Pengembangan Struktur Organisasi, Kapan Dilakukan?

Banyak perusahaan yang ketika akan membenahi sistem manajemen mengalami permasalahan yang cukup lama ketika akan melakukan menyusun struktur organisasi. Pertanyaan yang muncul adalah apakah dibutuhkan pengembangan struktur organisasi dari perusahaan itu sendiri? Kapan struktur organisasi harus diubah?

Berikut jawaban dari pertanyaan tersebut.

(1) Perubahan strategi bisnis

Struktur organisasi dalam perusahaan dapat berubah akibat perubahan dan pengembangan strategi bisnis.  Setiap perusahaan berlomba-lomba untuk selalu dan terus menerus mengembangkan strategi bisnis yang dimilikinya.  Misalnya perusahaan tertentu melakukan penetapan strategi pengembangan produk, maka dilakukan proses pembuatan unit kerja R&D sebagai strateginya. Konsekuensinya adalah alokasi sumber daya manusia ditambah atau disetir ke arah pengembangan produk, penetapan suatu tahapan baru yang dapat mengubah struktur yang terbentuk.

(2) Pertumbuhan bisnis

Ekspansi dan pengembangan perusahaan akan menyebabkan peningkatan jumlah area dan ruang lingkup.  Meskipun strategi bisnis tidak berubah namun kapasitas manusia yang melakukan proses operasional dilakukan penambahan jumlah. Pertumbuhan ini membutuhkan adanya fungsi manajerial menengah (middle manager) dan supervisor yang melakukan suatu kebijakan aplikasi operasional yang tepat.  Secara otomatis pertumbuhan dapat menyebabkan perubahan struktur organisasi.

(3) Regulasi

Adanya regulasi dari pemerintah atau badan kualitas tertentu dapat “memaksa” perusahaan untuk mengubah struktur organisasinya, seperti adanya fungsi independensi internal audit, management representative ataupun penanggung jawab yang bersertifikasi tertentu.

Demikian tiga alasan yang melatarbelakangi mengapa struktur organisasi dalam perusahaan perlu untuk dikembangkan.  Lakukan proses analisis yang tepat dalam perusahaan dan disertai referensi eksternal yang akurat dalam mengembangkan struktur organisasi di dalam perusahaan Anda. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Analisis Resiko Bahan Baku dalam HACCP Plan

Dalam menyusun perencanaan terhadap konsep HACCP, kadangkala banyak penyusun lupa bahwa analisis terhadap resiko bahan baku merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam penetapan resiko.  Kurang teliti dan kurang pemahaman terkait dengan aspek mikrobiologi, kimia maupun resiko fisik dapat menjadi penyebab terlewatinya tahapan ini. Lalu bagaimana melakukan formulasi terhadap analisis resiko pada bahan baku.

Tahap 1: Melakukan pengenalan terhadap material bahan baku tersebut

Penyusun rencana HACCP sebaiknya melakukan riset dan analisis referensi yang tepat terkait dengan bahan baku yang akan dilakukan proses analisanya itu.  Lakukan proses analisis terhadap persyaratan dari standar nasional seperti SNI atau Codex yang berkaitan dengan bahan baku tersebut, apabila belum tersedia spesifikasinya maka carilah material bahan baku yang mendekati seperti kelompok terdekatnya.  Kemudian ada baiknya juga melakukan proses formulasi bahaya dengan melakukan proses analisis pembaharuan yang terkait dengan issue keamanan pangan. Tujuan analisis dari issue tersebut adalah untuk melakukan proses pengamatan pada res

Tahap 2: Melakukan analisis teknik pengendalian bahaya pada proses selanjutnya

Apakah bahaya yang muncul tersebut dapat dihilangkan atau dikurangi resiko pada tahapan selanjutnya. Contoh misalnya kontaminasi fisik seperti adanya batu dalam beras, apabila dalam proses selanjutnya seperti pengayakan dapat menghilangkan resiko maka bahaya terhadap kontaminan tersebut dapat dikendalikan.  Sebaliknya pada bahaya yang terkait dengan kontaminasi logam berat, seperti cemaran merkuri pada produk perikanan, dimana dalam proses selanjutnya sulit untuk dihilangkan resikonya.

