Mengelola Sistem Pembelian Bebas Fraud

Dalam perusahaan, setiap potensi fraud dapat muncul meskipun adanya sistem yang membentengi perusahaan. Banyak yang melihat bahwa audit dan proses inspeksi dapat dijalankan untuk memastikan bahwa fraud bisa terkendali. Namun dalam penerapan yang dijalankan, penanganan atas pengendalian Fraud lebih kepada tindakan koreksi dan bukan kepada tindakan pencegahan.

Idelanya, proses pengendalian terkait dengan proses pembelian sulit untuk dipastikan adanya kondisi yang bebas dari Fraud. Meskipun demikian proses pengendalian wajib untuk dijalankan dan pengendalian yang tepat dapat memastikan adanya sistem pengendalian bebas fradu yang efektif.

Berkut tahapan pengendalian yang dapat dilakukan.

(1) Melakukan Analisis Resiko

Sistem pengendalian dijalankan dengan mempertimbangkan pengendalian resiko terlebih dahulu. Proses identifikasi resiko dijalankan pada pemasok dan proses internal pembelian yang dijalankan oleh perusahaan. Dari setiap tahapan pembelian, mulai dari penentuan spesifikasi/ruang lingkup pembelian sampai dengan proses pembelian harus dinilai atas aspek resikonya. Dari proses penilaian tersebut, maka kemudian muncul tingkatan resiko. Tingkatan resiko yang signifikan kemudian ditetapkan untuk meakukan evaluasi terkait dengan prioritas pengendalian yang dijalankan.

(2) Melakukan Pengendalian Pemasok

Sistem pengendalian pemasok dijalankan sesuai dengan tingkatan resiko. Perusahaan menetapkan kriteria atas tingkatan resiko dari supplier. Supplier dengan resiko tinggi akan dipastikan membutuhkan sistem pengendalian yang lebih ketat, seperti dilakukan proses audit supplier ataupun masa percobaan yang sangat selektif dalam pemilihan suppliernya. Tentu saja ini akan berbeda dengan supplier yang memiliki resiko lebih rendah.

(3) Menetapkan Kriteria Spesifikasi Atas Panduan Pembelian

Untuk proses pembelian rutin yang seringkali dijalankan dalam perusahaan, penetapan spesifikasi baku dapat dijalankan. Proses penetapan atas spesifikasi dijalankan berdasarkan analisis atas output proses dan kinerja yang sudah dijalankan. Hal ini akan membantu untuk menjalankan proses validasi spesifikasi. Spesifikasi teknis yang tepat tentu akan meminimalkan resiko dari kesalahan pembelian yang berdampak signfikan dalam perusahaan.

(4) Pemantauan Kinerja Pemasok

Pemantauan atas kinerja pemasok dilakukan dengan periode yang ditetapkan berbasiskan resiko. Pemasok dipastikan memahami bahwa pemantauan ini diperlukan untuk menjaga perusahaan. Penilaian dijalankan secara obyektif dan bertujuan untuk membina pemasok. Ketidaksesuaian dari hasil penilaian dapat berakibat dihentikannya pemasok yang dimaksud ataupun dilakukan proses pembinaan lebih lanjut atas pemasok.

Bagaimana proses pengendalian pemasok yang dijalankan oleh perusahaan Anda? Lakukan proses pengelolaan sistem manajemen anti korupsi/ fraud yang tepat dalam perusahaan dengan mempergunakan referensi eksternal yang berpengalaman. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Membentuk Manajemen yang Profesional dalam Perusahaan Keluarga

Perusahaan keluarga selalu identik dengan perusahaan yang masih berpegang teguh dengan prinsip dasar tradisional dimana menjunjung tinggi kekerabatan dalam pengelolaannya. Dimana pemilik perusahaan masih dimiliki oleh pribadi yang terafiliasi dengan kelompok keluarga dan dalam pengelolaannya dibantu oleh keluarga. Pembatasan posisi-posisi tertentu dalam organisasi yang hanya diperuntukan pada keluarga.

