Tahapan Menyusun Product Safety Plan untuk Produk Consumer Good dan Personal Care

Dalam penerapan keamanan atas produk consumer good dan personal care, perusahaan dapat mengadopsi standar BSI PAS 420 untuk menyusun rencana keamanan produk (Product Safety Plan) untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan aman dan tidak berbahaya dalam penggunaannya. Untuk memastikan proses perencanaan dijalankan dengan tepat, berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjalankan penyusunan rencana keamanan produk.

Untuk memastikan penyusunan rencana atas produk aman ini berjalan dengan tepat, lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat membantu penyusunannya. Penyusunan yang baik dapat memberikan jaminan keamanan produk kepada pelanggan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mendesain SOP Berbasiskan Pengendalian Resiko

Organisasi sudah sebaiknya memastikan bahwa sistem tata kelola yang dikembangkan tidak hanya dapat mengelola proses yang ada dalam perusahaan. Standar Operating Procedure (SOP) dapat menjadi bagian dari tata kelola dari pengelolaan resiko. Diharapkan dengan menjalankan tata kelola yang tepat, perusahaan dapat mengendalikan resiko dari potensi kemunculannya. Ada baiknya, organisasi mempertimbangkan penggunaan tata keloa yang tepat dengan bantuan referensi eksternal (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pengembangan Sistem Waralaba pada Sektor Food Service

Salah satu cara untuk meningkatkan bisnis dan pemasaran pada sektor food service adalah dengan cara pengembangan retail, dan khususnya retail waralaba. Namun pengembangan strategi ini harus dilakukan dengan kehati-hatian yang tinggi untuk memastikan bahwa bisnis tetap terjaga dan kualitas produk dapat terkelola dengan baik.

Lakukan pengembangan sistem waralaba dengan referensi eksternal yang tepat untuk dapat lebih mengoptimalkan bisnis perusahaan serta menjaga kualitas. Pengembangan atas sistem ini apabila terkelola dengan baik akan membantu percepatan bisnis. Mempergunakan referensi eksternal yang tepat dapat membantu organisasi dalam pengembangan sistem waralaba dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Memahami Pelatihan yang Terkait dengan ISO 9001

Untuk dapat meningkatkan kualitas dari implementasi perusahaan/organisasi yang terkait dengan ISO 9001, ada baiknya perusahaan mengembangkan pelatihan internal lain. Serta memastikan perusahaan mempergunakan referensi eksternal yang tepat dalam menjalankan proses implementasi ISO 9001. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengimplementasikan Budaya Anti Korupsi dan Fraud di dalam Perusahaan

Konsep dalam pengembangan ISO 37001: 2025 yang terbaru banyak terkait dengan bagaimana pengembangan budaya anti korupsi dijalankan dalam perusahaan. Konsep yang terkait dengan pelaksanaan yang terkait dengan budaya anti korupsi dan fraud tidak mudah untuk diimplementasikan di dalam perusahaan. Lalu bagaimana proses implementasi terkait dengan budaya anti korupsi dan fraud yang dijalankan di dalam perusahaan?

(1) Penjabaran Nilai-Nilai Budaya Anti Korupsi

Perusahaan harus melakukan penetapan atas nilai-nilai yang terkait dengan budaya anti korupsi. Nilai-nilai ini kemudian dijabatkan ke dalam definisi prilaku yang terkait dengan bagaimana prilaku anti korupsi berjalan di dalam organisasi. Penjabaran definisi ini kemudian dikembangkan menjadi kompetensi yang menjadi persyaratan bagaimana suatu konsep anti korupsi dijalankan dalam organisasi.

(2) Penyusunan Program Implementasi

Mengembangkan program dari level pengenalan sampai kepada pengikatan (engagement) antara karyawan dan nilai-nilai yang akan diimplementasikan. Program ini juga mencakup kegiatan pemantauan dan evaluasi terkait dengan bagaimana proses implementasi akan dijalankan. Pemberian contoh dalam berprilaku dapat dikembangka melalui peranan implementasi.

(3) Pembentukan change of management

Bagaimana change of management berjalan di dalam organisasi. Proses sistematik dan terstruktur harus dilakukan. Dimana perubahan harus dilakukan baik dalam bentuk sistem, prilaku, pembinaan bahkan aturan yang ada dalam organisasi. Lakukan proses kajian atas sistem yang saat ini berjalan untuk melihat apakah perubahan dapat dijalankan dengan maksimal dalam organisasi.