Tahap 3: Formulasikan CCP pada tahapan yang dimaksud

Tetapkan aplikasi CCP pada tahapan proses yang dimaksud untuk menentukan signifikansinya. Apabila bahaya signifikan dan tidak dapat dikendalikan pada proses berikutnya maka bahan baku ini dalam proses penerimaannya dikendalikan sebagai titik kendali kritis (CCP).

Industri pangan sebaiknya secara berkala melakukan proses penilaian resiko terhadap bahan baku yang digunakan.  Lakukan proses ini dengan menggunakan tim yang kompeten dan apabila memungkinkan menggunakan referensi eksternal yang tepat. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Mengkomunikasikan Visi Perusahaan kepada Karyawan

Salah satu tantangan yang seringkali ditemui manajemen dalam mengembangkan organisasinya adalah bagaimana membentuk dan menyusun komunikasi yang tepat kepada karyawan tentang misi dari perusahaan.  Banyak faktor yang menjadi penyebab dari kesulitan tersebut, pertama adalah adanya suatu gap (perbedaan) yang ada antara manajemen dan karyawan, hal yang kedua adalah adanya suatu persepsi dan cara memandang yang berbeda antara manajemen dengan karyawan itu sendiri.

Padahal kepentingan untuk mengembangkan visi adalah hal yang paling penting dan kritikal dalam menggerakkan perusahaan. Dimana manajemen berharap bahwa seluruh komponen yang ada dalam perusahaan berjalan dan bergerak seiring dengan visi yang ditetapkan dalam perusahaan.  Lalu bagaimana cara yang tepat mengkomunikasikan visi.

a. Komunikasi terbuka

Salah satu hal yang paling penting dalam proses penyampaian visi adalah keterbukaan.  Keterbukaan manajemen di sini adalah pemastian bahwa visi secara rutin dikomunikasikan kepada karyawan.  Selain dengan bentuk verbal, hal yang paling mengena adalah dengan memberikan contoh.  Misalnya di dalam perusahaan disebutkan keinginan untuk mengutamakan kepentingan pelanggan, maka seorang direktur sebaiknya menunjukkan kebijakan dan prilaku yang memprioritaskan kebutuhan pelanggan. Meskipun berkedudukan tinggi, tidak segan-segan seorang pimpinan dan manajer sebuah kedai internasional mengepel lantai atau melap meja.  Kadangkala bukti nyata akan memberikan efek lebih positif dibandingkan sekedar berbicara.

b. Realisasikan visi

Visi biasanya berbentuk konsep yang sulit dipahami oleh karyawan secara real.  Ubah parameter non real tersebut menjadi parameter real.  Misalnya perusahaan yang memiliki visi untuk menjadi nomor satu di bidangnya tentu tidak segan-segan dalam melakukan proses perbaikan infrastruktur di dalam perusahaannya sehingga secara performa yang diciptakan dalam perusahaan memberikan nilai yang dapat dipahami secara tepat.

c. Kebijakan yang konsisten

Manajemen harus menciptakan kebijakan yang sejalan dengan visi.  Meskipun dengan resiko apa pun, jangan menyerah untuk membelot dari aspek visi.  Suatu kebijakan kontradiktif akan menyebabkan visi yang diharapkan tidak tercapai. Jangan sekali-kali berhenti karena alasan efisiensi pertimbangkan dengan matang setiap kebijakan yang dijalankan tersebut.

Demikianlah tahapan yang efektif bagi perusahaan untuk mengkomunikasi visi perusahaannya kepada karyawan. Lakukan proses komunikasi yang tepat agar tujuan perusahaan Anda dapat tercapai dengan baik. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Clean Pest Management: Alternatif Terbaik Pengembangan Pest Control

Penggunaan pest control sudah menjadi kewajiban penting dari suatu industri pangan.  Meskipun demikian, bukan berarti industri lainnya tidak memastikan dibutuhkan adanya penggunaan pest control, pest control itu sendiri sudah menjadi kebutuhan baik itu untuk konsumsi rumah tangga maupun dalam suatu bentuk aplikasi industri.  Lalu apa itu Pest Clean?