Sekilas, persepsi yang terbentuk adalah kecilnya peluang untuk perusahaan keluarga menjadi profesional. Namun hal ini tidak mustahil ini terjadi. Terdapat beberapa tahapan yang harus dipertimbangkan dengan efektif dalam pengelolaan manajemen pada perusahaan keluarga.

(1) Penanganan Manajemen SDM/ Sumber Daya Manusia

Pengelolaan atas manajemen SDM dalam perusahaan keluarga harus dilakukan dengan tingkat penanganan khusus. Mempertimagkan pembatasn atas posisi dalam organisasi, ada baiknya pengelolaan mempertimbangkan masukan profesional dalam penyusunan organisasi. Obyektifitas harus dipastikan untuk dilakukan agar posisi-posisi tersebut dapat terbuka untuk profesional yang kompeten. Penilaian juga sebaiknya dilakukan secara profesional dalam performa pekerjaannya. Apabila memang kekerabatan tidak dapat mengisi posisi tersebut, ada baiknya pengambilan personel yang lebih profesional dilakukan.

(2) Proses Pengambilan Keputusan

Salah satu hal yang seringkali menjadi kendala dalam manajemen keluarga adalah proses pengambilan keputusan yang dijalankan dalam organisasi. Pengambilan keputusan bukan dilakukan dengan pendekatan analisis akar penyebab masalah, namun berdasarkan pada penilaian pribadi orang yang paling berpengaruh dalam perusahaan. Hal ini menjadi suatu hambatan dalam proses pengembangan perusahaan, karena setiap perbaikan yang akan dilakukan adalah berdasarkan pada perspektif dari pemilik atau kerabat dari perusahaan yang dimaksud. Ketergantungan akan terbentuk sangat besar pada personal namun bukan kepada sistem.

(3) Proses Pengelolaan Konflik

Dalam organisasi yang berbasiskan pada manajemen keluarga, seringkali konflik muncul akibat tidak obyektif nya proses penyelesaian masalah. Aspek kedekatan menjadi lebih penting dibandingkan profesionalisme. Kesulitan ini dapat menyebabkan tingginya resiko manajemen konflik dalam organisasi. Personel dalam perusahaan tidak terdidik untuk mengembangkan kompetensi profesionalnya namun lebih kepada pendekatan kedekatannya.

Bagaimana perusahaan Anda mengembangkan aspek profesionalisme dengan tepat selalu menjadi tantangan dalam pengelolaan organisasi. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk mengembangkan organisasi Anda dengan efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengembangkan Sistem yang Terukur

Setiap perusahaan tentu membutuhkan adanya pengendalian yang tepat dan efektif dalam organisasinya. Dalam beberapa kondisi, sistem yang terbentuk bisa saja diabaikan oleh tim yang ada dalam organisasi. Salah satu faktor penyebab adalah sumber daya manusia itu sendiri yang dimana mengalami penyimpangan dalam menjalankan sistem. Untuk dapat meminimalkan kondisi ketidakkonsistenan ini, organisasi bisa mendesain sistem yang dapat secara tepat dan efektif dipergunakan.

Pengembangan sistem terukur dilakukan dengan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:

(1) Mendesain SLA pada Business Process

Sebelum menyusun SOP (Standard Operating Procedure), pastikan bahwa perusahaan mendesain SLA (Service Level Agrement) yang terukur/ kuantitatif. SLA di sini adalah menciptakan kondisi kriteria keberterimaan yang dapat diterima oleh departemen satu ke departemen lain yang ada dalam organisasi. Sehingga proses akan berjalan secara otomatis apabila kriteria keberterimaan itu sesuai.

