Menyusun Kontrak Kerja Karyawan

Di dalam perusahaan adalah suatu hal yang penting dalam menyusun rumusan kontrak kerja antara perusahaan dengan karyawan. Perusahaan dan karyawan harus secara cermat dalam melakukan proses pengkajian terhadap rumusan kontrak kerja yang telah dibuat.

Dalam beberapa hal, proses dan faktor yang perlu dipertimbangkan ketika melakukan perumusan kontrak kerja adalah sebagai berikut:

(1) Kesesuaian dengan peraturan dan perundangan
Ada baiknya ketika melakukan proses penyusunan kontrak kerja, perusahaan terlebih dahulu mempelajari aturan terkait dengan status persyaratan perundangan. Agar penetapan kontrak kerja tidak bermasalah atau dapat menjadi delik hukum.

(2) Kesesuaian dengan prinsip status kepegawaian
Pastikan jenis status kepegawaian yang ditetapkan untuk karyawan tersebut, apakah akan menjadi karyawan tetap, kontrak, freelance atau harian lepas. Setiap jenis karyawan tersebut memiliki perumusan kontrak yang berbeda.

(3) Pastikan informasi mengenai hak dan tanggung jawab
Tetapkan mengenai hak dan tanggung jawab yang dipersyaratkan pada karyawan yang dimaksud. Termasuk di dalamnya adalah kaitan dengan penetapan jaminan kerahasiaan yang harus dijaga oleh karyawan ketika bekerja.

(4) Penetapan status kode etik dan peraturan perusahaan
Aturan terhadap kode etik dan peraturan perusahaan, juga harus dipastikan tersedia sebagai jaminan agar karyawan tidak melihat kontrak, peraturan dan kode etik adalah hal yang terpisah.

Bagaimana di perusahaan Anda, apakah kontrak sudah terumuskan dengan tepat? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan perumusan kontrak kerja. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pengembangan Unit SDM Sebagai Penggerak Organisasi

Bagaimana suatu perusahaan dapat berkembang dengan baik? Banyak perusahaan gagal untuk mentransformasikan perkembangan sehingga perkembangan akhirnya menjadi beban yang tidak ada habisnya bagi perusahaan, di lain pihak adanya sistem baru dengan nilai investasi yang cukup tinggi namun gagal untuk dapat mengoptimalkan dan meningkatkan peranan strategisnya dalam bisnis.
logos061000112

Lalu bagaimana cara yang tepat dan optimal untuk meningkatkan nilai sistem yang sudah Anda miliki. Salah satu metode yang paling tepat adalah dengan meningkatkan potensi leadership di dalam unit usaha Anda. Leader merupakan salah satu pembawa perubahan yang kuat untuk memastikan perubahan dijalankan secara tepat dalam bisnis. Memperkuat aspek leadership di dalam elemen perusahaan Anda adalah seperti memperkuat multilevel point yang ada dalam setiap titik strategis dalam usaha Anda. Bagaimana membuat pola pikir dari karyawan adalah berprinsip pada ownership yang kuat, dimana karyawan Anda sendiri dapat menjadi bagian terpenting dari agen perubahan dalam organisaasi/perusahaan Anda.

Pengembangan konsep leadership pada setiap lini ini, membutuhkan bantuan yang kuat dari unit kerja SDM untuk dapat lebih meningkatkan lagi nilai strategisnya. Unit kerja SDM di perusahaan Anda harus lebih dikembangkan untuk tidak hanya menjadi penggerak sistem secara administrasi kepersonaliaan saja, tapi juga sebagai bagian dari bagaimana teknik implementasi kepemimpinan dijalankan dalam unit usaha Anda melalui dengan sistem rekruitmen, pelatihan serta penilaian karyawan. Adalah hal yang penting dan positif bagi unit usaha Anda untuk dapat lebih mengoptimalkan pengembangan dan strategi tersebut untuk perpanjangan bisnis yang lebih kuat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pelatihan Internal Audit BRC Versi 6

Perusahaan industri pangan, melihat bahwa investasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan adalah suatu bentuk investasi yang mahal. Namun apakah perusahaan itu sendiri sudah melakukan proses perhitungan kualitas mutu dari ketiadaan sistem serta dampakanya dalam organisasi. Suatu konsep investasi yang sangat menguntungkan untuk suatu keputusan jangka panjang.