Pest Clean adalah suatu bentuk konsep yang mengintegrasikan antara pest control system dan program sanitasi.  Secara integratif, diharapkan dengan suatu bentuk sanitasi yang tepat dan cermat maka proses aplikasi pest control dapat meminimalkan penggunaan bahaya racun dan penggunaan kimia yang berlebihan.  Secara otomatis nilai positif yang terbentuk adalah mengurangi resiko resistensi dari serangga akan pestisida tertentu.

Manfaat yang timbul itu sendiri tentunya akan menyebabkan berkurangnya potensi resiko kontaminasi terhadap pangan.  Sangat menarik bukan. Sudah waktunya bagi industri pangan, penyediaan jasa makanan dan proses logistic bahan pangan mempertimbangkan penggunaan sistem integrasi ini. Dimana sudah pasti akan mengoptimalkan nilai keamanan produk pangan Anda. (tri_hartono2002@yahoo.com, 081335632084)

Melihat Pentingnya Sertifikasi ISO 22000

Berapakah nilai pentingnya ISO 22000 bagi industri pangan ataupun industri perikanan?  Beberapa perusahaan pangan ataupun industri perikanan mengalami suatu bentuk tekanan yang terkait dengan status kesesuaian dengan persyaratan kebutuhan komersial belaka, mengingat bahwa kebutuhan akan sertifikasi itu sendiri menjadi nilai yang sangat penting untuk dilakukan proses implementasi tidak hanya untuk kebutuhan komersial yang ditetapkan dalam perusahaan.

Apa saja kelebihan dari nilai sertifikat ISO 22000 itu sendiri?

Nilai Pertama: Membuktikan Komimtmen Sertifikat ISO 22000 menunjukkan bahwa suatu perusahaan memiliki suatu konsep integritas kuat yang tidak dapat disangsikan lagi bahwa proses sertifikasi yang dikembangkan dan diimplementasikan dalam perusahan merupakan suatu bentuk visual komitmen yang melekat.  Dimana perusahaan memastikan sistemnya sudah teruji dan dinyatakan lulus sesuai dengan standar persyaratan yang ditetapkan dalam ISO 22000.

Nilai Kedua: Membuktikan Jaminan Sertifikasi ISO 22000 menunjukkan bahwa perusahaan memiliki suatu bentuk nilai jaminan bahwa proses operasional yang dijalankan sudah memenuhi persyaratan keamanan pangan yang sesuai dengan regulasi dan persyaratan yang ditetapkan dalam perusahaan itu sendiri. Hal ini akan menjadi suatu dasar yang dapat menjamin bahwa perusahaan dapat dijalankan sesuai dengan standar keamanan pangan yang telah ditetapkan.

Nilai Ketiga: Memastikan Kompetensi Sumber Daya Manusia Dengan adanya sertifikasi ISO 22000, perusahaan sendiri menjamin bahwa sumber daya manusia yang dimiliki dalam perusahaan itu sendiri telah dilakukan proses pemetaan yang kemudian dilakukan proses penetapan untuk memastikan bahwa standar kompetensi (termasuk di dalamnya adalah kompetensi keamanan pangan).  Penerapan ISO 22000 ini memberikan suatu konsep pengembangan terhadap kompetensi sumber daya manusia yang ada dalam perusahaan maupun rekanan perusahaan yang terlibat baik langsung ataupun tidak langsung.

Bagaimana, apakah perusahaan Anda tertarik untuk menerapkan program sertifikasi ISO 22000?  Untuk memastikan apakah perusahaan Anda dapat menjalankan Sistem ISO 22000, mulailah persiapan secara dini dengan mengikuti pelatihan ISO 22000, HACCP ataupuan berdiskusi dengan konsultan yang tepat untuk menangani proses implementasi sistem sertifikasi ISO 22000 dalam perusahaan Anda (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Paket Konsultasi SOP UKM

Apakah suatu bisnis dengan bentuk ukuran yang kecil seperti UKM tidak membutuhkan SOP?  Apabila Anda menjawab dengan tidak, hal ini menjadi suatu bentuk kesalahan yang sangat besar.  Justru UKM adalah suatu unit bisnis yang sangat berat dan membutuhkan pengaturan manajemen yang tepat serta aspek leadership yang kuat.  Bagaimana tidak, pertama dengan modal yang sangat terbatas tentu saja sangat sulit bagi perusahaan untuk bergerak dan memikirikan strategi, kalau bisa strategi yang dikembangkan adalah strategi yang efisien dimana tidak memakan biaya namun efektif.  Apalagi dengan pengembangan sistem sumber daya manusia.  Kalau bisa pelaku industri UKM dapat mengerjakan semuanya sendiri sehingga tidak perlu report mengurus karyawan ataupun menginvestasikan karyawan.  Lalu apabila harus melakukan proses investasi karyawan pun, sebaiknya jangan yang bernilai tinggi namun tidak efektif, sebaiknya dibutuhkan karyawan yang tepat dalam bisnis ini dan apabila memungkinkan jangan memiliki nilai investasi yang tinggi.