(2) Menentukan Process Planning

Setiap proses diupayakan terdapat input dan output yang dimana metode untuk evaluasi terkait dengan input dan output itu berjalan denga tepat. Pemberian informasi/status terkait dengan proses release dan pemeriksaan input dilakukan tercatat agar diverifikasi dengan kewenangan yang berjenjang. Penetapan atas uraian jabatan atas kewenangan yang berjenjang ini menjadi bagian penting dalam organisasi.

(3) Penetapan Mekanisme Evaluasi

Sebagai bentuk dari proses evaluasi, ada baiknya dijalankan. Proses evaluasi dapat dilakukan melalui audit ataupuna penilaian atas pencapaian target yang ada dalam perusahaan. Memeriksa apakah kriteria yang ditetapkan tersebut telah tercapai. Apabila telah tercapai maka sistem/proses dinyatakan sesuai. Namun apabila tidak, maka sistem yang dimaksud adalah tidak sesuai.

(4) Orientasi Target Proses

Penetapan atas KPI atau target per departemen dipergunakan untuk memberikan tantangan bagi pemilik proses agar tidak hanya bekerja dengan konsisten, namun juga melakukan proses improvement. Bagaimana proses perbaikan dijalankan dalam perusahaan dengan tepat dan efektif. Hal ini memberi ruang agar menjalankan fungsi inovasi di perusahaan dengan baik sebagai bentuk untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Bagaimana organisasi di tempat Anda bekerja menjalankan proses pengembangan sistem? Lakukan proses pencarian referensi eksternal untuk memastikan bahwa sistem yang Anda kembangkan dapat terukur dengan efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Menetapkan Sistem QC yang Tepat Dalam Industri

Banyak perusahaan yang belum melihat fungsi utama dari QC dalam arti yang tepat. Beberapa contoh, ditemukan bahwa QC seringkali menjadi penanggung jawab utama dari kualitas produk. Hal ini bukanlah sesuatu yang benar, mengingat penanggung jawab kualitas itu sendiri adalah seluruh elemen perusahaan. Dalam prinsip Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015, mutu terbentuk dari suatu proses yang berdasarkan pada ketetapan yang disepakai berdasarkan pada kepatuhan perusahaan atas regulasi, peraturan maupun persyaratan pelanggan. Konsep mutu yang secara luas, diartikan sebagai proses untuk melampaui batasan kepuasan pelanggan.

Berikut bagaimana perusahaan harus menetapkan mekanisme ruang lingkup QC yang tepat dan efektif dalam perusahaan.

(1) Penjaga Spesifikasi Produk/Proses

Spesifikasi dibentuk berdasarkan pada kesepakatan ataupun trial proses yang dijalankan perusahaan agar memenuhi persyaratan kualitas sesuai dengan ketetapan pelanggan. Dalam beberapa kondisi, penetapan spesifikasi dilakukan oleh QC adalah menjadi batasan bagaimana persyaratan kualitas tersebut dijadikan acuan.

(2) Melakukan Verifikasi Metide Sampling

Peranan QC dalam proses inspeksi banyak tergantung dengan metode pengujian. Dalam setiap proses pengujian, pengambilan sampling adalah aspek kritikal yang menjadi penentu apakah produk bisa dinyatakan sesuai atau tidak. Proses pengujian sample haeus diverifikasi, mengingat perubahan kuakitas akan mempengaruhi metode. Hal yang perlu diwaspadai adalah munculnya trend kualitas yang menurun.

(3) Kualifikasi Personel QC

Tim QC harus memiliki kemampuan untuk melakukan proses pengujian. Termasuk di dalamnya adalah pengujian dengan alat atau tanpa alat. Profisiensi perlu dilakukan terkait dengan bagaimana personel melakukan proses pengujian. Untuk meningkatkan kualitas SDM, pelatihan yang dilakukan harus dipastikan dijalankan secara konsisten.

