Bagaimana Menyusun Sistem Traceability yang Efektif

Dalam industri pangan/ perikanan, salah satu tantangan terbesar dalam menerapkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan adalah bagaimana melakukan proses pengendalian terhadap sistem traceability. Sistem Traceability adalah suatu hal yang wajib dan sangat penting untuk dilakukan proses pengujian.

Lalu bagaimana internal perusahaan menyusun Sistem Traceability yang tepat dan efektif?

Langkah pertama, melakukan proses identifikasi alir proses
Adalah sangat penting untuk melakukan proses pembelajaran terhadap alir proses produksi yang ada untuk melakukan pengaturan sistem traceability yang ada.

Langkah kedua, melakukan proses penyusunan terkait dengan Sistem Traceability yang ada dalam perusahaan. Mulai dari pengaturan sistem di pemasok, proses penyimpanan, sistem pencatatan traceability produksi serta proses penyimpanan di gudang barang jadi. Sistem juga sebaiknya dapat mencakup adanya pengembangan terkait sistem return, sistem stock in place/ work in progress serta adanya reject.

Langkah ketiga, menjalankan konsep mass balanced untuk dapat lebih memastikan bahwa sistem traceability tersebut dapat dievaluasi secara tepat dan efektifif. Sistem traceability yang tepat dapat memastikan adanya kesesuaian antara data administrasi dengan data aktual.

Lakukan proses penyusunan sistem traceability yang tepat dalam industri anda, dan lakukan proses evaluasi untuk mendapatkan informasi status keefektifannya. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mekanisme Penanganan Keluhan Pelanggan dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Banyak perusahaan makanan, belum memastikan sistem dan prosedur yang tepat berkaitan dengan tata cara proses penanganan keluhan pelanggan. Ada baiknya perusahaan melakukan suatu penyusunan sistem atau konsep yang terkait dengan status penanganan keluhan pelanggan.

Proses pengendalian keluhan pelanggan adalah suatu tahapan atau proses penting yang sebaiknya menjadi perhatian terbesar dari perusahaan. Khususnya apabila kasus keluhan tersebut sangat terkait dengan kasus keamanan pangan. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk memastikan proses penanganan keluhan tertangani dengan baik.

(1) Tentukan tim penanganan keluhan pelanggan

Tim ini memiliki tanggung jawab untuk melakukan proses identifikasi, dan apabila memungkinkan dapat melakukan proses survey ke pasar atau konsumen untuk kebutuhan memastikan bahwa keluhan tersebut tertangani dengan baik. Tim memiliki tanggung jawab dan kompetensi yang memadai agar program investigasi yang dimaksud dapat dijalankan secara tepat dan optimal.

(2) Penetapan Prosedur Penanganan

Tetapkan aturan yang tepat mengenai tata cara dari proses penanganan keluhan pelanggan tersebut. Pengaturan dan penetapan identifikasi serta proses penetapan tindakan perbaikan dan pencegahan terhadap keluhan yang muncul tersebut.

(3) Proses Penetapan Tindakan Perbaikan dan Pencegahan

Perusahaan harus menetapkan kebijakan terkait dengan tindakan koreksi yang ditimbulkan dari dampak kasus keluhan keamanan pangan ini. Bagaimana proses pengendalian dijalankan untuk memastikan tidak terulang kembali, baik secara sistem maupun pemahaman karyawan. Tindakan perbaikan dijalankan untuk menghilangkan penyebab-penyebab yang mengakibatkan keluhan muncul.

(4) Proses verifikasi dan pengendalian

Kendalikan dan pastikan bahwa sistem manajemen keamanan pangan dijalankan. Adalah suatu hal yang penting dilakukan pemeriksaan dalam periode tertentu untuk memastikan bahwa sistem dijalankan sesuai dengan standar persyaratan yang ada.

Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat berkaitan dengan pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan di perusahaan Anda. Jaminan keamanan pangan adalah jaminan konsumen yang tidak bisa dinegosiasikan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

5 Kesulitan dalam Mengimplementasikan Sistem Manajemen Keamanan

Bagaimana suatu sistem manajemen keamanan pangan diimplementasikan? Banyak industri pangan, melihat proses implementasi sistem manajemen keamanan pangan adalah suatu proses “keterpaksaan”. Sebab secara investasi dan kesiapan budaya perusahaan untuk menjalankan fungsi manajemen keamanan pangan belum terlengkapi secara tepat.

Berikut adalah catatan 5 hal yang menyebabkan kesulitan dalam melakukan penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

(1) Pengembangan Sumber Daya Manusia
Kompetensi sumber daya manusia dan tidak disertai dengan komitmen perubahan strategi pengembangan kesadarannya bisa menyebabkan hilangnya tanggung jawab sumber daya manusia tersebut dalam menjalankan sistem.