BRC sebagai salah satu Sistem Manajemen Keamanan yang sudah dipercaya oleh GFSI (Global Food Safety Institute) merupakan suatu sistem yang sangat tepat untuk diaplikasikan oleh perusahaan, khususnya untuk industri perikanan dan industri yang terkait erat dengan aspek retail. Dalam Sistem BRC, perusahaan harus dapat memastikan bahwa Sistem Manajemen Keamanan Pangan terpenuhi sesuai dengan peraturan salah satunya adalah dengan memastikan adanya tim auditor yang kuat dan optimal dalam memastikan adanya program audit intensif dalam perusahaan. Lalu bagaimana langkah yang harus dijalankan oleh tim BRC yang ada dalam internal perusahaan?

Langkah yang paling penting adalah dengan mengikuti program pelatihan audit BRC. Dalam kegiatan audit BRC ini, harus dapat dipastikan bahwa aplikasi dan pengembangan program BRC dijalankan secara tepat dan efektif untuk dapat mengoptimalkan fungsi auditor.

Program pelatihan yang ditawarkan adalah terdiri atas 3 hari pelatihan, yaitu:
(1) Hari pertama
– Pemahaman klausul-klausul yang ada dalam BRC
– Proses penyusunan checklist BRC
(2) Hari kedua
– Workshop audit internal BRC
– Proses implementasi kegiatan BRC
– Simulasi audit
(3) Hari ketiga
– Teknik penyusunan laporan
– Proses verifikasi hasil audit
Diharapkan dengan mengikuti 3 hari pelatihan ini, perusahaan dapat memiliki auditor yang kompeten dalam menjalankan proses audit. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pelatihan Menyusun Standard Operating Procedure

Para pemilik usaha saat ini banyak yang mengalami kejutan yang menyenangkan, namun juga sangat membuat khawatir. Pertumbuhan dan peningkatan bisnis dalam beberapa bidang usaha menunjukkan angka yang baik dan bahkan di beberapa tempat melonjak tajam. Ketika melonjak itulah, banyak pengusaha yang menjadi khawatir bahwa kemampuan sumber daya yang ada dalam perusahaan tidak dapat mengakomodasi pengembangan manajemen operasional mereka. Ketika segala sesuatu sudah dalam keadaan serba sibuk, kadangkala sistem tidak dijalankan atau bahkan tidak dibentuk. Pembentukan pola pekerjaan hanya berdasarkan pada kompetensi dan kepercayaan kepada individu karyawan. Tentu hal ini tidak memberikan manfaat yang sehat bagi perusahaan.

Lalu bagaimana cara yang paling yang tepat untuk mengoptimalkan usaha Anda. Salah satu strategi yang paling tepat adalah dengan membuat Standard Operating Procedure (SOP) pada perusahaan Anda. Proses penyusunan SOP dapat dilakukan secara mandiri di dalam perusahaan dengan pembekalan pelatihan yang memadai. Pelatihan dengan model dua hari pelatihan dapat membantu proses pengembangan dan implementasi penyusunan SOP dalam perusahaan Anda.

Berikut adalah kurikulum dari pelatihan yang akan dijalankan.

Hari Pertama
(1) Pemahaman mengenai Standard Operating Procedure
(2) Penyusunan konsep produk organisasi
(3) Analisis kajian organisasi
(4) Evaluasi organisasi dan business process
(5) Penyusunan struktur organisasi

Hari Kedua
(1) Penetapan alir proses
(2) Proses penetapan struktur organisasi
(3) Proses penetapan flow process
(4) Proses penyusunan dan penulisan Standard Operating Procedure
(5) Workshop

Diharapkan dalam dua hari pelatihan ini, organisasi Anda akan semakin handal dalam menyusun SOP secara mandiri. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Menyusun Kerangka Kerja Tahunan Perusahaan

Tidak terasa tahun akan beralih, begitu pula dengan target dan tujuan yang akan dicapai oleh perusahaan.  Banyak perusahaan yang melewatkan begitu saja peralihan tahun ini tanpa mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencapai target usaha yang lebih baik.  Ada baiknya dalam peralihan tahun ini, perusahaan melakukan proses pengkajian terkait dengan kebutuhan pengembangan usahanya agar mendapatkan hasil yang lebih baik.  Lalu bagaimana langkah-langkah yang harus diambil oleh suatu perusahaan agar dapat mencapai target perkembangan yang diharapakan.

