Mengelola Konflik dalam Perusahaan Secara Tepat

Apakah Anda adalah seorang praktisi SDM (Sumber Daya Manusia) di dalam perusahaan?  Apakah Anda seringkali mendapatkan adanya konflik di dalam perusahaan yang menyebabkan permasalahan dalam manajemen perusahaan?  Apakah penanganan dan manajemen konflik di dalam perusahaan Anda secara tepat dapat dijalankan?

Mengelola konflik yang ada dalam perusahaan bukanlah hal mudah bahkan kadangkala permasalahan tersebut makin membesar yang dapat berdampak kemunculan dari ketidaktercapaian target perusahaan.  Bagaimana cara yang tepat bagi perusahaan untuk menangani konflik internal yang ada dalam perusahaan itu sendiri?

Tahap 1: Ukur Kepuasan Kerja Karyawan

Banyak perusahaan melihat hubungan karyawan dan perusahaan ibarat suatu kegitan jual dan beli, dimana perusahaan yang merasa bahwa telah membayar gaji karyawan, maka karyawan berkewajiban bekerja secara sebaik-baiknya.  Dalam teori kepuasan kerja, ternyata gaji dan kompensasi bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan kepuasan kerja karyawan.  Salah satunya seperti akses dan penyediaan fasilitas kerja, peranan atasan dalam perusahaan, dan lain sebagainya.  Akan menjadi suatu langkah nyata bagi perusahaan apabila melakukan proses pengukuran kepuasan kerja, yang kemudian dikembangkan menjadi salah satu langkah strategis tindak lanjut untuk kemudian dilakukan proses perbaikan di dalam internal manajemen.

Tahap 2: Pemecahan Konflik

Pelajari konflik yang muncul, konflik yang muncul dalam bentuk kelompok akan memberikan suatu bentuk permasalahan yang besar apabila tidak dipelajari prilaku kelompok itu sendiri.  Seperti apa motivasi yang melatarbelakangi konflik tersebut.  Baru setelah itu dilakukan proses penetapan terhadap tata cara melakukan pengelolaan konflik yang muncul.

Tahap 3: Transparansi manajemen

Permasalahan yang timbul dapat terjadi akibat persepsi negatif yang muncul dalam proses penetapan kebijakan. Sosialisasi yang tidak tepat dan transparan menyebabkan karyawan tidak memahami kebijakan dan melihat bahwa kebijakan yang muncul adalah suatu tekanan bagi karyawan bukan menjadi suatu stimulus yang tepat. Lakukan proses sosialisasi yang tepat dan memastikan bahwa persepsi yang muncul adalah persepsi positif.  Kebijakan dan peraturan juga harus diperlakukan merata kepada seluruh karyawan untuk menghindarkan potensi konflik muncul dalam perusahaan.

Perusahaan harus dapat mengembangkan suatu pendekatan yang tepat dalam mengelola konflik.  Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat agar konflik yang muncul justru dapat menstimulus performa yang ada dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Training HR for Non HR

Banyak orang melihat bahwa sistem Sumber Daya Manusia dalam perusahaan adalah hal yang sulit dan tidak semua orang dapat melakukannya? Mungkin hal tersebut benar, namun bukan berarti tidak bisa.  Pelatihan satu hari yang menjelaskan bagaimana suatu konsep HR dapat dimengerti oleh individu yang bukan pelaksana praktis dari HR menjadi suatu hal yang menarik untuk diikuti oleh peserta non HR maupun oleh praktisi HR yang baru saja menekuni dunia HR.

Apa saja yang didapatkan dari program pelatihan ini?  Pelatihan ini memberikan banyak informasi mengenai dunia sumber daya manusia itu sendiri.

1. Pemahaman tentang sistem kompensasi

Bagaimana peserta pelatihan mendapatkan informasi yang penting terkait dengan sistem kompensasi yang dimiliki oleh perusahaan.  Bagaimana suatu mekanisme dari suatu sistem kompensasi dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja dari karyawan?  Lalu bagaimana suatu perusahaan harus mendesain suatu bentuk sistem dan mekanisme kompensasi yang tepat sehingga pengembangan konseptual dari sistem kompensasi dapat dipahami secara detail.