(2) Pemahaman strategis Sistem Operational Procedure
Bagaimana suatu perusahaan melihat bahwa Standard Operating Procedure adalah hal penting yang perlu dipertimbangkan terkait dengan bagaimana proses PRP (Pre Requisite Program) dijalankan. Standard Operating Procedure harus dapat memberikan gambaran mengenai kejelasan terhadap setiap tahapan yang dibuat berkaitan dengan program implementasi pencegaan resiko keamanan pangan.

(3) Ketidakpahaman dalam Membuat Rencana HACCP
Bagaimana suatu rencana HACCP dibuat, konsep dan fungsi efektif terkait dengan pengendaliannya gagal dipahami oleh tim. Sehingga dalam proses pencegahan kontaminasi yang muncul tidak dapat dijalankan secara maksimal.

(4) Lay out operational yang tidak menunjang
Lay out produksi yang tidak dapat dipastikan mencegah kontaminasi dapat menyebabkan adanya kesulitan dalam mengimplementasikan program. Tim akan merasa sulit karena potensi kontaminasi seperti tidak terkendali.

(5) Pemahaman konsep teknis keamanan pangan
Kurangnya kepedulian untuk menambah ilmu terkait dengan dasar-dasar keamanan pangan, dapat menyebabkan manajemen perusahaan mengalami kesulitan ketika akan menerapkan konsep strategis manajemen keamanan pangan.

Bagaimana dengan penerapan Manajemen Keamanan Pangan di dalam perusahaan Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat agar pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan dapat dijalankan secara tepat dan optimal. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Langkah Menyusun HACCP untuk Food Service

Banyak perusahaan katering dan food service mengalami permasalahan ketika harus menyusun HACCP, mengapa? Karena pelatihan yang dibuat selama ini, lebih banyak mengajarkan tata cara penyusunan HACCP untuk sektor food industry. Sedangkan untuk sektor food service dan katering, sangat jarang untuk dibahas mengenai tata cara pembuatannya.

Lalu bagaimana proses penyusunan HACCP yang tepat dan efektif untuk sektor katering dan food service?

(1) Lakukan proses penyusunan kelompok produk

Sangat sulit untuk melakukan proses penyusunan Manual HACCP apabila berdasarkan seluruh kelompok menu yang ada. Alangkah baiknya, apabila proses penyusunan manual HACCP tersebut ditetapkan sesuai dengan kelompok produk yang ada dalam menu.

(2) Analisis seluruh bahan baku yang terkait

Lakukan proses pemeriksaan terhadap seluruh bahan baku yang digunakan, untuk memastikan bahwa bahan baku yang ada telah teridentifikasi status bahaya yang berpotensi untuk memberikan kontribusi terkait dengan proses pengendalian dari proses yang ada.

(3) Menyusun PRP (Pre Requisite Program) dari Program HACCP

Dimana melakukan proses penyusunan terhadap PRP berupa SSOP dan GMP yang dibutuhkan terkait dengan proses produksi. Perencanaan yang ada harus dipastikan dibuat secara efektif agar dapat secara maksimal dapat diimplementasikan ke dalam suatu kebutuhan operasional secara tepat dan tidak berlebihan.

Lakukan pengembangan dan penyusunan HACCP untuk katering dan food service untuk mengoptimalkan bisnis Anda. Lakukan pencarian eksternal yang tepat untuk dapat mendampingi perusahaan Anda dalam mengimplementasikan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pentingnya Perusahaan Kemasan Memiliki Sertifikat HACCP

Dalam konsep keamanan pangan, adalah sangat penting untuk mengendalikan seluruh resiko yang muncul bagi produk pangan itu sendiri. Adalah hal yang penting dalam industri pangan untuk dapat mengendalikan keamanan pangan pada seluruh aspek/ segi operasional yang dimiliki. Termasuk di dalamnya adalah aspek dari industri kemasan yang mendukung produk pangan itu sendiri.

Terdapat beberapa hal yang menjadi pertimbangan untuk mengembangkan sistem manajemen keamanan pangan pada industri kemasan:

(1) Kemasan posisi inner/ primer

Kemasan ini adalah kemasan yang merupakan material pengemas yang sangat penting karena mengalami kontak langsung dengan produk pangan. Produk pangan yang sudah diolah dengan memperhatikan suatu bentuk jaminan keamanan pangan khusus tentunya harus dipastikan juga terkemas dalam kemasan yang tidak mencemari produk.

