Menetapkan Sistem QC yang Tepat Dalam Industri

Banyak perusahaan yang belum melihat fungsi utama dari QC dalam arti yang tepat. Beberapa contoh, ditemukan bahwa QC seringkali menjadi penanggung jawab utama dari kualitas produk. Hal ini bukanlah sesuatu yang benar, mengingat penanggung jawab kualitas itu sendiri adalah seluruh elemen perusahaan. Dalam prinsip Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015, mutu terbentuk dari suatu proses yang berdasarkan pada ketetapan yang disepakai berdasarkan pada kepatuhan perusahaan atas regulasi, peraturan maupun persyaratan pelanggan. Konsep mutu yang secara luas, diartikan sebagai proses untuk melampaui batasan kepuasan pelanggan.

Berikut bagaimana perusahaan harus menetapkan mekanisme ruang lingkup QC yang tepat dan efektif dalam perusahaan.

(1) Penjaga Spesifikasi Produk/Proses

Spesifikasi dibentuk berdasarkan pada kesepakatan ataupun trial proses yang dijalankan perusahaan agar memenuhi persyaratan kualitas sesuai dengan ketetapan pelanggan. Dalam beberapa kondisi, penetapan spesifikasi dilakukan oleh QC adalah menjadi batasan bagaimana persyaratan kualitas tersebut dijadikan acuan.

(2) Melakukan Verifikasi Metide Sampling

Peranan QC dalam proses inspeksi banyak tergantung dengan metode pengujian. Dalam setiap proses pengujian, pengambilan sampling adalah aspek kritikal yang menjadi penentu apakah produk bisa dinyatakan sesuai atau tidak. Proses pengujian sample haeus diverifikasi, mengingat perubahan kuakitas akan mempengaruhi metode. Hal yang perlu diwaspadai adalah munculnya trend kualitas yang menurun.

(3) Kualifikasi Personel QC

Tim QC harus memiliki kemampuan untuk melakukan proses pengujian. Termasuk di dalamnya adalah pengujian dengan alat atau tanpa alat. Profisiensi perlu dilakukan terkait dengan bagaimana personel melakukan proses pengujian. Untuk meningkatkan kualitas SDM, pelatihan yang dilakukan harus dipastikan dijalankan secara konsisten.

(4) Evaluasi dan Analisis

Dalam proses pengujian ataupun pemeriksaan, QC akan menemukan informasi berupa data-data yang dapat dipergunakan sebagai panduan dalam pemecahan masalah. Trend kualitas harus dilakukan evaluasi untuk secara maksimal bisa dilakukan perbaikan di dalam perusahaan.

(5) Pelaksanaan Improvement Kualitas

QC ditempatkan sebagai posisi yang bertugas melakukan evaluasi dan dukungan untuk menjalankan improvement. Pemahaman atas bagaimana prises dijalankan agar mendapatkan kualitas yang lebih baik adalah point penting yang harys dijalankan dalam perusahaan.

Pengelolaan atas sistem manufacturing harus melihat kualitas sebagai aspek penentu keberhasilan persaingan. Mengupayakan budaya kerja yang terfokus kepada kualitas dapat meningkatkan profit dan produktifitas bisnis. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengembangkan Budaya Keamanan Pangan yang Tepat dalam Industri Pangan/Kemasan Pangan

Budaya keamanan pangan telah menjadi klausul yang diwajibkan ada baik dalam persyaratan FSSC (Food Safety System Certification) Versi 5.1 maupun dalam sistem BRC (British Retail Consortium). Namun tidak sedikit perusahaan yang mengalami kesulitan dalam mendesain budaya keamanan pangan dalam organisasinya. Penyusunan dan penetapan budaya keamanan pangan itu sendiri menjadi bagian penting untuk memastikan budaya keamanan dijalankan dengan konsisten dan sesuai dengan standar persyaratan.

Tidak sedikit perusahaan yang mengembangkan budaya keamanan pangan yang tidak tepat dan efektif dalam perusahaan. Lalu bagaimana proses pengembangan budaya keamanan pangan yang tepat dalam industri pangan/kemasan pangan.