(1) Review performa

Lakukan penilaian terkait kinerja yang sudah tercapai, sampai sejauh mana dan apa kendala yang ditemukan.  Sebuah perusahaan diharapkan dapat untuk lebih terampil dalam menetapkan suatu bentuk strategi yang diharapkan agar suatu kinerja usaha dapat tercapai paling tidak mendekati untuk tercapai.  Penetapan strategi perusahaan harus mempertimbangkan SWOT Analysis yang ada.  Bagaimana suatu performa tersebut terukur dan teridentifikasi secara strategis untuk dapat digunakan dalam menyusun target ke depannya.

(2) Penentuan langkah dan target strategis

Dalam menentukan langkah strategis hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi dari kinerja organisasi yang dimaksudkan tersebut.  Bagaimana dari proses penetapan kerangka kerja tersebut disesuaikan dengan ruang lingkup fungsi dan kinerja tanggung jawab kinerja sesuai dengan manajemen organisasi yang ada.  Bagaimana suatu tahapan dari langkah strategis ditetapkan dalam organisasi yang dimaksud.

(3) Proses Penetapan Metode Evaluasi Kinerja

Hal yang sangat penting yang perlu dikembangkan dalam suatu tahapan pentapan proses pengukuran terhadap penetapan metode dan evaluasi sistem kinerja yang akan ditetapkan.  Bagaimana tahapan dari proses evaluasi tersebut akan dikembangkan, maka alur penetapan evaluasi harus dijalankan di mana di dalamnya akan menetapkan suatu tahapan proses evaluasi kinerja yang tepat maka tahapan optimalisasi dari suatu bentuk prosedur dan pengembangan kinerja akan dapat menjadi lebih optimal dan sesuai dengan mekanisme operasional yang akan ditetapkan.

Kerangka kerja perusahaan hendaknya menjadi suatu format dinamis yang disesuaikan dengan ruang lingkup dan proses operasional yang ada di dalam perusahaan.  Dimana penetapan target perusahaan seharusnya menjadi suatu bentuk stimulus yang akan memotivasi kinerja komponen yang ada di dalam perusahaan, bukan menjadi aspek yang justru menimbulkan de-motivasi pada diri karyawan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Peranan Konsultan dalam Menyusun ISO 9001

Apakah perusahaan Anda tertarik untuk menerapkan ISO 9001? Banyak perusahaan melihat kepentingan penyusunan ISO 9001 adalah hanya untuk kebutuhan sertifikasi saja sehingga menyerahkan seluruh penyusunan ISO 9001 kepada konsultan dan berharap bahwa konsultan yang dapat mengerjakan seluruhnya.  Mungkin benar, apabila tujuan akhir dari perusahaan adalah untuk mendapatkan sertifikasi, namun apabila tujuan dari program ini adalah untuk pemeliharaan dan perbaikan perusahaan, tentunya peranan konsultan harus menjadi pertimbangan utama.

repasil071200188

Dalam menjalankan fungsi dalam proses pengembangan sistem sertifikasi ISO 9001, perusahaan dapat mengalokasikan peranan konsultan adalah sebagai berikut:

(1) Trainer dalam penyusunan Sistem ISO 9001 dan Internal Audit

Dalam menyusun program ISO 9001, pastikan karyawan perusahaan mendapatkan informasi yang jelas dalam proses aplikasi standar klausul ISO 9001 dalam organisasi.  Memahami inti dasar dari manfaat ISO 9001 dan bagaimanan mengaplikasikan klausul-klausul yang ada dalah nilai yang penting dibandingkan dengan hanya memahami standar klausul secara text book referensi.