Dengan tingkat kesulitan yang tinggi tersebut, tidak ada salahnya bagi UKM untuk mulai memikirkan penyusunan Sistem Manajemen yang tepat dan lebih mengarah kepada konsep UKM itu sendiri.  Mulailah dengan mengimplementasikan kaidah-kaidah umum yang ada dalam prinsip manajemen secara umum seperti dengan mempertimbangkan aspek operasional dan pengembangan bisnis yang ada dalam perusahaan itu sendiri.  Penetapan dan konsistensi alir proses meskipun kadangkala terlihat tidak konsisten sangat diperlukan untuk mengembangkan komitmen bisnis.  Mulailah berpikir profesional dan memulai proses pengembangan bisnis usaha Anda secara tepat dengan mencari konsultan yang tepat dalam proses penyusunan SOP dalam perusahaan Anda. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

PENERAPAN ISO 9001 PADA LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT (NGO/ NON GOVERNMENT ORGANIZATION)

Apakah penting bagi suatu Lembaga Swadaya Masyarakat untuk menerapkan Sistem ISO 9001, apa tingkat kebutuhannya?  Memang tidak terdapat kewajiban bagi suatu Lembaga Swadaya Masyarakat untuk menerapkan sistem ISO 9001, namun ISO 9001 sendiri dapat memberikan arti dan nilai positif bagi lembaga tersebut.  Apa saja yang menjadi nilai positif bagi Lembaga Swadaya Masyarakat untuk menerapkan Sistem ISO 9001?

(1)  Meningkatkan kompetensi administratif dalam Lembaga Swadaya Masyarakat tersebut

Satu hal yang cukup penting untuk dijalankan adalah memastikan adanya konsep pengembangan dan pengelolaan yang terkait dengan kebutuhan dari shareholder dan stakeholder yang berhubungan dengan aspek tertib administrasi pelaporan.  Lembaga Swadaya Masyarakat memiliki kewajiban untuk secara rutin melaporkan status administrasi dari penggunaan biaya untuk kegiatan yang dijalankan.  Suatu konsep yang sederhana namun sangat penting, dimana proses menjalankan tertib administrasi ini membutuhkan konsep pengawasan yang ketat yang digunakan untuk mengoptimalkan tertib administrasi dalam organisasi untuk memastikan bahwa konsep keteraturan tersebut dijalankan.

(2)  Mengelola Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia yang tepat

Lembaga Swadaya Masyarakat adalah suatu bentuk organisasi yang mana produk outputnya adalah hitungan per proyek yang dijalankan.  Dalam proses interaksi operasionalnya, sedikit unik karena memposisikan manusia sebagai produk, alat dan aspek penggerak sumber daya manusia itu sendiri.  Belum lagi dengan penggunaan pihak ketiga sebagai tenaga penggerak dari operasional pekerjaan yang dijalankan di lapangan, apalagi tidak ada pengaturan proyek yang tepat dan dilengkapi dengan SOP (Standard Operating Procedure) yang memadai tidak dinyana maka organisasi akan sangat sulit mempertanggungjawabkan output operasional kepada pihak shareholder ataupun stakeholder.

(3) Mengoptimalkan sistem operasional berbasiskan target dan kinerja dari pekerjaan

Banyak hal menarik yang menjadi pertimbangan dalam proses pengembangan dan pengelolaan manajemen operasional dan kinerja yang ada di lapangan.  Satu hal yang dapat dilihat secara sistematis dari implementasi ISO 9001 adalah konsep menetapkan target kerja pada tahapan proses yang relevan.  Hal ini akan sangat menguntukngkan pihak organisasi dalam penjelasan secara detail konsep delpoyment dalam tahapan proses utama ke proses lanjutannya.  Bagaimana suatu tahapan proses yang berbasis konsep excellent bisa dikembangkan ke dalam suatu kondisi operasional yang sesuai dengan standar persyaratan yang ditetapkan dalam organisasi.