(1) Mengidentifikasi Nilai-nilai budaya Keamanan Pangan

Melakukan analisis terkait dengan budaya keamanan pangan. Nilai-nilai ini terkait dengan panduan prilaku yang ditetapkan oleh perusahaan untuk memastikan bahwa karyawan dan seluruh elemen perusahaan, baik pihak eksternal memahami bagaimana nilai-nilai perusahaan tersebut dapat terimplementasikan baik dalam internal perusahaan maupun eksternal perusahaan

(2) Mendefinsikan Nilai-Nilai Budaya Keamanan Pangan

Perusahaan harus menginformasikan maksud dari nilai-bilai budaya keamanan pangan. Maksud yang termuat dalam nilai-nilai budaya ini. Definisi yang disebutkan tersebut harus ditetapkan dalam bentuk data dan informasi yang sederhana dimana personel dapat secara mudah menyerap nilai-nilai budaya keamanan pangan tersebut sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penerimaan.

(3) Mengintegrasikan Dalam Kompetensi Perusahaan

Konsep atas nilai-nilai budaya ini harus ditetapkan sesuai dengan tatanan yang terukur. Dimana kamus kompetensi yang ditetapkan tersebut adalah penjabaran bagaimana nilai-nilai itu dapat dijalankan dalam perusahaan. Evaluasi serta penguraian atas kompetensi dijalankan secara akurat dan tepat untuk dapat memastikan aspek kompetensi sesuai dengan maksud yang termuat dalam nilai. Penjabaran atas kompetensi ini juga menjadi panduan terukur kepada organisasi dan karyawan terkait dengan sampai sejauhmana karyawan harus mengaplikasikannya. Begitupula dalam pelaksanaan dalam program pelatihan yang dijalankan.

(4) Menjalankan Sosialisasi Budaya Keamanan Pangan

Memastikan adanya proses sosialisasi kepada karyawan atas budaya perusahaan. Dimana dalam sosialisasi ini menginformasikan nilai-nilai, definisi serta kompetensi terkait dengan budaya perusahaan. Proses sosialisasi ini dapat dilakukan melalu pelatihan, standing banner maupun ilustrasi grafis lainnya.

(5) Melakukan Evaluasi Budaya Keamanan Pangan

Melakukan evaluasi terkait dengan penerapan budaya keamanan pangan yang ada dalam perusahaan. Memastikan bagaimana budaya keamanan pangan telah terjalankan dalam perusahaan. Evaluasi penerapannya serta input dari karyawan terkait dengan penerapan budaya keamanan pangan.

Mengingat bahwa budaya keamanan pangan sudah menjadi persyaratan dalam Sistem Manajemen Keamanan GFSI, ada baiknya perusahaan menyusun dengan cermat agar bisa memberikan hasil yang maksimal. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk meningkatkan fungsi budaya perusahaan dalam pelaksanaan food safety management system dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Bagaimana Sistem Mencegah Fraud di Dalam Perusahaan

Kasus Fraud di dalam perusahaan seringkali muncul disebabkan adanya sistem yang tidak memadai untuk mengakomodasi pengendalian Fraud yang dimaksud. Banyak perusahaan yang mengalami kesulitan untuk dapat melakukan pengendalian dan pencegahan terhadap potensi Fraud yang muncul di dalam perusahaan. Kesalahan dalam menetapkan dan mengidentifikasi Fraud di dalam perusahaan justru dapat menyebabkan adanya kecurigaan dan manajemen konflik dalam perusahaan.

Membiarkan Fraud untuk terus muncul dan tanpa adanya sistem yang tepat dapat menimbulkan adanya pembiaran yang merusak perusahaan. Kerusakan ini dapat menyebabkan adanya penurunan integritas dan komitmen kepatuhan dalam perusahaan. Banyak perusahaan yang terlambat dalam melakukan proses penanganan Fraud di dalam organisasinya, dimana hal tersebut berdampak kepada penurunan nilai proses perusahaan.

Membentuk sistem pencegahan fraud dapat dijalankan melalui tahapan sebagai berikut.

(1) Mendesain Proses Verifikasi dan Pemeriksaan Terhadap Proses di Dalam Perusahaan

Menjalankan proses verifikasi dengan efektif untuk memstikan bahwa setiap tahapan proses mendapatkan pemeriksaan secara terstruktur. Proses yang merupakan akses dimana fraud dapat muncul dilakukan proses verifikasi yang lebih ketat. Khususnya bagaimana pemeriksaan dilakukan secara lebih optimal atas setiap tahapan proses. Desain verifikasi harus dipastikan akurat dan terdapat kriteria yang objektif terkait setiap resiko penyimpangan yang ada.