(2) Fungsi konsultan dalam membantu proses pemecahan masalah

Tujuan utama bagi perusahaann yang harus dipahami bukanlah hanya ISO 9001 saja, namun juga harus mempertimbangkan target untuk memperbaiki aspek strategi bisnis yang ada dalam perusahaan itu sendiri.  Penggunaan ISO 9001 sebagai sarana pengkajian dan perumusan ulang terhadap sistem yang dibentuk dalam organisasi memberikan pengaruh yang positif dibandingkan hanya dengan sekedar lembaran sertifikasi.  Pengalaman dan teknik pemecahan masalah adalah hal penting yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk memastikan proses pemecahan masalah dijalankan oleh organisasi/ perusahaan.

(3) Fungsi Pendampingan dan Pengarahan Aplikasi Sistem

Inilah hal yang sangat penting dijadikan patokan mengenai bagaimana suatu sistem dapat dijalankan tanpa mengesampingkan pola kerja dan budaya lama yang sudah terbentuk.  Banyak perusahaan akhirnya menggunakan Sistem ISO 9001 hanya sebagai “sistem sampingan” artinya proses yang ada hanya sebagian dimanipulasi mengikuti Sistem ISO 9001, namun sistem aktualnya sangatlah jauh berbeda.  Fungsi dan peranan konsultan dalam mengarahkan dan memberikan bimbingan strategis yang dapat secara tepat dan akurat menciptakan konsep strategis dari suatu aplikasi sistem yang ada.

Siasatilah penggunaan konsultan ISO dalam perusahaan, manfaatkan secara strategis jasa konsultan ISO ke dalam program perbaikan bisnis dalam organisasi Anda tidak hanya sekedar untuk mendapatkan proses sertifikasi saja. Lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat untuk mengoptimalkan program sertifikasi ISO 9001 dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pelatihan Keamanan Pangan pada Industri Perikanan

Proses pengolahan perikanan, seperti umumnya pada industri makanan lainnya membutuhkan adanya Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan terdiri atas beberapa tahapan penyusunan sistem:

(1) GMP (Good Manufacturing Practice)

Sistem awal Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang mengatur kebutuhan mendasar sebagai persyaratan utama dijalankannya Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Adapun pengaturan yang ditetapkan adalah sistem (a) Bangunan dan lay out pabrik, penyediaan bangunan yang ditetapan sesuai dengan standar persyaratan yang ditetapkan dan lay out juga harus memperhatikan alir proses, alir masuk dan keluarnya personel maupun proses alir masuknya limbah dan material (b) Peralatan kerja, peralatan kerja yang digunakan dalam industri pangan tidak diperbolehkan mengandung bahan kimia dan material yang tidak dapat memberikan pengaruh kontaminasi silang kepada bahan makanan dan juga dapat menjadi infestasi dari serangga atau mikroba, sehingga desain dari peralatan harus dipastikan mudah untuk dibersihkan (c) Personnel hgygiene dimana menjelaskan proses sanitasi terhadap personel/ karyawan yang bekerja di dalam perusahaan, memastikan bagaimana melakukan pengendalian dan tata cara pencucian tangan yang dalam proses operasional, proses penanganan dan pengendalian seragam yang digunakan untuk bekerja, tata cara dan pengendalian status sakitnya karyawan dalam bekerja secara operasional di lapangan (d) Proses penanganan limbah, akan menjadi bagian yang sangat penting terhadap industri perikanan mengenai status penanganan limbah yang dihasilkan, hal ini menjadi penting karena adanya keterkaitan dengan regulasi termasuk di dalamnya adalah penanganan terhadap cara pemusnahan limbah yang dimaksud (e) Pest Control, dalam seluruh industri makanan, pest (serangga, tikus, maupun hewan pengganggu lainnya) dapat menjadi kontaminasi silang kepada produk makanan. Khususnya industri perkanan, resiko terhadap serangga dan efek kontaminasi silang akan sangat tinggi, mengingat jenis produk ini memiliki nilai protein yang tinggi dan mudah mengundang serangga dari aspek bau dari industi makanan itu sendiri. Good Manufacturing Practice yang ditetapkan dalam perindustrian