2. Pemahaman tentang sistem pengembangan sumber daya manusia

Hal yang terpenting yang muncul dalam unit kerja sumber  daya manusia adalah bagaimana mengembangkan sumber daya manusia yang berkompetensi.  Proses pengembangan yang dijalankan untuk kebutuhan sumber daya manusia dilakukan dengan berbagai metode pelatihan, personal coaching, dan fungsi implementasi pengembangan kompetensi lainnya.  Kemampuan untuk memahami teknik pengembangan sumber daya manusia adalah suatu nilai tambah yang penting untuk memberikan pengembangan sumber daya manusia kontribusi output yang tepat.

3.  Pemahaman evaluasi program sumber daya manusia

Merupakan suatu aspek yang kritikal terkait dengan bagaimana suatu perusahaan dapat melakukan fungsi optimalisasi yang tepat dalam pengembangan kinerja.  Konsep dan strategi dalam proses pengembangan Key Performance Indicator dan manajemen performa yang tepat merupakan langkah nyata bagaimana suatu pekerjaan tersebut dinyatakan berhasil ataupun tidak.  Penyelarasan terhadap konsep sumber daya manusia ini sangat penting terhadap prestasi yang dapat secara optimal untuk mengembangkan dan mengoptimalkan bisnis.

4.  Penanganan komunikasi dan aspek disiplin sumber daya manusia

Konsep terhadap pemahaman bagaimana komunikasi dan disiplin terhadap sumber daya manusia ditetapkan, termasuk di dalamnya adalah memastikan bahwa komunikasi  yang dibuat dapat meminimalkan resiko konflik dan membantu pengembangan dari aspek komunikasi terhadap performa sumber daya manusia.

Ada baiknya pelatihan yang terkait dengan fungsi sumber daya manusia menjadi nilai yang penting dalam proses pengembangan sumber daya manusia. Carilah provider pelatihan yang tepat untuk melakukan proses pengembangan sumber daya manusia.  (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pentingnya Assessment dalam Penempatan Karyawan

Banyak perusahaan yang melakukan proses rekruitmen tanpa menggunakan proses assessment.  Apakah hal ini salah?  Proses seleksi dan penempatan karyawan yang tidak dibarengi dengan analisis yang tepat dapat menjadi masalah dalam proses penempatan karyawan dalam perusahaan.  Mengapa?

Dalam kapasitas seorang individu berada dalam suatu posisi, individu tersebut harus dibarengi dengan dua komponen yang menyertainya.

Komponen pertama adalah trait, yang mana adalah bagian dari diri individu yang tidak dapat diubah oleh faktor eksternal, misalnya personality.  Personality merupakan bagian dari individu yang merupakan suatu bentuk profil yang membentuk individu dalam berprilaku dan secara tetap tidak akan berubah.  Sedikit berbeda dengan assessment, pada kegiatan assessment pengukuran yang dijalankan adalah dengan melakukan proses pengukuran kompetensi.  Kompetensi dalam beberapa hal terkait dengan skill, dimana ada komponen yang terkait dengan program pelatihan yang dapat dioptimalkan.

Komponoen kedua adalah kompetensi, ini yang sudah disebutkan sebelumnya. Sedikit berbeda dengan trait, sebagai contoh individu yang memiliki kapasitas trait leadership yang rendah dapat dikembangkan kompetensinya terkait dengan managerial skill dimana individu yang bersangkutan dapat mengoptimalkan dan mengembangkan kapasitasnya sesuai dengan standar persyaratan yang ditetapkan.

Secara otomatis dengan proses assessment yang optimal, perusahaan dapat menetapkan program pengelolaan karyawan yang tepat dan terarah sehingga kapasitas individu yang ditetapkan dapat secara total menjadi nilai terukur yang sangat maksimal tentu saja tidak membuang waktu dan uang.  Lakukan kegiatan assessment dengan menggunakan provider konsultan HR yang tepat sehingga perusahaan Anda dapat memiliki keuntungan yang maksimal. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Pentingnya Interview dalam Proses Rekruitmen

Dalam kegiatan proses penerimaan karyawan, selain melakukan proses psikotest, kegiatan interview juga menjadi bagian yang penting dalam kegiatan rekruitmen.  Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dari pihak interviewer untuk melakukan proses tanya jawab ketika melakukan kegiatan interview.