(2) Kemasan luar (outer)

Meskipun tidak secara langsung memiliki kontak langsung dengan produk pangan, adalah hal yang sangat penting untuk lebih memperhatikan keamanan pangan dari kemasan khusus untuk produk ready to eat. Dalam beberapa hal, kemasan yang digunakan harus lebih memperhatikan resiko terhadap keamanan pangan. Mengingat bahwa produk ready to eat adalah jenis produk yang sangat bersiko tinggi akibat tidak ada pengolahan lanjutan setelah sampai di konsumen.

Apakah perusahaan Anda adalah produsen kemasan untuk industri pangan? Mulailah untuk menerapkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, untuk lebih meningkatkan nilai dari produk yang Anda supply. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pelatihan ISO 9001 bagi Industri Air Minum Dalam Kemasan

Berkaitan dengan adanya pembaharuan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan penerbitan SNI bagi perusahaan air minum dalam kemasan untuk mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2008. Bagi perusahaan air minum dalam kemasan ada baiknya untuk mengadakan pelatihan mengenai persyaratan ISO 9001 untuk industri Air Minum dalam Kemasan.

Pelatihan yang dijalankan selama dua hari akan membahas mengenai pemahaman terhadap klausul-klausul ISO 9001, proses penyusunan dokumentasi dan catatan mutu sesuai dengan persyaratan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001, serta bagaimana melakukan program implementasi klausul ISO 9001 dalam pelaksanaan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001.

Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 dalam perusahaan secara tepat dan efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pelatihan FSSC bagi Industri Perikanan

Sistem Manajemen Keamanan Pangan adalah suatu bentuk konsep yang penting dan utama dalam industri perikanan. Selain memiliki sistem HACCP, disarankan juga dalam industri perikanan untuk melakukan proses set up FSSC (Food Safety System Certification). Lalu apa yang menjadi nilai penting dari program pelatihan ini.

(1) Peserta training dapat melakukan proses pembuatan sistem manajemen ISO 22000

(2) Peserta training dapat memahami GMP, SSOP maupun penetapan sistem HACCP dalam Industri Perikanan

(3) Peserta training dapat memahami ISO TS-22000-1

(4) Peserta training dapat melakukan proses penyusunan dokumen ISO 22000

Pelatihan yang dilakukan berdurasi dua (2) hari dengan detail program pelatihan yang dijalankan adalah sebagai berikut:

Hari Pertama

Pemahaman konsep keamanan pangan dalam industri perikanan

Pemahaman GMP, SSOP dan HACCP

Pemahaman tahapan penyusunan manual HACCP

Pemahaman tahapan penyusunan dokumen GMP dan SSOP

Proses evaluasi sistem

Hari Kedua

Pemahaman ISO 22000

Pemahaman ISO TS-22000-1

Pemahaman FSSC

Proses penyusunan dokumen ISO

Pengembangan sistem manajemen keamanan pangan adalah bentuk komitmen tentang bagaimana industri anda menjamin kualitas dan keamanan konsumen. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Supplier Development Program

Banyak perusahaan yang melihat bahwa hubungan antara supplier dan perusahaan hanya dipastikan terprioritas pada keuntungan perusahaan saja, padahal terdapat aspek strategis yang penting yang perlu untuk dioptimalkan terkait dengan pengembangan strategi pada pemasok.

Dengan berkembangnya manajemen dari pemasok, secara pasti perusahaan juga menjalani suatu keuntungan dan perbaikan kualitas yang mampu masuk ke dalam pengembangan usahanya. Bagaimana perusahaan dapat menyusun sistem yang dapat mengembangkan nilai strategis dari pengembangan pemasok?

(1) Penerapan Sistem Seleksi yang Tepat
Dengan sistem seleksi yang tepat, perusahaan dapat secara obyektif dan strategis memilih pemasok yang akan masuk ke area proses operasional. Apabila secara bisnis, pemasok tersebut adalah pemasok tunggal yang sulit untuk tergantikan maka proses seleksi dapat dijalankan dengan sistem klasifikasi nilai/ grade.

(2) Program Pelatihan
Mengaplikasikan program pelatihan terintegrasi dan terpadu untuk dapat mengoptimalkan kapasitas dan kompetensi dari pemasok. Perusahaan ada baiknya meminta pemasok untuk menerapkan Sistem Manajemen Mutu, seperti ISO 9001 untuk dapat membantu meningkatkan kualitas dan menjamin konsistensi kualitas dari output produk yang ada pada pemasok.

(3) Audit Pemasok
Menjalankan fungsi audit sistem yang dijalankan oleh pemasok juga dapat membantu perusahaan untuk mendapatkan hasil/output produk yang berkualitas baik. Ada baiknya kegiatan audit pemasok ini disusun dengan kriteria-kriteria yang mencakup dalam kegiatan sistem manajemen operasional perusahaan.

(4) Evaluasi Pemasok
Melakukan program evaluasi untuk dapat memastikan adanya pengukuran yang tepat terhadap kinerja pemasok selama pemasok tersebut menjalankan fungsi pasokan ke perusahaan.