(2) Merumuskan Model Authoritas yang Terstruktur

Penetapan struktur authorisasi perlu diidentifikasi secara tepat ketika melakukan proses penyusunan struktur organisasi yang tepat dan efekif untuk mengakomodasi potensi fraud. Dimana pembatasan kewenangan memberikan aspek kepatuhan atas suatu sistem secara hierarkis. Serta menetapkan adanya pembatasan yang berhubungan dengan kewenangan yang ditetapkan dalam suatu proses yang berpotensi mengakomodasi biaya yang tinggi.

(3) Mengembangkan Sistem Komunikasi dalam Perusahaan

Pengaturan akses komunikasi baik secara internal dan ekternal dalam perusahaan merupakan salah satu kunci penting untuk pencegahan dari suatu mekanisme fraud. Transparansi dalam organisasi baik terkait dengan kebijakan maupun issue yang muncul dalam perusahaan harus diakomodasi oleh organisasi melalui sistem yang obyektif. Tujuan utama dari pengelolaan sistem komunikasi ini adalam membetuk akses untuk dapat melakukan pendeteksian atas suatu potensi fraud secara cepat dan efektif.

(4) Mengembangkan Compliance Audit

Mekanisme internal audit di dalam perusahaan dapat dilakukan perubahan, dari yang sebelumnya adalah dalam bentuk internal audit untuk mengidentifikasi conformance namun juga untuk mengidentifikasi compliance. Status compliance menjadi sangat penting untuk penangkal upaya fraud yang mungkin terbentuk.

(5) Menyusun Budaya Integritas dalam Perusahaan

Penetapan atas budaya integritas menjadi hal yang penting di dalam perusahaan. Mengingat bahwa dalam budaya yang dimaksud terdapat nilai-nilai yang menjadi fungsi penjaga organisasi dalam pencegahan fraud. Menyusun etika dalam bisnis dan organisasi menjadi hal penting untuk memastikan bahwa pencegahan sistem fraud bisa dijalankan secara efektif.

Bagaimana perusahaan menjalankan sistem penetapan anti fraud yang tepat dalam organisasi? Penetapan referensi eksternal yang tepat dapat menjadi nilai tambah perusahaan dalam menyusun sistem anti fraud. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

5 Langkah Dalam Mengembangkan Continual Improvement di Dalam Perusahaan

Kunci kekuatan pada perusahaan untuk mencapai sustainability adalah kemampuan perusahaan untuk dapat menangkap seluruh perubah dan melakukan proses transformasi untuk dapat meningkatkan nilai dan kemampuan perusahaan untuk dapat bertahan terhadap faktor eksternal dan internal perusahaan. Saat ini, perubahan terasa sangat cepat, sehingga mau tidak mau perusahaan harus dapat menjaga sustainability dan perubahan untuk menjadi peningkatan yang signifikan dalam kinerjanya.

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk dapat menjalankan proses continual improvement dimana dalam kegiatan perbaikan berkesinambungan di dalam perusahaan harus memberikan solusi dalam pengelolaan perusahaan secara tepat. Untuk dapat meningkatkan nilai efektifitas dari proses perbaikan yang berkesinambungan tersebut, berikut ini terdapat beberapa langkah atas continual improvement yang dapat dilakukan.

(1) Membentuk Tim Dalam Organisasi

Mendesain tim dalam organisasi adalah faktor penting dalam penerapan continual improvement. Banyak perusahaan yang tidak melibatkan tim internal yang kuat dalam proses perbaikan berkesinambungan. Hal ini dapat menyebabkan proses continual improvement tidak berjalan dengan maksimal. Unsur partisipasi menjadi bagian yang penting dalam organisasi untuk dapat menjalankan seluruh tahapan yang diperlukan dalam continual improvement. Memilih personel yang menjadi tim dalam continual improvement harus memperhatikan aspek komptensi, baik itu soft skill maupun kompetensi teknis. Karena bagaimana pun juga, proses dari continual improvement harus berjalan dan diarahkan oleh tim yang didukung oleh personel kompeten.