(2) SSOP (Standard Sanitation Operational Procedure)

Sistem terhadap sanitasi yang dijalankan di dalam proses operasional, adapun konsep dari proses pemastian tata cara pembersihan dan sanitasi terhadap peralatan kerja yang digunakan. Termasuk di dalamnya adalah tata cara untuk melakukan program kebersihan, cara dan metode pembersihan serta verifikasi dari proses kebersihan dan sanitasi dijalankan. Suatu proses sanitasi yang tepat dijalankan adalah jenis proses sanitasi yang memperhatikan kandungan kimia dari bahan pembersih yang digunakan termasuk di dalamnya adalah memperhatikan kandungan kimia yang ada di dalamnya yang kemudian disesuaikn dengan jenis material dan komposisi dari kandungan material yang ada di dalam dari bahan pangan yang dimaksud.

(3) HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point)

HACCP adalah metode yang awal yang dikembangkan untuk kebutuhan aspek jaminan keamanan pangan bagi astronot yang akan pergi ke luar angkasa. Bukankah akan sangat merepotkan apabila pada saat berada di luar angkasa, astronot tersebut mengalami sakit perut atau keracunan makanan? Prinsip terpenting dalam program HACCP adalah meminimalkan resiko yang muncul dan menghilangkan resiko keamanan yang muncul dalam proses operasional yang terkait dengan kontaminasi fisik, kimia dan biologi. Dalam system HACCP, terdapat delapan langkah yang terkait dengan proses penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Dalam system keamanan pangan hal yang sangat perlu diperhatikan adalah melakukan proses pengendalian terhadap batas kritis yang ada dalam standar pengendalian operasional pada setiap tahapan yang ada pada alir proses. Pelatihan terhadap Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang tepat adalah memastikan tersedianya Manual HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) yang mana dijadikan panduan dalam melakukan proses pengendalian terhadap titik kritis pada tahapan alir proses yang teridentifikasi.

(4) Manual Manajemen Mutu

Proses penyusunan terhadap dokumen manual dilakukan dengan mengadaptasi Sistem Manajemen ISO 22000:2005. Dimana di dalam proses penyusunannya, dilakukan penetapan dan penjelasan terhadap klausul-klausul yang ada dalam Standar ISO 22000:2005.

(5) Penyusunan SOP (standard Operating Procedure)

Pengembangan terhadap dokumentasi SOP dijalankan sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan untuk penetapan standar kualitas produk yang telah ditetapkan. SOP yang dibuat harus dipastikan jelas dan terstruktur sehingga informasi yang terkait dengan uraian pekerjaan yang dijalankan di lapangan untuk memastikan bahwa personel yang ada dapat memahami detail-detail dari tahapan proses sehingga batasan kualitas yang dihasilkan sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan.

MENGAPA PELATIHAN DIBUTUHKAN?

Satu hal yang pasti, penerapan dari industri perikanan membutuhkan komitmen dan konsistensi yang secara pasti dijalankan tanpa adanya pengecualian. Di mana dalam proses pelatihan hal yang menjadi tujuan adalah (1) menghasilkan individu karyawan yang terlatih dan kompeten dalam menjalankan sistem manajemen keamanan pangan (2) Mengubah budaya perusahaan untuk memastikan bahwa penetapan sistem terimplementasi bukanlah suatu keterpaksaan pada individu dalam perusahaan (3) meningkatkan kompetensi dari manajemen organisasi untuk dapat meningkatkan kompetisi dalam bisnis.