Bagaimana suatu perusahaan mengembangkan budaya anti korupsi yang tepat dalam organisasi? Identifikasi serta pengembangan terkait dengan nilai-nilai yang dijalankan dalam perusahaan harus selalu dipastikan berjalan dengan tepat dalam organisasi. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan pengembangan program implementasi budaya anti korupsi dalam organisasi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Meningkatkan Produktivitas SDM dalam Perusahaan

Efisiensi bagi perusahaan bukan hanya terkait dengan menghemat saja, namun juga berhubungan dengan proses peningkatan produktifitas. Produktifitas wajib dipertimbangkan sebagai bentuk keberhasilan dari efisiensi. Salah satu faktor produktifitas yang perlu dipertimbangkan adalah produktifitas yang terkait dengan sumber daya manusia.

Lalu bagaimana proses peningkatan produktifitas SDM ini bisa dikelola dengan tepat dalam perusahaan? Berikut ini adalah langkah- langkah yang perlu untuk dilakukan oleh perusahaan.

(1) Menyusun Target Perusahaan

Menetapkan target perusahaan yang kemudian dijabarkan dalam unit kerja divisi dan personel. Perlu untuk memastikan bahwa target yang ditetapkan tersebut adalah target yang terukur. Status target pada departemen kemudian dipastikan dijabarkan secara personel. Harus terdapat ikatan yang kuat antara target personel ke target departemen dan perusahaan. Sehingga ketercapaian target dapat bersifat sinergis.

(2) Meningkatkan nilai SDM

Melakukan proses penetapan atas nilai personel. Dimana antara alokasi beban biaya dari suatu personel harus dipastikan sesuai dengan nilai kontribusi perusahaan ke dalam perusahaan. Nilai ini dapat terukur kepada hasil output, pengelolaan resiko atau pertumbuhan organisasi. Desain struktur organisasi dan penetapan atas nilai indikator yang ditetapkan sebagaimana nilai dalam perusahaan.

(3) Perhitungan Investasi Perusahaan pada SDM

Penerapan atas investasi SDM dijalankan dalam bentuk pelatihan serta pembinaan. Bagaimana suatu organisasi menginvestasikan SDM dapat dijalankan dengan melakukan perhitungan asset dari kualitas SDM. Dimana perhitungan atas investasi ini harus diseimbangkan dengan rencana perusahaan. Sehingga pengembangan atas perusahaan memberikan nilai penting bagi perhitungan kekayaan dalam perusahaan.

Bagaimana perusahaan menjalankan proses pengembangan sistem efisiensi? Pastikan bahwa hal ini tidak hanya menghemat namun juga peningkatan produktifitas. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pengelolaan Merk dalam Bisnis Waralaba

Dalam bisnis waralaba, penggunaan merk adalah salah satu kunci penting dalam memastikan sistem waralaba dijalankan. Namun tidak sedikit perusahaan yang bergerak di bidang waralaba abai dalam melakukan proses pengelolaan merk dengan baik. Merk adalah hal penting yang menjadi penjaga bisnis waralaba. Lalu bagaimana proses pengelolaan merk tersebut dijalankan dalam perusahaan waralaba.

(a) Menetapkan definisi lengkap yang terkait dengan merk perusahaan

Merk bukan hanya menjadi identitas antara perusahaan dengan pelanggan, namun juga menjadi identitas pada perusahaan. Definisikan merk secara internal dengan nilai-nilai yang dapat diimplementasikan dalam organisasi. Penetapan atas nilai-nilai ini kemudian dijabarkan menjadi suatu nilai yang terkait dengan prilaku serta kompetensi yang ditetapkan di dalam organisasi.

(b) Mengembangkan Prinsip atas Merk kepada Pelanggan

Proses ini dilakukan untuk memastikan bahwa pelanggan melihat perusahaan sebagai hal penting dan mengikat kepada emosional pelanggan. Khususnya apabila merk yang dikembangkan tersebut terkait langsung dengan hubungan dengan perusahaan dan individu pelanggan. Sehingga kedekatan antara merk perusahaan dan pelanggan dapat terbentuk.

