi dari pemenuhan persyaratan keamanan pangan.

Penerapan HAACP pada industri pengolahan sarang burung walet sebenarnya tidak berbeda dengan industri pangan lainnya. Namun ada spesifikasi yang khusus terkait dengan pengolahan sarang burung walet, khususnya terkait dengan tahapan proses dan karakterisasasi pada produk itu sendiri. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penerapan Issue Perubahan Iklim dalam Penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Perubahan iklim menjadi salah satu issu penting yang menjadi perhatian banyak pihak. Pelaku industri pangan, sebagai salah satu dari industri yang mengalami dampak dari perubahan iklim memastikan bahwa issue atas perubahan iklim terhadap bisnis industri pangan.

(1) Identifikasi Issue Internal

Budaya atas pengelolaan proses dipastikan memperhatikan issue-issue lingkungan yang terjadi secara internal di dalam perusahaan yang berdampak pada lingkungan. Seperti pengelolaan atas limbah penggunaan energi serta pengendalian efisiensi perusahaan. Penanganan atas energi yang tepat menjadi bagian penanganan dan pengendalian atas perlindungan lingkungan. Pengelolaan efisiensi juga dapat memastikan bagaimana proses dijalankan dengan tepat, seperti penggunaan by process yang tepat, meminimalkan limbah serta bagaimana reproses dijalankan dengan tepat sehingga meminimakan efisiensi yang dijalankan dalam proses pengolahan.

(2) Identifikasi Issue Eksternal

Issue eksternal yang muncul terkait dengan perubahan iklim dimana terdapat pengaruh yang berhubungan dengan supply chain management. Dimana rantai pasokan seringkali terganggu dengan adanya perubahan iklim. Industri pangan yang berhubungan dengan pertanian, peternakan maupun perikanan akan sangat berdampak langsung terhadap perubahan lingkungan. Pengelolaan atas issue eksternal dijalankan untuk memastikan bahwa aspek perubahan lingkungan dapat diantisipasi oleh perusahaan. Begitu juga terkait dengan peraturan dan perundangan yang berhubungan dengan status issue eksternal termasuk untuk memastikan bahwa seluruh persyaratan peraturan dan perundangan atas lingkungan.

(3) Penetapan Strategi

Industri pangan menetapkan strategi yang terkait dengan penanganan atas lingkungan yang berhubungan dengan pemenuhan atas peraturan dan perundangan. Serta pengendalian atas operasional dipastikan untuk memastikan atas pemenuhan persyaratan lingkungan. Selain itu kebijakan untuk pencarian pemasok yang ramah lingkungan juga menjadi bagian tepat untuk penetapan strategi berhubungan dengan pengendalian lingkungan.

Bagaimana perusahaan menjalankan perusahaan/industri pangan menjalankan proses pengendalian issue internal dan eksternal yang berkaitan dengan perubahan iklim? Lakukan proses identifikasi issue internal dan eksternal yang tepat sebagai bentuk konteks organisasi. Mempertimbangkan persyaratan yang diwajibkan dalam amandemen persyaratan ISO 22000:2018. (Amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengendalikan Resiko Fraud Keamanan Pangan Dalam Perusahaan

Penerapan sistem anti fraud sudah banyak dilakukan oleh perusahaan maupun organisasi/instansi pemerintah. Penerapan sistem ini selain dijalankan untuk kebutuhan internal perusahaan, juga diperBanyak perusahaan terperangkap dalam budaya perusahaan yang dapat menimbulkan Fraud di dalam perusahaan. Salah satu faktor budaya negatif yang seringkali menimbulkan adanya potensi Fraud adalah aspek kedekatan dalam perusahan. Dalam perusahaan, aspek kedekatan antar personel menjadi hal yang positif dan juga negatif. Positifnya adalah meningkatkan kerja tim sehingga meningkatkan produktifitas, namun sisis negatif yang ada dalam perusahaan.

Namun sisi negatif yang muncul adalah adanya resiko yang terkait dengan status resiko dari aspek fraud, dimana kemunculan toleransi yang muncul dalam perusahaan terkait dengan status fraud yang dimaksud. Lalu bagaimana cara yang paling tepat yang dapat dipergunakan oleh perusahaan? Berikut tahapan yang dapat perusahaan kembangkan untuk mencegah adanya fraud yang terkait dengan sistem persyaratan keamanan pangan.

(1) Menetapkan Budaya Keamanan Pangan

Identifikasi nilai-nilai positif apa yang akan perusahaan lakukan. Dimana perusahaan diminta untuk melakukan analisis terkait hal negatif yang beresiko mengurangi komitmen atas kepatuhan keamanan pangan. Penerapan nilai-nilai positif harus dipastikan dilakukan dengan cara yang mudah dipahami dan diterapkan. Sehingga budaya keamanan pangan bisa terimplementasi dengan efektif.

(2) Menetapkan Sistem Verifikasi Proses

Sistem verifikasi proses harus dipastikan dijalankan dengan sistem yang terukur. Proses pencatatan dan pelaksanannya dilakukan oleh personel yang kompeten dan terlatih. Peningkatan atas pengukuran yang terkait dengan evaluasi inspeksi dipastikan memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi.