(2) Mendesain Tools Dalam Sistem

Banyak perusahaan yang melupakan mekanisme pembentukan tools dalam sistem adalah langkah penting dalam proses continual improvement. Tools sendiri adalah suatu bentuk metode yang dilakukan untuk menjalankan pengukuran atas proses yang dijalankan dalam perusahaan. Alat ukur yang didesain harus dapat mengukur output setiap tahapan proses secara kuantitatif. Tools bukanlah target, tapi metode/mekanisme yang dilakukan untuk melakukan proses pengukuran tersebut.

(3) Melakukan Proses Pemantauan Atas Output Proses

Setelah mendesain tools sesuai dengan output yang ditargetkan. Maka tim harus melakukan pemantauan atas kinerja output terukur tersebut. Apabila dalam output tersebut diidentifikasi ketidaktercapaian/ketidaksesuaian terkait dengan hasil yang diharapkan, maka dilakukan proses analisis terkait dengan ketidaksesuaian yang dimaksud. Analisis kemudian dilakukan untuk menetapkan akar permasalahan dari penyimpangan yang dimaksud.

(4) Menetapkan Inovasi Perbaikan

Menjalankan mekanisme inovasi perbaikan yang tepat dalam proses tersebut, dimana inovasi ini kemudian ditetapkan dalam bentuk improvement dalam proses. Dalam melakukan seleksi atas inovasi, perusahaan sebaiknya memiliki kehati-hatian dan secara tepat melakukan proses benchmark terhadap benchmark dari penetapan strategi tersebut.

(5) Mengukur Tingkat Keberhasilan dari Improvement

Setelah suatu strategi dibentuk dan dijalankan sebagai proses improvement, maka dilakukan proses evaluasi terkait dengan efektifitas dari improvement yang dimaksud. Mengidentifikasi seluruh kriteria inovasi dengan tepat dan maksimal untuk memastikan bahwa suatu tingkat improvement tersebut dapat dijalankan secara efektif.

Melihat kondisi bisnis saat ini, penerapan continual improvement menjadi salah satu siklus penting yang harus dijalankan oleh perusahaan. Bagaimana perusahaan menerapkan aplikasinya dalam continual improvement, perusahaan dapat mempergunakan tools dan sistem yang tepat melalui referensi eksternal dalam menjalankannya. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

5 Kesalahan Dalam Mengelola Bisnis Kuliner

Saat ini, banyak perusahaan bergerak di bidang kuliner. Namun, tidak sedikit perusahaan tersebut mengalami kegagalan dalam mengelola bisnisnya. Untuk dapat lebih mengoptimalkan bisnis kuliner, adalah penting bagi perusahaan untuk dapat mempelajari kesalahan-kesalahan yang muncul dalam bisnis kuliner. Berikut ini adalah 5 (lima) kesalahan yang seringkali muncul dalam bisnis kuliner tersebut.

(1) Sistem Budgeting yang Tidak Efektif

Bisnis kuliner, membutuhkan perhitungan budget yang akurat. Pengelolaan cash flow harus didukung dengan pemantauan terhadap budget. Strategi dan penanganan secara cepat terhadap setiap kondisi perubahan cash flow menjadi hal yang sangat penting untuk dipastikan terkelola dalam organisasi. Pengendalian dilakukan per hari untuk memastikan bahwa sistem budget dapat dijalankan dengan tepat.

(2) Tidak Terdapat Mekanisme Inovasi

Bisnis kuliner adalah bisnis yang secara produk sangat mudah untuk dilakukan peniruan. Dalam beberapa kondisi inovasi dijalankan untuk lebih meningkatkan nilai kompetisi dan mengurangi resiko bisnis atas kehilangan pelanggan dan biaya. Inovasi dapat membangun ketertarikan dan mejadi media promosi dalam meningkatkan kinerja bisnis dalam organisasi.

(3) Tidak Berfokus Kepada Pelanggan

Dalam pengelolaan bisnis, orientasi atas kebutuhan pelanggan harus teridentifikasi dengan tepat. Bagaimana pelanggan terkenali dan melihat ekspektasi ke depan dari pelanggan. Beberapa kasus menunjukkan, bahwa kemampuan untuk memahami pelanggan menjadi bagian penting dalam bisnis kuliner untuk memenangkan kompetisi. Bagaimana pun juga, pelangganlah penentu utama bisnis kuliner.