LALU BAGAIMANA LANGKAH-LANGKAH DALAM PENERAPAN ISO 9001

1.  PELATIHAN DAN PENCARIAN REFERENSI PENERAPAN ISO 9001

Suatu konsep yang sangat kuat dalam organsasi, yang digunakan untuk memastikan bahwa penerapan ISO 9001 sudah dijalankan sesuai dengan aturan dan standar persyaratan yang tepat serta bagaimana memecah rahasia klausul yang ada dalam penerapan di lapangan.  Mengingat bahwa rata-rata implementasi ISO 9001 banyak dijalankan pada perusahaan dengan status industri atau jasa yang berbasiskan profit, tentu akan memberikan suatu masalah tersendiri apabila pelatihan yang dijalankan dilakukan bersama-sama dengan pelaku industri yang berbeda.  Sebaiknya NGO / LSM tersebut mencari provider pelatihan untuk kegiatan pelatihan in house, yang kemudian dapat dilakukan proses pengembangan penerapan ISO tersebut ke dalam mekanisme operasional yang dimiliki oleh NGO itu sendiri.

2.  PROSES PENETAPAN BUSINESS PROCESS DAN RUANG LINGKUP

Langkah selanjutnya yang harus dijalankan adalah menetapkan business process yang ada dalam LSM itu sendiri, yang mana menjelaskan tahapan-tahapan besar dari suatu tahapan proses yang dijalankan dalam perusahaan tersebut.  Kemudian dilakukan proses penetapan ruang lingkup dari proses operasional yang dijalankan itu sendiri.  Meningat peran pentingnya tahapan ini, sebaiknya dalam proses penetapan melibatkan seluruh departemen untuk memastikan interaksi proses penting yang harus termaktub dalam business process yang disebutkan tersebut.

3.  PENYUSUNAN DOKUMENTASI

Lakukan proses penyusunan dokumen dengan melakukan proses penyusunan dokumen dengan menjalankan konsep yang diterapkan dalam Standar Manajemen ISO 9001 yang terdiri atas tiga level dokumen.

(a) Penyusunan manual dalam dokumentasi ISO 9001 untuk kebutuhan LSM dijalankan dengan cara sesuai dengan standar persyaratan klausul ISO 9001 dimana isi manual akan memuat status penjelasan yang sesuai dengan maksud klausul yang terkait dengan standar persyaratan yang dimaksud.  Menetapkan visi dan misi serta kebijakan mutu yang ditetapkan dalam lmbaga swadaya masyarakat.

(b)  Penyusunan prosedur dalam organisasi yang merupakan hasil standar persyaratan klausul yang ditetapkan dan wajib dalam Sistem Manajemen ISO 9001:2008.

(c) Penyusunan catatan kerja yang terkait dengan proses operasional yang dijalankan dalam unit-unit kerja yang di lapangan.  Untuk memastikan bahwa proses operasional sistem yang dijalankan di lapangan.

Langkah-langkah dalam penjelasan dan pengembangan berikutnya adalah dengan mencari referensi dan konsultan yang tepat untuk mendampingi Anda dalam proses lebih lanjut untuk mengembangkan Sistem Manajemen ISO 9001. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

STRATEGI MENGEMBANGKAN PERUSAHAAN KELUARGA

Apakah perusahaan keluarga pada dewasa ini dapat berkompetisi dengan perusahaan profesional lainnya atau perusahaan asing?  Jawabannya adalah tentu saja hal tersebut dapat dilakukan.  Bukanlah sesuatu yang aneh apabila hampir 90% perusahaan besar yang ada saat ini adalah masih perusahaan keluarga atau berasal dari perusahaan keluarga.  Lalu mengapa perusahaan keluarga lebih banyak yang gagal dibandingkan dengan perusahaan keluarga yang berhasil?  Untuk mencari jawabannya, ada baiknya pemilik perusahaan memahami konsep dari inti perusahaan.