(4) Evaluasi dan Analisis

Dalam proses pengujian ataupun pemeriksaan, QC akan menemukan informasi berupa data-data yang dapat dipergunakan sebagai panduan dalam pemecahan masalah. Trend kualitas harus dilakukan evaluasi untuk secara maksimal bisa dilakukan perbaikan di dalam perusahaan.

(5) Pelaksanaan Improvement Kualitas

QC ditempatkan sebagai posisi yang bertugas melakukan evaluasi dan dukungan untuk menjalankan improvement. Pemahaman atas bagaimana prises dijalankan agar mendapatkan kualitas yang lebih baik adalah point penting yang harys dijalankan dalam perusahaan.

Pengelolaan atas sistem manufacturing harus melihat kualitas sebagai aspek penentu keberhasilan persaingan. Mengupayakan budaya kerja yang terfokus kepada kualitas dapat meningkatkan profit dan produktifitas bisnis. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Bagaimana Sistem Mencegah Fraud di Dalam Perusahaan

Kasus Fraud di dalam perusahaan seringkali muncul disebabkan adanya sistem yang tidak memadai untuk mengakomodasi pengendalian Fraud yang dimaksud. Banyak perusahaan yang mengalami kesulitan untuk dapat melakukan pengendalian dan pencegahan terhadap potensi Fraud yang muncul di dalam perusahaan. Kesalahan dalam menetapkan dan mengidentifikasi Fraud di dalam perusahaan justru dapat menyebabkan adanya kecurigaan dan manajemen konflik dalam perusahaan.

Membiarkan Fraud untuk terus muncul dan tanpa adanya sistem yang tepat dapat menimbulkan adanya pembiaran yang merusak perusahaan. Kerusakan ini dapat menyebabkan adanya penurunan integritas dan komitmen kepatuhan dalam perusahaan. Banyak perusahaan yang terlambat dalam melakukan proses penanganan Fraud di dalam organisasinya, dimana hal tersebut berdampak kepada penurunan nilai proses perusahaan.

Membentuk sistem pencegahan fraud dapat dijalankan melalui tahapan sebagai berikut.

(1) Mendesain Proses Verifikasi dan Pemeriksaan Terhadap Proses di Dalam Perusahaan

Menjalankan proses verifikasi dengan efektif untuk memstikan bahwa setiap tahapan proses mendapatkan pemeriksaan secara terstruktur. Proses yang merupakan akses dimana fraud dapat muncul dilakukan proses verifikasi yang lebih ketat. Khususnya bagaimana pemeriksaan dilakukan secara lebih optimal atas setiap tahapan proses. Desain verifikasi harus dipastikan akurat dan terdapat kriteria yang objektif terkait setiap resiko penyimpangan yang ada.

(2) Merumuskan Model Authoritas yang Terstruktur

Penetapan struktur authorisasi perlu diidentifikasi secara tepat ketika melakukan proses penyusunan struktur organisasi yang tepat dan efekif untuk mengakomodasi potensi fraud. Dimana pembatasan kewenangan memberikan aspek kepatuhan atas suatu sistem secara hierarkis. Serta menetapkan adanya pembatasan yang berhubungan dengan kewenangan yang ditetapkan dalam suatu proses yang berpotensi mengakomodasi biaya yang tinggi.

(3) Mengembangkan Sistem Komunikasi dalam Perusahaan

Pengaturan akses komunikasi baik secara internal dan ekternal dalam perusahaan merupakan salah satu kunci penting untuk pencegahan dari suatu mekanisme fraud. Transparansi dalam organisasi baik terkait dengan kebijakan maupun issue yang muncul dalam perusahaan harus diakomodasi oleh organisasi melalui sistem yang obyektif. Tujuan utama dari pengelolaan sistem komunikasi ini adalam membetuk akses untuk dapat melakukan pendeteksian atas suatu potensi fraud secara cepat dan efektif.