(c) Melakukan program pembinaan dan pelatihan kepada seluruh elemen organisasi

Merk tidak hanya logo yang tersemat dalam seragam ataupun dokumen perusahaan namun juga identitas yang berisi nilai dan budaya perusahaan untuk proses implementasi. Bagaimana proses implementasi itu sendiri dilakukan pada organisasi? Proses implementasi itu dijalankan melalui kegiatan sosialisasi yang terkait dengan nilai-nilai yang ada pada merk tersebut. Selain pelatihan, program pendekatan yang terkait dengan keterikatan atas merk dijalankan di dalam perusahaan. Penjelasan atas batasan prilaku dan pola komunikasi menjadi bagian penting dalam proses peningkatan di organisasi. Hal ini juga termasuk kepada mitra yang turut menjalankan bisnis waralaba.

(d) Menjaga merk dari penyalahgunaan

Merk dari perusahaan harus selalu dilindungi. Diberikan proteksi secara hukum untuk memastikan bahwa merk menjadi properti dari perusahaan. Perlindungan hukum ini dilakukan untuk mencegah merk tersebut digunakan oleh pihak lain. Perusahaan memastikan perlindungan ini dilakukan sesuai dengan prosedur legalitas yang berlaku.

Merk menjadi bagian penting dan nilai jual pada pengelolaan bisnis perusahaan, khususnya pada bisnis waralaba. Perusahaan harus memastikan bagaimana merk terpelihara dengan baik sehingga memberikan nilai jual yang optimal bagi perusahaan dan mitra waralaba. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk menjalankan proses pengelolaan merk perusahaan yang tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Perlukan Perusahaan Menjalankan Audit Supplier?

Bagaimana perusahaan melakukan proses pengendalian atas pemasoknya. Salah satu langkah yang seringkali perusahaan jalankan adalah dengan menjalankan audit supplier. Audit supplier ini dipergunakan sebagai bentuk proses seleksi awal untuk melakukan proses penetapan supplier yang akan melakukan pasokan barang dan jasa. Namun, kegiatan audit supplier ini sendiri pun tidak mudah untuk dilakukan, dimana dalam beberapa hal kegiatan ini juga membutuhkan waktu baik dari sisi perusahaan maupun pemasok.

Apakah perlu perusahaan menjalankan kegiatan audit supplier? Berikut ini terdapat hal penting yang dapat menjadi pertimbangan perusahaan dalam menjalankan kegiatan audit supplier.

(1) Kejelasan Rantai Pasokan

Pemasok yang merupakan pengolah pertama atau produksi pertama dari suatu material/ bahan baku adalah lebih baik dibandingkan dengan tangan rantai pasokan berikutnya. Dimana proses pengadaan pasokan tersebut dilakukan evaluasi berdasarkan pada pasokan dari supplier. Apabila kondisi dari pemasok tersebut telah terdeteksi dan teridentifikasi sesuai dengan rantai pasokannya, audit pemasok bisa dijadikan alternatif tanpa menjadi keharusan untuk dijalankan. Berbeda apabila supplier tidak masuk ke dalam rantai pasokan yang jelas, bisa melalui agen/ distributor. Proses audit supplier menjadi hal kritikal untuk dilakukan pada agen/distributor untuk memastikan bahwa supply chain management berjalan dengan efektif.

(2) Tingkat Resiko Pemasok

Perusahaan dapat menetapkan kriteria terkait dengan resiko pemasok. Pemasok dengan kondisi pasokan yang berdampak langsung kepada produk. Apabila tidak memiliki dampak langsung ke produk jadi maka resiko atas pemasok akan menurun. Sedangkan apabila berdampak langsung kepada produk akan memberikan dampak tinggi atas produk, maka resiko pemasok akan semakin meningkat. Tingginya resiko ini perlu diantisipasi dengan berbagai cara, seperti penetapan terkait dengan pengelolaan atas resiko, seperti penetapan klasifikasi jaminan untuk mencegah pemasok yang tidak sesuai, penanganan terkait dengan seleksi yang cukup ketat seperti dengan melakukan audit, serta pengembangan sistem dan mekanisme pemeriksaan atas kedatangan material/barang.

(3) Pengendalian Resiko

Beberapa perusahaan untuk mendapatkan jaminan yang terkait dengan penanganan serta pengendalian resiko dilakukan dengan program pembinaan. Kegiatan atas intervensi perusahaan kepada pemasok harus dijalankan dengan kehati-hatian mengingat pemasok dan perusahaan memiliki fokus bisnis yang berbeda. Pengendalian resiko ini juga harus dipantau secara rutin, periode pemantauan tergantung kepada aspek resiko yang dihitung dalam hubungan antara pemasok dan perusahaan yang dimaksud.