1. PERUSAHAAN BUKAN INDIVIDU

Bagaimana Anda sebagai pemilik perusahaan, menetapkan posisi diri sebagai pemilik dari perusahaan.  Apakah Anda sudah menempatkan diri Anda dalam posisi yang tepat di dalam perusahaan?  Banyak pemiliki perusahaan yang lupa bahwa posisi dirinya dalam konsep perusahaan adalah sebagai panduan untuk pengambilan keputusan akhir dan penentu arah kebijakan dari perusahaan.  Bukan perusahaan adalah diri Anda sendiri.  Memandang bahwa perusahaan adalah citra/ imaji dari diri sendiri akan menjadi suatu bentuk tanda-tanda adanya masalah pada perusahaan Anda.

Pertama, sudah pasti bahwa sebagai pemilik ada fungsi otoriter yang muncul dalam perusahaan yang terkait dengan setiap kegiatan. Kedua, adanya proses pengambilan keputusan jangka pendek dalam perusahaan yang dapat mengakibatkan perusahaan tidak berorientasi kepada proses melainkan kepada tujuan dari perusahaan itu sendiri.

2.  PERSAMAAN POSISI

Ada konsep menarik yang umumnya muncul di dalam perusahaan keluarga, adalah keterlibatan keluarga yang ada dalam organisasi yang memunculkan prinsip ketidakasamaan dalam posisi di dalam organisasi.  Salah satu masalah yang muncul adalah adanya kemunculan perlakuan yang berbeda dan kadangkala terlihat untouchable  (tidak tersentuh), hal inilah yang dapat menyebabkan kesulitan dari individu profesional untuk menunjukkan performa mereka secara tepat dan optimal.

Salah satu pendapat yang menarik yang dikemukkan oleh Warren Buffet, ketika beliau dinyatakan mengenai keputusan pengambilalihan perusahaannya kepada anak-anaknya.  Beliau secara cepat menyanggah bahwa proses peurunan itu tidak akan terjadi, seraya ia berkata bahwa ia sudah mengemukakan bahwa anak-anaknya tidak akan mewarisi usahanya.

Apa pun pro dan kontra mengenai kondisi perusahaan keluarga, ada baiknya perusahaan keluarga itu sendiri mulai berbenah untuk membantu proses perjalanan lanjutan untuk menjadi perusahaan yang profesional.  Sebenarnya strategi apa yang paling tepat untuk digunakan dalam pengembangan perusahaan keluarga.

1. STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM PERUSAHAAN

Pendekatan individual sebaiknya diminimalkan dan lebih kuat kepada sistem, setiap proses tahapan dan proporsi yang dialokasikan ke dalam pekerjaan untuk mengoptimalkan nilai dan tahapan operasioal proses yang terukur.  Hal yang paling penting dalam proses pengembangan sistem adalah merapikan suatu proses dan memastikan tindakan dari individu tersebut terjustifikasi oleh sistem sehigga tidak menimbulkan permasalahan dalam pengembangan kelanjutannya.

Salah satu masalah yang seringkali muncul dalam perusahaan keluarga adalah aspek kedekatan keluarga dan kedekatan personel yang menyebabkan adanya level disukai atau tidak disukai dalam proses operasioal pekerjaan yang dijalankan di lapangan.  Hal yang seringkali menarik bahwa apabila individu yang masuk ke dalam ruang lingkup disukai ternyata tidak dapat meningkatkan kinerja dari pekerjaan, tanpa ada sistem yang baku pasti akan sangat sulit untuk mengarahkan atau mengoptimalkan orientasi pekerjaannya.

2.  PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN KINERJA

Selain peranan sistem, peranan unit kerja SDM juga sangat mempengaruhi proses operasional manajemen kinerja yang ada dalam perusahaan.  Salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan, adalah untuk menetapkan optimalisasi dari fungsi authorisasi unit kerja HRD itu sendiri yang harus dipastikan untuk mendorong pengembangan operasional dari perusahaan.  Apa hal yang terpenting dari fungsi kinerja HRD itu di dalam perusahaan, salah satu aspek pentingnya adalah mendorong faktor stimulus dari pengembangan kinerja yang dijalankan di lapangan tersebut.  Dimana HRD harus memastikan bahwa sistem dan operasional dari mekanisme pekerjaan dijalankan sesuai dengan standar dan berada pada proporsi yang tepat dengan kebijakan.