Kembangkan sistem Supplier Development Program secara tepat, selain dapat membantu usaha Anda, sistem ini juga dapat membantu jaminan terhadap komitmen operasional pada usaha Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penerapan IFS (International Feature Standard) dalam Industri Pangan dan Perikanan

Bagi industri pangan, Sistem Jaminan Keamanan Pangan, adalah hal yang penting, yang mana tidak dapat ditawar-tawar lagi. Di dalam sistem sertifikasi keamanan pangan, tidak hanya terdiri atas sertifikasi ISO 22000, namun juga terdapat beberapa sistem sertifikasi yang lebih dipersyaratakan oleh GFSI (Global Food Safety Institute), seperti FSSC, BRC dan IFS.

Dibandingkan dengan BRC dan FSSC, sistem sertifikasi IFS adalah sistem sertifikasi yang jarang dijalankan. Konsep dari penerapannya sama dengan BRC namun terdapat beberapa penambahan detail dari proses aplikasinya. Apabila perusahaan ingin mengembangkan sertifikasi ini, maka terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan dalam proses penyusunan sistem sertifikasi IFS.

(1) Menyusun sistem manajemen mutu

Dimana perusahaan harus melakukan proses penyusunan sistem manajemen mutu dalam organisasi, untuk kemudian dijadikan sebagai panduan dalam konsep kualitas produk.

(2) Menyusun sistem manajemen keamanan pangan

Dalam tahapan proses ini, perusahaan membuat sistem dasar dari keamanan pangan yaitu GMP dan SSOP untuk kemudian melakukan proses penetapan standar HACCP untuk kemudian ditetapkan manual dari sistem keamanan pangan tersebut.

(3) Memastikan adanya pengendalian terhadap kontaminasi

Adalah hal yang penting dilakukan untuk memastikan adanya sistem pengendalian terhadap kontaminasi terhadap produk pangan yang berpotensi muncul.

Ingin menjalankan aplikasi IFS dalam perusahaan Anda, lakukan proses komunikasi dengan pihak referensi eksternal yang tepat untuk mendapatkan hasil yang maksimal. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Penyusunan Program Pest Control

Dalam industri pangan ataupun perikanan, permasalahan terhadap serangga adalah suatu permasalahan yang harus dipastikan terkendali dengan baik. Sistem dan pemahaman terhadap tata cara pengendaliannya harus dipastikan dapat meminimalkan resiko kontaminasi serangga yang masuk ke dalam sistem operasional proses.

Berkaitan dengan aplikasi pest control, terdapat 5 prinsip dasar yang sebaiknya menjadi bagian penting untuk dikedepankan ketika melakukan proses penanganan terhadap pengendalian serangga.

(1) Konsep pencegahan

Adalah penting bagi suatu unit usaha dalam industri pangan untuk memastikan bahwa pencegahan diajalankan. Proses mencegah serangga untuk masuk ke dalam area proses dapat dilakukan dengan cara menjalankan program sanitasi secara tepat dan optimal. Pemastian untuk mencegah dapat dijalankan dengan cara mengoptimalkan aspek GMP pada bagunan, dimana area proses terlindungi dari resiko masuknya serangga dari lingkungan sekitar.

(2) Sistem dan prosedur

Adanya sistem dan prosedur yang memastikan adanya pemantauan secara berkala berkaitan dengan fungsi trapping dan aplikasi koreksi yang dijalankan. Tahapan ini berguna untuk memastikan adanya suatu pengendalian terkait dengan adanya resiko masuknya serangga dan hewan pengganggu lainnya ke area kerja proses.

(3) Pelatihan dan kompetensi

Memastikan bahwa operator dan provider pelaksana kegiatan pest control telah memiliki aspek kompetensi dan sertifikasi yang memadai untuk mengakomodasi proses pencegahan terkait dengan penanganan serangga di lapangan.

(4) Analisis data

Proses inspeksi secara berkala dilakukan pada sistem yang telah dijalankan. Adanya pencatatan sangat penting untuk mengumpulkan data-data terhadap program pest control yang telah dijalankan. Statistika dapat digunakan untuk melakukan proses korelasi antara sistem yang dibuat dengan data yang didapat.

(5) Evaluasi Sistem

Memastikan efektifitas terkait dengan pelaksanaan program pest control. Penetapan tindakan perbaikan dilakukan berdasarkan data untuk dapat melihat bagaimana proses pest control dijalankan secara optimal.

Bagaimana dengan aplikasi pest control di perusahaan Anda? Lakukan pengembangan referensi eksternal yang tepat untuk mengaplikasikan program pest control sebagai nilai penting untuk mengoptimalkan pengendalian terhadap serangga. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)