Mempertimbangkan dari kondisi ini, ada baiknya perusahaan mengelola kinerja pemasok dengan tepat. Selain untuk kepentingan perusahaan juga untuk menjaga keberlangsungan usaha dari pemasoknya itu sendiri. Penetapan serta pengelolaan yang optimal ini tidak hanya dijalankan melalui proses singkat namun bersifat terus-menerus dan ditopang dengan sistem yang baik. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Aplikasi FSSC Versi 6 pada Industri Kemasan Pangan

Penerapan Sistem FSSC Versi 6 efektif berjalan sejak April 2024. Proses penerapan FSSC pada industri kemasan dijalankan sebagai salah satu bentuk komitmen dari industri kemasan tersebut dalam menjalankan sistem keamanan pangan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa konsumen dapat terlindungi dari semua resiko yang dapat dimunculkan pada kemasan. Pelanggan perusahaan dapat merupakan industri pangan ataupun konsutmen langsung.

Lalu apa saja sistem yang perlu dipersiapkan oleh industri kemasan untuk menjalankan FSSC Versi 6.

(1) Menjalankan ISO 22000

FSSC mempergunakan prinsip ISO 22000 dalam proses penyusunan sistemnya. Dasar dari pelaksanaan yang dijalankan adalah konsep keamanan pangan berbasiskan resiko dan perbaikan yang berkesinambungan. Seluruh klausul yang ada dalam ISO 22000 wajib dipelajari dan diimplementasikan dalam organisasi. Termasuk di dalamnya adalah pelaksanaan dari sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).

(2) Menerapkan Prinsip PRP ISO TS 22002-4: 2013

Penetapan atas PRP seperti kesesuaian fisik bangunan, lay out ataupun penerapan dasar-dasar keamanan pangan harus sesuai dengan klausul yang termuat dalam standar ISO TS 22002-4:2013. Selain itu ada baiknya perusahaan mempertimbangkan persyaratan yang termuat dalam regulasi yang ditetapkan terkait dengan negara dimana perusahaan tersebut berjalan ataupun persyaratan negara tujuan.

(3) Menjalankan persyaratan tambahan yang terkait dengan FSSC

Penetapan atas persyaratan tambahan yang terkait dengan FSSC dipastikan juga dijalankan oleh industri kemasan tersebut. Beberapa persyaratan yang dimaksud terkait dengan beberapa hal sebagai berikut:

(a) Penetapan Lembaga Penguji Produk/ Standar Pengujian Produk

Perusahaan menjalankan proses pengujian produk dengan mempergunakan standar referensi yang terkait dengan pengujian produk untuk memastikan kepatuhan yang terkait dengan penerapan ISO 17025. Laboratorium penguji internal dalam organisasi harus dipastikan memenuhi standar persyaratan profisiensi yang terkait dengan penetapan yang terkait dengan pengujian produk pada laboratorium referensi yang telah tersertifikasi ISO 17025 atau memiliki akreditasi Nasional.

(b) Pelaksanaan TACCP/VACCP

Menjalankan proses pelaksanaan terkait dengan TACCP/VACCP sebagai bentuk pengendalian atas resiko bahaya yang secara sengaja dijalankan dalam organisasi atau rantai supply chain. Memastikan bahwa penetapan atas penilaian resiko yang terkait dengan TACCP/VACCP untuk kemudian menetapkan prioritas yang terkait dengan pengendalian resiko. Pengendalian resiko ini dijalankan untuk meminimalkan kemunculan resiko. Proses penilaian dan pengendalian harus dilakukan setiap tahun untuk memastikan kesesuaiannya.

(c) Pelaksanaan Pengendalian Pemasok

Pemastian adanya penilaian resiko atas pemasok baik pemasok jasa maupun produk. Hal ini kemudian diperlukan untuk memastikan bahwa penilaian resiko dijlankan berdasarkan pada resiko yang ada. Penetapan terkait dengan status resiko ini dipastikan untuk menjamin bahwa produk/jasa yang disuply sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Proses pengendalian ini dipastikan untuk menjamin kesesuaian tersebut. Penetapan alternatif pemasok dilakukan untuk pasokan bahan baku yang dinilai signifikan terhadap produk.