(4) Salah Dalam Berpromosi

Tidak selalu promosi diidentikan dengan harga dan menu saja. Promosi yang tepat mampu untuk memberikan gambaran bahwa bisnis kulier yang dimiliki memiliki keterikatan emosional dengan pelanggan. Tidak seluruh pelanggan mendatangi outlet karena harga. Experiencing dan keterikatan atas outlet Anda kepada pelanggan menjadi kunci utama.

(5) Tidak Memperhatikan Kebersihan

Kebersihan adalah salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen. Kebersihan sendiri mampu melindungi bisnis kuliner dari resiko faktor keamanan pangan yang dapat merugikan bisnis sendiri. Kebersihan memberikan kenyaman dan cara pandang yang positif dari pelanggan terhadap suatu bisnis kuliner.

Bagaimana dengan pengelolaan bisnis kuliner Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat mengembangkan bisnis kuliner yang Anda miliki. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mendesain CTPAT System Dalam Organisasi

CTPAT (Customs Trade Against Terorism) adalah salah satu persyaratan yang ditetapkan oleh Pemerintah Amerika Serikat sebagai bentuk perlindungan dari potensi ancaman yang muncul terkait dengan perdagangan antar negara yang dijalankan oleh Negara tersebut. Dalam konteks negara Indonesia, perusahaan yang dikategorikan dengan resiko produk dan bisnis yang tinggi berkewajiban untuk mengikuti persyaratan atas sistem CTPAT tersebut.

Terdapat beberapa tahapan yang dapat perusahaan jalankan untuk memenuhi persyaratan atas penyusunan dan desain dari CTPAT tersebut.

(1) Mengidentifikasi Karaktristik Bisnis Perusahaan

Dalam menyusun desain CTPAT, perusahaan sebaiknya melakukan proses penetapan atas status klasifikasi perusahaan. Terdapat 12 (dua belas) kriteria yang ditetapkan atas bisnis/ jenis perusahaan, dimana perusahaan diminta untuk mengidentifikasi kelompok kategori perusahaan dalam kategori CTPAT tersebut. Setelah teridentifikasi, maka dilakukan proses analisis kebutuhan sistem yang ada dalam perusahaan disesuaikan dengan Sistem CTPAT yang dijalankan tersebut.

(2) Menyusunan Sistem

Konsep dari sistem keamanan yang ditetapkan meliputi sistem keamanan yang memadukan antara sistem internal perusahaan dan eksternal perusahaan. Dalam CTPAT, terdapat beberapa persyaratan kepatuhan yang tidak hanya wajib untuk dijalankan oleh pihak internal dan eksternal perusahaan. Dimana vendor juga turut berpartisipasi di dalam memastikan sistem keamanan dijalankan dengan tepat dan efektif.

(3) Ketersediaan Infrastruktur

Kesesuaian infrastruktur dalam perusahaan menjadi salah satu bagian penting yang dipergunakan perusahaan untuk memastikan bahwa sistem keamanan terjaga dan terkelola secara efektif. Dalam CTPAT, terdapat beberapa klasifikasi dari pengelolaan infrastruktur yang menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan dalam perusahaan.

Bagaimana perusahaan Anda memastikan sistem keamanan dapat terkelola dengan tepat? Lakukan proses pencarian referensi eksternal untuk dapat memastikan sistem manajemen keamanan di dalam perusahaan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam CTPAT. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mendesain Fraud Prevention Management Dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan berbasis GFSI (Global Food Safety Initiative),  penerapan Sistem Food Security adalah mandatory dalam perusahaan. Dalam konsep Food Security Program,  pengendalian atas threat dan vulnerability dakam pengendalian sistem Food Security.  Fraud adalah kemunculan terjait dengan aspek vulnerability  yang bersumber dari anca.Poppi

Lalu bagaimana perusahaan menjalankan sistem Food Security Management Program sebagai bagian dari Sistem Food Security Program?

(1) Menjalankan Risk Assessment Pemasok

Proses identifikasi atas risk assessment terkait dengan sistem pencegahan anti fraud pada setiap setiap supplier. Memastikan bahwa setiap pemasok teridentifikasi status terkait dengan resiko anti fraud. Identifikasi atas potensi dan tingkat resiko terkait dengan kemunculan resiko-resiko tinggi yang terkait dengan resiko pada produk. Melakukan proses analisis berdasarkan pada referensi, issue, ataupun informasi terkait lainnya dalam mengidentifikasi resiko.