3.  MELAKUKAN PROSES EDUKASI PROFESIONALISME

Memberikan pemahaman yang tepat terkait dengan  profesionalisme dalam lingkungan organisasi salah satunya untuk memastikan bahwa aspek profesionalisme dilakukan dan diposisikan sesuai dalam manajemen operasionl dalam perusahaan.  Pengembangan leadership program dan MT (Management Trainee) dapat mempercepat akselerasi terhadap pengembangan profesionalisme yang ada dalam perusahaan itu sendiri. Memasukan personel dengan profesionalismen yang kuat dan memiliki aspek kompetensi yang tinggi dapat mengoptimalkan nilai kinerja, namun perlu proses untuk mengharmoniskan dengan budaya lama perusahaan.  Sehingga program yang ditetapkan harus dapat dipastikan untuk memastikan hasil dan tujuan perusahaan tercapai dalam bentuk suatu sinergi kinerja yang kuat.

Untuk mengembangkan dan mengelola konsep modern dalam perusahaan keluarga, ada baiknya perusahaan menggunakan jasa konsultan manajemen untuk mengoptimalkan implementasnya?  Mengapa demikian? Hal yang pertama adalah meminimalkan potensi konflik yang muncul akibat adanya kepentingan individu tertentu dalam proses penyusunan sistemnya yang malah dapat mengakibatkan terhambatnya kinerja perusahaan.  Hal yang kedua adalah memberikan referensi dan benchmarking tepat sebagai panduan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan perusahaan keluarga sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam perusahaan.  Untuk memilih konsultan manajemen yang tepat dalam mengakomodasi pengembangan perusahaan keluarga, sebaiknya Anda mencari konsultan yang memiliki latarbelakang yang kuat dalam bidang pendidikan dan memiliki pengalaman dalam menanganani klien perusahaan keluarga. (Amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

PENINGKATAN PERFORMA KINERJA PERUSAHAAN

Sebelum implementasi terhadap penerapan OHSAS 18001 ditetapkan dalam organisasi, sebelumnya terdapat sistem manajemen K-3 yang menjadi wajib diterapkan pada seluruh organisasi dan perusahaan sesuai dengan ketentuan yang dipersyaratkan dalam organisasi.  Tujuan utama dari penerapan manajemen K-3 adalah memastikan adanya rasa aman dalam bekerja.  Kemudian mulai timbul pertanyaan apabila sudah terdapat K-3 mengapa harus menggunakan Sistem Manajemen OHSAS 18001?  Apakah manajemen K-3 belum memadai dalam proses penerapan sistem yang dimaksud?

Terdapat beberapa alasan mengapa perusahaan menerapkan sistem OHSAS 18001 meskipun dalam aplikasinya, perusahaan tersebut telah menjalankan fungsi K-3.  Alasan pertama, lebih kepada melihat bahwa sertifikasi OHSAS 18001 adalah sertifikasi internasional yang menjadi sangat penting bagi beberapa perusahaan yang mengikuti tender dalam program internasional.  Alasan kedua, adalah penerapan audit yang lebih melekat pada sistem OHSAS 18001 sehingga membuat melihat adanya alasan baik untuk memastikan adanya penjagaan ganda dalam Sistem OHSAS 18001.  Alasan ketiga, dalam konsep OHSAS 18001 tersedianya kemunculan strategi yang bersama-sama dirumuskan dalam visi dan misi perusahaan serta kebijakan dari Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.  Sedikit berbeda antara Sistem Manajemen K-3 dan OHSAS 18001.  Penerapan sistem OHSAS yang merupakan jenis adaptasi Sistem Manajemen ISO itulah yang membuat, hasil dari penerapan OHSAS 18001 akan terlihat lebih signifikan.

Lalu apa keterkaitan antara Sistem OHSAS 18001 dengan performa kinerja perusahaan.  Suatu bentuk stimulus yang kuat dan komitmen dari manajemen yang diimplemetasikan ke dalam aspek proses untuk memastikan adanya sistem yang menjamin performa dalam organisasi.  Konsep sederhana tapi merasuk ke dalam pemahaman karyawan. Bagaimana perusahaan melakukan proses pengelolaan pencegahan yang kuat pada aspek dan level karyawan.