(d) Pengendalian Lingkungan

Pengendalian atas lingkungan dijalankan untuk memastikan bahwa lingkungan sekitar dan peralatan tidak menimbulkan kontaminasi kepada produk. Perusahaan menetapan penilaian atas lingkungan dan peralatan terkait dengan resiko yang muncul. Output dari proses pengendalian ini adalah kemunculan zonasi dari resiko. Pengendalian lingkungan perlu dilakukan pemantauan untuk melihat status pengendalian yang dimaksud. Pengendalian ini dijalankan untuk memastikan bahwa proses sanitasi dan kebersihan sudah memadai untuk menjaga lingkungan dan peralatan dari resiko keamanan pangan atas produk.

(e) Pengendalian Peralatan

Peralatan yang dipergunakan oleh perusahaan harus dipastikan tidak menimbulkan resiko kontaminasi ke produk. Memastikan spesifikasi dari peralatan adalah sesuai dan memiliki kategori yang sesuai dengan spesifikasi pangan. Penggunaan terkait dengan spesifikasi peralatan harus selalu dipastikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sehingga pada saat proses pembelian dipastikan untuk melakukan pengkajian yang terkait dengan spesifikasi yang dimaksud.

Penerapan terkait dengan Sistem Keamanan Kemasan Pangan melalui sistem FSSC termasuk penerapan yang sangat bermanfaat bagi organisasi. Peningkatan atas kepercayaan pelanggan dapat menimbulkan peningkatan kepercayaan diri konsumen. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penerapan BRCGS pada Sektor Broker dan Agen

Sertifikasi BRCGS (British Retail Consortium Global Standard) tidak hanya berjalan untuk sektor manufacturing saja, untuk jasa penjualan yang berfungsi sebagai agen atau cabang penjualan. Apabila perusahaan Anda adalah perusahaan yang memiliki ruang lingkup sebagai importir, cabang penjualan ataupun sebagai distributor, dapat melakukan proses sertifikasi BRCGS.

Lalu bagaimana proses persiapan untuk persiapan BRCGS dijalankan dalam perusahaan? Berikut ini adalah bagaimana perusahaan dapat menjalankan proses sertifikasi yang dimaksud.

(1) Menetapkan Tim dalam Perusahan

Pelaksanaan sistem harus dipastikan berjalan dengan tepat dan efektif. Tim ini merupakan perwakilan dari beberapa departemen yang ada dalam organisasi. Tim ini terkait dengan berbagai fungsi penerapan yang ada dalam organisasi, seperti proses koordinasi pelaksanaan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), VACCP (Vulnerability Analysis Critical Control Point), TACCP (Threat Analysis Critical Control Point), tim internal audit serta tim yang terkait dengan tanggap darurat.

(2) Melakukan proses penyusunan dokumen

Dalam proses ini, perusahaan harus memastikan mempergunakan referensi yang tepat. Salah satu referensi yang bisa dipergunakan adalah referensi yang terkait dengan standar itu sendiri. Untuk penerapan BRCGS pada broker dan agent bisa mempergunakan standar BRCGS Issue 3 Global Standard for Agent & Brokers. Melalui standar ini, organisasi dapat mempelajari kebutuhan-kebutuhan atas prosedur yang diperlukan. Namun ada hal teknis yang peru untuk dipelajari khususnya terkait dengan penerapan HACCP, VACCP, serta TACCP. Organisasi diminta untuk melakukan kajian terkait dengan referensi.

(3) Proses implementasi sistem

Di sini organisasi harus menjalankan terhadap sistem yang sudah terbentuk. Bagaimana proses pelaksanaan atas sistem dijalankan dengan tepat dalam organisasi? Pelatihan dapat dilakukan dengan mempergunakan vendor yang tepat terkait dengan pelaksanaan yang dimaksud. Kegiatan implementasi dijalankan dengan mempertimbangkan aspek leadership yang ada dalam organisasi. Penerapan yang tepat dapat membantu organisasi terkait dengan pelaksanaan sistem yang dimaksud.

Penerapan sistem sendiri tidak hanya berjalan untuk internal organisasi, namun juga melibatkan pihak eksternal organisasi. Perusahaan harus melakukan proses penilaian resiko atas pemasok untuk kemudian menetapkan proses pengendalian atas resiko tersebut.

Lakukan proses pengelolaan atas organisasi Anda apabila akan menjalankan proses seritifkasi BRCGS untuk Broker dan Agen. Pencarian referensi yang tepat akan sangat membantu organisasi dalam mengembangkan sistem yang ada. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)