(2) Mengembangkan Budaya Anti Fraud Dalam Perusahaan

Self awareness menjadi kunci yang tepat dalam melakukan proses pencegahan atas fraud yang timbul. Membangun komunikasi yang transparan dalam manajemen serta memastikan bahwa setiap proses yang dilakukan seperti pemilihan pemasok dilakukan berdasarkan pada persyaratan objective yang muncul dalam perusahaan. Pelatihan serta proses rekruitmen juga dipastikan mengedepankan konsep atas budaya anti fraud.

(3) Menjalankan Audit

Proses audit, baik internal dan eksternal, terbukti dapat meminimalkan kemunculan fraud dalam perusahaan. Pemastian bahwa sistem baik desain sistem maupun implementasinya berjalan dengan tepat dan efektif menjadi bagian penting dalam proses pencegahan yang diharapkan. Selain memastikan pencegahan, audit juga dapat dilakukan apabila terdapat kemunculan permasalahan fraud yang beresiko dalam perusahaan.

Bagaimana perusahaan Anda menjalankan sistem anti fraud terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan? Pastikan bahwa konsep anti fraud dapat berjalan secara efektif tidak hanya dalam implementasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan saja, namun juga terkait dengan pelaksanaan Sistem Operasional perusahaan lainnya. Untuk dapat mengembangkan sistem anti fraud yang efektif, pastikan perusahaan mempergunakan referensi eksternal yang tepat dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mendesain Kompetensi yang Tepat dalam Organisasi

Pengelolaan manajemen SDM (Sumber Daya Manusia) dalam organisasi harus dipastikan sejalan dengan visi dan misi yang telah disusun oleh perusahaan. Banyak perusahaan yang gagal dalam mendesain kompetensi. Hal ini bisa disebabkan oleh banyaknya perusahaan yang menyalin kompetensi saja dari perusahaan lain. Sehingga kompetensi yang muncul dalam persahaan menjadi tidak tepat untuk dipergunakan. Mempertimbangkan permasalahan tersebut, perusahaan sebaiknya menjalankan tahapan-tahapan untuk mendesain kompetensi yang tepat dalam perusahaan.

(1) Melakukan Identifikasi Atas Nilai-nilai Perusahaan

Melakukan analisis atas visi dan misi perusahaan yang tertuang dalam nilai-nilai perusahaan. Proses identifikasi ini sangat bermanfaat dalam mendesain kompetensi non teknis.

(2) Melakukan Evaluasi Persyaratan Teknis

Mengidentifikasi persyaratan – persyaratan teknis yang ditetapkan dalam jabatan yang dimaksud serta bagaimana persyaratan teknis tersebut dipastikanbteralokasi dalam bentuk dimensi opererasional teknis kompetensi. Penetapan atas kriteria dari kompetensi teknis adalah sangat kritikal dan membutuhkan valudasi yang tepat.

(3) Menetapkan Kriteria Teknis Struktural

Bagaimana status atas kriteria strukural ditetapkan dalam penetapan kamus kompetensi. Tersedia banyak kriteria yang ditetapkan pada setiap level jabatan sesuai dengan standar persyaratan yang ada.

Bagaimana perusahaan Anda menyusun persyaratan kompetensi saat ini? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat mengembangkan Sistem Manajemen SDM dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mendesain Fraud Prevention Management Dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan berbasis GFSI (Global Food Safety Initiative),  penerapan Sistem Food Security adalah mandatory dalam perusahaan. Dalam konsep Food Security Program,  pengendalian atas threat dan vulnerability dakam pengendalian sistem Food Security.  Fraud adalah kemunculan terkait dengan resiko vulnerability yang lebih terfokus pada motif ekonomi.

Keberadaan Fraud dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan memiliki resiko yang sangat tinggi. Ada peluang kelolosan inspeksi yang disebabkan adanya kolusi dalam perusahaan yang dapat menyebabkan adanya potensi penyimpangan baik secara kualitas maupun keamanan pangan.

Lalu bagaimana perusahaan dalam mendesain Food Prevention System dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

(1) Menjalankan Risk Assessment

Melakukan proses penilaian resiko atas potensi vulnerability yang mungkin muncul pada setiap tahapan proses yang muncul dalam perusahaan. Vulnerability tidak hanya dijalankan pada setiap tahapan proses, termasuk pada pemasok yang dipergunakan oleh perusahaan. Beberapa situasi menunjukkan bahwa kolusi bisa dimunculkan dari pemasok.