Komitmen terhadap sistem yang kuat ini lama kelamaan menjadi fondasi dasar dari terbentuknya budaya perusahaan yang positif.  Mekanisme yang muncul adalah proses sederhana bagaiman rasa percaya dari individu karyawan akan dimunculkan terhadap hubungannya dengan perusahaan. Rasa percaya inilah yang membuat adanya konsep kepemilikan perusahaan yang kuat pada diri karyawan untuk kemudian membentuk rasa nyaman untuk selalu bekerja dalam perusahaan.

Tahapan dari negosiasi seperti ini adalah strategi yang baik antara perusahaan dan karyawan.  Karena bagaimana pun karyawan tidak mau bekerja dalam kondisi dan status bekerja yang beresiko tinggi.  Sebaliknya, perusahaan juga melihat bahwa dengan mencegah suatu kecelakaan atau penurunan status kesehatan dari karyawan yang bekerja dapat mengoptimalkan status pengembangan performa kinerja dalam aspek kehadiran karyawan di dalam perusahaan.

Karyawan secara psikologi akan merasakan adanya dukungan dari perusahaan, di mana yang ia rasakan tidak hanya gaji saja, namun juga terdapat adanya sarana dan fasilitas dari pencegahan karyawan tersebut dalam bekerja.  Untuk mengetahui lebih lanjut dari proses pengembangan OHSAS 18001 dalam perusahaan, maka pilihlah konsultan yang dapat memberikan referensi lengkap kepada perusahaan. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Pelatihan ISO: Pengembangan Kompetensi Karyawan?

Apakah benar kompetensi sumber daya manusia dapat dikembangkan melalui penerapan aplikasi ISO 9001:2008?  Bukankah ISO 9001:2008 hanyalah sebuah informasi sederhana belaka yang menjelaskan bagaimana sistem dibangun, pengembangan dari bagaimana banyaknya dokumen, lalu jenis kompetensi apa yang akan dikembangkan ke dalam diri individu yang dimaksud?

Dalam pelatihan ISO 9001:2008, tersedia pelatihan yang berkaitan dengan konsep manajemen untuk membuat suatu proses tersebut dapat diaudit.  Hal ini dapat mengubah mindset dari sumber daya manusia yang ada di lapangan, seperti bagaimana karyawan diajarkan untuk lebih sistematis dalam proses pengembangan dan pengelolaan pekerjaan.  Dipastikan semua proses penting tercatat, serta pekerjaan dipastikan dijalankan oleh personel yang bertanggung jawab dalam pekerjaan tersebut.

Proses pembelajaran tanggung jawab tersebut akan membangun konsep memiliki yang kuat pada diri individu itu sendiri untuk kemudian digunakan sebagai bentuk penerapan dalam pengelolaan pekerjaannya secara pribadi.  Sistem yang terbentuk akan memberikan alarm apabila proses kerja tidak dijalankan semestinya.  Mengapa?  Dalam pelatihan ISO 9001:2008, karyawan akan diberikan pemahaman mengenai bagaimana suatu tahapan proses akan didesain dengan konsep PDCA (Plan Do Check & Action), artinya seluruh sistem akan terencana (Planning) secara tepat untuk kemudian akan dikelola (Do) pelaksanaannya, diperiksa (Check) apakah proses tersebut sudah sesuai dengan persyaratan dan apabila tidak sesuai tentu diperlukan suatu tindakan untuk memperbaiki ketidaksesuaian tersebut (Action).

Berangkat dari sinilah, ada baiknya perusahaan untuk mempertimbangkan memberikan tambahan kebutuhan akan pelatihan ISO 9001:2008 pada karyawan khususnya untuk posisi Manajerial.  Meskipun perusahaan Anda belum menerapkan Standar ISO 9001:2008, namun diharapkan proses yang berjalan di lapangan juga memenuhi kebutuhan standar ISO sendiri, artinya mengadaptasi sistem ISO 9001:2008 dalam bisnis dan proses yang ada dalam perusahaan.

Mulailah mencari provider yang tepat untuk mengikutsertakan karyawan Anda dalam pelatihan ISO 9001:2008, investasi yang akan mengembangkan konsep jangka panjang perusahaan Anda.  (Amarylliap@yahoo.com, 08129369926)