1) Memahami kesesuaian profil dari applicant terhadap budaya perusahaan

Psikotest dan test kecerdasan menyesuaikan profil individu (trait) terhadap kesesuaiannya dengan karakteristik pekerjaannya.  Masalah karakter budaya perusahaan dengan profil orangnya belum tentu sesuai dengan standar budaya yang ada.  Beberapa pertimbangan yang perlu untuk diperhatikan adalah kesesuaian budaya perusahaan tersebut dengan nilai yang dianut oleh calon karyawan yang dimaksud.

Misalnya, karyawan tersebut menganut konsep atau nilai budaya yang lebih terkait dengan aspek keluarga, sedangkan perusahaan membutukan individu yang memiliki nilai prioritas yang kuat ke arah profesional tentu akan sulit menyatukan.  Atau misalnya nilai yang dianut karyawan adalah gaji namun perusahaan lebih melihat pada nilai pencapaian target kerja.

2) Memahami fleksibilitas dai individu caon karyawan

Kadangkala ada hal lain yang dapat mengembangkan kompetensi individu tersebut melebihi kapasitas yang ada, seperti motivasi dan konsep diri dimana kekuatan internal dari individu tersebut dapat secara optimal mengalahkan profil yang dimiliki oleh calon karyawan.  Dimana individu yang dinyatakan tidak dapat memiliki profil seorang QC misalnya, namun ternyata memiliki motivasi yang tinggi untuk mempelajari hal baru sehingga pemahaman terhadap konsep QC dapat ia pelajari dan ia dapat mengalahkan orang lain yang dinyatakan lebih memiliki profil yang tepat.

3) Mengukur kompetensi komunikasi dan sosialisasi

Sudah pasti! Bahwa proses interview yang dijalankan memberikan nilai dan pemahaman bahwa kemampuan berkomunikasi dan sosialisasi dapat dilakukan pengukuran dengan interview.  Bagaimana calon karyawan dapat menjawab dengan runtutan dan tautan yang tepat dalam kaitan suatu artikel atau informasi tertentu.  Bagaimana menyusun informasi dan runtutannya, energy yang dibuat oleh calon karyawan sehingga meningkatkan motivasi serta aspek pengembangan lainnya yang terkait dengan proses komunikasi dan sosialisasi yang akan disampaikan kepada orang lain.

Melihat pentingnya interview itu dijalankan untuk proses rekruitment ada baiknya bagi perusahaan untuk lebih mengoptimalkan metode dan teknik interview yang dilakukan ketika akan melakukan proses rekruitmen.  Lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat untuk mengoptimalkan proses rekruitmen di dalam perusahaan Anda, khususnya untuk proses dan kegiatan interview itu sendiri. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Aplikasi Sistem Dalam Perusahaan Keluarga

Bagaimana mengaplikasikan sistem yang tepat dalam perusahaan keluarga? Apakah memungkinkan untuk mengoptimalkan sistem dalam perusahaan yang masih menggunakan konsep sistem tradisional?  Lalu bagaimana tata cara yang tepat dalam mengimplementasikan sistem?

Strategi yang paling tepat dalam mengaplikasikan sistem dalam perusahaan keluarga dapat dilakukan dengan menggunakan alternatif sebagai berikut:

1) Aplikasi Sistem Manajemen yang Teraudit

Tetapkan jenis sistem manajemen yang digunakan dengan menggunakan sistem yang dapat diaudit.  Pastikan sistem yang digunakan dapat diaudit oleh suatu mekanisme audit yang profesional dan independen di luar perusahaan.  Seperti Sistem Manajemen ISO, dimana konsep penilaian implementasi dijalankan dalam sistem manajemen audit yang dijalankan di lapangan.

2) Sistem Manajemen Unjuk Kerja yang Obyektif

Melakukan proses penyusunan sistem performa unjuk kerja yang ditetapkan sesuai dengan standar persyaratan yang terukur dan ditetapkan dalam mekanisme yang tepat.  Pengembangan Sistem Manajemen Unjuk Kerja tersebut harus dijalankan berdasarkan status yang tercatat dan terdokumentasi.