CARA DAN STRATEGI TERKAIT DENGAN PEMILIHAN PROVIDER PELATIHAN

Perusahaan harus memperhatikan prinsip dan strategi yang harus diperhatikan untuk menggunakan jasa pelatihan eksternal di bidang keamanan pangan: (1) Kompetensi dari provider Kompetensi dari tenaga pelatih yang akan memberikan arahan selama pelatihan menjadi suatu bentuk kompetensi unggulan. Sebaiknya perusahaan mencari provider yang memiliki instruktur yang memiliki latar belakang akademis dan pengalaman kerja yang memadai. Selain dari latar belakang tersebut, kompetensi interpersonal juga dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dengan peserta pelatihan. (2) Silabus dan kurikulum pelatihan Perhatikan poin-poin yang akan dimasukkan agenda dari kurikulum dan program pelatihan. Pelatihan yang baik akan dibentuk dalam format pelatihan terstruktur agar selama kurun waktu pelatihan dipastikan bahwa program pelatihan tersampaikan sesuai dengan harapan dari perusahaan itu sendiri. (3) Evaluasi efektifitas pelatihan Tidak ada salahnya apabila perusahaan menanyakan kepada provider pelatihan untuk memastikan apakah tersedia teknik dan metode untuk melakukan evaluasi terhadap efektifitas pelatihan.

Untuk lebih jauh dalam memahami program pelatihan terhadap keamanan pangan di bidang industri perikanan maupun industri perikanan, konsultan kami akan membantu perusahaan Anda dalam melakukan pengembangan program tersebut. Amaryllia Puspasari (amarylliap@yahoo.com),HP:08129369926

Penyusunan SOP Recall pada Industri Pangan/ Perikanan

Dalam proses penerapan ISO 22000, adalah suatu bentuk hal yang sangat penting dan hukumnya wajib untuk memastikan tersedianya Standard Operating Procedure mengenai program recall.  Apa yang dimaksud dengan program recall?  Kegiatan program recall adalah suatu bentuk proses penerapan porgram verifikasi keamanan pangan, kegiatan ini dilakukan untuk memastikan adanya suatu bentuk aspek sistematis yang tepat dalam melakukan proses penarikan produk pangan/ perikanan ketika ditemukan ketidaksesuaian terkait dengan proses ataupun produk itu sendiri yang mana kemudian memberikan resiko tinggi kepada konsumen.

Lalu bagaimana proses yang tepat dalam melakukan proses penyusunan SOP Recall yang dimaksud dalam industri pangan/ perikanan.

(1) Merumuskan tata cara penarikan produk

Bagaimana proses penarikan harus dijalankan, apakah akan melalui jalur yang sama dengan proses distribusinya ataukah menggunakan skema khusus yang tepat.  Proses pemberian informasi terhadap proses penarikan itu sendiri harus dapat dipastikan terinformasikan secara tepat untuk memastikan bahwa proses penarikan dijalankan sesuai dengan jalur yang tepat dan proses yang efektif.

(2) Menetapkan personel penanggung jawab proses recall

Tetapkan dan kembangkan struktur organisasi dari kegiatan recall itu sendiri.  Informasikan mengenai siapa personel yang bertanggung jawab, jabatannya, cara menghubunginya serta sebatas apa ruang lingkup tanggung jawabnya.

(3) Tetapkan catatan dari proses recall

Susun dan kembangkan form yang terkait dengan proses recall yang dijalankan tersebut, proses pendokumentasian yang sangat penting adalah penetapan traceablity (mampu penelusuran) yang tepat dan dapat memastikan bahwa evaluasi recall yang dimaksud dapat berjalan secara optimal.

(4) Lakukan skenario recall test

Prosedur recall harus dipastikan teruji, sehingga proses dan penanganan yang terkait dengan proses recall itu sendiri harus dipastikan terevaluasi dalam status dan kondisi operasional yang tepat dalam pengembangan aspek recall yang ada.

(5) Proses sosialisasi

Sosialisasikan dan komunikasi program recall ini kepada seluruh personel dan karyawan yang memiliki tanggung jawab ke dalam proses dan program recall yang telah ditetapkan tersebut.  Kembangkan dan evaluasi secara tepat apakah personel yang dimaksud benar-benar telah memahami tahapan dan proses recall tersebut.