(4) Mengembangkan Compliance Audit

Mekanisme internal audit di dalam perusahaan dapat dilakukan perubahan, dari yang sebelumnya adalah dalam bentuk internal audit untuk mengidentifikasi conformance namun juga untuk mengidentifikasi compliance. Status compliance menjadi sangat penting untuk penangkal upaya fraud yang mungkin terbentuk.

(5) Menyusun Budaya Integritas dalam Perusahaan

Penetapan atas budaya integritas menjadi hal yang penting di dalam perusahaan. Mengingat bahwa dalam budaya yang dimaksud terdapat nilai-nilai yang menjadi fungsi penjaga organisasi dalam pencegahan fraud. Menyusun etika dalam bisnis dan organisasi menjadi hal penting untuk memastikan bahwa pencegahan sistem fraud bisa dijalankan secara efektif.

Bagaimana perusahaan menjalankan sistem penetapan anti fraud yang tepat dalam organisasi? Penetapan referensi eksternal yang tepat dapat menjadi nilai tambah perusahaan dalam menyusun sistem anti fraud. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

5 Langkah Dalam Mengembangkan Continual Improvement di Dalam Perusahaan

Kunci kekuatan pada perusahaan untuk mencapai sustainability adalah kemampuan perusahaan untuk dapat menangkap seluruh perubah dan melakukan proses transformasi untuk dapat meningkatkan nilai dan kemampuan perusahaan untuk dapat bertahan terhadap faktor eksternal dan internal perusahaan. Saat ini, perubahan terasa sangat cepat, sehingga mau tidak mau perusahaan harus dapat menjaga sustainability dan perubahan untuk menjadi peningkatan yang signifikan dalam kinerjanya.

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk dapat menjalankan proses continual improvement dimana dalam kegiatan perbaikan berkesinambungan di dalam perusahaan harus memberikan solusi dalam pengelolaan perusahaan secara tepat. Untuk dapat meningkatkan nilai efektifitas dari proses perbaikan yang berkesinambungan tersebut, berikut ini terdapat beberapa langkah atas continual improvement yang dapat dilakukan.

(1) Membentuk Tim Dalam Organisasi

Mendesain tim dalam organisasi adalah faktor penting dalam penerapan continual improvement. Banyak perusahaan yang tidak melibatkan tim internal yang kuat dalam proses perbaikan berkesinambungan. Hal ini dapat menyebabkan proses continual improvement tidak berjalan dengan maksimal. Unsur partisipasi menjadi bagian yang penting dalam organisasi untuk dapat menjalankan seluruh tahapan yang diperlukan dalam continual improvement. Memilih personel yang menjadi tim dalam continual improvement harus memperhatikan aspek komptensi, baik itu soft skill maupun kompetensi teknis. Karena bagaimana pun juga, proses dari continual improvement harus berjalan dan diarahkan oleh tim yang didukung oleh personel kompeten.

(2) Mendesain Tools Dalam Sistem

Banyak perusahaan yang melupakan mekanisme pembentukan tools dalam sistem adalah langkah penting dalam proses continual improvement. Tools sendiri adalah suatu bentuk metode yang dilakukan untuk menjalankan pengukuran atas proses yang dijalankan dalam perusahaan. Alat ukur yang didesain harus dapat mengukur output setiap tahapan proses secara kuantitatif. Tools bukanlah target, tapi metode/mekanisme yang dilakukan untuk melakukan proses pengukuran tersebut.

(3) Melakukan Proses Pemantauan Atas Output Proses

Setelah mendesain tools sesuai dengan output yang ditargetkan. Maka tim harus melakukan pemantauan atas kinerja output terukur tersebut. Apabila dalam output tersebut diidentifikasi ketidaktercapaian/ketidaksesuaian terkait dengan hasil yang diharapkan, maka dilakukan proses analisis terkait dengan ketidaksesuaian yang dimaksud. Analisis kemudian dilakukan untuk menetapkan akar permasalahan dari penyimpangan yang dimaksud.