Kedua jenis dan strategi sistem ini merupakan bentuk pengembangan alternatif yang sangat tepat bagi perusahaan yang memiliki mekanisme kinerja keluarga dan tradisional untuk dapat bersaing dengan perusahaan yang profesional.  Lakukan proses penetapan referensi eksternal yang tepat dalam melakukan aplikasi terhadap Sistem Manajemen di dalam perusahaan Anda. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Pelatihan Pengukuran Soft Competency (2 Hari)

Apakah perusahaan Anda sudah memiliki model kompetensi yang tepat?  Apakah perusahaan Anda sudah memiliki metode pengukuran terhadap kompetensi yang dimiliki? Apakah alat ukur yang perusahaan Anda gunakan tersebut sudah tepat dalam melakukan proses pengukurannya? Kami mengadakan kegiatan pelatihan yang bertujuan untuk memberikan wawasan, kompetensi maupun keahlian pada praktisi HR untuk memahami konsep dasar dari pengukuran kompetensi.

Pelatihan itu sendiri kami  bagi menjadi dua hari, dengan detail kegiatan pelatihan adalah sebagai berikut.

Hari Pertama

Pengenalan kompetensi, pemahaman model kompetensi dalam perusahaan, penyusunan metode dan pengujian kompetensi, sistem dokumentasi dan pengelolaan kompetensi karyawan

Hari Kedua

Tata Cara Penyusunan Alat Ukur, Teknik pengujian item (reliabilitas dan validitas) alat ukur, serta tata cara administrasi kegiatan pengukuran

Diharapkan dengan dua hari pelatihan ini, praktisi HR tidak terjebak ke arah yang tidak tepat dalam melakukan proses pengembangan kompetensi yang ada dalam perusahaan. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Pelatihan Penyusunan Standard Operating Procedure

Tertarik untuk melakukan proses penyusunan Standard Operating Procedure yang tepat bagi perusahaan Anda. Banyak nilai positif yang dapat dimiliki oleh individu ketika melakukan proses penyusunan terhadap Standard Operating Procedure sesuai dengan kondisi yang ada dalam perusahaan Anda?

Pelatihan yang dijalankan itu sendiri selain memberikan panduan mengenai pemahaman business prosess serta pendetailan terhadap Standard Operating Procedure juga memberikan suatu strategi tentang bagaimana SOP itu sendiri nantinya akan dikembangkan menjadi suatu bentuk penilaian terukut yaitu sebagai Key Performance Indicator dari suatu SOP yang akan dijalankan.

Berikut adalah detail dari pelaksanaan pelatihan yang akan dijalankan

Hari pertama

1.  Penyusunan business process

2.  Teknik dan proses interview

3.  Penyusunan pemetaan proses

4. Penyusunan alir proses

5.  Proses penetapan detail alir proses

Hari kedua

1. Penetapan output hasil proses

2. Penetapan ukuran keberhasilan kerja

3. Sistem evaluasi dalam SOP

4. Teknik dan pengembangan implementasi SOP

Diharapkan dengan pelatihan dua hari, peserta menjadi paham dan memiliki penambahan kompetensi untuk dapat menyusun Standard Operating Procedure di perusahaannya. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Psikometri: Pengembangan Sistem Assessment dalam Perusahaan

Banyak perusahaan yang telah membuat pusat pengukuran penilaian atau assessment.  Dalam proses pengembangan assessment tersebut, banyak perusahaan yang lupa bahwa alat ukur terhadap kompetensi (soft skill) harus dilakukan proses pengkajian dan riset secara terus menerus untuk memastikan bahwa pengembangan dari aspek kompetensi dari karyawan tersebut dapat terukur. Sudah waktunya bagi perusahaan untuk mempertimbangkan psikometri sebagai solusi dalam proses pengembangan alat ukur dalam perusahaan Anda.

MENGAPA PSIKOMETRI?

Pengukuran suatu kompetensi yang sulit terukur secara kasat mata, yaitu yang bersifat intangible, secara otomatis terdapat resiko error yang terdapat dalam proses penyusunan alat itu sendiri.  Psikometri melakukan proses pengembangan dan seleksi alat, sehingga alat ukur yang digunakan dapat dipastikan sebenar-benarnya mengukur kompetensi yang terukur dan melakukan evaluasi terhadap uji konsistensi pada alat itu sendiri.