(3) Menjalankan Seleksi dan Audit Supplier yang Tepat

Fraud yang bersumber pada kolusi untuk supplier dapat diminimalkan dengan menjalankan proses seleksi dan audit supplier yang tepat dan efektif. Proses seleksi dan audit supplier mencantumkan parameter dan klasifikasi yang terkait dengan bagaimana proses seleksi dan audit supplier tersebut dijalankan. Memastikan bahwa konsep atas seleksi dan audit menjadi screening/ pembatasan untuk mengklasifikasikan supplier yang memiliki resiko menjalankan fraud.

(4)Pengendalian Transaparansi Komunikasi

Perusahaan mengembangkan konsep/proses yang tepat untuk dapat mengendalikan transparansi komunikasi. Melalui proses komunikasi yang transparan tersebut, perusahaan memastikan bahwa setiap komunikasi yang berpotensi atas informasi atas fraud teridentifikasi dan ditindaklanjuti. Setiap issue yang muncul terkait dengan informasi fraud menjadi bagian penting untuk diproses dan dianalisis terkait dengan kebenarannya.

Lalu bagaimana perusahaan mengembangkan sistem anti fraud yang berkaitan dengan keamanan pangan? Penerapan anti fraud ini sudah menjadi mandatory/persyaratan yang ada di FSSC maupun di BRC. Lakukan proses penyusunan sistem anti fraud yang tepat agar sistem menjadi lebih efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Implementasi ISO 22000  Dalam Sektor Logistik

Rantai pangan yang berhubungan dengan keamanan pangan tidak hanya terfokus dalam industri pengolahan saja.  Sektor logistik juga menjadi bagian yang penting dalam rantai pangan dan pengelolaannya juga terkait dengan penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Lalu bagaimana penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan ISO 22000  pada sektor logistik?  Berikut ini adalah 5 (lima)  tahapan yang penting dalam proses penerapan ISO 22000  dalam sektor logistik.

(1) Penyusunan Sistem GMP dan SSOP

Mendesain GMP dan SSOP sedikit berbeda dengan penerapan GMP dan SSOP yang berhubungan dengan penerapan pada industri pangan.  Identifikasi sarana dan prasarana disesuaikan dengan penggunaan fasilitas logistik.

(2) Aplikasi HACCP Pada Sektor Logistik

Mendesain HACCP dalam tahap penanganan logistik,  termasuk penyimpanan dan transportasi.  Melakukan identifikasi atas aspek-aspek bahaya yang muncul dalam tahapan yang dimaksud.  Bahaya yang terdampak pada limgkungan harus dapat dipastikan terkendali untuk meminimalkan bahaya.

(3) Penetapan Control Measure

Setiap bahaya yang muncul dipastikan adanya pengendalian untuk menghilangkan ataupun mengurangi dengan control measures.  Penetapan Control Measure itu dapat meliputi PRP, Control Process dan Critical Control Process. Control Measure dipastikan untuk meminimalkan bahaya yang berdampak kepada produk.

(4) Melakukan Proses Verifikasi dan Validasi

Perusahaan menjalankan referensi yang tepat terkait dengan pengendalian bahaya dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan di bidang logistik. Penetapan verifikasi disusun berdasarkan pada pedoman yang sesuai dengan keamanan pangan.

(5) Menjalankan Proses Penilaian Kinerja Keamanan Pangan

Penetapan sasaran termasuk di dalamnya aspek kinerja penanganan resiko yang ada. Serta bagaimana evaluasi dijalankan dalam perusahaan.

Bagaimana perusahaan Anda menjalankan dan mengimplementasikan ISO 22000? Lakukan pencarian referensi eksternal untuk dapat mengimplementasikan Sistem ISO 22000. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Integrasi Sistem Manajemen Keamanan pangan dan SNI

Salah satu tantangan dalam industri retail saat ini adalah bagaimana proses melindungi produk dapat dilakukan untuk menjaga daya saing produk kita dibandingkan produk impor.  Pemerintah sudah menjalankan suatu tahapan proses yang tepat dengan memproteksi kualitas melalui pemberian label dan standar kualitas SNI.

Dalam industri pangan, adalah penting untuk dapat mengintegrasikan SNI dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.  SNI secara prinsip pada produk non pangan lebih mengetengahkan kepada prinsip Sistem Manajemen Mutu namun untuk produk pangan juga menetapkan prasyarat dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.  Sebab dalam prasyarat yang ditetapkan oleh SNI, terdapat parameter keamanan pangan.

Strategi penting bagi perusahaan pangan dalam menerapkan SNI adalah selain dengan menerapkan Sistem Manajemen Mutu ada pentingnya untuk juga mengaplikasikan Sistem Manajemen Keamanan Pangan (HACCP) dalam perusahaan.  Membangun dasar Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang efektif adalah penting untuk dapat mengoptimalkan aplikasi SNI pada produk.

Lakukan proses pencarian referensi eksternal untuk melakukan proses pengembangan kualitas dan keamanan pangan perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)