(4) Menetapkan Inovasi Perbaikan

Menjalankan mekanisme inovasi perbaikan yang tepat dalam proses tersebut, dimana inovasi ini kemudian ditetapkan dalam bentuk improvement dalam proses. Dalam melakukan seleksi atas inovasi, perusahaan sebaiknya memiliki kehati-hatian dan secara tepat melakukan proses benchmark terhadap benchmark dari penetapan strategi tersebut.

(5) Mengukur Tingkat Keberhasilan dari Improvement

Setelah suatu strategi dibentuk dan dijalankan sebagai proses improvement, maka dilakukan proses evaluasi terkait dengan efektifitas dari improvement yang dimaksud. Mengidentifikasi seluruh kriteria inovasi dengan tepat dan maksimal untuk memastikan bahwa suatu tingkat improvement tersebut dapat dijalankan secara efektif.

Melihat kondisi bisnis saat ini, penerapan continual improvement menjadi salah satu siklus penting yang harus dijalankan oleh perusahaan. Bagaimana perusahaan menerapkan aplikasinya dalam continual improvement, perusahaan dapat mempergunakan tools dan sistem yang tepat melalui referensi eksternal dalam menjalankannya. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

5 Kesalahan Dalam Mengelola Bisnis Kuliner

Saat ini, banyak perusahaan bergerak di bidang kuliner. Namun, tidak sedikit perusahaan tersebut mengalami kegagalan dalam mengelola bisnisnya. Untuk dapat lebih mengoptimalkan bisnis kuliner, adalah penting bagi perusahaan untuk dapat mempelajari kesalahan-kesalahan yang muncul dalam bisnis kuliner. Berikut ini adalah 5 (lima) kesalahan yang seringkali muncul dalam bisnis kuliner tersebut.

(1) Sistem Budgeting yang Tidak Efektif

Bisnis kuliner, membutuhkan perhitungan budget yang akurat. Pengelolaan cash flow harus didukung dengan pemantauan terhadap budget. Strategi dan penanganan secara cepat terhadap setiap kondisi perubahan cash flow menjadi hal yang sangat penting untuk dipastikan terkelola dalam organisasi. Pengendalian dilakukan per hari untuk memastikan bahwa sistem budget dapat dijalankan dengan tepat.

(2) Tidak Terdapat Mekanisme Inovasi

Bisnis kuliner adalah bisnis yang secara produk sangat mudah untuk dilakukan peniruan. Dalam beberapa kondisi inovasi dijalankan untuk lebih meningkatkan nilai kompetisi dan mengurangi resiko bisnis atas kehilangan pelanggan dan biaya. Inovasi dapat membangun ketertarikan dan mejadi media promosi dalam meningkatkan kinerja bisnis dalam organisasi.

(3) Tidak Berfokus Kepada Pelanggan

Dalam pengelolaan bisnis, orientasi atas kebutuhan pelanggan harus teridentifikasi dengan tepat. Bagaimana pelanggan terkenali dan melihat ekspektasi ke depan dari pelanggan. Beberapa kasus menunjukkan, bahwa kemampuan untuk memahami pelanggan menjadi bagian penting dalam bisnis kuliner untuk memenangkan kompetisi. Bagaimana pun juga, pelangganlah penentu utama bisnis kuliner.

(4) Salah Dalam Berpromosi

Tidak selalu promosi diidentikan dengan harga dan menu saja. Promosi yang tepat mampu untuk memberikan gambaran bahwa bisnis kulier yang dimiliki memiliki keterikatan emosional dengan pelanggan. Tidak seluruh pelanggan mendatangi outlet karena harga. Experiencing dan keterikatan atas outlet Anda kepada pelanggan menjadi kunci utama.

(5) Tidak Memperhatikan Kebersihan

Kebersihan adalah salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen. Kebersihan sendiri mampu melindungi bisnis kuliner dari resiko faktor keamanan pangan yang dapat merugikan bisnis sendiri. Kebersihan memberikan kenyaman dan cara pandang yang positif dari pelanggan terhadap suatu bisnis kuliner.