Kunci dari suatu pusat assessment yang baik adalah alat ukur yang digunakan.  Sebagus apapun model kompetensi yang diciptakan tersebut, tidak dapat secara serta merta dapat ditunjang dengan suatu pengukuran yang tepat, maka akan percuma.  Mulailah mengadaptasikan ilmu psikometri dalam pengembangan pusat assessment di perusahaan Anda. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Memiliki Profil Sales yang Tepat

Bagi suatu perusahaan, keberadaan tenaga sales yang profesional adalah tantangan yang menarik untuk dikaji. Bagaimana suatu perusahaan berada dalam kondisi sulit dengan sendirinya karena penjualan tidak dapat didongkrak belum lagi muncul kenyataan bahwa tidak ada tenaga sales yang mumpuni yang mau untuk berjuang dalam mendapatkan target penjualan yang sesuai dengan harapan. Belum lagi, masyarakat Indonesia yang memiliki persepsi negatif mengenai tenaga kerja sales, dimana sales dianggap bukanlah profesi yang menarik untuk ditekuni, hanya kalau sudah tidak ada pekerjaan saja, seorang individu akan terjun menjadi sales.

Lalu bagaimana strategi yang harus dikembangkan untuk menjadi seorang sales?

1. Lakukan proses rekruitment yang tepat

Usahakan dalam proses pengambilan karyawan, perusahaan tidak hanya sekedar asal mendapatkan orang yang mau menjadi sales.  Gunakan alat ukur yang tepat yang selain dapat mengukur potensi kecerdasannya juga dapat secara spesifik mengukur kapasitas dan kemampuan individu yang dimaksud untuk menjadi sales.

2. Program Product Knowledge

Sales yang mumpuni adalah sales yang mengetahui secara mendalam tentang pengetahuan produk yang akan dijualnya.  Siapa saja target konsumennya dan bagaimana prilaku konsumennya.  Seorang sales yang pandai bukan hanya berkemampuan tinggi dalam menjual produk, namun yang terpenting adalah menjual relationship.

3.  Sistem Renumerasi

Dalam menyusun sistem kompensasi sales, yang harus menjadi pertimbangan utama bahwa sistem renumerasi yang diciptakan tersebut adalah sistem yang mengedepankan konsep komisi dan insentif penjualan.  Artinya nilai komisi harus memberikan nilai yang tinggi dibandingkan gaji pokoknya.  Sehingga sales menjadi tertantang untuk memberikan hasil lebih.

Ketiga langkah tersebut dapat diterapkan oleh perusahaan maupun organisasi yang berharap dapat memiliki profil sales yang kuat yang mana dapat secara cepat meningkatkan penjualan produk dari perusahaan itu sendiri. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Perlukah Mengukur Kepuasan Kerja Karyawan

Banyak perusahaan yang lupa untuk menganalisis mengenai kepuasan kerja karyawan? Padahal banyak sekali informasi penting yang dapat diambil dari proses pengukuran ini.  Seperti, apa saja yang perusahaan perlu untuk memperbaiki agar karyawan menjadi lebih “betah” dan bekerja dengan tingkat motivasi yang tinggi.  Melihat dari konsep kepuasan, nilai kepuasan tidak selamanya berasal dari gaji yang diberikan oleh perusahaan namun juga dapat berasal dari aspek lainnya, seperti akses informasi, kondisi infrastruktur dan lainnya.

Lalu bagaimana proses pengukuran kepuasan kerja itu dilakukan? Proses pengukuran kepuasan kerja itu sendiri dapat diukur dengan menggunakan teknik survey. Artinya tim kerja HR dapat menyusun item berdasarkan konsep teori kepuasan kerja, kemudian dari item yang dimaksud dikembangkanlah alat ukur dari kepuasan kerja yang dimaksud.

Agar alat ukur menjadi kompeten lakukan proses analisis reliabilitas dan validitas. Kemudian tetapkan norma kepuasan. Lakukan pengukuran kepada seluruh karyawan.

Mudah bukan? Agar lebih pastinya, sebaiknya perusahaan menggunakan referensi eksternal yang tepat untuk melakukan penyusunan kegiatan survey ini. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)