(2) Memperhitungan Dampak dan Tingkat Signifikasi dari Resiko yang ada

Melakukan analisis terkait dengan signifikasi dan dampak dari resiko yang terkait dengan aspek vulnerability tersebut. Melakukan proses perhitungan atas kemunculan serta dampak dari resiko tersebut. Semakin tinggi resiko dan kekerapan dari kemunculan resiko tersebut akan semakin meningkatkan nilai signifikansi dari resiko yang muncul.

(3) Menetapkan Tindakan Mitigasi Atas Resiko

Penetapan mitigasi dapat dijalankan dalam bentuk verifikasi, proses mutasi personel, pelatihan ataupuan proses pelaksanaan fraud information. Mitigasi paling minim yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk kesadaran dan dalam tarap yang lebih tinggi adalah dalam periode tertentuk melakukan proses fraud analysis dari setiap SOP yang ditetapkan dalam perusahaan.

Langkah-langkah ini dapat dijalankan oleh perusahaan untuk memastikan bahwa Food Fraud Prevention System dijalankan dengan tepat dalam perusahaan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk mengelola sistem dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08192369926)

Mendesain Sistem Pengupahan Dalam Manufacturing

Konsep mendesain sistem pengupahan dalam industri manufacturing tergolong memiliki tantangan tersendiri. Dibandingkan dengan sektor lainnya, penetapan atas desain sistem pengupahan dalam manufacturing memiliki “ikatan”atas produktifitas dan desain pengupahan yang berkaitan dengan aspek preventif dalam business process. Beberapa ruang lingkup area yang ada dalam perusahan, merupakan ruang lingkup yang sangat langsung terkait dengan hasil secara kuantitas dan beberapa aspek berhubungan dengan hasil secara kualitas.

Sehingga ada baiknya penetapan terkait dengan sistem pengupahan dalam manufacturing dilakukan melalui proses penetapan tahapan yang tepat. Berikut ini adalah beberapa langkah yang harus ditetapkan oleh perusahaan untuk menetapkan desain sistem remunerasi yang tepat dan efektif dalam perusahaan.

(1) Menetapkan Job Grade

Dalam proses penetapan remunerasi, perusahaan harus dipastikan mendesain job grade dengan tepat. Menetapkan proses analisis untuk memastikan bagaimana konsep atas pembobotan pekerjaan dievaluasi. Terdapat beberapa jabatan / ruang lingkup pekerjaan yang sangat terkait erat dengan penetapan output dari manufacturing dan terdapat beberapa jabatan/ ruang lingkup pekerjaan yang terkait dengan sistem penyangga (supporting unit) dalam perusahaan. Diamana proses pembobotan yang dijalankan adalah berbeda antara satu dengan lainnya.

(2) Mengidentifikasi Kompetensi

Alih-alih melakukan evaluasi atas lamanya kerja sebagai salah satu variabel perhitungan, penetapan kompetensi sebagai bagian dari penetapan sistem remunerasi adalah sangat tepat. Bukan menyingkirkan loyalitas. Dimana dalam manufacturing, penetapan loyalitas juga memiliki porsi penting dalam proses perhitungan remunerasi, namun aspek kompetensi juga menjadi parameter utama. Perusahaan harus dapat menyeimbangkan dan menggiring SDM (Sumber Daya Manusia) untuk secara linier memiliki tingkat loyalitas dan kompetensi yang berimbang.

(3) Meningkatkan Nilai Output Dari Kinerja Jabatan

Penetapan sistem remunerasi yang didesain bukan hanya bersifat sebagai pemenuhan kewajiban perusahaan kepada karyawan. Perusahaan harus memastikan bahwa remunerasi bisa menjadi bagian dari proses motivasi dari karyawan. Bagaimana pemilik jabatan secara simultan memiliki nilai motivasi yang kuat melalui penetapan kompensasi yang tepat dalam perusahaan. Pola peningkatan nilai pendapatan karyawan sebaiknya tidak dinilai hanya dari masa lama bekerja, namun juga pencapaian atas hasil/ output produktifitas.

Bagaimana proses desain sistem remunerasi dalam perusahaan Anda? Ada baiknya desain dari sistem remunerasi dilakukan secara tepat dan optimal untuk dapat meningkatkan produkfitas perusahaan dan motivasi karyawan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam mendesain sistem remunerasi dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)