Bagaimana dengan pengelolaan bisnis kuliner Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat mengembangkan bisnis kuliner yang Anda miliki. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

5 Langkah Efektif Dalam Memulai Bisnis Kuliner

Bisnis kuliner adalah bisnis yang memiliki nilai potensi pertumbuhan yang sangat baik. Meskipun dalam kondisi ekonomi yang sulit sekalipun, bisnis kuliner adalah jenis binis yang tetap terus berkembang. Namun tidak sedikit, pengelola bisnis kuliner mengalami kesulitan dalam memulai bisnisnya, untuk dapat meminimalkan resiko dalam memulai bisnis kuliner, berikut ini adalah strategi penting yang dapat diaplikasikan ketika memulai bisnis kuliner.

(1) Menyusun perencanaan bisnis

Tidak hanya di bisnis kuliner, di bidang bisnis lainnya, proses perencanaan bisnis memegang peranan penting dalam memulai usaha. Perencanaan bisnis yang tepat dapat memiminalkan adanya trial & error yang beresiko besar pada bisnis. Hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan bisnis adalah pengetahan konsep bisnis yang kuat dalam pengembangan bisnis, jenis produk, sasaran penjualan serta budget yang ditetapkan dalam proses perencanaan bisnis yang dimaksud.

(2) Melakukan Pilot Plan Business

Pilot plan dilakukan sebagai uji pasar atas bisnis kuliner yang akan dikembangkan. Meskipun memiliki modal yang besar, tidak ada salahnya untuk memulai dari pengelolaan skala kecil dan fokus terlebih dahulu. Alih-alih mengembangkan banyak menu, mencoba fokus pada menu yang spesifik dan target omset yang rasional adalah lebih baik dibandingkan dengan membuang budget di depan untuk langsung mengembangkan skala besar.

(3) Menyusun Rencana Inovasi Berkesinambungan

Inovasi dijalankan sebagai antisipasi resiko dalam bisnis kuliner. Resiko yang dapat muncul seperti kejenuhan dari selera pasar, keterbatasan bahan baku ataupun justru peningkatan kebutuhan yang tidak terkendali. Rencana inovasi harus dipertimbangkan sebagai alternatif ataupun tahapan yang akan dijalankan dalam perusahaan.

(4) Mengembangkan Program Pelayanan Terbaik

Bisnis kuliner tidak hanya terikat pada rasa saja, keterikatan relasi menjadi sangat penting. Dibandingkan bisnis lainnya, kuliner membutuhkan pelanggan sebagai bagian dari marketing. Sehingga tidak ada salahnya perusahaan mengembangkan program pelayanan terbaik sehingga memperkuat pengembangan bisnis.

(5) Mendesain Sistem Operational yang Tepat

Standard Operating Procedure (SOP) adalah salah satu langkah yang tepat bagi bisnis kuliner untuk dapat mengoptimalkan bisnis. Dalam bisnis kuliner, konsistensi atas proses produksi, pelayanan dan keamanan pangan harus dijalankan dengan efektif. Hal ini dijalankan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen pada bisnis yang dimiliki.

Untuk memastikan bisnis kuliner sukses, harus dipastikan dijalankan sejak awal bahkan sebelum memulainya. Tidak ada salahnya, mempergunakan referensi eksternal untuk memulai bisnis kuliner dengan tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Strategi Efisiensi yang Tepat Dalam Perusahaan

Dalam kondisi dimana perusahaan mengalami banyak tantangan secara bisnis, salah satu konsep bertahan yang paling efektif adalah menjalankan efisiensi. Namun tidak sedikit perusahaan mengalami permasalahan dari pelaksanaan strategi efisiensi yang tidak tepat. Untuk dapat memnimalkan dampak negatif dari efisiensi, berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh perusahaan.