Kembangkan sistem manajemen keamanan pangan dalam perusahaan Anda secara tepat dan akurat.  Lakukan penggunaan referensi eksternal yang tepat untuk memastikan bahwa SOP yang dimiliki dalam perusahaan benar-benar telah dijalankan secara tepat sesuai dengan bentuk dan sistematika yang ada dalam standar ISO 22000 maupun program HACCP. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Menggunakan Metode QFD untuk Meningkatkan Kepuasan Pelanggan

Bagi perusahaan yang sudah melaksanakan dan melakukan proses implementasi ISO 9001:2008 tentunya proses pengukuran kepuasan pelanggan bukanlah hal yang aneh untuk dilakukan.  Namun hal yang terpenting yang seharusnya diperhatikan adalah bagaimana menetapkan tindak lanjut dari hasil pengukuran kepuasan pelanggan.  Tentu saja harus dengan menetapkan tindakan perbaikan dan pencegahan terhadap hasil dari ketidakpuasan yang muncul.

Pendekatan Quality Function Deployment adalah suatu teknik yang tepat yang dapat digunakan dalam menetapkan tindak lanjut dari ketidakpuasan pelanggan.  Hasil dari penetapan tindakan perbaikan dan pencegahan yang dilakukan dapat dijalankan dengan adanya proses yang terukur dan tervalidasi sehingga benar-benar mencapai hasil yang diinginkan. Pendekatan yang sistematis dalam bentuk penetepan metodologi dapat membantu banyak perusahaan, khususnya perusahaan jasa dalam mendapatkan dukungan manajemen untuk menetapkan kebijakan yang tepat berdasarkan atas informasi faktual.

Program pelatihan satu hari untuk mempelajari dan memahami Quality Function Deployment sebagai tindak lanjut dari proses kepuasan pelanggan dapat memberikan nilai kontribusi dalam arti yang tepat.  Adapun silabus pelatihan kami memuat informasi pelatihan sebagai berikut:

(1) Proses penyusunan kuesioner kepuasan pelanggan

(2) Teknik pengukuran reliabilitas dan validitas alat ukur

(3) Pemahaman house of quality

(4) Penempatan status tindak lanjut dari kepuasan pelanggan dalam matriks house of quality

Menjadi hal yang sangat penting untuk dapat mengolah data kepuasan pelanggan di perusahaan Anda menjadi suatu bentuk nilai positif yang kuat bagi bisnis Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pelatihan Team Building di dalam Perusahaan

Banyak perusahaan yang salah dalam melakukan proses pembentukan kinerja tim di dalamn perusahaannya.  Bahkan hal yang paling serius untuk dipahami bahwa, banyak komponen individu yang berada dalam perusahaan itu sendiri tidak mengerti artinya team building, sehingga mereka memiliki kecenderungan untuk bekerja sendiri-sendiri dan tidak berjalan secara sinergis untuk mencapai tujuan yang sama.

Program pelatihan ini merupakan suatu bentuk cara menyusun tim kerja Anda menjadi suatu bentuk tim kerja yang efektif untuk mencapai tujuan. Siapa saja yang dapat menjadi peserta pelatihan? Jawabannya adalah seluruh komponen perusahaan, dapat ikut serta menjadi bagian dari program pelatihan yang kami berikan tersebut.

(1) Pemahaman mekanisme kerja kelompok

Program pelatihan team building yang tepat dapat mengantarkan perusahaan untuk mencapai target kerja yang optimal.  Dalam program pelatihan yang diadakan dalam waktu tiga hari, peserta pelatihan dilakukan proses pengembangan kondisi sebagai komponen individual dan komponen kelompok. Peserta pelatihan dapat secara maksimal dan optimal dengan cara memahami proses dari dirinya sebagai individu menjadi dirinya sebagai kelompok.  Dimana banyak permasalahan yang terkait dengan

kinerja individu dapat dipecahkan dalam kelompok.

(2) Pemahaman Teknik Pemecahan Masalah

Peserta pelatihan belajar dengan melakukan teknik pemecahan masalah secara berkelompok yang efektif dan optimal. Dimana proses pemecahan masalah ini dilakukan dengan budaya kerja bersama yang positif dikembangkan dalam perusahaan.

Metode pelatihan adalah dengan typical pelatihan outbound, dimana peserta pelatihan belajar untuk menyatukan visi dari tugas yang bersifat individual assignment menjadi group assignment.  Menarik bukan?

(amarylliap@gmail.com, 08129369926)