(1) Memilah Budget Biaya dengan Tepat

Biaya yang harus benar-benar diminimalkan adalah biaya yang tidak bersifat produktif. Namun bukan berarti menghilangkan biaya pengendalian perusahaan. Pengalihan dalam bentuk teknologi mungkin terlihat memberikan investasi tinggi, namun apabila dapat meningkatkan produktifitas dan meminimalkan resiko bisnis mungkin menjadi tepat untuk dapat dipertimbangkan.

(2) Mengembangkan Program Peningkatan Produktifitas

Memastikan bahwa program peningkatan atas produktifitas pada setiap lini operasional dijalankan. Dalam bidang manufacturing, adalah tidak bijaksana melakukan efisiensi atas budget maintenance ataupun pengembangan SDM yang terkait dengan peningkatan produktifitas.

(3) Melakukan Efisiensi Perusahaan Secara Total

Apabila perusahaan terpaksa menutup operasionalnya dan tidak terdapat alternatif dalam pengembangan usaha lainnya. Maka langkah efisiensi perusahaan secara total dapat dilakukan. Namun ada baiknya sebelumnya menjalankan hal tersebut, perusahaan membangun Business Continuity Plan untuk mempertimbangkan recovery business setelah efisiensi total dijalankan.

Bagaimana perusahaan Anda melakukan proses penyusunan program efisiensi? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat meningkatkan efisiensi perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Bagaimana Mengukur Kontinyuitas Bisnis Perusahaan Secara Tepat?

Perusahaan secara umum memiliki perencanaan atas keberlangsungan bisnisnya. Perencanaan ini berlangsung dalam aspek jangka panjang dan jangka pendek. Memastikan bisnis dapat berlangsung secara kontinyu adalah tujuan dari setiap perusahaan, sehingga tidak salah apabila setiap perusahaan memiliki perencanaan tersendiri terkait dengan kontinyuitas bisnis dalam perusahaan. Lalu bagaimana cara yang tepat bagi setiap perusahaan untuk mengukur kontinyuitas bisnis dengan efektif?

(1) Proporsi Target Perusahaan

Kontiyuitas bisnis yang tepat mampu membagi target perusahaan tidak hanya dalam ukuran jangka pendek saja, namun jangka panjang. Perusahaan harus mampu menyusun skema-skema yang tepat dan efektif apabila target yang diharapkan tidak tercapai. Contigency plan ditetapkan sebagai alternatif dari setiap target yang tidak diinginkan tidak dapat tercapai dengan efektif.

(2) Pengelolaan Jaringan Pendukung Bisnis

Banyak perusahaan harus melihat bahwa jaringan pendukung bisnis memiliki kekuatan untuk menjaga bisnis perusahaan dengan tepat. Penilaian atas efektifitas dari kekuatan jaringan pendukung bisnis harus dapat dipastikan memberikan kontribusi dalam perusahaan. Tidak ada salahnya perusahaan menjalankan investasi dalam pengembangan jaringan pendukung bisnis.

(3) Pembentukan Karakteristik Pelanggan

Pelanggan yang dimiliki oleh perusahaan merupakan kunci utama dalam menjaga keberlangsungan bisnis. Banyak perusahaan yang melupakan berapa jumlah pelanggan yang dibentuk dan dicipatkan oleh perusahaan. Perusahaan yang hanya berpikir untuk menjalankan order dari pelanggan adalah salah satu ciri perusahaan yang secara keberlangsungannya terbatas, karena ada saat pelanggan tidak membutuhkan perusahaan tersebut lagi. Menciptakan pelanggan adalah proses yang wajib dan perlu untuk dilakukan perusahaan. Nilai kebergantungan pelanggan kepada perusahaan menjadi nilai penting yang harus didesain oleh perusahaan.

Bagaimana strategi perusahaan Anda dalam menjalankan keberlangsungan bisnis? Lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat memastikan bisnis Anda dapat berjalan kontinyu. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)